Luna berjalan menyusuri jalanan yang sepi di malam yang semakin pekat dan dari jauh dia melihat sosok anak kecil berlari kencang dengan napas tersengal-sengal dan di belakang gadis kecil itu terlihat seorang pria bertubuh tinggi berkulit hitam dengan wajah layaknya seorang penjahat, pria itu berlari mengejar gadis kecil itu sambil mengarahkan pistolnya ke udara memberi peringatan keras pada gadis kecil yang semakin ketakutan itu.
Merasa ada yang tidak beres dengan sigap Luna meraih tubuh mungil gadis kecil itu dan membawanya bersembunyi di dalam sebuah gang sempit sambil menutup mulut gadis kecil itu agar tidak bersuara.
Luna menatap gadis kecil yang ketakutan itu sambil meletakkan jari telunjuknya ke mulutnya memberi isyarat, gadis kecil itu menganggukkan kepalanya menurut.
Luna berhasil menyelamatkan gadis kecil itu dari kejaran para penjahat.
yuk ikuti kelanjutannya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.4 Tempat persembunyian sementara
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi Luna?" tanya Susan yang sangat penasaran.
Luna menyelimuti tubuh Emily yang sudah tertidur di atas kasur di kamar tamu rumah Susan, kemudian dia berjalan mendekat pada Susan dan mulai menceritakan hal yang sebenarnya terjadi pada dirinya dan Emily.
"Tadi sewaktu aku pulang lembur aku berjalan di jalanan yang sudah sangat sepi karena gerimis mulai turun dan lagi jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan di saat aku berjalan tiba-tiba saja dari ujung jalan aku mendengar teriakan Emily yang sedang di kejar oleh seseorang yang berpenampilan seram sambil mengacungkan pistolnya ke udara."
"Lantas?" Susan di buru oleh rasa penasarannya mendengarkan kelanjutan cerita Luna.
"Aku merasa kalau Emily sedang di kejar oleh orang jahat lalu dengan reflek aku meraih lengan Emily dan membawanya bersembunyi di sebuah gang sempit berharap orang jahat itu tidak menemukan kita, Tapi sayang penjahat itu akhirnya menemukan tempat persembunyian aku dan Emily."
"Dan...akhirnya penjahat itu melepaskan tembakannya pada kaki Emily?" tanya Susan melotot pada Luna.
"Bukan, Emily jatuh tersungkur karena mendengar suara tembakan itu dan membuat kakinya terluka," ucap Luna.
Susan menganggukkan kepalanya " lantas Emily itu anak siapa Lun?" tanya Susan lagi.
"Aku juga baru kenal dengan papanya Emily saat aku menyelamatkan Emily dari penjahat itu dia datang menolong kita dan dia menembak mati penjahat yang mengejar Emily dan aku tadi," Luna melirihkan suaranya berkata pada Susan.
"Hah!! Ka_kalau begitu papanya Emily juga seorang preman atau penjahat?" ucap Susan dengan mata terbelalak.
"Sepetinya bukan, cuma dia punya senjata api dan pandai bertarung."
"Ini sangat berbahaya Luna, sebaiknya kamu cepat kembalikan Emily pada papanya kalau kamu tidak ingin di buru juga oleh para penjahat itu," ucap Susan menatap Luna dengan serius.
"Dan... maaf Luna aku juga tidak mau berurusan dengan mereka karena aku tidak mau terlibat urusan dengan para penjahat itu, aku takut."
"Iya aku paham Susan, tapi aku juga butuh tempat sementara untuk bersembunyi bersama Emily dan tidak mungkin juga aku membawa Emily pulang ke rumah orang tua angkatku," ucap Luna pada Susan.
"Iya benar juga, Em... bagaimana kalau begini, kemaren ada salah satu saudaraku yang menawarkan rumahnya padaku untuk di sewakan, bagaimana kalau kamu diam di sana dulu untuk sementara bersama Emily."
"Iya aku mau nanti untuk pembayarannya bagaimana?" tanya Luna.
"Gampang Lun, apa kata aku nanti yang penting kamu sudah menemukan tempat sembunyi yang aman."
"Terimakasih Susan, maaf kalau aku merepotkan kamu dan melibatkan kamu dalam masalah ini."
"Tidak apa Luna, aku akan bantu kamu semampu aku," Susan tersenyum sambil menggenggam tangan Luna sahabatnya itu.
"Kalau begitu sekarang kamu istirahat saja dulu, kamu pasti capek setelah kejadian tadi," Susan berdiri hendak beranjak keluar dari kamar tamu itu.
Luna menganggukkan kepalanya dan setelah Susan keluar dari kamar itu Luna pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah tempat tidur. Luna naik ke atas ranjang dan berbaring di samping Emily yang sudah tertidur lelap namun tiba-tiba Emily mengigau "Tante Luna aku takut...," ucap Emily, Luna segera merapatkan tubuhnya pada Emily dan memeluk tubuh gadis kecil itu sambil mengusap kepala Emily " jangan takut sayang, Tante Luna ada di sini bersama Emily," ucapnya dan sepertinya Emily mendengar perkataan Luna dan dengan segera Emily membenamkan kepalanya kedalam lengan Luna yang sedang memeluknya itu.
Luna pun tertidur sambil memeluk Emily seperti anaknya sendiri.
Pagi ini Susan masuk ke dalam kamar Luna dan mengantarkan nampan yang berisi sarapan untuk Luna dan Emily.
Susan mengetuk pintu kamar itu dan setelah Luna membukanya, Susan langsung masuk ke dalam kamar Luna dan meletakkan nampan itu diatas meja kecil yang ada di samping tempat tidur "Ini sarapan buat kamu dan Emily," ucap Susan pada Luna.
"Terimakasih Susan," Luna yang sudah mandi dan juga sudah membersihkan tubuh Emily kemudian berjalan ke arah nakas tempat Susan meletakkan nampan itu.
Luna menoleh pada Emily yang sedang duduk di sampingnya itu "Emily sarapan ya?" ucap Luna pada Emily.
"Iya Emily harus sarapan dulu biar perutnya tidak kosong," ucap Susan ikut berbicara pada Emily.
Emily menganggukkan kepalanya menatap Luna. Kemudian Luna pun mulai menyuapi Emily dan setelah Luna dan Emily selesai makan, Susan mengajak mereka untuk pergi ke rumah yang disewakan oleh saudara Susan.
Luna, Susan dan Emily berangkat ke rumah sewa itu dengan menaiki taxi online yang sudah di pesan oleh Susan.
Tak berapa lama akhirnya mereka bertiga sudah sampai di depan rumah sewa itu "Ini rumahnya Lun, kamu bisa tinggal di sini untuk sementara selama Emily masih bersama kamu, Aku cuma berpesan kamu harus hati-hati ya, soalnya papanya Emily ...sepertinya bukan orang biasa," bisik Susan di telinga Luna.
Luna tersenyum pada Susan " Terimakasih Susan, kamu memang sahabatku yang terbaik," Luna memeluk Susan yang masih berdiri di hadapannya itu.
"Kalau begitu aku pulang dulu ya," kata Susan. Pada Luna sambil beranjak dari tempatnya.
"Emily, Tante Susan pulang dulu ya, kamu baik-baik di sini sama Tante Luna," ucap Susan pada Emily, Emily menganggukkan kepalanya menatap Susan.
Kemudian Susan pun pergi meninggalkan Luna dan Emily di rumah sewa itu.
"Emily, untuk sementara kita tinggal di rumah ini dulu ya," ucap Luna sambil melingkarkan lengannya ke pundak Emily.
"Iya Tante," ucap Emily nurut pada Luna.
Tiba-tiba ponsel Luna berdering,Luna menerima panggilan telepon itu yang ternyata dari ibu angkatnya "Heh Luna! Kemana aja kamu semalam kok tidak pulang ke rumah hah! Kamu harus cepat pulang sekarang! penagih cicilan rumah mencari kamu tahu!" ocehan dan suara menggelegar dari ibu angkat Luna itu sampai terdengar oleh Emily yang masih duduk di samping Luna.
Luna terdiam dia tidak menjawab apapun dan hanya menghela nafas panjang saat telepon itu di akhiri oleh ibu angkatnya itu.
"Tante Luna, itu siapa yang berbicara sama Tante Luna di telepon barusan?" tanya Emily penasaran setelah Luna meletakkan handphone nya ke atas meja.
"Oh, itu tadi ibunya Tante Luna sayang," ucap Luna pada Emily.
"Ibunya Tante Luna kok jahat, tadi bentak-bentak Tante Luna terus," ucap Emily polos.
Luna tersenyum pada Emily dan mengusap lembut rambut panjang gadis kecil itu "Ibunya Tante Luna bentak-bentak itu karena semalam Tante tidak pulang...," dusta Luna pada Emily yang masih belum tahu apa-apa itu dan Luna tidak mau menceritakan yang sebenarnya terjadi karena Emily masih kecil.
"Maafin Emily Tante Luna... gara-gara Emily Tante Luna di marahi sama ibunya," ucap Emily sedih.
Luna memeluk Emily sambil berkata padanya "Tidak apa-apa sayang, Tante Luna gak apa-apa kok." Luna tersenyum mencoba menenangkan Emily.