Kecelakaan tragis merenggut orang tua Hana, menyisakan utang menumpuk yang mengandaskan mimpinya.
Demi bertahan hidup, ia rela menjadi office girl tak terlihat di Adhitama Group.
Namun, satu malam kelam merobek takdirnya. Akibat sabotase racun pemicu gairah, Alvaro Adhitama, CEO dingin dan berkuasa kehilangan kendali dan merenggut kesucian Hana secara biadab.
Didera rasa bersalah, Alvaro menuntut pernikahan. Sadar akan jurang kasta di antara mereka, Hana memilih kabur meninggalkan ibu kota.
Sayang, kekuasaan Alvaro sanggup mencegat pelariannya. Ditekan dominasi mutlak sang CEO, Hana akhirnya pasrah diseret kembali dan tanpa menyadari ada benih baru yang mulai tumbuh di rahimnya.
Bagaimana Kelanjutannya???? Ada yang penasaran??
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAA!!!
Follow IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau Benar-benar Sulit Diraih
Hana tertawa sumbang, sebuah tawa pahit tanpa rasa humor. "Lalu apa? Cinta? Kamu menganggap rasa bersalahmu yang menumpuk itu sebagai cinta? Atau kamu cuma merasa memiliki sebuah barang yang sudah kamu bayar mahal dengan melunasi utang-utang keluarga panti?" tanyanya.
"Demi Tuhan, Hana! Jangan pernah merendahkan dirimu seperti itu!" tegah Alvaro, suaranya naik satu oktav karena frustrasi yang tak tertahan, namun matanya memancarkan kepedihan yang nyata.
"Aku tidak pernah menganggapmu sebagai barang! Utang panti itu tidak ada hubungannya dengan bagaimana aku memandangmu sekarang!" tegas Alvaro lagi.
"Tapi kenyataannya seperti itu!" balas Hana, keberaniannya membumbung tinggi, menantang tatapan sang CEO.
"Kamu membawaku ke rumah ini, kamu mengurungku di penthouse-mu, dan sekarang kamu memindahkan aku ke ruanganmu sendiri! Untuk apa, Alvaro? Agar kamu bisa mengontrol setiap detik hidupku?!"
"Aku memindahkanmu ke sini karena aku mengkhawatirkanmu!" seru Alvaro jujur, akhirnya melepaskan topeng alasan efisiensi yang selama ini ia gunakan di depan Nakula.
Hana terpaku sejenak mendengarnya.
"Aku tidak bisa fokus bekerja di ruangan ini seharian, Hana."akui Alvaro dengan napas yang memburu, menatap istrinya tanpa keraguan lagi.
"Pikiranku selalu melayang ke lantai bawah. Aku takut kaki memarmu makin parah karena terus berdiri. Aku takut ada staf lain yang bersikap kasar padamu. Dan aku benci fakta bahwa aku tidak bisa berada di sisimu untuk melindungimu saat kau terluka. Itu alasanku memindahkanmu ke sini!" sahutnya lagi.
Hana menelan ludah yang terasa pahit di kerongkongannya. Pengakuan blak-blakan dari Alvaro membuat dadanya bergemuruh hebat. Namun, rasa takut dari trauma masa lalu kembali membisikkan keraguan di telinganya.
"Perhatianmu ini... menyiksaku, Alvaro." bisik Hana pelan, suarasa kembali meliuk rapuh.
"Kamu membuatku bingung. Di satu sisi kamu adalah orang yang menghancurkan malamku, tapi di sisi lain kamu bersikap seolah kamu adalah pelindungku. Aku tidak tahu mana Alvaro yang asli..." lirihnya.
Alvaro memejamkan matanya rapat-rapat, merasakan tusukan belati tak kasat mata di ulu hatinya. Kata-kata Hana adalah cermin dari kesalahan terbesarnya yang tak akan pernah bisa dihapus oleh waktu.
"Aku paham..." sahut Alvaro pelan setelah hening yang cukup panjang. Pria itu mundur satu langkah menjauh, memberi ruang bernapas bagi Hana.
"Aku tahu dosaku padamu terlalu besar untuk dimaafkan dalam semalam. Tapi aku memohon padamu, Hana... berikan aku kesempatan untuk membuktikannya. Jangan tutup pintumu rapat-rapat."
Hana tidak menjawab. Ia menundukkan kepala, memandang lantai karpet di bawah kakinya.
"Soal Rehan..." tambah Alvaro dengan nada suara yang sudah kembali tenang, "aku tidak akan memecatnya. Aku akan membiarkannya tetap bekerja di divisinya seperti biasa."
Hana mendongak pelan, menatap Alvaro dengan sedikit rasa terkejut. "Kamu serius?"
"Ya," jawab Alvaro datar seraya menatap mata Hana.
"Aku tidak akan memecatnya. Tapi dengan satu syarat." sahutnya lagi.
Hana mengerutkan keningnya curiga. "Syarat apa?"
"Kau tidak boleh menemuinya sendirian di luar jam kerja tanpa ada Nakula atau aku yang mengetahui lokasimu." ujar Alvaro tegas, naluri protektifnya tetap tak bisa dihilangkan begitu saja.
"Ini bukan bentuk pengekangan, Hana. Ini demi keselamatanmu. Pria itu mungkin teman lamamu, tapi kau tidak pernah tahu niat orang lain di gedung ini."
Hana menghembuskan napas panjang. Meski syarat itu terasa sedikit berlebihan, setidaknya Alvaro tidak menghancurkan mata pencaharian Mas Rehan yang tidak bersalah.
"Baik," sahut Hana pelan. "Aku setuju."
Alvaro menganggukkan kepalanya lega. Pria itu kemudian berjalan kembali ke meja kerjanya, menyenggol jam tangan platinumnya yang menunjukkan angka dua belas siang lewat lima belas menit.
"Waktu istirahat makan siang sudah tiba," kata Alvaro seraya mengambil ponselnya dari atas meja.
"Duduklah di meja sofa itu. Aku akan menyuruh Nakula membawakan makan siang untuk kita berdua." tutur Alvaro.
"Tidak perlu, Pak Alvaro," potong Hana cepat, kembali menggunakan panggilan formalnya.
"Saya membawa bekal sendiri dari rumah. Dan saya akan makan di ruang istirahat staf di lantai bawah bersama Mbak Wiwik."
Alvaro membeku dengan ponsel di tangannya. Alis tebalnya bertautan rapat. "Makan di lantai bawah? Di ruang istirahat cleaning service?"
"Iya," jawab Hana mantap.
"Saya ini office girl, Pak. Rekan-rekan saya ada di bawah. Jika saya tidak membaur dengan mereka saat makan siang, mereka akan merasa aneh dan curiga." jawab Hana memberikan pengertian.
Alvaro menatap Hana dengan pandangan menimbang. Pria itu sangat ingin menahan Hana untuk makan di ruangannya, menikmati hidangan restoran bintang lima yang bisa ia pesan dalam hitungan menit. Namun, melihat sorot mata Hana yang begitu gigih mempertahankan penyamarannya, Alvaro sadar ia tidak boleh memaksakan kehendaknya lagi hari ini.
"Baiklah," cetus Alvaro pasrah, meletakkan kembali ponselnya.
"Tapi ingat pesan Nakula tadi pagi. Gunakan lift servis belakang dan jangan lewatkan makan siangmu."
"Terima kasih, Pak Alvaro. Saya permisi dulu," pamit Hana dengan anggukan kepala yang sopan.
Gadis itu segera merapikan botol pembersih dan kain lapnya ke dalam troli, lalu mendorong roda troli itu meluncur keluar dari ruang kerja CEO yang serasa memenjarakan pernapasannya.
Saat pintu mahoni tertutup rapat meninggalkan Alvaro sendirian di ruangan luas itu, sang CEO menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia menatap langit-langit ruangan dengan helaan napas berat.
"Kau benar-benar sulit diraih, Hana..." bisik Alvaro pada kesunyian ruangan.
Namun di balik kesukaran itu, Alvaro tahu satu hal yaitu ia tidak akan pernah menyerah untuk mengejar ampunan dan cinta dari wanita yang kini telah sah menjadi istrinya tersebut.
Di luar ruangan, Mbak Bella melihat Hana keluar seraya mendorong trolinya dengan terburu-buru. Wajah gadis itu masih menampakkan rona merah bekas tangisan, namun raut mukanya jauh lebih tenang dari sebelumnya.
"Hana, kamu mau ke mana?" sapa Mbak Bella ramah dari meja kerjanya.
Hana menghentikan langkahnya, menyunggingkan senyum tipis pada sekretaris paruh baya itu.
"Saya mau turun untuk istirahat makan siang, Bu Bella." jawab Hana dengan ramah.
Mbak Bella melirik ke arah pintu ruang CEO yang tertutup rapat, lalu tersenyum hangat pada Hana.
"Ya sudah, istirahatlah yang cukup ya. Kalau butuh apa-apa di lantai ini, langsung bilang ke Saya atau Nakula."
"Terima kasih banyak, Bu Bella." jawab Hana tulus.
Dengan perasaan yang sedikit lebih ringan meski dada masih berdebar pelan, Hana mendorong trolinya menuju lift servis.
Di dalam lorong lift yang dingin, Hana menyandarkan punggungnya ke dinding besi. Percakapannya dengan Alvaro tadi terus berputar di kepalanya.
Pria yang dulu sangat ia takuti itu perlahan-lahan mulai menunjukkan sisi rapuh dan kejujuran yang tak pernah ia duga sebelumnya.
Dan Hana tahu, dinding es yang ia bangun di antara mereka... kini mulai terkikis sedikit demi sedikit oleh hangatnya penyesalan sang CEO.
.
.
Cerita Belum Selesai.....