Indonesia
NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:269
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Dua Anak yang Dibuang

Seragam SMA Laras terasa terlalu kaku di bahu.

Ia berdiri di depan cermin dengan rambut cepak dan rok yang terus ditarik turun, lalu mendecakkan lidah.

"Kenapa nggak boleh pakai celana saja?"

Pak Darto menyodorkan bekal. "Karena itu aturan sekolah. Jangan bikin aturan sendiri hari pertama."

Di depan rumah, Nadia sudah menunggu. Tubuhnya lebih ringan, pipinya mulai membentuk garis baru, dan seragamnya disetrika rapi.

"Cantik banget," goda Laras.

"Mending daripada mirip satpam perempuan."

Bima muncul dari ujung gang. "Dua-duanya tetap serem."

Mereka bertiga ternyata masuk kelas yang sama. Nadia memilih bangku dekat jendela, Laras duduk di sampingnya, dan Bima mengambil kursi belakang seolah susunan itu sudah disepakati.

Saat perkenalan, Nadia berdiri tanpa menutupi tubuhnya dengan tas seperti dulu. Ia menyebut ingin masuk tim jurnalistik. Beberapa anak menoleh karena mengenali gadis yang dulu sering dijadikan bahan lelucon, tetapi Nadia menyelesaikan kalimat tanpa tersendat.

Bima mengetuk meja dua kali sebagai tepuk tangan. Nadia melirik tajam, tidak tahu apakah ia sedang mengejek. Bima justru mengangkat kedua telapak tangan.

"Serius. Bagus, kok."

Giliran Laras, ia hanya menyebut nama dan mengatakan hobi membongkar motor.

"Memasang kembali juga bisa?" tanya guru.

"Biasanya bisa, Bu."

Kelas tertawa. Laras ikut tersenyum. SMA 12 mungkin bukan sekolah unggulan, tetapi untuk pertama kalinya ia merasa pilihan yang dipertengkarkan dengan Pak Darto benar-benar miliknya.

Pada hari yang sama, Rayhan mengenakan seragam SMP favorit. Berkat nilai tinggi dan program loncat kelas, ia menamatkan tahap SD lebih cepat. Namanya berada di urutan pertama daftar penerimaan.

Mbah Surti membawa fotokopi pengumuman itu ke warung dan menunjukkan kepada siapa pun yang membeli gorengan.

"Cucu saya nomor satu. Jangan cuma lihat dia kurus. Otaknya berat."

"Mbah, jangan bilang begitu ke semua orang," keluh Rayhan.

"Kalau nilaimu jelek, Mbah juga bilang ke semua orang. Adil."

Laras pulang sekolah dan mendapati Rayhan dikelilingi ibu-ibu. Ia mengangkat sertifikat seperti tameng.

"Selamat, anak pintar."

"Bang Laras juga masuk sekolah yang mau, kan?"

"Masuk. Beda tipis sama nggak masuk."

Rayhan tersenyum. "Yang penting masuk."

Kebahagiaan itu bertahan sampai malam ketika telepon warung berdering.

Mbah Surti mengangkat dengan tangan masih berminyak. Suara Yanti terdengar tipis dari seberang. Ia berada di Australia, sedang mengurus kehamilan dan keluarga barunya. Janji menjemput Rayhan ditunda lagi.

"Sampai kapan?" bentak Mbah Surti. "Sekolah anakmu siapa yang urus? Biaya bukunya?"

Jawaban di seberang membuat wajahnya berubah.

"Punya anak baru bukan berarti yang lama dibuang!"

Mbah Surti menutup telepon keras-keras. Ia memaki Yanti selama beberapa menit, lalu masuk ke dapur. Ketika kembali, matanya merah.

Ia membuka kaleng uang warung, menghitung lembaran kecil untuk membeli buku Rayhan, lalu menutupnya lagi saat sadar cucunya memperhatikan.

"Besok bilang kebutuhan sekolahmu. Jangan sok hemat."

"Aku masih punya buku bekas."

"Buku bekas boleh. Mimpimu jangan bekas orang."

Rayhan pura-pura mengerjakan soal.

Malam makin larut. Laras menemukan Rayhan duduk di dekat selokan ujung gang, tempat mereka pernah berlomba tutup botol.

"Nyamuknya banyak," kata Laras sambil duduk di sampingnya.

"Aku nggak bisa tidur."

"Gara-gara Tante Yanti?"

Rayhan mencabut rumput kecil. "Ibu bilang nanti jemput. Selalu nanti."

Laras menunggu.

"Aku nggak punya nama ayah," lanjutnya. "Di akta dulu cuma ada Ibu. Kata Mbah, ayahku nggak pernah mengakui aku."

Ia masih terlalu muda untuk mengerti seluruh mekanisme hukum, tetapi cukup besar untuk memahami malu saat formulir sekolah meminta nama yang tidak ia punya.

"Anak-anak bilang aku anak nggak jelas."

Laras meremas ujung lengan bajunya. "Yang nggak jelas orang tuanya, bukan lo."

"Kalau mereka nggak mau aku, berarti ada yang salah sama aku."

"Nggak begitu."

"Kamu tahu dari mana?"

Laras menatap air hitam yang mengalir lambat. Rahasia yang selama ini ia simpan mendesak tenggorokan, tetapi ia belum sanggup membuka semuanya.

"Karena keluarga kandung gue juga ninggalin gue," katanya akhirnya.

Rayhan berhenti mencabut rumput.

"Bapak nemu gue demam dekat terminal. Orang kampung bilang gue amnesia. Sampai sekarang nggak ada yang datang nyari."

"Kamu benar-benar lupa?"

Pertanyaan itu terlalu tajam. Laras mengambil kerikil dan melemparkannya ke selokan.

"Yang penting sekarang gue punya Bapak."

Rayhan tidak memaksa. Ia memandang rumah Pak Darto yang lampunya masih menyala, lalu warung Mbah Surti di ujung lain gang.

"Jadi kita sama," katanya.

"Sama apanya?"

"Sama-sama pernah dibuang. Sama-sama tinggal sama orang yang milih kita."

Laras menoleh. Wajah Rayhan tenang, tetapi matanya basah memantulkan lampu jalan.

Ia mengulurkan tangan dan mengacak rambut bocah itu.

"Jangan besar kepala. Gue cuma cerita sedikit."

"Aku juga."

"Terus siapa yang lebih rugi?"

"Orang yang buang kita."

Laras tertawa kecil. Untuk anak dua belas tahun kurang, jawaban Rayhan kadang terdengar terlalu pasti.

Mereka duduk sampai suara Pak Darto memanggil dari kejauhan. Sebelum berdiri, Rayhan menyentuh lengan Laras.

"Kalau nanti Ibu datang, aku nggak mau pergi kalau Mbah nggak ikut."

"Bilang sendiri ke dia."

"Kalau keluarga kamu datang?"

Laras memandang lurus ke depan. "Gue nggak punya keluarga lain."

Jawabannya cepat, terlalu cepat.

Rayhan tidak membantah. Malam itu, ia hanya menyimpan satu kecurigaan baru: Laras tidak lupa. Laras memilih tidak mengingat di depan orang lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!