Raya lemes ketika pacar yang sudah menemaninya saat miskin maupun sugih, saat waras maupun lagi nggak eling, saat susah maupun senang, kini hilang tidak ada kabar. Padahal Jaka sempat ajak Raya ke bazar kuliner sebelum menghilang.
Raya dan Jaka adalah pasangan seiya sekata senada dan seirama sejak 3 tahun lalu. Dulu Raya ketemu sama Jack saat lagi razia dagangan yang digelar depan panti jompo.
Raya suka ikut membantu bibinya jualan kembang kuburan dan aksesoris pemakaman, komisinya lumayan buat beli seblak bojrot. Apesnya hari ini sedang ada operasi gabungan sapu bersih dari tim Satpol PP.
" Ya Allah Pak, itu air mawar dan kendi-kendinya jangan dihancurin ya. Saya nggak punya modal lagi buat jualan kembang " mohon Bi Nur
Tiba-tiba ditengah kekacauan itu, muncullah pangeran tampan yang bikin hati Raya geter-geter kayak kena gempa. Lelaki yang baru turun dari truck Satpol PP itu adalah Jaka, ternyata dia adalah anak dari Komandan Pasukan yang bernama Pak Zaki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Baru
Dokter mengatakan luka di kening Raya sudah tak perlu dijahit ulang, tinggal menunggu waktu untuk benar-benar mengering. Tapi luka yang tak kelihatan itu jauh lebih sulit disembuhkan. Setiap kali ponselnya berbunyi, jantungnya masih berdebar berharap itu Jack, meski di saat yang sama ia takut setengah mati kalau benar dia yang menghubungi.
Raya memutuskan satu hal, ia tidak akan menunggu.
Bukan karena sudah ikhlas. Jauh dari kata itu. Tapi karena ia sadar, kalau terus-terusan menunggu penjelasan yang mungkin tak pernah datang, skripsinya yang tinggal bab empat dan lima itu bisa terbengkalai selamanya. Dan Mamah Yana sudah cukup banyak berkorban untuk kuliahnya. Ia tidak mau menambah beban ibunya dengan kuliah yang tak kunjung selesai.
Hari-hari berikutnya, Raya mulai membangun rutinitas baru. Bangun subuh, salat, lalu duduk di depan laptop sampai mata perih. Ia menghapus nomor Jack dari kontaknya, tapi tidak memblokirnya entah kenapa. Ada bagian kecil dari dirinya yang masih berharap suatu hari nanti akan ada pesan yang menjelaskan semuanya, pesan yang membuat semua ini masuk akal.
Dasha yang paling sering menemaninya di perpustakaan kampus. Setiap kali Raya mulai melamun, menatap kosong ke layar laptop yang sudah lama tak bergerak kursornya, Dasha akan menyodorkan segelas kopi atau sekadar menepuk pundaknya.
"Raya, fokus! Bab empat kamu ini udah bagus, tinggal analisisnya aja yang perlu diperkuat," ujar Dasha suatu sore, menunjuk layar laptop Raya.
"Iya Sha! Mudah-mudahan kita bisa segera ajuin sidang ya. Udah males gue sama skripsi ini. " jawab Raya, buru-buru mengetik lagi meski pikirannya masih setengah melayang entah ke mana.
" Aamiin! "
Ara dan Yasmin juga bergantian mengecek kabar Raya lewat pesan singkat setiap hari. Mereka jarang bersama karena jadwal dosen pembimbing yang kesibukan revisi yang membuat pertemuan semakin jarang terjadi.
Tapi komunikasi memag tak pernah putus meski hanya sekadar mengirim chat "udah makan belum?" atau "semangat ya skripsinya", tapi bagi Raya, perhatian-perhatian kecil itu seperti tali yang menahannya agar tidak jatuh terlalu dalam.
Yang paling berat justru malam hari. Saat kamar sepi, saat tak ada lagi yang perlu dikerjakan, bayangan Jack selalu datang tanpa diundang. Wajahnya yang dulu selalu tersenyum hangat setiap kali menatap Raya, kini berganti dengan sorot mata kosong yang mendorongnya jatuh dari tangga. Raya sering terbangun tengah malam dengan dada sesak, napas memburu, keringat dingin membasahi dahinya yang masih menyisakan bekas luka tipis.
Ia tidak pernah bercerita soal ini pada Mamah Yana. Cukup sekali saja ibunya melihatnya rapuh.
Bulan berganti bulan. Skripsi Raya perlahan mulai menemukan bentuknya. Dosen pembimbingnya Bu Retno, yang awalnya sempat mengomentari kualitas analisis Raya yang menurun drastis di bab tiga, mulai memuji perkembangan yang ia tunjukkan di revisi-revisi berikutnya.
"Kamu kenapa, Ya? Beberapa bulan kemarin kayak orang linglung, sekarang kok tiba-tiba rajin banget. Skripsi kamu minim revisi, kerja bagus Raya! " tanya Bu Retno suatu hari, sambil mencoret-coret draf skripsi Raya dengan pena merah.
Raya hanya tersenyum tipis.
"Kemarin tuh lagi banyak masalah pribadi, Bu. Tapi saya sadar, nggak ada gunanya berlarut-larut. Mendingan saya salurkan energinya ke sini aja biar cepet wisuda."
Bu Retno mengangguk paham, tidak bertanya lebih jauh, hanya menepuk pundak Raya sekali sebelum kembali fokus pada revisi.
Raya sendiri heran dengan dirinya. Ada hari-hari di mana ia bisa duduk berjam-jam mengerjakan analisis data tanpa sekalipun teringat Jack. Tapi ada juga hari-hari di mana satu lagu yang ia dengar di cafe, atau aroma parfum yang mirip, atau menapaki jalan yang pernah mereka lewati berdua, bisa membuat semua luka itu terasa baru lagi.
Ia belajar bahwa melupakan bukan proses yang lurus. Kadang dua langkah maju, kadang tiga langkah mundur.
Suatu malam, saat sedang mengerjakan revisi bab lima, ponsel Raya bergetar. Itu adalah pesan dari grup kuliah yang mengabarkan jadwal sidang proposal sudah keluar. Nama Raya tercantum di antara puluhan mahasiswa lain, dijadwalkan dua minggu dari sekarang.
Tangannya sedikit gemetar membaca pesan itu. Bukan karena takut, tapi karena ini nyata. Ia benar-benar akan segera menyelesaikan sesuatu yang selama berbulan-bulan terakhir terasa begitu jauh, begitu tak terjangkau di tengah kekacauan hidupnya.
Malam sebelum sidang, Raya tidak bisa tidur. Bukan karena memikirkan Jack dan Manda, tapo pikirannya benar-benar penuh dengan hal lain. Tentang rumus statistik, kemungkinan pertanyaan penguji, revisi terakhir yang belum sempat ia print.
Mamah Yana masuk ke kamarnya membawa segelas susu hangat, mendapati putrinya masih terjaga menghadap laptop.
"Neng, udah jam segini masih belum tidur?" tegur Mamah Yana lembut, meletakkan gelas susu di meja belajar.
"Bentar lagi, Mah. Masih deg-degan buat besok. " jawab Raya, matanya tetap menatap layar.
Mamah Yana duduk di tepi ranjang, menatap punggung putrinya yang begitu fokus. Ada rasa haru yang menyeruak di dadanya. Beberapa bulan lalu, ia masih memeluk Raya yang menangis tersedu-sedu dengan perban di kening. Sekarang, ia melihat putrinya yang sama, tapi dengan mata yang penuh tekad. Meski Mamah Yana tahu betul, di balik ketegaran itu masih ada luka yang belum sepenuhnya sembuh.
"Neng," panggil Mamah Yana pelan.
Raya menoleh.
"Mamah bangga sama kamu," ucap Mamah Yana, suaranya bergetar menahan haru, "Mamah tau ini berat buat kamu. Tapi kamu tetep bisa berdiri, tetep bisa ngejar apa yang kamu cita-citakan. Itu bukan hal yang gampang, Neng."
Raya tersenyum, matanya berkaca-kaca.
"Neng belajar dari Mamah. Mamah aja bisa kuat sendirian ngebesarin Neng sama Aa, masa Neng nggak bisa kuat buat diri sendiri."
Mereka berpelukan sebentar sebelum akhirnya Mamah Yana kembali ke kamarnya, membiarkan Raya melanjutkan persiapan terakhirnya untuk esok hari.
Sidang proposal berjalan lebih lancar dari yang Raya bayangkan. Meski sempat gugup di awal, ia berhasil menjawab hampir semua pertanyaan penguji dengan tenang. Ketika akhirnya dinyatakan lulus dengan revisi minor, Raya nyaris menangis di depan ruang sidang, ditahan hanya oleh rasa malu karena masih ada mahasiswa lain yang menunggu giliran.
Dasha, Ara, dan Yasmin sudah menunggu di luar dengan seikat bunga yang mereka beli patungan. Begitu Raya keluar dengan wajah lega, mereka langsung menghambur memeluknya bersamaan.
"Selamat ya, Ya! Tinggal sidang akhir!" seru Ara riang.
"Terus wisuda!" tambah Yasmin, tak kalah semangat.
Raya tertawa kecil, air mata haru masih menggenang di sudut matanya.
"Makasih ya karena kalian selalu ada."
Beberapa saat setelah sidang proposal berjalan, revisi, bimbingan, hingga akhirnya sidang skripsi, semua ia lalui dengan fokus yang semakin kuat. Ia tidak lagi memaksakan diri untuk melupakan Jack sepenuhnya, karena ia sadar itu mungkin butuh waktu lebih lama dari yang ia kira. Tapi ia belajar untuk hidup berdampingan dengan luka itu, tanpa membiarkannya mengendalikan setiap langkahnya.
Hari wisuda tiba dengan langit cerah, seolah alam pun ikut merayakan pencapaian yang telah Raya perjuangkan dengan begitu banyak air mata di baliknya. Mengenakan toga hitam dan selempang kuning tanda kelulusan dengan predikat cumlaude, Raya berdiri di antara ratusan wisudawan lain, menunggu namanya dipanggil.
Di bangku penonton, Mamah Yana duduk dengan kebaya terbaik yang ia punya. Matanya sudah berkaca-kaca sejak acara dimulai, dan ketika nama "Rayana Mahali" akhirnya disebutkan sebagai salah satu lulusan terbaik fakultas, tangis haru itu pun pecah tanpa bisa ia tahan.
Raya berjalan ke atas panggung dengan langkah mantap, jauh berbeda dari gadis yang berbulan-bulan lalu duduk termenung dengan perban di kening, meragukan apakah dirinya masih punya kekuatan untuk melanjutkan hidup. Saat menerima ijazahnya dan berjabat tangan dengan dekan, ia menoleh sejenak ke arah bangku penonton, mencari sosok ibunya.
Mata mereka bertemu. Mamah Yana melambaikan tangan sambil menangis bahagia, dan Raya membalasnya dengan senyum lebar, senyum yang sudah lama tak benar-benar tulus ia tunjukkan.
Ia belum sepenuhnya sembuh. Masih ada malam-malam di mana bayangan Jack datang tanpa diundang, masih ada pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab tentang apa yang sebenarnya terjadi. Tapi hari ini, di bawah terik matahari dengan toga yang membebani pundaknya, Raya merasa untuk pertama kalinya sejak kejadian itu, ia benar-benar bangga pada dirinya sendiri.
Ia sudah membuktikan, bahwa luka sebesar apa pun tidak harus menghentikan langkahnya untuk terus berjalan ke depan.
Bakar tuh jimatnya, Bu biar anakmu eling..
Mana ada orang pkk begituan bales dg tulus... Itu mah halusinasi gilamu sendiri.. dasar ulet keket /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
.
Lagian orang waras mikir 1000x duwit segitu banyak habis buat hal gak jelas dan pasti cari cara buat usaha sendiri tanpa capek ikut aturan orang lain dg kejar target