Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Ruang perawatan VVIP itu telah disulap menjadi tempat yang sakral dan hangat.
Siska, sekretaris pribadi Nadya, dibantu oleh beberapa staf kantor, telah mendekorasi ruangan dengan rangkaian bunga segar yang sederhana namun elegan.
Meski statusnya sebagai CEO perusahaan besar, Nadya menolak tampil glamor.
Ia mengenakan kebaya putih sederhana berbahan brokat halus, dengan riasan wajah yang tipis namun memancarkan aura kebahagiaan yang nyata.
Penghulu dari KUA setempat telah hadir, duduk berhadapan dengan Ayah Nadya yang akan menjadi wali nikah.
Di samping ranjang, Nadya duduk dengan tenang, jemarinya bertaut di atas pangkuan, menatap Armand yang tampak jauh lebih segar meski masih harus berbaring.
Armand menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya.
Tangannya yang tidak terpasang infus kemudian dijabat erat oleh sang penghulu.
Suasana mendadak hening, hanya terdengar detak jam dinding dan suara hembusan napas yang tertahan dari orang-orang di ruangan itu.
Penghulu memulai prosesi dengan suara yang lantang dan khidmat.
"Saudara Armand bin Rahardjo," ucap penghulu menatap mata Armand dengan tegas.
"Saya," jawab Armand dengan suara yang meski sedikit lemah, terdengar mantap.
"Saya nikahkan engkau dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Nadya Kirana binti Wicaksono dengan maskawin uang sebesar dua ratus ribu rupiah tunai," ucap Ayah Nadya dengan suara yang bergetar namun tegas, menggenggam tangan Armand erat.
Armand menarik napas dalam, memejamkan matanya sejenak untuk menguatkan batin.
Di hadapan Allah, saksi, dan kedua orang tua Nadya, ia menjawab dengan satu tarikan napas yang lancar dan penuh keyakinan.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Nadya Kirana binti Wicaksono dengan maskawin tersebut tunai!"
"Sah?" tanya penghulu kepada para saksi.
"Sah!" jawab para saksi serempak.
Sebuah doa dipanjatkan. Nadya menundukkan kepala, air mata haru menetes di pipinya.
Begitu doa selesai, Armand menoleh ke arah Nadya, menatap sang istri dengan sorot mata yang tak lagi menyimpan duka, melainkan rasa syukur yang tak terhingga.
Tangan Nadya terulur, dan Armand meraihnya dengan lembut, menyematkan sebuah cincin sederhana di jari manis istrinya.
Di ruangan rumah sakit yang sederhana itu, ikatan suci telah terjalin—sebuah awal baru bagi Nadya dan Armand, jauh dari segala kemewahan fana yang kini tengah digenggam erat oleh Sarah di luar sana.
Suasana ruang perawatan yang tadinya khidmat kini berubah menjadi riuh dengan senyuman dan ucapan selamat.
Siska, sekretaris setia Nadya, melangkah maju dengan wajah berseri-seri, diikuti oleh beberapa staf operasional perusahaan yang sejak tadi menunggu di luar ruangan.
"Selamat, Bu Nadya! Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah," ucap Siska tulus.
Kemudian ia menyerahkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua yang elegan.
"Ini ada sedikit kenang-kenangan dari kami semua di kantor untuk Ibu dan Bapak Armand."
Nadya menerima kotak tersebut dengan senyum yang merekah lebar.
Ia membuka kotak itu, dan di dalamnya terdapat sepasang jam tangan dengan desain minimalis namun berkelas.
"Terima kasih banyak, Siska. Dan terima kasih juga untuk kalian semua yang sudah membantu menyiapkan semuanya sesingkat ini," ujar Nadya dengan suara yang sarat ketulusan. Ia menoleh ke arah Armand, lalu beralih kembali ke stafnya.
"Mohon doanya untuk kesembuhan suami saya, ya."
Armand, yang kini berstatus sebagai suami Nadya, hanya bisa tersenyum simpul sambil mengangguk sopan kepada Siska dan rekan-rekan kerja istrinya.
Meski fisiknya masih lemah, ia merasa beban yang menindih jiwanya selama ini telah terangkat sepenuhnya.
"Terima kasih atas perhatiannya," ucap Armand pelan kepada mereka.
Siska dan yang lainnya kemudian berpamitan dengan sopan, memberikan ruang bagi pasangan baru itu untuk menikmati momen pertama mereka sebagai suami istri.
Begitu pintu ruangan tertutup kembali, kesunyian yang menenangkan menyelimuti ruangan tersebut.
Nadya duduk kembali di tepi ranjang, meletakkan jam tangan pemberian stafnya di atas meja, lalu menggenggam tangan Armand yang kini telah sah menjadi miliknya.
"Dunia mungkin menganggap ini pernikahan yang aneh, Mas," bisik Nadya lembut.
"Tapi bagiku, ini adalah awal dari segalanya."
Armand membalas genggaman tangan itu dengan erat.
"Dunia bisa saja salah, Nadya. Tapi di hadapan-Nya, kita sudah menemukan jalan yang benar. Terima kasih karena sudah memilihku saat aku merasa tidak berharga."
Di luar sana, hiruk pikuk kota Jakarta terus berputar, tak peduli pada Sarah yang mungkin sedang menghitung perhiasannya, atau pada mereka berdua yang kini menemukan kebahagiaan sejati dalam kesederhanaan di tengah putihnya dinding rumah sakit.
Setelah suasana sedikit tenang, Ayah dan Ibu Nadya mendekat ke sisi ranjang.
Sang ibu membelai lembut kepala Nadya yang tertutup kerudung, sementara sang ayah meletakkan tangannya di atas tangan Armand, memberikan berkah yang tak terucapkan namun terasa begitu dalam.
"Ya Allah, jadikanlah mereka berdua pasangan yang saling menjaga, saling menguatkan di kala susah, dan saling memuliakan di kala senang," doa sang ayah dengan suara yang dalam dan tulus.
"Berikanlah keberkahan dalam rumah tangga mereka, jauhkan dari fitnah, dan karuniakan lah keturunan yang saleh dan salehah. Amin."
Setelah mengaminkan doa tersebut, sang ibu mengeluarkan sebuah bingkisan kain batik yang tersimpan rapi di dalam tasnya.
"Ini hadiah untuk kalian berdua. Bukan barang mewah, tapi ini kain batik tulis warisan keluarga. Semoga bisa dipakai di momen-momen istimewa kalian nanti."
Nadya menerima kain batik tersebut dengan mata berkaca-kaca, merasakan kasih sayang orang tuanya yang selalu mendukungnya tanpa syarat.
Di saat yang bersamaan, pintu ruangan terbuka dan dokter yang menangani Armand masuk bersama seorang perawat.
Setelah melakukan pemeriksaan singkat pada tekanan darah dan kondisi fisik Armand, dokter tersebut tersenyum puas.
"Kondisi Pak Armand sudah jauh lebih stabil. Pasca trauma lehernya pun menunjukkan progres penyembuhan yang sangat baik. Jadi, hari ini Bapak sudah diperbolehkan untuk pulang dan melanjutkan pemulihan di rumah," ujar dokter tersebut dengan ramah.
Mendengar kabar itu, wajah Nadya langsung berbinar.
"Alhamdulillah, terima kasih banyak, Dok!"
Armand mengembuskan napas lega. Ia merasa seperti mendapatkan kehidupan kedua.
Menatap Nadya, sang ayah, dan sang ibu yang ada di sekelilingnya, ia sadar bahwa ia bukan lagi pria yang ditinggalkan dan tak punya siapa-siapa.
"Terima kasih, Mas sudah bertahan," bisik Nadya sambil membantu Armand bersiap-siap.
Proses administrasi cepat diselesaikan oleh staf Nadya.
Tak lama kemudian, kursi roda telah disiapkan di ambang pintu.
Armand, sang penjahit sederhana yang kini telah menjadi bagian dari keluarga terpandang, bersiap melangkah keluar dari rumah sakit—bukan lagi sebagai seorang pria yang hampir putus asa, melainkan sebagai seorang suami yang memiliki tanggung jawab dan masa depan baru yang indah.
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
makin penasaran ma kelanjutan ny
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
,,