Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.
Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.
Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.
Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: RAHAZIA DI BALIK PEDANG ZHAOYANG
Keheningan yang mematikan menusuk udara kedai teh di tepi kanal Kota Fengling. Asam tengik racun pembusuk darah dari botol pualam yang retak masih menguar tipis di atas meja kayu, namun bau kebohongan seribu tahun yang baru saja terkuak terasa jauh lebih beracun.
Shen Rui mematung. Tangannya yang menggenggam Pedang Zhaoyang bergetar hebat—sebuah getaran yang tak pernah dirasakannya sejak pertama kali memegang bilah perunggu itu di usia tujuh tahun.
"Segel Kuno..." bisik Shen Rui. Suaranya serak dan pecah, sarat akan penolakan batin yang dahsyat. "Kau bilang... pedangku digunakan untuk memotong inti jiwa Lian Yue demi memberi makan kekuatan perguruan?"
"Lihat sendiri jika kau tidak percaya!" bentak Qing Luo murka. Siluman ular hijau itu mengibaskan lengan gaunnya, mengalirkan qi hijau pekat yang menghantam kain rami pembungkus Pedang Zhaoyang hingga terkelupas habis.
Bilah baja perunggu Pedang Zhaoyang terdedah di keremangan ruangan. Di bawah temaram cahaya lilin yang redup, ukiran runik kuno di sepanjang bilah pedang itu mendadak memendarkan pendar merah kehitaman yang redup dan menjijikkan—bukan qi perunggu murni khas jalan pedang suci, melainkan aura esensi jiwa yang haus darah dan terbelenggu.
Lian Yue menatap pendar merah pada bilah pedang tersebut. Tanda bulan sabit perak di lengan atasnya mendadak berdenyut sangat sakit, seolah-olah mengenali jeritan jutaan serpihan jiwanya yang telah terpotong dan terserap ke dalam pedang itu selama tiga kehidupan.
"Pedang Zhaoyang bukan pusaka pelindung keadilan," kata Qing Luo dengan suara rendah yang amat menakutkan. "Itu adalah wadah penampung esensi. Setiap kali kau menancapkannya ke dada Lian Yue di masa lalu, pedang itu mencuri sepertiga esensi jiwanya dan mengirimkannya langsung ke bawah tanah Puncak Tianjian melalui jalinan array takdir."
Lian Yue melangkah mendekati Shen Rui, mengabaikan hawa membunuh yang berpusar di sekeliling pedang tersebut. Matanya yang berwarna perak bening menatap wajah Shen Rui yang pucat pasi.
"Shen Rui..." bisik Lian Yue lembut. Jemarinya yang dingin menyentuh punggung tangan Shen Rui yang gemetar di atas gagang pedang. "Itulah mengapa di kehidupan ini pedangmu selalu menolak untuk melukaiku. Jiwa pedang ini telah penuh oleh darah masa laluku..."
Shen Rui mendongak menatap Lian Yue. Air mata penyesalan dan kemarahan yang membakar jatuh membasahi pipi sang pemburu. Seluruh fondasi hidupnya—keyakinannya pada Paviliun Tianjian, rasa hormatnya pada Guru Xuan He, dan kebanggaannya sebagai pembasmi iblis—runtuh menjadi debu yang sia-sia.
Ia bukan seorang pahlawan. Selama tiga kehidupan, ia hanyalah alat tak berjiwa yang dimanfaatkan oleh gurunya sendiri untuk menumpahkan darah perempuan yang ditakdirkan menjadi belahan jiwanya.
"Guru Xuan He..." dentam Shen Rui, geramannya bergema rendah bagai petir dari kedalaman dadanya. Rasa hormatnya berganti menjadi amarah yang tak bertepi.
"Waktu kita tidak banyak," potong Qing Luo cepat, matanya melirik ke arah jendela kedai. "Jika aku bisa melacak kebenaran tentang racun dan pedang ini, itu artinya Pasukan Bayangan Tianjian juga sudah mengetahuinya. Xuan He tidak akan membiarkan Lian Yue mencapai hari ke-50, karena saat esensi jiwanya pulih sempurna, Segel Kuno Tianjian akan kehilangan pasokan tenaganya dan runtuh!"
Sebelum kata-kata Qing Luo selesai terucap, gemuruh angin dingin yang teramat dahsyat mendadak menghantam kedai teh.
Brakkk!
Atap kayu kedai terbelah dua oleh tebasan aura pedang raksasa berwarna merah darah. Genteng-genteng kayu berhamburan, dan dari balik gulungan kabut malam yang membeku di atas langit Kota Fengling, sebuah barisan kereta gantung berselimut bendera emas Paviliun Tianjian melayang di udara.
Di atas kereta gantung utama, berdiri seorang tetua berambut putih panjang mengenakan jubah keagungan bersulam simbol matahari perunggu. Hawa intimidasi tingkat tinggi terpancar dari tubuhnya, menekan seluruh kota hingga air kanal berhenti mengalir.
Dia adalah Tetua Mu, tangan kanan Guru Xuan He dan instruktur utama Pasukan Bayangan Tianjian.
"Shen Rui!" suara Tetua Mu bergema di atas langit malam, menggetarkan kaca-kaca jendela di seluruh kawasan kanal. "Kau telah terbukti membuang pedang suci dan bersekongkol dengan siluman! Bawa kepala ular putih itu ke hadapanku sekarang, atau kami akan membumiharuskan Kota Fengling beserta seluruh isinya!"
Shen Rui mencengkeram erat Pedang Zhaoyang. Ia tidak lagi menyembunyikan pendar pedangnya. Pria itu menatap lurus ke arah Tetua Mu di atas langit, lalu memutar tubuhnya membelakangi pelataran kedai untuk berdiri tegak di depan Lian Yue dan Qing Luo.
"Pedang ini..." ujar Shen Rui dengan keteguhan mutlak yang membakar jiwanya, "tidak akan pernah menumpahkan darahnya lagi."