Indonesia
NovelToon NovelToon
The Lone Traveler

The Lone Traveler

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi Isekai / Action / Fantasi
Popularitas:361
Nilai: 5
Nama Author: Shodiq Daryanto

Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.

Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".

Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Yang Tertinggal

Pagi berikutnya, setelah semalam beristirahat di pondok kecil Pastor Elric—Elaina tidur nyenyak di kasur cadangan yang disediakan tuan rumah mereka, sementara Sasuke dan Saviera bergantian berjaga di luar, tidak sepenuhnya yakin apakah lembah tersembunyi ini benar-benar seaman yang terlihat—mereka berkumpul kembali di meja kayu sederhana untuk sarapan sebelum melanjutkan perjalanan.

"Sebelum kalian pergi," Pastor Elric berkata, membawa buku tua itu kembali ke meja, "ada satu hal lagi yang mungkin berguna bagi kalian."

Ia membuka halaman yang menampilkan sepuluh simbol melingkar yang sempat mereka lihat semalam, jarinya menelusuri setiap simbol satu per satu.

"Sepuluh simbol ini," ia menjelaskan, "mewakili sepuluh benua Astral—Manusia, Iblis, Demi Human, Elf, Dwarf, Malaikat, Titan, Dragon, Dryad, dan Spirit. Menurut catatan yang kutemukan, sembilan dari sepuluh perwakilan asli masih memiliki keturunan atau penerus yang diketahui memimpin benua masing-masing hingga hari ini, meski dengan kekuatan yang mungkin sudah jauh berbeda dari leluhur mereka."

"Dan yang kesepuluh?" Sasuke bertanya, sudah menduga ke mana arah penjelasan ini.

Pastor Elric menunjuk salah satu simbol—sebuah lambang menyerupai mahkota bertumpuk yang mulai memudar di tepi-tepinya, seolah sengaja dibuat kurang jelas dibanding simbol-simbol lainnya. "Benua Titan," ia berkata. "Menurut catatan sejarah resmi, garis kepemimpinan Titan terputus sekitar dua ribu tahun lalu, tanpa penjelasan yang jelas. Sejak itu, Benua Titan diperintah oleh dewan tetua yang mengklaim bertindak 'atas nama' pemimpin asli mereka yang sudah lama tidak pernah terlihat."

Saviera mengerutkan dahi, mencerna informasi itu. "Anda pikir 'Yang Tertinggal' ini adalah pemimpin Titan yang menghilang itu?"

"Aku tidak bisa memastikannya," Pastor Elric mengakui. "Tapi itulah kesimpulan paling masuk akal yang bisa kubuat dari kepingan-kepingan informasi yang kumiliki. Titan dikenal sebagai ras yang hidup jauh lebih lama dari ras lainnya, beberapa bahkan dikatakan abadi. Jika salah satu dari mereka—perwakilan asli dewan itu—masih hidup namun memilih bersembunyi selama dua ribu tahun terakhir, gelar 'Yang Tertinggal' akan sangat masuk akal baginya."

---

Sasuke menatap simbol mahkota yang memudar itu lama, pikirannya mulai menyusun potongan-potongan teka-teki menjadi gambaran yang lebih besar—meski masih jauh dari lengkap.

"Kenapa dia bersembunyi begitu lama?" Sasuke bertanya, lebih pada dirinya sendiri daripada pertanyaan yang benar-benar ia tujukan pada Pastor Elric. "Dan kenapa baru sekarang mulai aktif kembali, lewat Uskup Agung?"

"Itu pertanyaan yang bahkan aku sendiri tidak punya jawabannya," Pastor Elric menjawab jujur. "Tapi kalau boleh memberi saran, Anak Muda—berhati-hatilah. Sesuatu yang memilih bersembunyi selama dua ribu tahun, lalu tiba-tiba memutuskan untuk bertindak lagi, pasti punya alasan yang sangat kuat. Alasan seperti itu jarang sekali sederhana, atau baik."

Elaina, yang sudah selesai sarapan dan mulai bosan dengan percakapan orang dewasa yang terlalu berat untuknya, menarik-narik lengan baju Saviera. "Mama, boleh Elaina lihat kebun herbal Kakek Elric? Baunya wangi banget dari sini."

Saviera tersenyum kecil, melirik Sasuke sejenak sebelum mengangguk. "Tentu, Sayang. Ayo."

Begitu Saviera dan Elaina melangkah keluar menuju kebun kecil di luar pondok, Pastor Elric menatap kepergian mereka dengan senyum lembut, sebelum kembali menoleh pada Sasuke dengan ekspresi yang lebih serius.

"Anak yang manis," ia berkata. "Dan wanita yang kuat. Kau beruntung memiliki keluarga seperti mereka, Anak Muda."

"Aku tahu," Sasuke menjawab, tulus. "Itu sebabnya aku ingin memastikan mereka aman, apa pun yang terjadi dengan semua ini."

Pastor Elric mengangguk pengertian. "Kalau begitu, biar kuberi satu saran terakhir. Jangan terburu-buru mencari jawaban atas semua ini sendirian. 'Yang Tertinggal', jika dugaanku benar, adalah sesuatu yang bertahan selama ribuan tahun—entitas seperti itu tidak akan terpengaruh oleh keterburu-buruanmu. Tapi keluargamu, mereka bisa terluka oleh keputusan gegabah yang kau ambil demi mengejar jawaban terlalu cepat."

---

Mereka meninggalkan lembah tersembunyi itu menjelang siang, setelah berpamitan hangat dengan Pastor Elric, yang berjanji akan tetap tinggal di pondoknya, siap membantu jika suatu saat mereka membutuhkan informasi lebih lanjut.

"Kalian selalu diterima kembali ke sini," ia berkata sambil melambai dari depan pondoknya, "kapan pun kalian butuh tempat aman untuk berpikir."

Dalam perjalanan turun gunung, Sasuke berjalan diam lebih lama dari biasanya, pikirannya masih dipenuhi oleh simbol mahkota pudar dan gelar misterius yang baru saja ia pelajari.

"Kau memikirkan Benua Titan," Saviera akhirnya berkata, berjalan di sampingnya, memecah keheningan panjang itu.

"Ya," Sasuke mengakui. "Tapi Pastor Elric benar. Aku tidak bisa terburu-buru mengejar jawaban ini, terutama tidak dengan kalian berdua bersamaku dalam bahaya yang mungkin ditimbulkannya."

"Kau tidak perlu melindungi kami dengan menjauhkan diri dari kami, kau tahu," Saviera berkata lembut, mengingatkannya pada kesepakatan yang sudah mereka buat bersama. "Kita hadapi ini bersama, langkah demi langkah, seperti biasa."

Sasuke menoleh menatapnya, sebuah senyum kecil namun tulus muncul di wajahnya. "Aku tahu. Aku hanya perlu waktu untuk memikirkan langkah selanjutnya yang paling bijak."

Elaina, yang berjalan di antara mereka berdua sambil menggenggam tangan masing-masing, mendongak dengan senyum polos. "Apa pun yang Papa putuskan, Elaina yakin itu akan jadi keputusan yang tepat!"

Kepercayaan sederhana itu, seperti biasa, memberikan sedikit kehangatan di tengah beban berat yang baru saja mereka pikul bersama. Mereka melanjutkan perjalanan menuruni pegunungan, menuju dunia yang kini terasa jauh lebih rumit dan penuh misteri dari yang pernah mereka bayangkan sebelumnya—namun untuk sekarang, mereka memilih melangkah dengan hati-hati, bersama-sama, satu langkah pada satu waktu.

---

*Bersambung ke Bab 26: Kembali ke Jalan*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!