Indonesia
NovelToon NovelToon
Kutukan Mbah Golok Sakti

Kutukan Mbah Golok Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.

Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.

Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!

Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?

Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Akting Memelas Demi Nasi Rames

"Gue... gue nggak boleh pasrah mati konyol dengan status sebagai gembel kelaparan yang tewas di tiang listrik berkarat ini. Gue sekarang harus segera bergerak cepat mencari mangsa... eh salah maksud gue, mencari sesosok manusia dermawan kaya. Begitu isi perut nenek tua ini berhasil kenyang makan, misi darurat dinyatakan beres, dan gue bisa langsung check-out cabut dari dimensi terkutuk ini!" gumamnya memotivasi diri sendiri penuh tekad membara.

Meskipun realitas pahitnya, ia sendiri sebenarnya saat itu masih buta arah dan tidak tahu bagaimana cara untuk bisa pulang kembali ke ruangan lantai dua kafenya Aji.

Reno kembali memaksakan sepasang kaki keriputnya untuk terus melangkah berjalan menyusuri trotoar jalan raya, meskipun rasanya setiap sendi tulang di tubuh nenek tua ini sudah berteriak minta segera disuntik oli samping traktor.

Bagian kepalanya mendadak terasa sangat berat bukan main, seolah-olah ada sesosok hewan gajah sumatra berukuran besar yang sedang asyik duduk santai tepat di atas ubun-ubun kepalanya.

‘Lapar banget ya Allah, Gusti... Wahai perut nenek, tolong banget ya kerja samanya siang ini. Jangan terus-menerus menggelar konser demo dulu di dalam, nanti setelah ini kita bakal cari pesanan katering makanan enak!’ ratap Reno merana di dalam lubang hatinya sembari langkah kakinya berjalan sempoyongan dengan kondisi sepasang mata yang sudah berkunang-kunang menatap tajam ke arah aspal jalanan.

Karena sejak tadi fokus pandangan matanya terlalu menunduk ke bawah meratapi nasib sialnya, Reno sama sekali tidak menyadari kalau ada sebuah objek manusia yang sedang berjalan berlawanan arah tepat di depannya.

BRUKKK!

Tubuh ringkih Reno seketika langsung terpental jatuh ke arah belakang, dan bagian bokong tipis si nenek mendarat telak menghantam permukaan tanah yang keras.

"Aduh mampus... encok di punggung gue beneran berasa mendadak pindah ke dalam organ ginjal nih!" rintihnya keras mengeluarkan suara serak khas nenek-nenek tua.

"Eh, astaga maaf banget, Nek! Aduh, sumpah aku beneran nggak sengaja nabrak tadi! Nenek mohon maaf nggak apa-apa, kan, ada yang luka?"

Mendengar suara itu, seorang gadis remaja yang masih mengenakan seragam sekolah SMP dengan ekspresi wajah panik luar biasa langsung bergerak cepat menghampiri posisinya.

Dengan sangat sigap, gadis remaja itu meletakkan kantong kresek belanjanya di atas tanah, lalu kedua tangannya dengan lembut membantu memapah pergelangan lengan Reno yang kondisinya tinggal tulang di bungkus kulit.

Gadis itu juga dengan cekatan membantu memunguti buntalan kain kumal Reno yang sempat menggelinding jatuh ke aspal.

Reno mulai mendongakkan kepalanya ke atas, mencoba sekuat tenaga mengatur ritme napas seraknya agar tidak terdengar berisik mirip seperti mesin kompresor tambal ban yang rusak.

Ia mulai memasang sorot mata yang dibuat-buat seteduh mungkin yang bisa ia usahakan, lalu melempar seulas senyuman tulus (sebuah akting manipulasi watak versi terbaiknya).

"Terima kasih banyak atas bantuannya ya, Cu. Kamu beneran sosok gadis remaja yang berhati sangat baik dan... berwajah cantik," ucap Reno dengan nada bicara tenang diatur rapi.

Padahal realitasnya di dalam lubang hatinya, Reno sedang menjerit protes keras: ‘Cantik dari mana sih maksud lidah gue tadi?! Ini bocah SMP penampakan wajahnya dekil bener, banyak jerawat batunya, mana warna kulitnya tampak gelap gosong akibat keseringan kena sengatan matahari siang lagi! Jauh banget jaraknya kalau mau dibandingin sama standar kecantikan para mantan-mantan pacar gue dulu di Jakarta yang kulitnya pada bening berkilau kayak kristal kaca!’

Namun, demi menjaga kelangsungan hidup lambung perutnya yang sudah sekarat, Reno rela mengeluarkan jurus rayuan maut andalannya tingkat kelurahan.

"Sebagai bentuk ucapan rasa terima kasih dari Nenek karena kamu tadi sudah berbaik hati menolong fisik Nenek yang renta dan lemah ini, Nenek di sini ingin memberimu sebuah hadiah barang yang sangat berharga."

Reno mulai merogoh ke dalam buntalan kain hitamnya dengan satu gerakan tangan yang sengaja dibuat sedramatis mungkin, lalu ia menyerahkan selembar kantong kain hitam kumal yang di dalamnya berisi dua buah ubi mentah keras tadi.

‘Makan nih ubi beton mentah dari gue, moga-moga aja kekuatan gigi lo cukup kuat buat ngunyahnya ya, Cu,’ batin Reno nakal tertawa jahat.

"Eh, tidak usah repot-repot kasih hadiah begini, Nek! Alin di sini beneran ikhlas kok nolongin Nenek. Lagipula kejadian tabrakan tadi kan murni salah Alin yang jalan kakinya sambil melamun," tolak gadis remaja bernama Alin itu dengan ekspresi wajah yang tampak tidak enak hati.

"Tolong jangan pernah ditolak pemberian rezeki ini, Cu. Sangat tidak baik bagi seorang anak muda menolak pemberian rezeki dari sesosok nenek-nenek tua yang kondisinya sudah mau bau tanah begini," tangan keriput Reno sengaja dibuat bergetar hebat secara ekstrem saat menyodorkan kain ubi mentah itu, sebuah trik drama untuk menambah efek dramatisasi agar si gadis Alin semakin menaruh rasa iba yang mendalam.

Sepasang mata Reno tampak melirik tajam penuh selidik ke arah sebungkus nasi rames hangat yang menyembul dari balik kantong kresek yang dipegang Alin.

‘Ayo dong Cu, cepetan gerakkan tangan lo buat menyerahkan sebungkus nasi rames nikmat itu pada Nenek tua yang aslinya ganteng ini...’

"Nenek tadi jalan kakinya juga kurang hati-hati karena sejujurnya... terhitung sudah dua hari berturut-turut ini Nenek belum ada kemasukan makanan nasi sama sekali di perut, Cu..."

Reno memegangi area perut bungkuknya yang kebetulan pada detik itu juga memang sedang mengeluarkan suara keroncongan yang sangat nyaring, layaknya pantulan suara dari knalpot racing motor.

Mendengar pengakuan tragis itu, pertahanan hati Alin seketika langsung ambyar total. Rasa ibanya meledak hebat sebadan-badan. Ia segera menuntun dengan hati-hati langkah kaki bungkuk Reno untuk diajak duduk santai di atas sebuah bangku kayu panjang yang terletak di bawah naungan pohon mahoni yang rindang.

Tanpa perlu memakai acara berpikir panjang lagi, Alin langsung merogoh kantong kreseknya dan menyerahkan satu-satunya harta karun makanan berharganya siang itu kepada Reno.

"Ini buat menu makan Nenek saja. Mohon maaf ya Nek kalau Alin cuma punya makanan seadanya ini, tolong segera dimakan ya, Nek?" ucap gadis itu dengan nada suara sangat tulus sambil menyodorkan sebungkus nasi rames yang kondisinya masih terasa hangat.

Sepasang mata Reno seketika langsung berbinar-binar cerah secerah pancaran lampu diskotik malam hari. Tanpa perlu menggunakan acara tata krama atau jabat sopan santun lagi, jemari tangan keriputnya langsung menyambar cepat bungkus nasi rames tersebut dan mulai memakannya dengan sangat lahap beringas.

Mulut si nenek tampak penuh sesak oleh gumpalan nasi sampai kedua pipi keriputnya menggembung besar ke samping.

‘Gila parah sih ini nikmatnya! Menu nasi rames lauk telur pinggir jalan raya aja ternyata rasanya bisa berubah jauh lebih enak daripada daging steak wagyu mahal, kalau kondisi tubuh lo emang lagi beneran kelaparan tingkat dewa begini!’

1
Ed Troivan
lanjut thor 💪
Ed Troivan
💪💪💪👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!