Indonesia
NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:60
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28 — Umpan Bernama Anindya

"Sedan itu selera keluarga Wibisana. Kamu sebenarnya siapa, Nindya?"

Vivi menyimpan pertanyaan itu sendiri.

Di tempat lain, keluarga Sanjaya justru mulai mencari jawaban dengan cara yang jauh lebih mahal.

Ruang rapat utama Sanjaya Group menghadap pusat bisnis Jakarta. Rudy meletakkan sebuah map di depan putranya. Di sampulnya tertulis satu nama yang selama bertahun-tahun lebih sering muncul dalam dokumen perusahaan daripada foto publik.

Anindya Wibisana.

"Wibisana Land sedang menyiapkan beberapa akuisisi besar," kata Rudy. "Hubungan keluarga akan menenangkan pemegang saham dan membuka proyek bersama."

Sebastian tidak menyentuh map itu.

"Pernikahan bukan nota kesepahaman."

Oma Sanjaya yang duduk di ujung meja mengetukkan tongkat ringan ke lantai. "Kalau kamu benar menganggap begitu, mengapa selama ini mendekati perempuan yang sudah menikah?"

Rudy mengerutkan dahi. Sebastian tetap tersenyum.

"Saya hanya menjaga teman lama."

"Jaga diri kamu sendiri," kata Oma. "Larasati sekarang sudah bercerai, tapi keluarganya tidak membawa kekuatan yang kamu perlukan. Sulastri juga yang memperkenalkan kembali nama Wibisana kepada lingkaran kita. Setidaknya temui putri mereka."

Sebastian akhirnya membuka map.

Profilnya tipis. Nama, pendidikan luar negeri, jabatan strategis, dan kepemilikan keluarga tercatat. Foto resmi terbaru tidak ada. Beberapa gambar acara hanya memperlihatkan punggung, siluet, atau perwakilan.

"Seorang direktur utama tanpa wajah?" tanyanya.

"Keluarga Wibisana menjaga privasi," jawab Rudy.

"Atau seseorang sengaja menyembunyikannya."

Sebastian melihat daftar proyek yang bersinggungan dengan Sanjaya. Nama Hendra Kusuma muncul sebagai eksekutif operasional. Nama Prita muncul pada jalur koordinasi acara. Anindya sendiri hampir selalu memberi persetujuan melalui rapat tertutup atau dokumen direksi.

Itu membuatnya semakin tertarik.

"Atur pertemuan," katanya.

Pada lantai tertinggi Wibisana Group, permintaan tersebut sudah berada di meja Anindya.

Prita membacanya dua kali. "Keluarga Sanjaya meminta makan siang privat. Mereka mau memastikan calon yang datang benar-benar Mbak Anindya."

"Tolak."

"Sudah tiga kali. Sekarang mereka menghubungkan penolakan dengan dua tender bersama. Kalau kita putus komunikasi, Rudy bisa membuatnya jadi isu antarkeluarga."

Anindya menatap kota di balik kaca. Ia tidak berniat menikahi Sebastian. Lebih buruk lagi, lelaki itu mengenal Raka dan kini mulai mengamati semua yang berkaitan dengan Wibisana.

Jika ia datang dengan wajah asli, satu pertemuan tak sengaja di sekitar Studio dapat membuka seluruh penyamarannya.

"Kamu yang datang," katanya.

Prita menurunkan kertas. "Sebagai asisten?"

"Sebagai Anindya."

"Mbak sedang meminta saya menipu calon suami Mbak."

"Dia bukan calon suamiku."

"Tetap saja, nama yang dipakai milik Anda."

Anindya mendorong lembar syarat ke arahnya. "Pertemuan sosial, bukan negosiasi. Tidak ada tanda tangan, tidak ada pertukaran dokumen identitas, tidak ada janji investasi, pertunangan, atau penggunaan nama untuk transaksi. Kamu hanya menjaga percakapan tetap terbuka sampai tekanan keluarga mereda."

"Kalau dia meminta foto?"

"Tolak atas nama privasi."

"Kalau dia mengajak bertemu lagi?"

"Buat jadwal tiga bulan kemudian."

"Kalau dia melamar?"

"Tumpahkan kopi."

Prita menahan tawa. "Ternyata Bu Dirut bisa memberi instruksi yang tidak ada di SOP."

Anindya tidak ikut tersenyum. "Sebastian cerdas. Jangan memberi fakta yang dapat dia verifikasi sebagai kebohongan. Jawab kebijakan perusahaan dengan kalimat umum. Untuk hal pribadi, katakan kamu belum ingin membahas."

"Dan selama saya jadi umpan, Mbak tetap tinggal di kontrakan dekat Mas Raka?"

"Itu tidak berhubungan."

"Tentu. Sama sekali tidak."

Pertemuan berlangsung keesokan siangnya di ruang privat sebuah kafe hotel. Prita datang dengan gaun sederhana berpotongan sempurna dan perhiasan pinjaman dari lemari keluarga. Staf reservasi menyambutnya dengan nama Ibu Anindya karena permintaan meja dikirim melalui jalur sosial Wibisana.

Sebastian berdiri ketika ia masuk.

"Bu Anindya."

"Pak Sebastian."

Mereka berjabat tangan singkat.

Tidak ada kamera pers. Tidak ada dokumen. Dua pihak keluarga hanya mengirim pengawal yang menunggu di luar ruang.

"Sulit sekali bertemu Anda," kata Sebastian.

"Orang yang sibuk biasanya bertemu ketika ada alasan yang jelas."

"Bukankah mengenal calon pasangan alasan yang jelas?"

Prita mengambil menu. "Saya datang untuk makan siang, bukan menerima status."

Sebastian tersenyum. Jawaban itu tidak terdengar seperti putri pemalu yang dibayangkan keluarganya.

Ia mulai menguji.

Ia sengaja menyebut dua komisaris lama dengan jabatan yang tertukar. Prita mengenali jebakannya dari notulen rapat yang biasa ia susun.

"Yang pertama duduk di komite risiko, bukan investasi," katanya. "Dan yang kedua sudah tidak menjabat sejak kuartal lalu."

"Jadi Anda mengikuti detail internal."

"Orang yang mewakili keluarga tentu membaca laporan."

Jawaban itu benar bagi Prita sebagai asisten, tetapi tidak membuktikan identitas yang sedang ia pakai. Sebastian memutar cangkirnya satu kali. Ia menyadari lawan bicaranya telah lolos dari pertanyaan pertama tanpa memberi satu informasi pribadi pun.

"Wibisana baru membeli lahan dekat koridor timur. Anda ingin mengubahnya menjadi apa?"

"Keputusan proyek mengikuti uji kelayakan dan persetujuan direksi. Saya tidak membahas data yang belum diumumkan di meja makan."

"Hendra Kusuma memegang operasional. Berarti Anda lebih banyak mengurus citra?"

"Direktur yang perlu menjelaskan semua pekerjaannya kepada calon mitra mungkin tidak benar-benar memimpin."

Pelayan menahan gerakan sesaat sebelum menuang air.

Sebastian tertawa. "Saya mulai mengerti mengapa Wibisana menyembunyikan Anda."

"Mungkin mereka hanya menyembunyikan saya dari percakapan seperti ini."

Prita tidak menyentuh pertanyaan tentang masa kecil, tempat tinggal, atau rutinitas. Setiap kali Sebastian membawa hubungan dua keluarga, ia mengembalikan jawaban pada tata kelola. Saat ia menyebut pertunangan, Prita meminta hidangan penutup.

"Anda tidak menolak," kata Sebastian.

"Saya juga tidak menerima."

"Berapa lama saya harus menunggu?"

"Kalau tujuan Anda hanya jawaban cepat, berarti Anda tidak mencari pasangan. Anda mencari tanda tangan."

Pertemuan berakhir tanpa janji kedua. Namun juga tanpa penolakan terbuka yang dapat dijadikan alasan Rudy menyerang kerja sama korporat.

Di mobil, Prita melepas anting pinjaman dan menelepon Anindya.

"Umpan selamat. Ikan tidak kenyang."

"Dia curiga?"

"Dia selalu curiga. Tapi belum tahu pada bagian mana."

Sebastian memang belum tahu.

Malamnya, ia menyandingkan catatan makan siang dengan berkas Wibisana. Prita mengenal struktur perusahaan, tetapi selalu menghindari pengalaman pribadi. Tidak ada satu jawaban pun yang membuktikan ia berbohong. Tidak ada pula yang membuktikan ia benar-benar Anindya.

Ia menutup map, lalu menghubungi penyelidik privat yang biasa dipakai Sanjaya untuk uji tuntas mitra. Instruksinya dibatasi pada sumber terbuka, acara sosial, dan hubungan perusahaan—belum ada alasan untuk melanggar hukum.

"Cari foto lama, teman sekolah, dan pola orang yang dilindungi Wibisana," katanya. "Saya ingin tahu siapa perempuan yang sebenarnya."

Di halaman terakhir map, ada foto buram seorang perempuan turun dari mobil keluarga. Wajahnya tertutup payung.

Sebastian mengetuk foto itu dengan satu jari.

"Anindya Wibisana," katanya pelan. "Gue akan lihat siapa diri lo sebenarnya—dan di samping lelaki mana lo bersembunyi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!