Indonesia
NovelToon NovelToon
Bos Mafia yang Mencintai Putriku

Bos Mafia yang Mencintai Putriku

Status: tamat
Genre:Mafia / Single Mom / Rumah Tangga-Anak Genius / Tamat
Popularitas:12
Nilai: 5
Nama Author: Vah Peres

Alya hanya ingin bertahan hidup bersama putrinya yang masih bayi dan adik perempuan yang tidak pernah meninggalkannya. Setelah diusir keluarga, ditinggalkan pria yang seharusnya bertanggung jawab, dan dipaksa menghadapi dunia sendirian, suara adalah satu-satunya jalan yang ia punya.
Satu malam, di sebuah acara mewah yang penuh rahasia, suaranya menarik perhatian Arkan Wiratama, seorang pria berkuasa yang dikenal dingin, berbahaya, dan tidak pernah kehilangan kendali. Arkan semula mengira Alya bisa dibeli seperti segala hal lain di dunianya. Namun satu tamparan dan satu kalimat membuatnya sadar: perempuan itu tidak punya harga.
Ketika nyawa kecil Kirana terancam, Arkan memilih masuk ke hidup Alya bukan sebagai penyelamat sesaat, melainkan sebagai pria yang berani menawarkan nama, perlindungan, dan sebuah keluarga. Namun menjadi perempuan di sisi seorang Don berarti masuk ke dunia yang dipenuhi kesetiaan, rahasia, musuh, dan bahaya yang tidak pernah benar-benar tidur.
Di antara luka lama, cinta yang tumbuh perlahan, dan ancaman dari orang-orang yang ingin merebut kembali apa yang sudah mereka buang, Alya harus memutuskan apakah hati yang pernah hancur masih berani percaya. Dan Arkan harus membuktikan bahwa cinta, bagi pria sepertinya, bukan kelemahan, melainkan sumpah yang akan ia jaga dengan seluruh hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vah Peres, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 03 - Suara

Malam acara itu tiba, diselimuti kabut tipis yang terasa pas dengan misteri yang ingin kujaga. Hotelku, yang pada siang hari menerima turis dan pebisnis biasa, berubah pada malam hari menjadi ruang tertutup bagi mereka yang punya izin untuk berada di sana. Cahaya diturunkan menjadi nuansa emas dan merah tua. Musik latar mengalun rendah, mengikat suasana. Keamanan digandakan di setiap pintu dan setiap koridor.

Malik dan Rian datang satu jam sebelum acara dimulai, langkah mereka mantap, wajah mereka waspada. Namun ada kilat penasaran di mata keduanya. Mereka mendekatiku di bar, tempat aku mengawasi setiap detail ruang utama.

"Semua siap," kata Malik sambil menuang segelas wine untuk dirinya sendiri. "Kami memeriksa setiap tamu, setiap kredensial, dan ruang-ruang privat sudah disiapkan persis seperti permintaan."

"Lebih dari itu," tambah Rian dengan senyum yang tidak menyembunyikan minatnya. "Kami sempat melihat apa yang mereka sebut lot khusus, yang akan ditampilkan di lelang. Gadis-gadis itu... luar biasa, Arkan. Bukan cuma cantik. Mereka punya sikap, tatapan, dan tahu betul peran yang diberikan kepada mereka. Dipilih satu per satu, jelas."

Aku mengangguk pelan, memutar gelas wiski di antara jemari.

"Begitulah cara dunia ini bekerja. Di lingkungan seperti ini, yang bernilai adalah yang langka dan terjaga baik. Tapi ingat, di sini kita yang memegang kendali. Para rekanan datang dari segala penjuru: pemilik kekaisaran bisnis, kepala organisasi, orang-orang dengan uang dan kuasa untuk membeli apa yang mereka mau. Tetap saja, mereka harus menghormati aturan rumah kita."

"Setuju," kata Malik. "Aku melihat banyak yang sudah datang dan saling menyapa, bertukar tatapan, membuat kesepakatan kecil bahkan sebelum acara dimulai. Acara semacam ini menyatukan lebih dari bisnis. Ia menyatukan aliansi."

"Dan juga melahirkan permusuhan, kalau ada yang melewati batas," tambahku tegas. "Awasi semuanya. Aku tidak mau kejutan buruk."

Tak lama kemudian, lampu di ruang utama makin redup. Gumaman percakapan perlahan menurun, sampai yang tersisa hanya bunyi napas halus orang-orang yang hadir. Sebuah pengumuman singkat terdengar, menjelaskan bahwa sebelum penawaran dimulai, akan ada pertunjukan untuk membangun suasana.

Saat itulah dia muncul.

Ia masuk perlahan, diterangi hanya oleh seberkas cahaya dari langit-langit, seolah seluruh dunia lain telah hilang. Ia mengenakan gaun berbahan ringan yang mengikuti lekuk tubuhnya, dengan topeng halus menutupi area mata. Bibirnya yang penuh terlihat jelas, dipulas warna ungu gelap, kuat dan menggoda. Rambut hitamnya, sangat panjang, jatuh bergelombang di bahu dan punggung, bergerak lembut mengikuti setiap langkah.

Ketika ia membuka mulut untuk bernyanyi, rasa dingin merambat di sepanjang tulang punggungku, sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak kurasakan.

Suaranya rendah, memikat, penuh intensitas yang seolah mengisahkan luka, hasrat, dan kekuatan sekaligus. Itu bukan sekadar melodi. Itu kehadiran. Setiap nada naik dan turun dengan gairah mentah, seolah ia menaruh di sana seluruh hidupnya, seluruh kesulitan, semua hal yang ia sembunyikan di dalam diri. Lagunya provokatif, penuh maksud tersirat, dan ia membawakannya dengan totalitas yang mengunci perhatian semua orang. Namun aku merasa ia bernyanyi hanya untukku.

Lalu itu terjadi.

Ia mengangkat kepala, dan melalui celah topeng, matanya yang terang langsung menemukan mataku.

Pada saat itu, bunyi ruangan menghilang. Aku tidak lagi mendengar bisikan, tidak lagi melihat lampu, tidak lagi merasakan beban kuasa dan tanggung jawab. Yang ada hanya dia. Tatapannya intens, menantang, campuran rasa tak aman dan kekuatan yang tidak kusangka akan kutemukan pada seseorang semuda itu. Seolah ia bisa melihat menembus topengku juga, topeng pemimpin, pria dingin yang tidak tersentuh.

Kami bertahan seperti itu, mata bertemu mata, selama beberapa detik yang terasa seperti menit. Aku tidak mampu berpaling, dan ia pun tidak. Rasanya seperti ada ikatan tak terlihat terbentuk di antara kami, sesuatu yang tidak bisa kujelaskan, apalagi kukendalikan.

Meski musik masih memenuhi setiap sudut ruangan, meski asap lembut beraroma dari lilin dan dupa naik membentuk spiral keemasan di antara cahaya redup, kontak itu tetap bertahan seolah dunia lain telah dihapus. Asap lewat di antara kami, membuat segalanya makin diselimuti misteri. Ia tampak muncul dari mimpi, dan aku merasa jika aku berkedip, ia mungkin lenyap.

Suaranya terus keluar dengan intensitas yang menyentuh tempat-tempat dalam diriku yang kukira sudah kututup selamanya. Setiap nada adalah undangan sekaligus tantangan, campuran kelembutan dan keberanian yang mengikat bukan hanya telinga, tetapi juga jiwa. Udara di sekeliling kami terasa lebih padat, lebih panas, dipenuhi ketegangan yang seolah hanya kami berdua yang menyadari.

Ketika nada terakhir mati di udara, butuh beberapa detik sebelum keheningan pecah. Tepuk tangan meledak, hangat dan mendesak, tetapi nyaris tidak kudengar. Matanya tetap berada pada mataku sesaat lagi, seakan ingin menyimpan setiap detail, sebelum ia membungkuk ringan dan mulai mundur perlahan ke belakang panggung.

Saat itulah aku menoleh kepada Rian, suaraku tenang, tetapi perintah di dalamnya tidak membuka ruang bantahan.

"Bawa dia ke kantorku. Sekarang. Aku ingin dia menungguku di sana. Tidak ada orang lain yang bicara dengannya, tidak ada yang mendekatinya. Kawal dengan hati-hati."

Rian langsung memahami nada suaraku. Ini bukan sekadar rasa penasaran. Ini keputusan yang sudah kuambil. Ia memberi isyarat kecil kepada dua orang kepercayaan kami, yang bergerak tanpa menarik perhatian, mengikuti jalur tempat perempuan itu menghilang.

Malik sedikit mendekat, pandangannya tajam.

"Kamu yakin? Dia hanya penyanyi malam ini, bukan bagian dari lot lelang."

"Aku tahu siapa dia bukan," jawabku tanpa melepaskan pandangan dari pintu tempat ia menghilang. "Tapi sekarang aku ingin tahu siapa dia. Dan apa yang membuat sebuah pertunjukan sederhana mampu menghentikan semua yang kukenal."

Aku merapikan jas, menghabiskan sisa wiski dalam sekali teguk, lalu mulai berjalan ke arah yang sama. Aku merasakan malam yang semula hanya dijanjikan sebagai acara bisnis lain sedang bersiap mengambil arah yang tak pernah bisa kuramalkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!