Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.
Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).
Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 16 — Kehidupan Ganda
Pagi setelah dungeon Menara Kabut berhasil ditaklukin, Kaito bangun dengan alarm yang bunyi tepat waktu, hal yang sekarang udah jadi normal, tapi tetep aja bikin dia sempet mikir sejenak sebelum bangkit dari kasur.
Dia mandi, sarapan cepat, terus jalan ke stasiun dengan langkah yang tanpa dia sadari, jauh lebih ringan dari biasanya. Kereta dateng tepat waktu, kayak biasa akhir-akhir ini, dan dia dapet tempat duduk kosong pas banget di gerbong yang paling sepi.
Sampai kantor, suasana kerasa biasa aja sampe atasannya manggil dia ke ruangan pribadi sesaat setelah jam makan siang.
"Kaito," kata atasannya Pak Nishida, sambil natap laporan di layar komputernya, "gue perhatiin kinerja lo belakangan ini lumayan konsisten. Bahkan lebih baik dari biasanya."
"Terima kasih, Pak," jawab Kaito, agak nggak yakin ke mana arah pembicaraan ini.
"Ada proyek baru yang bakal jalan bulan depan, kerja sama sama klien besar dari luar negeri. Gue mikir buat masukin lo jadi salah satu koordinator tim, kalo lo tertarik."
Kaito diem sebentar, mastiin dia nggak salah denger. "Koordinator? Saya?"
"Kenapa, ada masalah?"
"Enggak, cuma..." Kaito mikir cepet, inget presentasi berantakan beberapa minggu lalu, "saya kira setelah kejadian presentasi kemarin, saya bakal dianggep kurang mampu."
Pak Nishida ngangkat alis, sedikit heran. "Itu kan cuma masalah teknis, bukan salah lo. Materinya sendiri bagus banget, saya masih inget beberapa poin yang lo sampein secara lisan waktu itu. Lagian, minggu-minggu terakhir ini lo keliatan beda, lebih tenang, lebih pede. Saya suka itu."
Kaito nggak tau harus jawab apa selain "terima kasih, Pak," walau di dalem hati, dia diem-diem mikirin apa perubahan ini beneran murni usaha dia, atau ada hubungannya sama sesuatu yang lain, sesuatu yang bocor dari dunia yang dia masukin tiap malem.
Keluar dari ruangan Pak Nishida, dia ketemu Tanaka di lorong yang langsung nyamperin begitu liat ekspresi Kaito yang keliatan agak bengong.
"Eh, muka lo kenapa? Abis dimarahin?" tanya Tanaka.
"Enggak, malah sebaliknya, gue ditawarin jadi koordinator proyek baru." Kaito garuk kepala, masih agak nggak percaya.
Mata Tanaka melebar. "Serius? Anjir, selamat dong! Gue bilang juga apa, lo emang layak dapet kesempatan kayak gitu."
"Makasih, eh kopi kaleng kemaren belum gue bales ya. Makan siang bareng, gue traktir?" kata Kaito dengan senyum tulus
"Cieee, baru naik jabatan aja udah royal," Tanaka ketawa sambil nepuk pundaknya, "gas, gue lapar juga."
Mereka jalan bareng ke kantin, ngobrolin hal-hal ringan yang nggak ada hubungannya sama kerjaan sama sekali, dan buat sesaat, Kaito ngerasa hidupnya di dunia nyata juga mulai terasa lebih hangat, bukan cuma dunia yang dia masukin tiap malem lewat headset itu.
Jam istirahat, Kaito duduk sendirian di pantry kantor, ngecek HP-nya buat liat perkembangan grup guild. Notifikasi numpuk banyak banget, kebanyakan dari Rin dan Souma yang lagi ribut ngobrolin sesuatu.
Souma: WOI KAITO CEK FORUM SEKARANG
Rin: Jangan lebay, tapi emang bener sih, ini rame banget
Mei: Aku juga baru liat!! Kita jadi trending topic
Kaito buka forum komunitas, dan bener aja thread paling atas hari itu judulnya bikin dia hampir keselek kopi kantor yang lagi dia minum.
"GUILD BARU 'FORTUNA ASCENDANT' CLEAR DUNGEON MENARA KABUT DALAM SEKALI PERCOBAAN?? SIAPA MEREKA INI"
Dia buka thread-nya, dan komen-komennya udah ratusan, campuran antara kagum, curiga, dan beberapa yang langsung nyambungin sama thread lama soal "pemain misterius dengan drop rate mustahil."
Salah satu komen yang paling banyak di-upvote nulis panjang lebar analisis soal gimana Menara Kabut biasanya butuh guild dengan pengalaman minimal beberapa bulan buat berhasil clear, apalagi dalam sekali percobaan tanpa wipe sama sekali. Komen lain nanya-nanya soal siapa aja anggotanya, dan beberapa nama termasuk nama Rin udah mulai disebut-sebut secara spesifik.
Kaito nutup forum itu, ngerasa perutnya agak mules. Dia emang udah nyiapin diri buat perhatian yang makin gede, tapi ngeliatnya secara langsung tetep aja bikin dia gugup.
HP-nya bunyi lagi, kali ini pesan personal dari Rin.
Rin: Absolute Zero pasti udah liat ini. Bersiap aja buat kemungkinan mereka gerak lebih agresif.
Kaito bales cepat.
Kaito: Sekarang lagi kerja, nanti malem kita ngobrol lebih detail ya
Rin: Oke. Fokus kerja dulu. Ini bisa nunggu.
Kaito senyum kecil natap balesan itu, ngerasa lega Rin ngerti prioritasnya tanpa dia perlu jelasin panjang lebar. Dia masukin HP-nya balik ke saku, terus balik kerja dengan pikiran yang walau nggak sepenuhnya tenang, cukup buat dia tetep fokus sampe jam pulang.
Malemnya, begitu Kaito sampe rumah dan langsung nyalain dive rig-nya sendiri yang akhirnya dia beli minggu lalu setelah ngumpulin sedikit tabungan dari hasil jual item di game, jadi nggak perlu pinjem punya Souma lagi, dia login dan langsung disambut sama tiga orang yang udah nunggu di markas mereka.
"Akhirnya, gue udah nggak sabar bahas ini dari tadi siang." kata Souma.
"Jadi, seberapa parah reaksinya?" kata Kaito sambil duduk di batu markas mereka.
"Parah dalam artian bagus atau buruk? soalnya dua-duanya ada." tanya Mei.
Rin buka panel forum lagi, nunjukin beberapa update terbaru. "Beberapa guild udah mulai ngirim pesan formal, nawarin kerja sama atau aliansi. Ada juga beberapa pemain solo yang minta gabung ke guild kita."
"Itu bagus dong?" tanya Kaito.
"Sebagian bagus," jawab Rin, "tapi ada juga yang lebih... mencurigakan. Termasuk ini." Dia nunjuk satu pesan yang masuk ke inbox guild resmi mereka, dikirim langsung dari akun dengan lambang Absolute Zero.
Kaito buka pesan itu, dan matanya berhenti di nama pengirimnya.
Todoroki Ren
Isinya singkat, formal, tapi ada nada yang walau sopan di permukaan, kerasa penuh tekanan di baliknya:
"Selamat atas pencapaian kalian menaklukan Menara Kabut. Cukup mengesankan untuk guild yang baru berdiri kurang dari seminggu. Saya tertarik untuk mengenal kalian lebih jauh, mungkin lewat pertandingan persahabatan di arena resmi? Saya yakin ini akan jadi tontonan menarik untuk seluruh server."
Kaito natap pesan itu lama, ngerasa ada sesuatu yang berat banget di balik kata-kata sopan itu.
"'Pertandingan persahabatan,'" ulang Souma, nadanya sarkastik, "yeah, kedengerannya kayak orang yang emang niat baik."
"Ini bukan ajakan biasa, ini cara dia buat ngetes kita di depan publik, sekaligus buktiin dominasinya kalo emang kita kalah." kata Rin dengan ekspresi serius.
"Emang seberapa kuat sih orangnya?" tanya Mei, agak parno.
"Kuat," jawab Rin singkat, "clear rank-nya masih di lima besar server walau udah disalip beberapa guild lain belakangan ini. Duel rank-nya bahkan lebih bagus lagi. Dia bukan tipe yang nawarin duel kalo nggak yakin bisa menang."
"Kalo kita nolak?" tanya Mei.
"Kalo kita nolak, bisa dianggep kita takut. Reputasi kita yang baru mulai naik bisa jatoh lagi," jawab Rin, "tapi kalo kita terima dan kalah..."
"Kita bakal jadi bahan tertawaan," sambung Kaito, ngerti arah pembicaraan.
Mereka berempat diem sejenak, ngebiarin beratnya keputusan itu ngendep di udara.
"Gue rasa, kita terima." kata Kaito akhirnya, suaranya lebih mantap dari yang dia sangka sendiri.
Rin natap dia sedikit kaget. "Lo yakin?"
"Nggak sepenuhnya, tapi kalo kita terus-terusan main aman, cepat atau lambat kita bakal ketemu tantangan yang lebih besar dari ini. Mending kita hadepin sekarang, selagi kita masih bisa milih kapan dan gimana caranya." jawab Kaito jujur.
Rin natap dia lama, terus perlahan senyum tipis muncul di wajahnya. "Itu keputusan yang lumayan berani buat orang yang seminggu lalu masih parno duduk sendirian di sofa."
"Gue banyak berubah minggu ini," kata Kaito, nyengir.
Souma nepuk pundaknya, mantap. "Yaudah, kalo gitu mulai besok kita latihan lebih keras. Kita nggak boleh keliatan lemah di depan Absolute Zero."
Kaito ngangguk, natap tiga orang di sekitarnya, ngerasa firasat kalo apa pun yang bakal kejadian di arena nanti, dia nggak bakal ngadepinnya sendirian.
Tapi diem-diem di dalam hatinya, ada rasa deg-degan yang nggak bisa dia sembunyiin sepenuhnya, rasa yang bilang ini baru permulaan dari sesuatu yang jauh lebih besar dari yang mereka semua bayangin.
Dia natap pesan dari Todoroki Ren sekali lagi sebelum nutup panelnya, ngebaca ulang tiap kata dengan lebih teliti. Nada sopannya nggak ilang, tapi sekarang, setelah tau lebih banyak soal reputasi orangnya, kata-kata itu kerasa beda kayak sarung tangan beludru yang nyembunyiin kepalan tangan di baliknya.
Dia belum pernah ketemu Todoroki Ren secara langsung, tapi entah kenapa, dia udah bisa ngerasain kalo pertemuan mereka nanti bakal jadi salah satu titik balik penting dalam perjalanan yang baru aja dia mulai.