Setelah kehilangan sang ibu tercinta, Aldo yang kelelahan mencari kerja nekat mendaftar audisi kompetisi memasak bergengsi berbekal resep masakan Nusantara. Perjuangan kerasnya di galeri kompetisi yang kejam akhirnya membawanya menjadi juara, sekaligus mewujudkan impiannya membangun restoran dari nol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Mereka mengira Aldo akan langsung diusir keluar karena bersikap tidak sopan.
Namun Chef Arya hanya mendengus pelan dan melirik ke arah ulekan batu di atas meja.
"Kau menghaluskan bumbumu menggunakan batu kampungan ini?"
"Benar, Chef. Karena saya memasak Ayam Woku Belanga khas Nusantara."
"Blender ada di bawah mejamu dan kau memilih membuang waktu dengan menumbuk manual?"
"Blender akan memotong bumbu menjadi serpihan kecil, Chef."
"Lalu apa bedanya dengan kau ulek menggunakan batu?" potong Chef Arya cepat.
"Batu ulekan akan menggerus dan memeras minyak esensial dari dalam bawang dan cabai, bukan sekadar memotongnya."
Mata Chef Arya sedikit menyipit mendengar penjelasan teknis dari pemuda berpenampilan kumal di depannya.
Pemahaman tentang perbedaan ekstraksi minyak bumbu adalah pengetahuan yang biasanya hanya dimiliki koki berpengalaman.
"Lalu kenapa kau menumis daun kemanginya sekarang? Bukankah kemangi biasa dimasukkan di akhir masakan?"
Chef Arya terus mencecar Aldo dengan pertanyaan menjebak untuk menguji mentalnya.
"Ini resep modifikasi ibu saya, Chef."
"Kemangi yang ditumis bersama bumbu di awal akan mengeluarkan aroma khas yang mengikat bau amis ayam kampung mentah."
"Nanti di akhir masakan, saya akan menambahkan daun kemangi segar lagi untuk tekstur dan warna."
Chef Arya terdiam beberapa saat sambil terus menatap isi wajan Aldo yang mendidih meletup-letup.
Blub blub blub.
Kuah bumbu kuning itu terlihat sangat kental dan meresap sempurna ke dalam serat daging ayam kampung.
"Menarik. Pastikan ayam kampungmu yang keras itu bisa empuk dalam sisa waktu tiga puluh menit."
"Akan saya pastikan ayam ini lumer di mulut Anda nanti, Chef Arya."
Chef Arya tidak membalas ucapan Aldo dan langsung berbalik berjalan menuju meja peserta lainnya.
Aldo kembali menghela napas lega karena berhasil melewati interogasi mematikan dari juri utama.
Dia mengecilkan api kompornya dan menutup wajannya rapat-rapat agar panasnya terperangkap di dalam.
"Tinggal menunggu ayamnya empuk dan kuahnya menyusut jadi bumbu kental," gumam Aldo dalam hati.
Waktu terus berputar tanpa kenal ampun di layar digital raksasa di atas podium.
Tiga puluh menit berlalu.
Dua puluh menit.
Sepuluh menit terakhir.
Suasana galeri semakin kacau balau dan penuh dengan teriakan panik dari para peserta.
"Waktu kalian tinggal lima menit lagi!" teriak Chef Bram menggunakan mikrofon.
"Selesaikan plating kalian sekarang dan pastikan meja kalian bersih!" tambah Chef Renata.
Aldo membuka tutup wajannya dan asap tebal beraroma luar biasa langsung mengepul ke udara.
Kuah woku di dalam wajan kini sudah menyusut drastis dan berubah menjadi bumbu kental berminyak yang sangat menggoda.
Daging ayam kampungnya terlihat sangat empuk bahkan dagingnya sedikit terlepas dari tulangnya.
Dia mengambil sebuah piring keramik putih bersih dari rak bawah meja.
Aldo menata beberapa potong ayam dengan sangat hati-hati di atas piring tersebut.
Dia menyiramkan sisa bumbu kental di atas daging ayam lalu meletakkan beberapa lembar daun kemangi segar sebagai hiasan.
Plating yang sangat sederhana namun terlihat sangat elegan dan menggugah selera makan.
"Selesai," ucap Aldo sambil membersihkan pinggiran piringnya dengan kain lap bersih.
Di seberang sana, Kevin juga sudah selesai menata potongan daging wagyunya di atas piring hitam panjang.
Dia menyiramkan saus kemerahan di atas daging dan menatap mahakaryanya dengan senyum sangat sombong.
"Hidanganku ini seratus persen akan lolos tanpa cela," gumam Kevin sambil melirik meremehkan ke arah masakan Aldo.
"Tiga menit terakhir! Jangan ada lagi yang memasak di atas kompor!" teriak Chef Arya.
Beberapa peserta terlihat menangis karena masakan mereka gosong atau belum matang sempurna.
Ada juga yang panik menata makanan mereka hingga berantakan di atas piring.
"Sepuluh."
"Sembilan."
Seluruh panitia dan juri mulai menghitung mundur bersama-sama.
"Delapan."
"Tujuh."
Aldo mundur satu langkah dari mejanya dan menatap hidangan peninggalan ibunya dengan mata berkaca-kaca.
"Enam."
"Lima."
"Ibu, semoga keajaiban bumbu ini bisa menyelamatkan masa depanku hari ini."
"Empat."
"Tiga."
"Dua."
"Satu."
Teeet.
Suara sirine panjang kembali berdengung memekakkan telinga memenuhi seluruh ruangan galeri utama.
"Angkat tangan kalian sekarang juga!" perintah Chef Arya dengan suara sangat keras.
Semua peserta langsung mengangkat kedua tangan mereka tinggi-tinggi ke udara.
Ada yang bernafas lega, ada yang gemetar ketakutan, dan ada yang langsung menangis tersedu-sedu.
"Bagus. Sekarang waktunya dewan juri mencicipi hasil karya kalian satu per satu," ucap Chef Bram.
"Kami akan memanggil beberapa nama untuk maju membawa hidangan kalian ke depan podium."
Jantung Aldo kembali berdegup kencang seperti genderang perang yang ditabuh bertubi-tubi.
"Panggilan pertama, Kevin Wijaya. Silakan bawa masakanmu ke depan," panggil Chef Renata dari atas podium.
Kevin tersenyum lebar dan langsung mengambil piring hitamnya dengan sangat percaya diri.
Dia berjalan menuju podium bak seorang raja yang sudah pasti memenangkan peperangan.
Aldo menatap punggung Kevin dengan sorot mata yang sangat tajam dan penuh perhitungan.
Dia tahu persaingan di tempat ini baru saja mencapai titik didih yang paling panas.
makasi crazy up nya