Ardi, seorang pemuda miskin yang tulus, tiba-tiba dicampakkan oleh Siska, kekasihnya selama lima tahun, demi Bagas, sahabat Ardi yang baru saja naik jabatan menjadi manajer yang kaya raya. Di tengah keputusasaan dan hinaan brutal, Ardi secara tak terduga membangkitkan [Sistem Flash Sale Rp1], sebuah antarmuka misterius yang memungkinkannya membeli barang apa pun—dari mobil sport mewah, penthouse, hingga seluruh perusahaan—hanya dengan satu rupiah. Dengan kekayaan instan yang tak terbayangkan ini, Ardi mulai membalas dendam secara face-slapping kepada mereka yang meremehkannya, sembari menjelajahi kehidupan barunya sebagai miliarder muda yang paling berkuasa di negeri ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35
Semua orang melebarkan mulut mereka hingga lalat pun bisa masuk ke dalamnya.
Rico merasa dunia di sekelilingnya berputar sangat cepat dan kakinya seketika kehilangan seluruh tenaganya.
Dia jatuh terduduk di lantai dengan tatapan kosong menatap Pak Santoso yang masih bersujud di depan Ardi.
"H-hotel Anda. Apa maksud ucapan Anda Pak Santoso," gumam Rico dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
Reni yang berdiri di sebelahnya juga ikut mematung dengan wajah sepucat kertas putih.
Pak Santoso mendongakkan kepalanya dan menatap Rico dengan pandangan mata yang sangat membunuh.
"Tutup mulut busukmu itu Rico." bentak Pak Santoso dengan suara menggelegar ke penjuru lobi.
"Tuan Ardi ini adalah pemilik tunggal dan sah dari seluruh bangunan Grand Royal Hotel mulai hari ini." tegas Pak Santoso membongkar fakta yang mengerikan.
"Beliau baru saja membeli hotel ini secara tunai beberapa jam yang lalu." tambahnya memberikan tamparan mental yang mematikan.
Kalimat itu benar-benar menghancurkan sisa-sisa kewarasan dan kesombongan di dalam kepala Rico.
Pemuda yang tadi siang dia hina sebagai pengemis bercelana pendek, kini ternyata adalah bos besar dari hotel termewah di kota ini.
"T-tidak mungkin, ini pasti cuma mimpi kan," rintih Rico mulai menangis tanpa air mata meratapi kebodohannya.
"Ardi itu cuma staf rendahan di Jakarta, dari mana dia punya uang triliunan untuk membeli hotel ini," bantah Reni masih mencoba menolak kenyataan.
Ardi menatap dua lalat mengganggu di bawahnya itu dengan senyum iblis yang sangat merendahkan.
"Kau selalu saja banyak bicara Reni, persis seperti anjing tetangga yang kelaparan," sindir Ardi dengan suara beratnya.
"Dan kau Rico, apakah puluhan juta yang kau keluarkan untuk menyewa aulaku terasa sangat mahal bagimu," ejek Ardi melangkah mendekati pria yang sedang terduduk itu.
Rico tidak berani menatap mata Ardi sama sekali, tubuhnya gemetar hebat ketakutan.
"T-Tuan Ardi, tolong maafkan saya, saya hanya bercanda tadi," isak Rico mulai memohon belas kasihan membuang harga dirinya.
"Saya bersumpah tidak akan pernah merendahkan Anda lagi Tuan, tolong jangan usir saya dari sini," tangis Rico menyadari kekuasaan mutlak Ardi.
Rico tahu betul jika dia diusir dari acara reuni yang dia buat sendiri, nama baik keluarganya akan hancur total di kota ini.
"Bercanda katamu. Tadi siang kau meludah di halamanku dan menghina keluargaku Rico," jawab Ardi dengan nada sedingin es.
"Aku sangat pemaaf, tapi aku tidak pernah memberikan kesempatan kedua untuk orang yang menginjak harga diriku," lanjut Ardi mutlak tanpa ampun.
Ardi menoleh ke arah Pak Santoso yang langsung berdiri sigap menunggu perintah dari bos besarnya.
"Pak Santoso, batalkan penyewaan aula atas nama Rico ini dan sita seluruh uang muka yang sudah dia bayarkan," perintah Ardi dengan tegas.
"Baik Tuan Ardi, pesanan dibatalkan detik ini juga dan uangnya akan hangus sesuai denda keributan," jawab Pak Santoso patuh.
Rico langsung menjerit histeris mendengar uang sakunya melayang begitu saja.
"T-tidak. Itu uang tabunganku selama berbulan-bulan Tuan Ardi." jerit Rico mencoba meraih celana jas Ardi.
Namun salah satu satpam langsung menendang tangan Rico menjauh dari bos besarnya.
"Dan untuk mereka berdua ini, seret keluar dari wilayah hotelku sekarang juga dan lempar ke jalan raya," perintah Ardi menunjuk Rico dan Reni.
"Jangan pernah biarkan wajah kotor mereka menginjakkan kaki di radius seratus meter dari propertiku lagi," tambahnya mematikan masa depan mereka.
Reni langsung menangis tersedu-sedu dan berlutut memohon ampun pada Ardi.
"Ardi tolong maafkan aku, mulutku memang kotor Ardi. Aku janji akan memujimu setiap hari jika kau mengampuniku," rayu Reni dengan wajah penuh air mata.
"Keamanan. Laksanakan perintah Tuan Ardi sekarang juga." teriak Pak Santoso pada bawahannya.
Empat orang satpam berbadan kekar langsung maju dan memiting lengan Rico dan Reni secara paksa.
"Lepaskan aku. Aku ini anak pemilik pabrik tekstil." teriak Rico meronta-ronta dengan sangat memalukan.
"Ardi tolong aku. Jangan permalukan aku seperti ini." jerit Reni terus menangis histeris.
Keduanya diseret paksa melewati puluhan teman alumni mereka yang hanya bisa diam menunduk ketakutan.
Suara teriakan Rico dan Reni semakin menjauh dan akhirnya menghilang saat mereka dilempar ke jalan raya yang kotor.
Setelah kedua hama itu diusir, lobi hotel kembali menjadi sangat sunyi dan tegang.
Puluhan alumni yang tersisa menelan ludah dengan susah payah, takut Ardi akan membalas dendam pada mereka semua.
Ardi menatap satu per satu wajah teman masa lalunya itu dengan pandangan datar.
"Aula utama sudah aku buka untuk kalian semua malam ini secara gratis," ucap Ardi memecah keheningan dengan kejutan baru.
"Pesanlah makanan dan minuman paling mahal sesuka kalian, semuanya aku yang traktir hari ini," lanjut Ardi mengubah suasana ketakutan menjadi sorak sorai.
"Hidup Tuan Ardi. Terima kasih banyak Tuan Ardi." teriak para alumni serempak memuji kemurahan hati bos baru tersebut.
Mereka semua langsung membungkuk hormat dan berjalan tertib menuju aula, melupakan Rico yang sudah menjadi gembel di luar sana.
Bagi Ardi, memberikan makanan gratis untuk mereka hanyalah seperti memberi makan burung merpati di taman.
Tepat saat kerumunan itu bubar, antarmuka cahaya emas Sistem muncul melayang di depan pandangan Ardi.
[Notifikasi Sistem Flash Sale Rp1]
[Tuan Rumah telah berhasil menunjukkan dominasi mutlak di kampung halaman dan membalikkan hinaan musuh masa lalu.]
[Status sosial Tuan Rumah di kota ini mulai tidak tersentuh.]
[Sistem mendeteksi adanya dendam yang belum tuntas dengan keluarga musuh yang menjalankan bisnis pabrik tekstil.]
Ardi tersenyum sinis membaca rentetan kalimat dari Sistemnya itu.
Dia tahu benar bahwa Rico pasti akan berlari pulang sambil menangis dan mengadu pada ayahnya.
Ayah Rico terkenal sebagai pengusaha licik yang suka menindas pekerja kecil di pabrik tekstilnya.
"Sepertinya besok pagi aku harus membersihkan satu lagi sumber polusi di kota kecil ini," batin Ardi dengan mata memancarkan kilatan pembunuh.
Dia berjalan santai menuju lift khusus VVIP untuk kembali ke kamar presidensialnya dan beristirahat.
Malam reuni yang tadinya dirancang untuk menghancurkan harga dirinya, justru menjadi panggung deklarasi kekuasaan Ardi di kota kelahirannya.
Langkah Ardi menaklukkan seluruh kota kecil ini baru saja dimulai dengan satu tamparan keras di lobi hotel.