Keluarga Adrian dikenal sebagai salah satu keluarga paling terpandang dan kaya.
Di mata publik, mereka adalah keluarga sempurna.
Kaya.
Terhormat.
Bahagia.
Namun di balik rumah besar itu, tersimpan banyak rahasia.
Persaingan bisnis, pengkhianatan, iri hati, dan orang-orang yang ingin menghancurkan keluarga Adrian mulai bermunculan.
Semuanya berubah ketika lahir seorang gadis kecil bernama Adeline Adrian Wijaya.
Sejak kecil, Adeline memiliki kemampuan aneh:
dia dapat mendengar suara hati manusia.
Dia bisa mendengar kebohongan yang tidak pernah terucapkan.
Dia bisa mengetahui seseorang yang tersenyum tetapi sebenarnya membenci.
Dia bisa mendengar rasa sakit yang disembunyikan seseorang.
Awalnya keluarga menganggap itu hanya imajinasi anak kecil.
Namun perlahan, kemampuan Adeline menyelamatkan keluarganya.
Ketika seseorang berpura-pura baik.
Ketika ada anggota keluarga yang diam-diam berkhianat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Rumah besar Wijaya sedang sunyi pada sore itu ketika bel pintu berdering. Adrian membuka pintu dan menemukan seorang wanita tua berdiri di ambang dengan pakaian sederhana dan wajah yang familiar. Wanita itu tersenyum tipis, tetapi matanya penuh dengan emosi yang sulit dijelaskan.
"Adrian," sapa wanita itu dengan suara bergetar. "Sudah lama sekali. Kau pasti tidak ingat padaku. Aku Sari. Aku dulu bekerja sebagai asisten ibumu."
Adrian terkejut. Dia mengingat nama itu dari cerita-cerita masa kecilnya. Sari adalah wanita yang sangat dekat dengan ibunya, Sarah, sebelum dia meninggal dunia. "Tante Sari? Tapi ... aku pikir Tante sudah pindah ke luar negeri."
Sari menggeleng. "Aku tidak pernah pergi, Adrian. Aku hanya ... menyembunyikan diri. Ada hal-hal yang tidak bisa aku katakan dulu. Tapi sekarang, aku harus kembali. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan padamu dan ayahmu."
William yang mendengar suara dari ruang tamu, segera berjalan mendekati pintu. Ketika dia melihat Sari, wajahnya berubah pucat. "Sari? Kenapa kamu kembali? Aku pikir kita sudah sepakat untuk tidak pernah bertemu lagi."
Sari menatap William dengan tatapan tajam. "Aku tahu kita sudah sepakat, William. Tapi rahasia yang kita kubur selama ini tidak bisa bersembunyi selamanya. Hartono sudah mulai bergerak. Dan jika kita tidak melakukan sesuatu, semua yang kita bangun akan hancur."
Adeline yang mendengar percakapan itu dari tangga, segera turun dan mendekati mereka. Gadis kecil itu menatap Sari dengan rasa ingin tahu. Telinga batinnya terbuka, mencoba menangkap suara hati wanita tua itu. Dan apa yang dia dengar membuatnya terkejut.
Sari menyimpan banyak kebenaran. Dia tahu tentang masa lalu perusahaan, tentang hubungan William dan Hartono, dan tentang sesuatu yang terjadi pada Sarah, nenek Adeline, sebelum dia meninggal. Dan semua kebenaran itu bisa mengubah segalanya.
"Tante Sari," kata Adeline pelan, "Tante tahu banyak hal, ya? Tante tahu tentang Nenek Sarah, tentang apa yang sebenarnya terjadi padanya."
Sari menatap Adeline dengan mata terbelalak. "Kamu ... kamu siapa, Nak? Bagaimana kamu bisa tahu tentang Sarah?"
Adrian menggenggam tangan putrinya. "Ini Adeline, putriku. Dia memiliki kemampuan istimewa. Dia bisa mendengar suara hati orang."
Sari terdiam. Matanya berkaca-kaca saat menatap Adeline. "Kamu mirip sekali dengan Sarah. Matamu, caramu berbicara, semuanya. Dia juga memiliki kemampuan itu."
William menghela napas panjang. "Ayo masuk dulu, Sari. Sepertinya sudah waktunya kita membicarakan semua ini."
Mereka semua duduk di ruang tamu. Elena menyajikan teh dan camilan, sementara Nathan duduk di samping Adeline, siap melindungi adiknya jika diperlukan. Sari mulai bercerita dengan suara pelan dan penuh emosi.
"Sarah dan aku adalah sahabat karib," kata Sari. "Aku tahu tentang kemampuannya sejak dia masih muda. Dan aku juga tahu tentang Hartono. Hartono adalah kekasih Sarah sebelum dia menikah dengan William."
William menundukkan kepalanya. Dia tahu cerita ini akan keluar suatu hari nanti. "Sarah dan Hartono bertunangan sebelum dia bertemu denganku. Tapi Hartono mengkhianatinya. Dia menggunakan Sarah untuk mendapatkan akses ke perusahaan. Ketika Sarah tahu, dia memutuskan pertunangan dan memilihku. Hartono dendam. Dia tidak pernah bisa menerima bahwa Sarah memilihku."
Sari mengangguk. "Hartono tidak pernah berhenti mencintai Sarah, dan tidak pernah berhenti membenci William. Ketika Sarah meninggal, dia percaya bahwa William yang bertanggung jawab atas kematiannya. Dia mengira William membunuh Sarah untuk mendapatkan perusahaan."
Adrian terkejut. "Tapi itu tidak benar! Ibu meninggal karena sakit!"
"Kami tahu itu," jawab Sari. "Tapi Hartono tidak pernah percaya. Dan kebenciannya semakin menjadi-jadi selama bertahun-tahun. Dia merencanakan kehancuran keluarga Wijaya sejak saat itu. Victor dan Marissa hanya pion dalam permainannya."
Adeline mendengarkan semua cerita itu dengan saksama. Dia bisa mendengar rasa sakit di hati Sari, penyesalan di hati William, dan ketakutan di hati keluarganya. Tetapi di antara semua itu, ada satu hal yang dia perhatikan. Suara hati Sari menyimpan satu kebenaran lagi, kebenaran yang bahkan tidak dia katakan dengan keras.
Adeline menatap Sari dengan mata jernih. "Tante Sari, ada satu hal lagi yang Tante sembunyikan. Tentang Nenek Sarah. Tante tahu sesuatu yang bahkan Kakek tidak tahu."
Sari terkejut. Dia menatap Adeline dengan tak percaya. "Kamu ... kamu benar-benar bisa mendengar semuanya?"
Adeline mengangguk. "Aku tidak mendengar semuanya, tapi aku bisa merasakan bahwa Tante menyimpan satu rahasia lagi. Tentang Nenek Sarah. Tentang apa yang sebenarnya terjadi sebelum dia meninggal."
Ruangan itu sunyi. Semua mata tertuju pada Sari. Wanita tua itu menarik napas panjang dan akhirnya mengangguk.
"Sarah meninggal karena sakit, itu benar. Tapi sebelum dia meninggal, dia menemukan sesuatu. Dia menemukan bahwa Hartono merencanakan untuk mengambil alih perusahaan dengan cara apapun. Dia menemukan bahwa Hartono telah menyusupkan orang-orangnya ke dalam perusahaan. Dan sebelum dia meninggal, dia memberiku sebuah dokumen. Dokumen yang berisi semua bukti tentang rencana Hartono."
William terkejut. "Dokumen? Kenapa Sarah tidak pernah memberitahuku?"
"Karena dia takut," jawab Sari. "Dia takut Hartono akan menyakitimu dan anak-anakmu jika dia tahu bahwa Sarah menemukan rencananya. Jadi dia memberiku dokumen itu dan memintaku untuk menyembunyikannya sampai saat yang tepat. Dan sekarang, saatnya telah tiba."
Sari mengeluarkan sebuah amplop tua dari dalam tasnya. Amplop itu sudah menguning dan kusut, tetapi masih utuh. Dia menyerahkannya pada William dengan tangan gemetar.
"Ini dia. Semua bukti yang kita butuhkan untuk menghancurkan Hartono selamanya."
William membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya ada surat-surat tua, foto-foto, dan dokumen-dokumen yang membuktikan semua kejahatan Hartono. Air mata mengalir di pipi pria tua itu saat dia membaca semua isinya.
"Sarah," bisik William pelan. "Kau menyelamatkan kami semua, meskipun dari balik kubur."
Adeline mendekati kakeknya dan memeluknya erat. "Nenek Sarah pasti sangat menyayangi Kakek. Dia melakukan semua ini untuk melindungi Kakek."
William memeluk cucunya dan menangis dalam pelukannya. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, beban masa lalu yang dia pikul mulai terasa lebih ringan. Kebenaran akhirnya terungkap, dan dengan kebenaran itu, keadilan akan segera datang.
Malam itu, keluarga Wijaya berkumpul dalam pelukan yang hangat. Mereka telah menemukan kunci untuk mengalahkan musuh mereka. Dan dengan bantuan Sari, mereka akhirnya bisa melihat gambaran utuh dari semua konspirasi yang terjadi selama bertahun-tahun.
Adeline tersenyum melihat keluarganya yang bersatu. Dia tahu bahwa pertempuran masih panjang, tetapi dia juga tahu bahwa dengan kasih sayang dan kebenaran di sisi mereka, tidak ada yang bisa mengalahkan keluarga Wijaya.