"Kapan nikah?"
"Udah mau 30 loh."
"Jangan pilih-pilih, nanti jadi perawan tua."
Jena muak sekali dengan semua itu. Baginya, menikah bukan kriteria kesuksesan seseorang. Mau nikah atau pun tidak, itu juga bukan urusan mereka, tapi entah kenapa, mereka suka sekali mengurusi hidupnya.
3 kali ia menjalin kasih, endingnya selalu diselingkuhi. Sahabat terbaiknya, jadi janda diusia 25 tahun karena suaminya selingkuh. Dan yang paling gong, Papa yang ia sayang dan sosok yang ia kagumi, diam-diam ternyata punya istri kedua. Lalu, laki-laki seperti apa lagi yang bisa ia percaya.
Baginya, berurusan dengan laki-laki, hanyalah cari penyakit. Entah sekarang atau nanti, pasti endingnya disakiti. Ia tak mau menikah. Kalau sendiri bisa bahagia, untuk apa berdua?
Sampai kejadian tak terduga, mempertemukanmu dia dengan Budi. Laki-laki yang humoris, dan selalu bilang. "Gak semua laki-laki kayak gitu, Mbak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24
Asri masuk ke dalam kamar, menyusul Andika yang telah lebih dulu masuk. Wajah wanita itu tampak penuh tanda tanya. Ia sama sekali tidak menyangka suaminya bisa berubah pikiran secepat itu.
“Mas,” panggil Asri akhirnya.
Andika menoleh. “Hm?”
“Kenapa tiba-tiba Mas merestui hubungan Jena dan Budi?” Ia mendekati suaminya yang duduk di sisi ranjang, lalu duduk di sebelahnya.
Andika mengernyit. “Memangnya kenapa?”
Asri melangkah mendekat. “Aku tahu Mas. Selama ini Mas selalu bilang Jena harus menikah dengan laki-laki yang setara, sampai kamu sendiri yang sibuk nyariin jodoh. Mas tidak pernah mau menerima menantu dari kelas sosial bawah.” Ia menatap suaminya lekat-lekat.
“Sekarang, begitu Jena bilang punya pacar, bahkan ingin menikah dengannya, Mas langsung setuju. Aneh," lanjut Asri.
Andika justru tersenyum tipis. “Bukankah tadi kamu sendiri yang bilang curiga?” Tadi saat Jena mengantar Budi pulang, Bu Asri sempat mengatakan itu.
Asri terdiam.
“Aku juga heran,” lanjut Andika. “Tiba-tiba Jena punya calon suami. Selama ini setiap kali aku mengenalkan dia pada laki-laki, dia selalu menolak. Sekarang, tanpa angin tanpa hujan, dia datang dan bilang sudah punya laki-laki yang mau dinikahinya.”
Andika naik ke atas ranjang, menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. "Kata kamu, setelah putus dari pacarnya saat kuliah dulu, Jena gak pernah pacaran lagi. Kamu juga selalu nyalahin aku, bilang aku telah membuat Jena trauma dan takut menjalin hubungan, sampai takut nikah. Dan sekarang, tiba-tiba punya pacar. Menurutku, Jena sengaja.”
“Sengaja?”
“Iya. Mungkin dia pikir, kalau dia membuat cerita seolah-olah sudah punya calon suami, aku akan menyerah mencarikan dia jodoh."
Asri mengangguk pelan. Masuk akal juga.
“Lalu kenapa Mas tadi bilang setuju?”
Andika terkekeh kecil. “Karena aku ingin melihat seberapa jauh drama yang dia buat. Kalau memang Budi itu benar-benar laki-laki yang dia cintai, minggu depan dia pasti datang ke sini.”
“Kalau tidak?”
Andika mengangkat bahu. “Berarti dugaanku benar. Semua ini cuma akal-akalan Jena supaya aku berhenti mencarikan dia jodoh. Seolah-olah dia bisa cari jodoh sendiri, cuma salahnya, aku yang tidak merestui."
Asri tersenyum samar, tetapi masih menyimpan keraguan. “Kasihan Jena kalau tahu ternyata Mas malah menguji dia.”
“Bukan menguji,” jawab Andika santai. “Aku cuma memberikan kesempatan untuk membuktikan ucapannya sendiri.” Andika kemudian tersenyum penuh keyakinan. “Sekarang kita lihat saja. Minggu depan, apakah laki-laki itu benar-benar datang ke sini untuk melamar Jena.”
"Bagaimana kalau dia benar-benar datang?" Asri memikirkan soal itu. "Apa kamu akan merestui?'
Andika terdiam beberapa saat.
"Kamu gak mungkinkan Mas, menolak orang yang kamu suruh sendiri datang untuk melamar Jena?"
Andika garuk-garuk kepala. Kemungkinan itu membuat dia cemas juga. Gimana kalau beneran datang?
"Mungkin akan aku pertimbangan."
Asri menghela nafas panjang. "Ya kalau sudah kamu suruh datang melamar, ya jangan dipertimbangkan lagi, ya harus diterima." Ia geleng-geleng. "Kok aku jadi takut, kamu yang terjebak dalam permainan ini."
"Sudahlah, kita lihat saja minggu depan."
...----------------...
Pagi itu, meja makan terasa hangat. Asri sedang menuangkan teh tawar ke dalam cangkir ketika Jena sibuk mengambil lauk. Di seberang mereka, Andika menikmati sarapannya dengan tenang.
Untuk beberapa saat, suasana begitu damai. Sampai suara bel rumah terdengar.
Ting tong!
Asri mengernyitkan dahi.
“Siapa pagi-pagi begini?”
Jena mengangkat bahu. Andika justru terlihat tak peduli.
Asisten rumah tangga ke depan untuk membukakan pintu, dan tak lama kemudian, seorang tamu tak diundang memasuki ruang makan.
Senyumnya lebar. Terlalu lebar, seolah-olah kedatangannya adalah sesuatu yang sangat wajar.
“Selamat pagi.”
Tangan Asri yang sedang memegang sendok langsung berhenti. Andika kaget, Jena pun terdiam. Perempuan itu adalah Juwita.
“Oh...” Juwita tersenyum semakin manis. “Ternyata kalian sedang sarapan.”
Tidak ada yang langsung menjawab. Andika meletakkan sendoknya perlahan. “Kamu ngapain ke sini?”
Senyum Juwita tidak langsung hilang. “Kenapa? Emang aku nggak boleh datang? Bukannya istri tua dan muda akur itu sesuatu yang bagus ya?"
Asri tersenyum miring, seolah tahu yang dikatakan Juwita hanya basa basi semata.
“Aku tanya sekali lagi, ada keperluan apa kesini?" tanya Andika.
Juwita mendekati meja makan, memperhatikan menu di atas meja. “Nggak ada apa-apa. Aku cuma kebetulan lewat.”
Jena melirik ibunya. Ia tahu betul Juwita tidak mungkin datang hanya karena kebetulan lewat.
Asri pun tersenyum tipis. “Rumah ini jauh dari jalan utama. Yakin, hanya kebetulan lewat?"
Senyum Juwita menghilang. "Sebenarnya, aku memang sengaja kesini. Aku cuma mau memastikan sesuatu.”
“Memastikan?" ulang Asri.
“Mau memastikan apa benar Mas Andika ada disini atau tidak." Ia melirik Andika.
Andika menahan nafas.
Juwita tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana. “Jangan salah paham, aku tidak melarang Mas Andika kesini. Aku cuma takut Mas Andika ternyata sedang di rumah perempuan lain.” Tatapan Juwita sekilas beralih kepada Asri. Asri tidak membalas tatapan itu. Ia hanya kembali mengambil tehnya dengan tenang.
Namun Jena diam-diam menahan senyum. Ternyata ucapannya hari itu, sangat berdampak pada Juwita, wanita itu gelisah sekarang, takut suaminya benar-benar mau menikah lagi.
“Namanya juga istri. Wajar dong kalau khawatir.” Juwita tersenyum.
“Sekarang kamu sudah tahu aku ada di sinikan," ujar Andika. “Jadi, pulanglah.”
Senyum di wajah Juwita perlahan memudar. “Aku baru datang. Aku bahkan belum minum.”
"Apa di rumahmu tak ada minuman?" Asri menatap Juwita sinis. "Makanan dan minuman di atas meja ini, khusus untuk suami dan anakku, bukan untuk tamu tak diundang."
Wajah Juwita tampak kesal.
"Pulanglah!" Andika menatap tajam, ekspresinya tampak sedang tak ingin dibantah.
Jena menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan senyum kecilnya.
Asri pun diam. Namun dari sorot matanya, terlihat jelas ia merasa tidak nyaman dengan situasi ini.
“Baiklah.” Juwita balik badan lalu melangkah kembali ke pintu utama.
“Kenapa sih dia harus datang pagi-pagi, merusak suasana aja," gerutu Jena.
Asri tiba-tiba beranjak dari duduknya, menyusul Juwita.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sekarang di kasih kesempatan tidak akan di sia sia kan ,,,batasnya jam 7. Jena Budiman akan berubah jadi pangeran makanya jangan bermain dengan Pria niat baik
😄👍
pernikahan bukan permainan...