Demi menyelamatkan nyawa adik kecilnya yang mengidap penyakit jantung, Ekaterina rela melakukan apa pun—bahkan menerima "pekerjaan satu malam" yang menjebaknya ke pelukan Viktor Morozov, sang pewaris kerajaan mafia paling ditakuti di kota.
Satu malam yang seharusnya hanya jebakan. Satu malam yang mengubah segalanya.
Ketika Viktor menyadari ia telah masuk perangkap, ia mencampakkan Ekaterina dengan kata-kata paling kejam. Tapi takdir punya rencana lain: gadis miskin yang ia hina itu kini mengandung anaknya—dan menolak menyerahkan apa pun pada pria yang telah menghancurkannya.
Viktor terbiasa memiliki segalanya: kuasa, uang, dan rasa takut orang lain. Yang tak pernah ia miliki adalah sebuah keluarga. Kini, demi merebut kembali wanita yang ia sia-siakan dan dua gadis kecil yang perlahan meruntuhkan tembok es di hatinya, sang mafia siap membakar dunia sampai rata.
Namun luka tak sembuh hanya dengan janji. Ekaterina sudah terlalu sering dikhianati untuk percaya dengan mudah, dan masa lalu yang kelam—seorang ayah pemabuk, utang yang menumpuk, rahasia yang bisa menghancurkan semuanya—masih membayangi.
Bisakah seorang pembunuh berdarah dingin belajar mencintai? Bisakah sebuah keluarga yang lahir dari kebohongan berubah menjadi cinta yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Hari yang Panjang
Ekaterina
Beberapa Hari Kemudian...
Setiap hari Alina meneleponku untuk menanyakan kabarku dan kabar cucunya. Berkat bantuan yang dia berikan, kami sekarang makan lebih baik, dan aku bisa membeli obat-obat Lis serta melunasi beberapa tagihan.
Lis berseri-seri.
Dia suka sekali dengan buah-buahan baru di kulkas. Suka yogurtnya.
Tapi malam ini, sebelum tidur, dia melontarkan pertanyaan yang sudah kuduga suatu hari akan dia ajukan.
Kami sedang berbaring bersama ketika dia memalingkan wajah mungilnya ke arahku dan bertanya lirih:
"Di mana ayah dari bayimu?"
Aku tak langsung menjawab.
Seluruh tubuhku membeku.
Tapi Lis melanjutkan dengan polos:
"Mungkin dia seperti ayahku... yang tidak menginginkanku, ya?"
Dadaku terasa begitu sesak sampai menyakitkan.
Dia memeluk pinggangku dan berkata seolah sedang menghiburku:
"Tapi tidak apa-apa. Kita akan merawatnya, Kathy. Aku akan membantumu."
Dan kali ini...
aku tak sanggup menahan air mata.
Lis mengusap wajahku dengan caranya yang kikuk, lalu tak lama kemudian tertidur sambil memelukku.
Tapi aku terjaga lama sekali, menatap langit-langit.
Memikirkan segalanya.
Tentang bayi ini.
Tentang Viktor.
Tentang rasa takut yang terus ada, bahwa semuanya akan runtuh lagi.
Keesokan harinya aku bangun pagi-pagi.
Hari ini bakal sibuk.
Lis ada sekolah, dan siangnya ada jadwal periksa ke dokter, jadi aku takkan sempat keluar mencari kerja.
Aku merapikan rambut cepat-cepat sambil mengejar-ngejar Lis.
"Ayo, Lis. Nanti kita terlambat."
Dia berlari-lari di dalam rumah mengambil tasnya, dan aku menahan tawa melihat paniknya.
Setelah mengantarnya ke sekolah, aku mulai berjalan pulang.
Tapi di tengah jalan...
aku merasakannya.
Seakan ada yang mengawasiku.
Aku menoleh diam-diam ke belakang.
Tak ada apa-apa.
Tapi rasa itu tak juga hilang.
Aneh.
Mengganggu.
Aku memeluk tubuhku sendiri dan terus berjalan sampai ke rumah.
Saat membelok di tikungan, aku bertemu Bu Severina di trotoar sedang menyiram bunga.
"Selamat pagi, Nak."
"Selamat pagi."
Dia menatapku lekat sebelum bertanya:
"Mau kutemani mengantar Lis ke dokter hari ini?"
Aku tersenyum tipis.
"Mau."
Dia menyandarkan selang ke samping dan menatapku penuh sayang.
"Kamu juga butuh dijaga. Kamu sedang hamil. Aku tak akan membiarkanmu jalan sendirian ke mana-mana."
Hatiku sedikit menghangat.
"Terima kasih."
Dia ragu sejenak sebelum bertanya:
"Kamu sudah berhasil bicara dengan ayah si bayi?"
"Sudah..." jawabku, lalu melanjutkan,
"Dia bilang anak itu bukan anaknya."
Tanpa sadar aku menunduk.
Karena mengucapkannya keras-keras masih sangat menyakitkan.
"Aku tak pernah bersama siapa pun... cuma dengan dia."
Suaraku tercekat di akhir kalimat.
Bu Severina menarik napas dalam-dalam.
"Kalau begitu, biar hukum saja yang menyelesaikannya."
"Tidak. Aku akan cari jalan sendiri..."
Dia mendekat dan menggenggam tanganku sejenak.
"Kamu tidak sendirian."
Aku memejamkan mata cepat, mencoba memercayai itu.
Lalu dia tersenyum tipis.
"Sana istirahat dulu. Sebentar lagi aku panggil kamu untuk berangkat."
Aku pulang dan menyiapkan beberapa roti isi. Kumasukkan semuanya ke dalam tas bersama hasil pemeriksaan Lis yang terakhir.
Setelah itu aku mandi lama-lama.
Kucuci rambut, mencoba sedikit rileks sebelum kesibukan siang nanti.
Ketika keluar dari kamar mandi dengan tubuh terbungkus handuk, ponselku berbunyi di atas ranjang.
Aku sudah tahu siapa itu.
Senyum kecil muncul tanpa kusadari.
Aku mengangkatnya.
"Halo, Alina."
Suaranya terdengar tenang dari seberang.
"Bagaimana kabar kalian di sana?"
Aku duduk di tepi ranjang sambil mengeringkan rambut dengan handuk.
"Membaik."
Dan itu memang benar.
Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, aku bisa mengatakannya tanpa berbohong.
"Lis senang. Siang ini dia ada jadwal periksa."
"Dan kamu? Sudah istirahat?"
Aku tersenyum lemah.
"Sedang berusaha."
Dia mendesah di seberang, seakan sudah menduga jawaban itu.
"Kamu juga harus menjaga diri, Ekaterina."
Pandanganku otomatis turun ke perutku.
Masih terasa aneh membayangkan ada bayi di sana.
Bahwa ada orang yang mengkhawatirkannya.
Mengkhawatirkanku.
"Aku minum vitaminku dengan teratur, kok."
"Bagus."
Kami terdiam beberapa detik.
Tapi keheningannya tidak canggung.
Lalu dia bertanya dengan suara lebih lembut:
"Dan si bayi? Sehat-sehat hari ini?"
Dadaku langsung menghangat.
Belum pernah ada yang bertanya dengan cara seperti itu.
Penuh sayang.
Penuh kepedulian yang tulus.
Aku mengelus perutku tanpa sadar.
"Kurasa begitu."
"Kurasa?"
Aku tertawa lirih untuk pertama kalinya hari itu.
"Aku masih belum bisa merasakan banyak hal."
Dia ikut tertawa.
Pelan.
Hangat.
Nyaris keibuan.
"Nanti kamu akan belajar."
Keheningan kembali beberapa detik sebelum dia bertanya:
"Kamu butuh sesuatu?"
Aku otomatis menggeleng.
Meski tahu dia tak bisa melihatku.
"Tidak, Nyonya."
"Alina," ralatnya seketika. "Kita sudah melewati tahap itu."
Aku menggigit sudut bibir dengan kikuk.
"Baiklah... Alina."
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini bermula...
namanya tak lagi terasa jauh.
Aku menutup telepon sambil berkata harus segera bersiap agar tak terlambat.
Setelah itu aku berpakaian cepat dan keluar rumah.
Begitu kubuka pagar, Bu Severina sudah menunggu di beranda.
"Kupikir kamu bakal telat, Nak."
Aku tersenyum tipis sambil membetulkan tas di bahu.
Kami berangkat menjemput Lis di sekolah, dan Bu Severina bicara sepanjang jalan sampai ke halte bus. Tentang lingkungan sekitar. Tentang seorang keponakan jauh. Tentang apa saja yang bisa mengalihkan pikiranku.
Dan aku bersyukur untuk itu.
Karena terlalu banyak berpikir tak pernah baik untukku.
Perjalanan ke rumah sakit panjang.
Hampir satu jam di dalam bus yang penuh sesak, pengap, dan melelahkan.
Ketika akhirnya tiba, punggungku sudah sakit dan kakiku terasa berat sekali.
Kami menunggu di resepsionis sampai nama Lis dipanggil.
Sementara itu, aku mengeluarkan roti isi dari tas.
Lis makan dengan riang, mengayun-ayunkan kaki di kursi sambil menceritakan sesuatu tentang sekolahnya pada Bu Severina.
Aku berusaha menyimak.
Tapi kantuk terasa berat.
Jarum jam seakan tak bergerak.
Lalu, menjelang sore, akhirnya nama Lis dipanggil.
Aku mengembuskan napas diam-diam, lega karena tak perlu menunggu lebih lama.
Kami masuk ke ruang periksa.
Tapi begitu aku mengangkat wajah...
aku langsung merasa ada yang berbeda.
Ini bukan Dokter Paulo.
Lelaki yang duduk di balik meja jauh lebih muda. Umurnya mungkin baru tiga puluhan. Dia mengangkat pandangannya ke arahku dan menelitiku dari kepala sampai kaki sebelum tersenyum tipis.
Itu langsung membuatku tak nyaman.
Meski begitu, aku mengucapkan selamat sore dengan sopan.
Lis lebih cepat.
"Mana Dokter Paulo?"
Lelaki itu membetulkan posisi duduknya sebelum menjawab:
"Dokter Paulo sedang cuti. Sekarang aku yang akan merawatmu."
Dia tersenyum langsung ke arah Lis.
"Dan aku janji, aku tak kalah hebat dari beliau."
Lalu dia mengalihkan pandangan padaku.
"Namaku Jean."
Aku mengangguk pelan.
Tapi ada sesuatu di dalam diriku yang tetap gelisah.
Lis tak menyia-nyiakan kesempatan.
"Aku mau lihat. Dokter Paulo selalu punya permen."
Dokter itu tersenyum manis dan membuka laci mejanya.
Dari sana, dia mengeluarkan sebatang permen lolipop warna-warni dan mengacungkannya ke arah Lis.
"Tapi itu tergantung bagaimana keadaanmu hari ini."
Lis terkikik sambil menutup mulut, terpukau.
"Aku sehat, kok!"
Dokter Jean tertawa pelan sebelum bangkit.
Dan bahkan sebelum aku sempat menggendong Lis untuk membaringkannya di ranjang periksa, dia sudah mendekat dengan hati-hati.
Sikapnya berubah sepenuhnya selama pemeriksaan.
Lebih teliti.
Lebih profesional.
Dia membantu Lis duduk dan mulai memeriksa bekas sayatan operasi dengan lembut.
"Sakit tidak di sini, tuan putri?"
Lis menggeleng cepat.
Lalu dia memasang stetoskop dan mendengarkan detak jantung Lis dengan saksama.
Keheningan di ruang periksa makin terasa selagi dia berkonsentrasi.
Seluruh tubuhku menegang tanpa kusadari.
Kemudian dia mengajukan beberapa pertanyaan langsung pada Lis:
"Kamu sering merasa capek?"
"Cuma kalau lari terlalu banyak."
"Kalau pusing?"
"Kadang-kadang."
Dia mengangguk perlahan, mencatat beberapa hal.
Lalu memintanya menarik napas dalam-dalam beberapa kali sementara dia terus mendengarkan dada Lis.
Aku mengamati semuanya dalam diam, meremas jari-jariku di tas yang kupangku.
Aku selalu gugup saat pemeriksaan.
Selalu.
Karena ekspresi serius seorang dokter langsung membuatku panik.
Setelah beberapa menit, akhirnya dia melepas stetoskop dan tersenyum pada Lis.
"Kamu berkembang sangat baik."
Lis langsung mengulurkan tangan.
"Berarti aku berhak dapat lolipop."
Dokter Jean tertawa dan menyerahkannya.
"Berhak, dong."
Lis merayakannya seolah baru saja memenangkan hadiah besar.
Dan untuk pertama kalinya sejak kami masuk ke ruang periksa itu...
aku bisa bernapas sedikit lebih lega.
Dokter Jean menyelesaikan beberapa catatan sebelum menoleh ke arahku.
Lalu menyodorkan sebuah kartu.
"Ini nomorku."
Aku menerima kartu itu dengan sedikit terkejut.
"Kamu bisa meneleponku kalau perlu," jelasnya tenang. "Aku praktik di sini setiap hari Rabu."
Aku menunduk memandang kartu di tanganku.
Sudah lama sekali tak ada yang menawariku bantuan tanpa mengharapkan imbalan, sampai hal seperti ini pun terasa asing.
"Terima kasih, Dokter."
Dia hanya mengangguk.
Lalu melirik cepat ke arah Lis, yang masih asyik dengan lolipopnya.
"Perkembangannya bagus. Tapi kalau ada perubahan pada kelelahan, demam, atau nyeri, langsung beri tahu aku."
Aku langsung mengangguk.
"Baik."
Dia ragu sesaat sebelum berkata:
"Sampai jumpa di pemeriksaan berikutnya. Kujadwalkan ulang sepuluh hari lagi, karena masih ada satu hasil pencitraan yang belum keluar."
"Terima kasih," ucapku sambil keluar dari ruang periksa.
Lis keluar dengan diam.
Tapi begitu melihat Bu Severina menunggu di koridor, dia langsung nyerocos:
"Tadi dokternya beda!"
Bu Severina membelalakkan mata, pura-pura kaget.
"Lho, Dokter Paulo ke mana?"
"Lagi cuti."
Lis lalu menoleh padaku dan mulai menirukan diam-diam cara dokter itu memandang.
Serius.
Terpaku.
Nyaris tak berkedip.
"Dan dia memandangi Kathy seperti ini..."
"Lisbela!" tegurku seketika, wajahku terasa memanas.
Dia meledak dalam tawa.
Bu Severina, alih-alih membantu, malah ikut memanas-manasi:
"Oh ya? Memandangnya bagaimana?"
Lis meletakkan tangan mungilnya di dada dengan dramatis.
"Seperti pangeran memandang tuan putri."
"Ya Tuhan..." gumamku malu.
Bu Severina mulai tertawa keras di koridor.
"Berarti ada dokter yang naksir."
"Tidak ada apa-apa," sahutku terlalu cepat.
Keduanya langsung menatapku.
Dan itu cuma memperburuk keadaan.
Lis menggenggam tanganku sambil tersenyum jahil.
"Dia tampan, lho, Kathy."
"Ayo jalan," potongku, berusaha menyembunyikan rasa malu.
Tapi Bu Severina terus tertawa selagi kami menyusuri koridor rumah sakit.
"Sudah lama aku tak melihat kamu merona seperti ini, Nak."
Aku mendekap tas ke tubuh dan terus berjalan tanpa menyahut.
Sementara di belakangku, Lis terus bersenandung:
"Sang pangeran dan tuan putri... sang pangeran dan tuan putri..."
Dan aku cuma berharap tanah terbelah menelanku saat itu juga.