Indonesia
NovelToon NovelToon
Kembali Pada Luka Yang Sama

Kembali Pada Luka Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Teen / Mengubah Takdir
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: MIKHACINTA

Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.

Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.

Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.

Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.

Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Pertama

Orang-orang bilang, masa SMA adalah masa paling indah dalam hidup. Rasanya sulit untuk menyangkalnya. Aku termasuk satu dari sekian banyak remaja yang menyambut seragam putih-abu-abu ini dengan binar antusiasme meluap-luap. Setelah masa orientasi siswa yang melelahkan akhirnya usai, hari pertama sekolah yang sebenarnya pun resmi dimulai.

Aku duduk santai di barisan tengah kelas, memperhatikan satu per satu wajah asing yang mulai memenuhi ruangan. Suara riuh perkenalan dan gesekan kursi terdengar di setiap sudut.

"Hai! Kenalin, aku Celine Angela. Panggil Celine aja ya," sapa seorang gadis yang mendadak muncul di samping mejaku. Senyumnya begitu merekah, memancarkan keramahan yang hangat.

"Oh, hai! Aku Sera," balasku, tak kalah ramah.

"Boleh duduk di sebelah kamu, Sera?"

"Boleh banget!" sahutku ceria seraya menggeser tas sekolahku agar ia bisa masuk.

Tak butuh waktu lama bagi kami untuk memecah kebekuan. Perbincangan mengalir begitu alami, mulai dari asal sekolah SMP, hobi, hingga tebakan konyol tentang siapa wali kelas kami nanti.

Di tengah keasyikan kami mengobrol, dua siswi lain mendekati meja kami. Salah satunya menyapa dengan wajah riang.

"Hai! Nama kamu siapa? Aku Dea. Bangku di depan kalian masih kosong, kan?"

"Namaku Sera. Iya, masih kosong kok, duduk aja!" sahutku cepat.

Mereka berdua pun menarik kursi tepat di depan meja kami. Karena penasaran, aku mencolek pelan bahu Dea. "Sebelah kamu siapa, Dea? Kita belum kenalan nih."

Dea tertawa kecil seraya menyenggol pelan lengan teman di sampingnya. "Eh, kamu belum kenalan tuh." Lalu ia menatapku sambil tersenyum memaklumi. "Dia emang agak pemalu, maaf ya."

Aku tersenyum hangat, berusaha membuat gadis di samping Dea merasa nyaman. "Nama kamu siapa? Aku Sera, salam kenal ya!"

Gadis itu mengulas senyum tipis, menyapa dengan suara pelan yang lembut. "Nama aku Irma. Salam kenal juga ya, Sera."

Suasana kelas kian riuh saat seluruh murid telah memenuhi ruangan. Tak lama kemudian, seorang guru laki-laki berpenampilan rapi melangkah masuk, menyapa kami dengan aura penuh semangat.

"Selamat pagi, Anak-anak! Selamat datang di kelas sepuluh! Bagaimana kabar kalian hari ini? Masih semangat?"

"Baik, Pak!" sahut kami serentak.

"Masih semangat???" pancingnya lagi, menaikkan nada suaranya.

"Semangat!!!" seru kami kompak, disambut gelak tawa.

Namun, di tengah keriuhan itu, pintu kelas tiba-tiba terdorong terbuka. Seorang gadis berdiri di ambang pintu dengan rambut sedikit berantakan dan napas terengah-engah.

"Pagi, Pak... Maaf, saya telat," ucapnya meringis canggung.

Pak Guru menggelengkan kepala seraya tersenyum menggodanya. "Waduh, rupanya ada satu yang ketinggalan semangatnya. Ya sudah, cepat cari tempat duduk."

Gadis itu mengedarkan pandangan dengan raut panik. Melihat itu, Dea refleks mengangkat tangan dan memberi isyarat ke arah bangku paling depan yang masih tersisa. Gadis itu bernapas lega, melangkah cepat menuju bangku tersebut. Dan dengan itu, hari pertama pelajaran kami pun resmi dimulai.

Saat bel istirahat berbunyi nyaring, Dea langsung memutar badannya ke belakang dengan mata berbinar. "Sera, ke kantin yuk!"

"Ayok! Celine, ikut yuk!" ajakku pada teman sebangku.

Kami berempat, aku, Celine, Dea, dan Irma, bangkit dari duduk. Saat melewati meja paling depan, langkahku terhenti sejenak untuk menyapa gadis yang tadi datang terlambat.

"Hai! Nama kamu siapa? Kok tadi bisa telat?" tanyaku penasaran.

Gadis itu menoleh, mengulas senyum canggung seraya mengusap tengkuknya. "Namaku Kania Maheswari, panggil aja Nia. Iya nih, alarmku enggak bunyi, kayaknya dimatikan sama adikku. Mana tadi Mas Adrian yang nganterin lelet banget lagi," gerutunya gemas.

Aku tertawa kecil mendengar omelannya. "Oh gitu... Mau ke kantin bareng enggak, Nia? Ajak teman di sebelah kamu sekalian biar makin ramai!"

Nia menoleh ke gadis di sampingnya yang sejak tadi menyimak diam. "Eh, nama kamu siapa? Kita belum kenalan. Aku Kania, panggil Nia aja."

Gadis itu mengulas senyum sopan. "Nama aku Dini. Kayaknya aku enggak ikut deh, aku bawa bekal dari rumah."

"Yaudah deh," sahut Celine seraya memegang perutnya yang mulai meronta. "Yuk Sera, kita ke kantin buruan! Aku lapar banget, tadi pagi enggak sempat sarapan."

"Yaudah, ayok!"

Kami berlima, aku, Celine, Dea, Irma, dan Nia, melangkah keluar kelas bersama, membelah riuhnya koridor menuju kantin. Hari pertama sekolah yang ternyata terasa jauh lebih hangat dan menyenangkan dari bayanganku.

Ketika bel pulang sekolah akhirnya berkumandang, seluruh murid berhamburan bersiap meninggalkan kelas. Aku berjalan santai menelusuri koridor, menikmati angin sore yang berembus pelan, ketika derap langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat dari belakang.

"Seraaa!" panggil Celine setengah berteriak.

Aku menghentikan langkah dan menoleh. "Hei!"

"Kamu pulang naik apa? Mau bareng enggak?" tanyanya antusias saat berhasil sejajar denganku.

"Aku kayaknya naik angkot deh. Kamu sendiri naik apa?"

"Aku bawa motor. Bareng aja yuk! Rumahku ke arah Lapangan Garuda, kamu searah enggak?"

Aku menggeleng pelan dengan raut bersalah. "Beda arah, Cel. Aku ke arah Pasar Lama."

"Waduh, beda dong! Tapi enggak apa-apa deh, ayo aku anterin sekalian main ke rumah kamu!" tawar Celine pantang menyerah.

"Jangan deh, Cel. Aku naik angkot aja enggak apa-apa. Lagian jam dua nanti aku ada acara, kasihan kamu kalau cuma aku tinggal nanti," tolakku halus.

Bibir Celine seketika cemberut kecewa. "Yaaah... Yaudah deh, lain kali aku main ke rumah kamu ya!"

"Iyaa, beres!" balasku tertawa kecil.

Kami berjalan berdampingan menuju gerbang utama. Di luar pagar sekolah, aku menangkap sosok Nia yang sedang berdiri celingukan ke kanan dan kiri dengan raut wajah gelisah.

Celine yang jahil langsung menepuk bahu Nia dari belakang. "Wey! Nungguin siapa hayo? Pacar, ya?"

Nia melonjak kaget, mengelus dadanya. "Ish... Enggak, kok! Bukan! Ini lagi nunggu jemputan, kakak aku tahu. Bukan pacar, wlee!" cerocos Nia seraya menjulurkan lidahnya.

Tak lama kemudian, deru halus mesin sepeda motor hitam berhenti tepat di depan kami. Pengendaranya mengenakan helm full-face hitam pekat dan jaket jins longgar.

Nia langsung berkacak pinggang menggerutu. "Ih, Mas Adrian kok lama banget, sih? Pegel tahu enggak?!"

"Iya, maaf Tuan Putri. Tadi motornya susah dinyalain," sahut suara berat lelaki itu dari balik helm.

"Bohong! Habis ketemu pacar Mas dulu, ya? Pacar yang mana nih?" celoteh Nia tak mau kalah.

"Enggak, ih. Bawel banget. Udah, ayo naik," balas lelaki itu terkekeh pelan.

Nia pun menaiki boncengan motor besar itu, lalu melambaikan tangannya ceria ke arah kami. "Sera, Celine, aku duluan ya! Dadah!"

"Hati-hati, Nia!" balasku melambaikan tangan.

Setelah deru motor itu melaju menjauh, aku dan Celine berpisah di depan gerbang. Celine berjalan menuju parkiran siswa, sementara aku melangkah perlahan menuju halte angkot.

Sambil menyusuri trotoar sendirian, pikiranku mendadak melayang memikirkan interaksi singkat Nia dan kakaknya. Wajah lelaki itu memang sama sekali tak terlihat karena tertutup rapat oleh helm full-face. Namun, dari nada suaranya yang berat dan caranya melayani omelan Nia dengan sabar, ia terdengar seperti sosok kakak laki-laki yang begitu jahil sekaligus penyayang. Beruntung sekali Nia memiliki kakak seperti itu.

Sesampainya di rumah, aku langsung merebahkan tubuhku ke atas kasur empuk yang menyambut hangat. Kuambil ponsel pintar dari dalam tas untuk mengecek pemberitahuan.

Ada beberapa notifikasi grup chat kelas yang baru dibuat, hanya berisi lelucon acak dan stiker-stiker konyol untuk mencairkan suasana antar murid baru, belum ada informasi penting dari guru.

Aku beranjak bangun, berganti pakaian santai, lalu melangkah menuju dapur. Meja makan rupanya masih kosong melompong, belum ada hidangan yang tersaji.

"Hmm... Masak mie instan aja deh," gumamku seraya menyalakan kompor.

Selesai memasak dan menikmati semangkuk mie hangat yang nikmat, aku kembali ke kamar dan membuka buku catatan di atas meja belajar. Kuisi waktu dengan membolak-balik halamannya, berniat mengulas kembali materi hari ini. Namun, karena ini baru hari pertama, ternyata tak banyak catatan yang tergores di sana.

Aku tersenyum tipis, menutup buku itu kembali, lalu merebahkan badanku di atas tempat tidur. Rasa lelah yang manis perlahan menyergap dari balik selimut, dan tanpa sadar, mataku pun terpejam... menyambut malam pertama di masa SMA-ku.

1
wlnnn
gemessss deh adrian😍
wlnnn
gemes deh adrian/Drool/
Sunflower Girl
lanjutkan
Fellyc
unchhh😍
Fellyc
semangat yaa
yaya
ngerasa balik lagi ke masa SMA
Ardianto Nugraha
👍
Ana Maria
seruuu
Andari Nasution
semangat
Sri Wulandari
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!