Indonesia
NovelToon NovelToon
Baskara Lelaki Yang Memilihku

Baskara Lelaki Yang Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Beda Usia
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Sinar matahari pagi kini telah sepenuhnya menerangi sudut-sudut kamar.

Jarum jam di dinding menunjuk tepat ke angka delapan.

Alena mengerjap-ngerjapkan matanya perlahan, menyesuaikan cahaya yang masuk, lalu meregangkan otot-otot tubuhnya yang terasa jauh lebih segar setelah tidur cukup.

Ia mendapati sisi ranjang di sebelah kirinya sudah kosong.

Namun, aroma harum kopi hangat dan kemeja rapi langsung menyapa indra penciumannya.

Tidak lama berselang, Baskara melangkah masuk ke dalam kamar.

Pria itu sudah tampak rapi mengenakan kemeja kerja formal yang membalut tubuh tegapnya, meskipun punggungnya masih dijaganya agar tidak bergerak terlalu kaku.

Ia menghampiri tempat tidur dan mendaratkan satu ciuman sayang di kening Alena yang baru saja duduk.

"Selamat pagi, sleeping beauty," sapa Baskara dengan senyuman hangat.

Alena tersenyum manis, membalas tatapan suaminya sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

"Pagi, Bas. Kamu sudah mau berangkat ke kantor? Bukannya kemarin Ayah bilang jangan terlalu memaksakan diri dulu?" tanya Alena dengan nada khawatir.

Baskara terkekeh pelan, duduk di tepi ranjang lalu merapikan kerah baju istrinya.

"Aku hanya mau masuk sebentar untuk meeting penting dengan para direksi, setelah itu aku langsung pulang. Tenang saja, aku tidak akan terlalu lelah."

Pria itu kemudian meraih tangan Alena, menggenggamnya lembut sambil menatap mata istrinya lekat-lekat.

"Oh ya, selama aku di kantor, kamu di rumah saja ya, Sayang? Jangan kemana-mana dulu. Nanti Tanti akan kesini untuk menemani kamu biar kamu nggak bosan."

Alena mengerjap sejenak, lalu tersenyum tipis tanda mengerti.

Meskipun ia merasa sudah sehat dan baik-baik saja, ia tahu betul suaminya hanya sedang bersikap sangat protektif—terutama setelah segala badai yang baru saja mereka lewati dan kehamilan yang kini tengah ia jaga.

"Iya, Bos. Aku di rumah saja," jawab Alena patuh sambil tersenyum simpul.

"Tanti mau datang? Asyik dong, jadi ada teman ngobrol."

Baskara mengangguk puas, lalu berdiri dan meraih tas kerjanya.

Sebelum melangkah keluar kamar, ia sempat berpesan sekali lagi agar Alena sarapan dengan baik, meninggalkan kehangatan yang menjalar di dada Alena di awal hari yang baru ini.

Langkah kaki Baskara yang tegap akhirnya meninggalkan unit apartemen, berangkat menuju kantor untuk menyelesaikan urusan pentingnya.

Suasana di dalam unit kini berangsur-angsur senyap, menyisakan ketenangan pagi hari yang menyejukkan.

Merasa perutnya mulai keroncongan, Alena beranjak dari kamar dan berjalan pelan menuju ruang makan.

Setibanya di sana, sebuah senyuman tulus langsung mengembang di bibirnya.

Di atas meja makan, tertata rapi sarapan sehat yang telah disiapkan oleh suaminya sebelum pergi tadi—semangkuk havermut hangat dengan taburan buah beri segar, segelas susu hangat khusus ibu hamil, dan sepiring kecil buah potong.

Di sebelah piring, terselip secarik kertas kecil bertuliskan tulisan tangan Baskara: 'Jangan lupa dihabiskan ya, Sayang. Have a good day!'

Alena terkekeh pelan membaca pesan manis tersebut.

Hatinya terasa begitu hangat, seolah kehadiran sang suami masih menyelimuti ruangan itu.

Ia pun menarik kursi, duduk dengan nyaman, dan mulai menikmati sarapan sehatnya dengan penuh rasa syukur atas kebahagiaan sederhana yang kini ia miliki.

"Tok, tok, tok!"

"Nyonya Alena!" terdengar suara familiar memanggil dari balik pintu.

Alena bergegas bangkit dari sofa dan melangkah pelan menuju pintu depan.

Begitu ia memutar kunci dan membukanya, sosok Tanti langsung menyambutnya dengan senyuman lebar.

Yang membuat Alena seketika salah fokus adalah kantong plastik transparan berukuran sedang yang dibawa Tanti—isinya penuh dengan buah mangga muda yang masih segar dan mengkal.

"Nyonya!" sapa Tanti riang sambil mengangkat kantong bawaannya.

"Tadi di jalan saya mampir sebentar pas lihat pohon mangga tetangga berbuah lebat. Nanti kita buat rujak, ya! Katanya ibu hamil biasanya lagi suka banget sama yang asam-asam dan segar begini."

Alena langsung berbinar-binar menatap mangga muda di tangan Tanti, air liurnya seolah hampir menetes membayangkan bumbu rujak pedas manis yang menggugah selera.

"Wah, Tanti tahu banget apa yang lagi aku pengen! Masuk, Tanti. Kebetulan banget aku lagi di rumah sendirian."

Gedung perkantoran megah milik keluarga Baskara menjulang tinggi menyambut kedatangan mobil hitam yang membawanya.

Begitu tiba di lantai basement, Baskara langsung turun dan melangkah pasti menuju lobi utama, di mana para pegawai menyambutnya dengan sapaan hormat yang langsung dibalas oleh anggukan ramah dan senyuman tipis khasnya.

Meskipun punggungnya masih memerlukan sedikit penyesuaian, tekadnya untuk memastikan roda perusahaan kembali berjalan stabil setelah prahara hukum yang menimpa para mantan petinggi korup sangatlah kuat.

Langkah kakinya membawanya langsung menuju lantai atas, tempat ruang rapat utama berada.

Begitu pintu kaca besar ruang meeting didorong terbuka, suasana di dalam ruangan yang tadinya terdengar riuh oleh suara percikan dokumen dan diskusi antar direksi seketika mendadak hening.

Kenan, yang berdiri di dekat layar presentasi, langsung tersenyum lega melihat kehadirannya.

"Selamat pagi, Tuan Baskara," sapa Kenan, diikuti oleh serentak ucapan selamat pagi dari para kepala divisi dan direktur yang sudah duduk rapi mengelilingi meja rapat panjang.

Baskara mengangguk tenang, berjalan menuju kursi utamanya di ujung meja.

Ia meletakkan tablet dan dokumen kerjanya, lalu menatap seluruh jajaran direksi dengan sorot mata yang tajam, berwibawa, dan penuh kendali.

"Pagi semuanya. Mari kita langsung mulai pembahasannya. Saya ingin laporan perkembangan restrukturisasi perusahaan triwulan ini," ucap Baskara tegas, memulai agenda rapat pagi itu dengan penuh wibawa.

Suasana di dalam ruang meeting utama terasa begitu serius namun terkendali.

Di bawah pimpinan Baskara yang kembali menunjukkan ketegasan dan kepemimpinannya, satu per satu kepala divisi memaparkan laporan perkembangan restrukturisasi perusahaan.

Tidak ada celah bagi keraguan; setiap keputusan diambil dengan matang guna memastikan kestabilan bisnis mereka pasca badai masalah yang melanda sebelumnya.

Sementara itu, berjarak beberapa kilometer dari pusat kota tempat kantor berdiri, suasana di dalam unit apartemen justru jauh dari kata kaku.

Di dapur minimalis yang bersih, Alena dan Tanti tengah sibuk dengan mangga muda yang tadi dibawa.

Alena mengupas kulit mangga dengan telaten, sementara Tanti menyiapkan bahan-bahan untuk membuat sambal rujak gula merah yang pekat, lengkap dengan cabai rawit merah, terasi bakar, asam jawa, dan taburan kacang tanah yang ditumbuk kasar.

"Wah, Tanti, aroma terasinya harum banget. Pasti nanti pedas manisnya pas," puji Alena sambil mencuci potongan mangga muda yang sudah diiris tipis-tipis di atas piring saji.

Tanti terkekeh riang sambil mengaduk bumbu rujak di dalam cobek batu.

"Biar makin mantap, Nyonya! Ini resep turun-temurun, dijamin bikin melek dan ketagihan."

Tidak butuh waktu lama, semangkuk rujak mangga muda dengan kuah bumbu cokelat kental nan menggoda itu sudah siap tersaji di atas meja makan.

Keduanya duduk berhadapan, siap menikmati camilan segar di pagi menjelang siang itu dengan gelak tawa dan obrolan ringan yang mencairkan suasana.

1
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Alena and baskara, semoga Alena bisa melewati masa kritisnya dan bangun dari koma
Aghitsna Agis
semoga selamat alena dan debaynya
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,,
Muft Smoker
aaa sweet banget kn ,, jrang2 punya suami yg lebih muda bisa sesayang Dan sesetia ini ,,
kalo pun ad di real life yx perbandingan ny 1 : 10000
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Alena dan baskara untuk toko roti yang baru, tetap jadi berkat
Aghitsna Agis
udah bilang aja baskara dan iztrinya meninggal.jad ngungsi dulu sambil selidiki siapa yg telah membakar toko rotinya
sri hastuti
habis kan keluargamu baskara yg spt iblis itu, keterlaluan membahayakan nyawa orang, sikat semua ,bila perlu masukkan ke penjara semua 😡😡😡😡
sri hastuti
kok double???
Manis
kok di ulang?
Bunga Andthea
up lgi kak
lilik indah
ttp semangat walau sdikit yg komen kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Ghiffari Zaka
ih kok kejam banget ya baskara??? apa setelah menikah nnt Alena akan seperti di kisah novel2 yg lain,tersiksa,di acuhkan ,di sia-siakan bahkan di anggap tidak ada,kok AQ jadi ke sn ya mikirnya Thor....
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
semoga ceritanya asyik ya Thor...dan semoga sukses di karya barunya🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!