Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG KU PILIH

DIA YANG KU PILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:338
Nilai: 5
Nama Author: Raudah Sahidah

Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...

lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....

ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...


Hati menjerit serta memanjatkan doa....

berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....


Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....

ke hadiran yang ku nanti telah tiba...

dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...


Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Tawaran

Keesokan paginya, udara masih terasa sejuk dan segar, menyapa setiap jiwa yang baru saja terbangun dari tidur yang tenang. Sinar matahari baru saja menyelinap lembut dari balik bukit di ufuk timur, menyinari halaman rumah kecil itu dengan cahaya keemasan yang lembut dan menenangkan, seolah alam sedang membentangkan permadani cahaya untuk menyambut hari yang baru.

Embun pagi masih menempel di ujung-ujung daun tanaman yang tumbuh rapi di sepanjang pagar rumah, berkilauan bagaikan butiran permata kecil saat terkena pantulan cahaya matahari yang mulai naik perlahan, memancarkan cahaya lembut yang berkilau sesaat sebelum akhirnya menguap perlahan terbawa udara pagi.

Angin sepoi-sepoi berhembus pelan, menyapu wajah siapa pun yang melintas, membawa wangi tanah basah yang khas setelah hujan semalam, serta aroma bunga kamboja yang tumbuh tinggi di sudut halaman rumah itu, mekar dengan bunga berwarna putih bersih yang memancarkan keharuman lembut yang menenangkan hati.

Suasana pagi itu begitu damai, begitu tenteram, seolah alam sedang membisikkan dengan lembut bahwa hari ini akan membawa sesuatu yang berbeda, sesuatu yang mungkin akan mengubah arah perjalanan hidup seseorang yang selama ini hanya mengenal jalan yang lurus dan sederhana.

Seperti hari-hari biasa yang telah berulang selama beberapa waktu ini tanpa pernah terlewat satu hari pun, Rania sudah siap berangkat ke pasar untuk membantu Bu Rahma.

Ia berdiri di ambang pintu rumahnya, mengenakan pakaian sederhana namun rapi dan bersih—kemeja berwarna hijau polos yang disetrika licin dan dilipat rapi ke dalam rok kain berwarna hitam yang panjang hingga ke betis, menutupi tubuhnya dengan sopan dan sederhana. Tas anyaman bambu yang sudah lama menjadi temannya tersampir rapi di bahu kirinya, anyaman yang sudah mulai kusam warnanya dan beberapa bagian sudah agak renggang karena bertahun-tahun menemaninya berjalan ke sana kemari, namun Rania tidak pernah ingin menggantinya dengan yang baru.

Baginya tas itu bukan sekadar wadah barang, melainkan saksi bisu perjuangannya—setiap hari tas itu menampung upah hasil keringatnya, uang receh yang ia tabung sedikit demi sedikit untuk kebutuhan mereka dan untuk melanjutkan sekolah, uang yang ia kumpulkan dengan tangan sendiri tanpa pernah meminta belas kasihan siapa pun.

Sepatu karet berwarna hitam yang nyaman di kakinya tampak bersih dan siap melangkah jauh, sepatu yang ia kenakan setiap hari tanpa pernah mengeluh meski kadang membuat kakinya terasa pegal setelah berjalan dan berdiri seharian. Semua yang ia kenakan sederhana, namun semuanya bersih, rapi, dan menunjukkan kerendahan hati yang tulus.

Langkahnya ringan dan mantap saat melangkah keluar menuju teras, persis seperti rutinitas yang ia lakukan setiap pagi tanpa pernah terlambat satu hari pun. Ia sudah terbiasa bangun sebelum matahari terbit, menyiapkan segala keperluan rumah, menyapu halaman, memasak air untuk ibunya, lalu berangkat ke pasar tepat saat pedagang mulai membuka lapak mereka.

Di pasar, setiap orang sudah mengenalnya—gadis yang selalu tersenyum ramah kepada siapa pun, yang selalu datang paling awal dan pulang paling akhir, yang bekerja dengan tekun tanpa pernah mengeluh sedikit pun meski peluh membasahi pelipisnya.

Bu Rahma sering memujinya, mengatakan bahwa Rania bagaikan anak sendiri baginya.

"Kamu ini anak yang rajin dan jujur, Ran" kata Bu Rahma suatu hari sambil menepuk bahunya lembut dengan tangan yang kasar namun hangat.

"Suatu hari nanti pasti ada jalan yang lebih baik untukmu. Ingat kata-kata Ibu ini ya" Kata-kata itu selalu terngiang di telinga Rania setiap kali ia merasa lelah atau putus asa, namun ia tidak pernah berani bermimpi terlalu tinggi.

Baginya, berdiri di lapak sayur setiap hari sudah cukup membuatnya bersyukur, sudah cukup untuk membantu ibunya dan dirinya sendiri, dan itu saja sudah terasa seperti anugerah yang tak ternilai.

Namun, baru saja ia melangkah keluar dari pintu kayu rumahnya dan menapaki lantai teras yang dingin dan halus, sebuah mobil berwarna krem meluncur pelan dan berhenti tepat di halaman rumahnya, mematikan mesin dengan halus. Suara mesin mobil yang halus namun terdengar jelas memecah keheningan pagi yang damai itu, membuat kicauan burung yang tadinya riuh sejenak berhenti, seolah ikut menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.

Rania berhenti seketika, kakinya seakan menapak tanah namun tak bisa melangkah maju sedikit pun. Napasnya tertahan sejenak di kerongkongan, matanya membelalak sedikit menatap mobil itu dengan penuh kebingungan dan rasa ingin tahu yang bercampur cemas. Jantungnya berdegup kencang di dalam dada, tangannya yang memegang tali tas anyaman itu meremas erat, kuku-kukunya hampir menancap ke telapak tangan yang lembut itu.

"Mengapa kak Dimas datang sepagi ini?" tanyanya dalam hati, berusaha mencari jawaban yang masuk akal namun tak menemukannya.

Berbagai pertanyaan bermunculan seketika di benaknya, membuat jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Apakah ada sesuatu yang terjadi? Apakah ada kabar buruk? Atau justru kabar baik? Pikirannya berputar liar, membuat kakinya yang tadi ringan dan mantap terasa berat seketika, seolah tertanam di lantai teras itu. Ia menatap mobil itu lekat-lekat, menunggu sesuatu yang belum ia ketahui.

Pintu mobil terbuka perlahan dari sisi pengemudi, dan sosok Dimas keluar dari sana dengan gerakan yang tenang dan teratur. Ia mengenakan kemeja berwarna hijau muda yang disetrika rapi dan dimasukkan ke dalam celana kain berwarna krem, sepatu kulitnya bersih dan mengkilap memantulkan cahaya matahari pagi yang miring.

Penampilannya sederhana namun sangat rapi dan berwibawa, menunjukkan keseriusan yang mendalam, seolah ia telah mempersiapkan pertemuan ini sejak lama sekali. Rambutnya tersisir rapi, wajahnya tampak segar namun ada garis kecemasan halus di dahinya, seolah ia juga tidak tenang dengan apa yang akan ia sampaikan, seolah kata-kata yang hendak keluar dari bibirnya itu terasa berat sekaligus penting.

Senyumnya yang hangat dan tulus terukir di bibirnya begitu ia melihat Rania berdiri mematung di teras, menatapnya dengan tatapan bingung yang begitu polos dan menggemaskan, tatapan yang membuat hatinya terasa hangat sekaligus lembut.

Dimas menutup pintu mobilnya pelan, lalu berjalan mendekat ke arah teras dengan langkah yang tenang dan teratur, seolah setiap langkahnya ia hitung dengan hati-hati. Namun jika diperhatikan lebih saksama, ada sedikit ketegangan di bahunya, menandakan bahwa ia pun sedang menahan rasa gugup yang luar biasa, bahwa apa yang akan ia lakukan ini bukanlah hal yang mudah baginya juga.

"Assalamualaikum, Rania" ucap Dimas dengan suara lembut namun jelas dan tegas, melambaikan tangan pelan ke arah gadis itu dengan gerakan yang sopan dan penuh kehangatan, berusaha menenangkan suasana yang tiba-tiba terasa tegang itu.

Rania tersentuh dari lamunannya, segera menurunkan tas anyamannya sedikit agar lebih nyaman berdiri, lalu menjawab dengan sopan dan tulus, "Waalaikumsalam, Kak Dimas" Suaranya terdengar lembut dan rendah, namun tetap terdengar jelas di udara pagi yang sejuk itu.

Matanya masih menatap bingung ke arah pemuda itu, meneliti setiap gerak-geriknya seolah mencari petunjuk atas kehadirannya yang tak terduga ini. Mengapa Dimas datang ke rumahnya? apa yang membuat dimas datang sepagi ini tanpa pemberitahuan sebelumnya?n Rania berusaha mengingat-ingat apakah ada janji yang terlewat, namun tidak ada satu pun yang terlintas di benaknya.

"Mau berangkat?" tanya Dimas sambil berjalan menaiki dua anak tangga teras, menatap pakaian Rania yang sudah siap berangkat dengan tas tersampir di bahu dan sepatu yang sudah terpasang rapi di kakinya.

Matanya menyapu sosok gadis itu dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan yang penuh perhatian dan penghargaan, tatapan yang tulus dan tidak ada maksud lain selain menghargai ketekunan gadis itu. Ia tahu betapa sederhananya kehidupan Rania, tahu betapa setiap rupiah yang gadis itu hasilkan adalah keringat sendiri, tahu betapa beratnya beban yang ia pikul di usia yang masih muda, dan ketekunan itulah yang membuatnya semakin kagum sekaligus ingin membantu gadis itu—bukan karena belas kasihan, melainkan karena ia percaya bahwa Rania pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

"Iya" jawab Rania singkat namun sopan, suaranya sedikit pelan karena masih menahan rasa heran yang terus bertambah.

Matanya menyapu wajah Dimas seolah mencari jawaban atas kehadirannya yang datang begitu pagi tanpa pemberitahuan sebelumnya.

"Kakak sendiri mau ke mana? Ada apa kok datang sepagi ini?" tanyanya akhirnya tidak bisa menahan rasa penasaran yang semakin menggunung di dadanya, pertanyaan yang keluar begitu saja karena ia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

Dimas tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu, senyum yang sedikit tegang namun tetap hangat, lalu menunjuk kursi kayu yang ada di teras itu dengan gerakan tangan yang sopan dan lembut.

"Bisa duduk sebentar?" pinta Dimas dengan nada yang memohon namun tetap menjaga kesopanan, seolah takut permintaannya akan menyinggung atau menyusahkan gadis itu.

"Ada yang ingin aku bicarakan. Tidak lama kok, hanya sebentar" ucap Dimas menambahkan dengan cepat, berusaha meyakinkan Rania bahwa ia tidak akan menyita waktunya terlalu lama.

Rania menatap wajah Dimas yang tampak begitu serius namun lembut, lalu mengangguk pelan, hatinya berkata bahwa apa pun yang akan dikatakan Dimas, ia pantas untuk didengarkan.

"Iya" jawabnya pelan, lalu berjalan mendekat dan duduk di salah satu kursi kayu itu, meletakkan tas anyamannya di lantai di samping kakinya dengan hati-hati seolah itu benda paling berharga. Ia meluruskan punggungnya sedikit, menata kain roknya agar rapi di atas pangkuannya, lalu menatap Dimas yang duduk di hadapannya dengan posisi yang sopan dan menjaga jarak, menunjukkan rasa hormat yang tulus.

Dimas pun duduk di kursi seberang, menatap Rania sejenak sebelum matanya berkeliling menyapu sekeliling halaman rumah, ke arah pintu rumah yang tertutup rapat, lalu beralih menatap jalan setapak yang berkelok menjauh dari rumah itu.

Matanya berhenti sejenak ke arah jalan itu, seolah memastikan tidak ada orang lain yang sedang memperhatikan atau mendengar percakapan mereka, seolah apa yang akan ia sampaikan adalah sesuatu yang khusus dan perlu dijaga kerahasiaannya agar tidak menimbulkan salah paham.

"Ada apa, Kak?" tanya Rania akhirnya, memecah keheningan yang mulai terasa sedikit canggung dan menegangkan.

Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, menatap mata Dimas yang tampak menyembunyikan sesuatu yang berat namun penting, matanya yang jernih seolah memberi kekuatan pada pemuda itu untuk berbicara.

Dimas mengedarkan pandangannya ke sekitar sekali lagi, matanya berhenti sejenak ke arah jalan setapak yang menuju ke arah perkampungan di kejauhan sebelum akhirnya kembali menatap Rania.

"Mamamu..." ucapnya pelan, seakan ragu untuk melanjutkan kalimatnya, seolah menyebut nama ibunya saja sudah membuatnya merasa perlu berhati-hati.

"Tante tidak ada di rumah?" tanyanya akhirnya pelan, matanya kembali menatap Rania dengan tatapan penuh pertanyaan, ingin memastikan bahwa mereka berdua benar-benar sendirian sebelum melanjutkan.

"Mama sedang ke rumah Nenek" beritahu Rania lembut, matanya menatap ke arah atap rumah yang terlihat samar di kejauhan di antara rimbunan pepohonan, lalu kembali menatap Dimas dengan senyum tipis yang paham akan maksud pertanyaan itu.

"Rumahnya tidak jauh , Kak. Atap rumahnya bisa dilihat dari sini kalau kita menatap lurus ke arah sana. Mama berangkat sejak subuh tadi, katanya ingin membantu Nenek menyiapkan keperluan dapur hari ini" Rania paham betul apa yang sedang dicari Dimas—pemuda itu sepertinya ingin memastikan tidak ada orang lain yang mendengar percakapan mereka, seolah apa yang akan ia sampaikan adalah sesuatu yang khusus dan perlu dijaga kerahasiaannya, sesuatu yang mungkin akan mengubah banyak hal.

"Ooh..." balas Dimas pelan, mengangguk paham dan tampak sedikit lebih lega mengetahui bahwa mereka berdua benar-benar sendirian di sana.

Ia menarik napas panjang, napas yang terdengar berat namun penuh pertimbangan, lalu menatap lurus ke arah Rania dengan mata yang jernih namun menyiratkan keraguan yang dalam, keraguan yang membuatnya sempat ragu untuk melanjutkan.

Hening sejenak menyelimuti mereka. Angin pagi berhembus pelan, mengibaskan ujung rambut Rania yang terurai rapi di punggungnya, membawa aroma tanah basah dan bunga pagi yang segar ke hidung mereka. Suara ayam berkokok terdengar samar dari kejauhan, dan suara burung-burung yang berkicau kembali riuh di dahan pohon mangga di samping rumah menjadi satu-satunya irama yang mengisi keheningan pagi itu. Dua orang yang berbeda dunia duduk berhadapan, masing-masing dengan pikirannya sendiri, masing-masing dengan perasaannya sendiri.

Dimas tampak menelan ludah, tangannya saling meremas di atas pangkuannya seolah ada sesuatu yang berat namun penting ingin ia sampaikan namun kata-katanya sulit sekali untuk diucapkan. Jari-jemarinya yang saling menggenggam itu tampak sedikit menegang, menunjukkan betapa cemas dan ragunya ia saat ini, betapa ia takut kata-katanya salah dan menyakiti hati gadis itu.

"Ran... aku..." Dimas membuka suara, namun kalimatnya terhenti di tengah jalan. Ia tidak melanjutkan ucapannya, seolah kata-kata itu tersangkut di kerongkongannya dan tidak mau keluar.

Bibirnya bergerak pelan seakan mencoba menyusun kalimat yang tepat namun belum menemukan susunan yang pas. Matanya menatap Rania lekat-lekat, seolah meminta maaf karena harus membuat gadis itu menunggu, seolah ia sedang mencari keberanian yang tersembunyi di dasar hatinya.

"Kakak kenapa?" tanya Rania pelan, sedikit cemas melihat wajah Dimas yang tampak begitu ragu dan serius.

Ia mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat, matanya menatap mata Dimas dengan penuh perhatian dan kelembutan, seolah ia yang sedang menenangkan hati Dimas sebaliknya.

"Ada hal penting yang ingin Kakak sampaikan? Tidak apa-apa, Kak. Katakan saja pelan-pelan. Aku di sini, aku akan mendengarkan" Suaranya begitu lembut dan menenangkan, begitu tulus, seolah ia siap menerima apa pun yang hendak dikatakan pemuda itu.

Dimas menghela napas panjang sekali lagi, napas yang terdengar berat namun penuh keteguhan hati. Ia menatap mata Rania lekat-lekat, seolah ingin memastikan bahwa apa yang akan ia katakan ini benar-benar tepat dan tidak akan menyakiti hati gadis itu. Matanya menyelami mata Rania yang jernih dan tulus itu, mencari kekuatan untuk melanjutkan kalimatnya yang tertahan, mencari keberanian yang selama ini ia simpan.

"Begini..." mulainya pelan, suaranya rendah namun mantap dan jelas terdengar di telinga Rania.

"Restoran yang kemarin kita makan di sana... NARIRA RESTO... sedang ada lowongan pekerjaan" Ia berhenti sejenak, menatap reaksi Rania dengan hati yang berdebar, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit ragu namun penuh harap, "Apa kamu mau bekerja di sana?"

Rania terdiam seketika. Matanya membelalak sedikit, menatap Dimas seolah belum mengerti sepenuhnya apa yang baru saja ia dengar. Pikirannya seketika berhenti berputar—bekerja di restoran itu? Di tempat yang kemarin baru saja mereka makan bersama? Tempat yang begitu bersih, rapi, dan terhormat itu? Pertanyaan itu begitu sederhana namun maknanya terasa begitu besar dan berat di telinganya, begitu besar hingga ia butuh waktu untuk mencernanya. Ia yang hanya lulusan sekolah menengah, yang hanya biasa berdiri di lapak sayur setiap hari, ditawari bekerja di tempat yang begitu bagus?

Ia menatap wajah Dimas yang tampak menunggu dengan penuh kehati-hatian, menunggu jawaban yang entah bagaimana bentuknya. Bibirnya sedikit terbuka ingin berkata sesuatu namun kata-katanya belum bisa keluar, terasa tertahan di kerongkongan.

Dimas melihat kebingungan di wajah Rania dan segera melanjutkan penjelasannya dengan cepat, seolah takut gadis itu menolak sebelum memahami sepenuhnya maksud penawarannya.

"Kamu tidak perlu menjawab sekarang" tambah Dimas cepat, suaranya lembut dan penuh perhatian.

"Pikirkan dulu pelan-pelan. Aku hanya... aku pikir mungkin ini kesempatan yang lebih baik untukmu daripada berdiri seharian di pasar, Ran. Gajinya cukup untuk membantu kebutuhan rumah dan kamu bisa melanjutkan sekolah. Jam kerjanya bisa kamu pilih, pagi atau sore jadi kamu bisa pulang tepat waktu untuk membantu Mama juga di rumah. Tempatnya bersih, aman, dan orang-orangnya baik-baik. Aku sudah bicara dengan pemiliknya, dia orang yang sangat terhormat dan jujur. Kamu tidak akan kesulitan di sana" ucap Dimas dengan nada yang lembut namun penuh keyakinan, matanya tidak lepas dari wajah Rania yang masih tampak terkejut dan diam mematung, berusaha membiarkan kata-katanya meresap perlahan ke dalam hati gadis itu.

Rania menunduk perlahan, menatap lantai teras yang bersih dan dingin di hadapannya. Tangannya meremas ujung kain bajunya pelan. Di dalam hatinya, perasaan bercampur aduk—antara rasa terima kasih yang mendalam karena Dimas begitu memikirkannya dan membelanya, dan rasa ragu yang tak bisa ia hilangkan begitu saja.

Ia berpikir tentang Bu Rahma yang sudah begitu baik padanya selama ini, tentang rutinitas pasar yang sudah menjadi bagian dari hidupnya, tentang Mama yang pasti akan senang namun juga khawatir jika ia berubah pekerjaan. Semua pikiran itu berputar kencang di kepalanya, membuatnya sulit untuk memberikan jawaban saat itu juga, membuatnya sadar bahwa keputusan ini bukanlah hal yang bisa diambil dengan tergesa-gesa.

"Aku..." Rania mengangkat wajahnya perlahan, menatap Dimas dengan mata yang jernih namun penuh tanya dan keraguan, mata yang menunjukkan ketulusan sekaligus kehati-hatian.

"Aku pikir dulu ya, Kak? Aku harus mempertimbangkannya dengan baik. Aku juga harus bicara dengan Mama dan... juga dengan Bu Rahma yang sudah begitu baik padaku selama ini. Aku tidak bisa pergi begitu saja tanpa pamit dan berterima kasih dengan layak"ucapnya pelan, senyum tipis terukir di bibirnya—senyum yang penuh keraguan namun juga penuh rasa hormat dan terima kasih yang tulus dari lubuk hatinya yang paling dalam.

Ia tidak ingin terlihat tidak tahu berterima kasih, tidak ingin meninggalkan orang yang telah membantunya saat ia jatuh, namun di sisi lain ia juga tidak ingin menutup pintu kesempatan yang mungkin datang hanya sekali seumur hidupnya.

Dimas tersenyum lega mendengar jawaban itu, meski matanya masih menyiratkan kekhawatiran yang tak sepenuhnya hilang. Ia mengangguk pelan dan penuh pengertian, lalu berdiri perlahan dari kursinya.

"Tentu saja, Ran. Pikirkan sebaik-baiknya. Bicarakan dengan Mama, bicarakan dengan siapa pun yang menurutmu perlu kamu bicarakan. Aku tidak mendesak sama sekali. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa kesempatan ini ada di depanmu, dan aku ingin kamu mempertimbangkannya dengan hati yang tenang" ucap Dimas lembut, menatap gadis itu dengan penuh perhatian dan kasih sayang yang tulus namun tersembunyi, kasih sayang yang ia simpan dalam hati dan belum berani ia ungkapkan.

"Aku tunggu kabarmu. Kalau kamu mau, kabari aku kapan saja. Kalau kamu menolaknya pun, aku tetap menghargai keputusanmu sepenuhnya. Jangan merasa terbebani ya, Ran" ucap Dimas lagi sebelum beranjak untuk pergi, ingin memastikan bahwa Rania tidak merasa terpaksa oleh tawarannya.

Rania ikut berdiri perlahan, menatap punggung Dimas yang berjalan menuju mobilnya dengan langkah yang perlahan dan teratur.

"Terima kasih, Kak" ucapnya tulus, suaranya terdengar begitu lembut namun jelas dan tegas di udara pagi yang sejuk itu.

"Terima kasih sudah memikirkan aku sebaik ini. Aku sangat menghargainya" ucap Rania, matanya menatap pemuda itu dengan penuh rasa syukur yang tulus.

Dimas berhenti sejenak di pintu mobilnya, menoleh kembali ke arah Rania dan melemparkan senyum yang hangat, menenangkan, dan penuh keyakinan.

"Sama-sama, Rania. Jaga dirimu baik-baik ya. Hati-hati di pasar" ucap Dimas lembut, lalu masuk ke dalam mobilnya dan menutup pintu perlahan.

Mobil itu pun perlahan meluncur pergi meninggalkan halaman rumah Rania, menyisakan debu halus yang terbang pelan tertiup angin pagi. Rania berdiri diam di teras, menatap mobil itu hingga menghilang sepenuhnya di tikungan jalan di kejauhan, berdiri diam seolah waktu berhenti berputar di sekitarnya.

Tas anyaman bambu masih tersampir di bahunya, namun kakinya tak lagi bergerak menuju pasar. Di dalam hatinya, sebuah pertanyaan baru kini tumbuh dan menuntut jawaban—apakah ia siap meninggalkan rutinitas yang sudah menjadi bagian dari hidupnya demi sebuah kesempatan yang datang begitu tiba-tiba? Apakah ia siap melangkah ke jalan yang belum pernah ia ketahui sebelumnya, jalan yang mungkin lebih cerah namun juga penuh ketidakpastian? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar kencang di kepalanya sepanjang perjalanan menuju pasar, membuat langkah kakinya terasa berbeda dari biasanya—lebih berat namun juga lebih bermakna, seolah ia sedang berjalan menuju sebuah perubahan besar yang akan mengubah seluruh hidupnya selamanya.

Bersambung...

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!