Indonesia
NovelToon NovelToon
Takut Nikah

Takut Nikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Cintamanis / Romansa
Popularitas:369k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

"Kapan nikah?"

"Udah mau 30 loh."

"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."

Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.

3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.

Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?

Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Asri masuk ke dalam kamar, menyusul Andika yang telah lebih dulu masuk. Wajah wanita itu tampak penuh tanda tanya. Ia sama sekali tidak menyangka suaminya bisa berubah pikiran secepat itu.

“Mas,” panggil Asri akhirnya.

Andika menoleh. “Hm?”

“Kenapa tiba-tiba Mas merestui hubungan Jena dan Budi?” Ia mendekati suaminya yang duduk di sisi ranjang, lalu duduk di sebelahnya.

Andika mengernyit. “Memangnya kenapa?”

Asri melangkah mendekat. “Aku tahu Mas. Selama ini Mas selalu bilang Jena harus menikah dengan laki-laki yang setara, sampai kamu sendiri yang sibuk nyariin jodoh. Mas tidak pernah mau menerima menantu dari kelas sosial bawah.” Ia menatap suaminya lekat-lekat.

“Sekarang, begitu Jena bilang punya pacar, bahkan ingin menikah dengannya, Mas langsung setuju. Aneh," lanjut Asri.

Andika justru tersenyum tipis. “Bukankah tadi kamu sendiri yang bilang curiga?” Tadi saat Jena mengantar Budi pulang, Bu Asri sempat mengatakan itu.

Asri terdiam.

“Aku juga heran,” lanjut Andika. “Tiba-tiba Jena punya calon suami. Selama ini setiap kali aku mengenalkan dia pada laki-laki, dia selalu menolak. Sekarang, tanpa angin tanpa hujan, dia datang dan bilang sudah punya laki-laki yang mau dinikahinya.”

Andika naik ke atas ranjang, menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. "Kata kamu, setelah putus dari pacarnya saat kuliah dulu, Jena gak pernah pacaran lagi. Kamu juga selalu nyalahin aku, bilang aku telah membuat Jena trauma dan takut menjalin hubungan, sampai takut nikah. Dan sekarang, tiba-tiba punya pacar. Menurutku, Jena sengaja.”

“Sengaja?”

“Iya. Mungkin dia pikir, kalau dia membuat cerita seolah-olah sudah punya calon suami, aku akan menyerah mencarikan dia jodoh."

Asri mengangguk pelan. Masuk akal juga.

“Lalu kenapa Mas tadi bilang setuju?”

Andika terkekeh kecil. “Karena aku ingin melihat seberapa jauh drama yang dia buat. Kalau memang Budi itu benar-benar laki-laki yang dia cintai, minggu depan dia pasti datang ke sini.”

“Kalau tidak?”

Andika mengangkat bahu. “Berarti dugaanku benar. Semua ini cuma akal-akalan Jena supaya aku berhenti mencarikan dia jodoh. Seolah-olah dia bisa cari jodoh sendiri, cuma salahnya, aku yang tidak merestui."

Asri tersenyum samar, tetapi masih menyimpan keraguan. “Kasihan Jena kalau tahu ternyata Mas malah menguji dia.”

“Bukan menguji,” jawab Andika santai. “Aku cuma memberikan kesempatan untuk membuktikan ucapannya sendiri.” Andika kemudian tersenyum penuh keyakinan. “Sekarang kita lihat saja. Minggu depan, apakah laki-laki itu benar-benar datang ke sini untuk melamar Jena.”

"Bagaimana kalau dia benar-benar datang?" Asri memikirkan soal itu. "Apa kamu akan merestui?'

Andika terdiam beberapa saat.

"Kamu gak mungkinkan Mas, menolak orang yang kamu suruh sendiri datang untuk melamar Jena?"

Andika garuk-garuk kepala. Kemungkinan itu membuat dia cemas juga. Gimana kalau beneran datang?

"Mungkin akan aku pertimbangan."

Asri menghela nafas panjang. "Ya kalau sudah kamu suruh datang melamar, ya jangan dipertimbangkan lagi, ya harus diterima." Ia geleng-geleng. "Kok aku jadi takut, kamu yang terjebak dalam permainan ini."

"Sudahlah, kita lihat saja minggu depan."

...----------------...

Pagi itu, meja makan terasa hangat. Asri sedang menuangkan teh tawar ke dalam cangkir ketika Jena sibuk mengambil lauk. Di seberang mereka, Andika menikmati sarapannya dengan tenang.

Untuk beberapa saat, suasana begitu damai. Sampai suara bel rumah terdengar.

Ting tong!

Asri mengernyitkan dahi.

“Siapa pagi-pagi begini?”

Jena mengangkat bahu. Andika justru terlihat tak peduli.

Asisten rumah tangga ke depan untuk membukakan pintu, dan tak lama kemudian, seorang tamu tak diundang memasuki ruang makan.

Senyumnya lebar. Terlalu lebar, seolah-olah kedatangannya adalah sesuatu yang sangat wajar.

“Selamat pagi.”

Tangan Asri yang sedang memegang sendok langsung berhenti. Andika kaget, Jena pun terdiam. Perempuan itu adalah Juwita.

“Oh...” Juwita tersenyum semakin manis. “Ternyata kalian sedang sarapan.”

Tidak ada yang langsung menjawab. Andika meletakkan sendoknya perlahan. “Kamu ngapain ke sini?”

Senyum Juwita tidak langsung hilang. “Kenapa? Emang aku nggak boleh datang? Bukannya istri tua dan muda akur itu sesuatu yang bagus ya?"

Asri tersenyum miring, seolah tahu yang dikatakan Juwita hanya basa basi semata.

“Aku tanya sekali lagi, ada keperluan apa kesini?" tanya Andika.

Juwita mendekati meja makan, memperhatikan menu di atas meja. “Nggak ada apa-apa. Aku cuma kebetulan lewat.”

Jena melirik ibunya. Ia tahu betul Juwita tidak mungkin datang hanya karena kebetulan lewat.

Asri pun tersenyum tipis. “Rumah ini jauh dari jalan utama. Yakin, hanya kebetulan lewat?"

Senyum Juwita menghilang. "Sebenarnya, aku memang sengaja kesini. Aku cuma mau memastikan sesuatu.”

“Memastikan?" ulang Asri.

“Mau memastikan apa benar Mas Andika ada disini atau tidak." Ia melirik Andika.

Andika menahan nafas.

Juwita tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana. “Jangan salah paham, aku tidak melarang Mas Andika kesini. Aku cuma takut Mas Andika ternyata sedang di rumah perempuan lain.” Tatapan Juwita sekilas beralih kepada Asri. Asri tidak membalas tatapan itu. Ia hanya kembali mengambil tehnya dengan tenang.

Namun Jena diam-diam menahan senyum. Ternyata ucapannya hari itu, sangat berdampak pada Juwita, wanita itu gelisah sekarang, takut suaminya benar-benar mau menikah lagi.

“Namanya juga istri. Wajar dong kalau khawatir.” Juwita tersenyum.

“Sekarang kamu sudah tahu aku ada di sinikan," ujar Andika. “Jadi, pulanglah.”

Senyum di wajah Juwita perlahan memudar. “Aku baru datang. Aku bahkan belum minum.”

"Apa di rumahmu tak ada minuman?" Asri menatap Juwita sinis. "Makanan dan minuman di atas meja ini, khusus untuk suami dan anakku, bukan untuk tamu tak diundang."

Wajah Juwita tampak kesal.

"Pulanglah!" Andika menatap tajam, ekspresinya tampak sedang tak ingin dibantah.

Jena menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan senyum kecilnya.

Asri pun diam. Namun dari sorot matanya, terlihat jelas ia merasa tidak nyaman dengan situasi ini.

“Baiklah.” Juwita balik badan lalu melangkah kembali ke pintu utama.

“Kenapa sih dia harus datang pagi-pagi, merusak suasana aja," gerutu Jena.

Asri tiba-tiba beranjak dari duduknya, menyusul Juwita.

1
Humaira
bidadari surganya budi 😂😂
Humaira
hajarrr jen... hajar itu mulut kurang ajar 😤
Humaira
baguslah, kalau bisa andika jangan pulang2 lagi ke rumah pelakor 😤
Asih Rahmadhani Bohara
padahal udh dksh peringatan sama Jena.. tetap aja ngulah
novel destiny
keluarga emak nya jena julid nya kaya si Juwita 🤣🤣
Hani Ekawati
Ga usah berlebihan muji nya Bud, aku kok jadi ngeri klo cowok yang mulutnya manis 😂
Hani Ekawati
Awas kamu Bud ga usah pinter gombal, klo cowok pinter gombal aku jadi inget si aki Andre 😂
lyani
bener Jen jangan diem aja..lawan mulut julid....kl perlu sini saya tambah sandal
Hani Ekawati
Bagus Jen, lawan aja mulut nyinyir nya si Cindy. 😂
Hani Ekawati
Ini si Cindy punya mulut nyinyir banget julid banget, kudu disemprot sama kamu Jen biar mulutnya bisa diem.
Hani Ekawati
Heh mau tukang roti bakar atau tukang apa pun yang penting kerjaan nya halal dan yang penting bukan suami orang !!!
Situ julid banget jadi orang🙄
ryuka
selalu,ada yg kaya gitu jen di keluarga besar.. ngomongin orang seakan dia yg paling bagus
lyani
kesian deh gagal Dion berarti gagal jg kamu menguasai harta y ju
Eonnie Nurul
biasa hidup ya gitu belum nikah di tanya kapan nikah , sudah nikah kapan punya anak , kapan mantu , segitunya orang gak punya kerjaan ngurus orang lain padahal sudah tua ( dalam hati kapan kamu menghadap ilahi ) 🤭
Rahmawati
kasian bocah bau kencur kecewa karna jena tetep nikah sama budi😂
vj'z tri
aku suka huru hara /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/ serangggggg
jumirah slavina
padahal barusan dia mode Singa lo Bud., senggol bac0k

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
jumirah slavina
hidup sombong🤣🤣🤣🤣🤣🤣
vj'z tri
pinter nak udah di brifing dulu ternyata /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
enungdedy
gak tau knp klo baca cerita dri author tuh kyak gmn ya..gk lebay penulisannya
lebih ke cerita dam bhasa sehari2 kita gtu..jdi yg baca tuh kyak ikut mssuk kedlm cerita langsung....pokoknya suka bgt sm cerita2 kak yutantia🥰
yutantia 10: Makasih kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!