Indonesia
NovelToon NovelToon
KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

KATA KATA YANG TAK SEMPAT KU SAMPAIKAN PADAMU

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Teen / Tamat
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: AME author

Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RINTIK PERTAMA DI BALIK LENSA

Suasana di studio seni hari Senin itu terasa berbeda dari biasanya. Bayangan jemari Kaito yang sigap menekan inhaler di dadaku Sabtu sore lalu masih menyisakan kehangatan yang tertinggal di ingatan. Namun, kalimat isyarat terakhirnya—[Aku tidak akan selalu ada di sekitarmu untuk menyelamatkanmu lagi]—menjadi tamparan keras yang menyadarkanku bahwa Kaito memang benar-benar sedang berjalan mundur.

Pagi harinya, aku sempat memberanikan diri mengirimkan pesan singkat padanya.

"Kaito, terima kasih banyak untuk Sabtu kemarin. Maaf kalau aku merepotkanmu lagi."

Balasan darinya datang dua jam kemudian. Begitu singkat, dingin, namun dipenuhi kedewasaan yang menyakitkan.

"Sama-sama, Hana. Haruto pasti panik kemarin karena belum tahu kondisi kesehatanmu secara detail. Tolong beri tahu dia riwayat asmamu agar dia bisa menjagamu dengan lebih baik mulai sekarang."

Aku meremas ponselku di bawah meja kuliah. Kaito tidak marah. Ia tidak pernah cemburu secara terang-terangan. Namun, caranya menyerahkan "tugas menjaga" diriku kepada Haruto terasa jauh lebih menyakitkan daripada sebuah amarah. Kaito secara sadar sedang melonggarkan genggaman tangannya, memberikan ruang bagi orang lain untuk menggantikan posisinya.

"Hana?"

Sebuah suara lembut memanggilku, menyentak perhatianku dari layar ponsel. Haruto berdiri di samping mejaku. Pria itu tampak sedikit lebih rapi dari biasanya, mengenakan kemeja kasual berwarna biru gelap dengan blazer tipis. Wajahnya yang biasa dipenuhi keceriaan kali ini tampak agak tertutup oleh rasa canggung dan cemas.

Sejak kejadian di taman kota itu, Haruto memang menjadi agak pendiam. Ia menyadari betapa dirinya tidak berdaya saat melihatku terengah-engah kehabisan napas, sementara Kaito tahu persis apa yang harus dilakukan tanpa ragu sedikit pun.

Haruto merogoh saku blazernya, mengeluarkan ponselnya, lalu menyodorkan layarku ke hadapannya.

Di layar ponsel Haruto, terbuka sebuah aplikasi penerjemah bahasa isyarat yang memperlihatkan grafik aktivitas harian. Di sana terlihat angka jam belajar yang sangat tinggi Haruto telah menghabiskan belasan jam dalam dua hari terakhir hanya untuk menghafal gerakan jari dan tata bahasa isyarat.

Aku menatap layar itu dengan mata membelalak heran.

Haruto menyunggingkan senyum tipis yang agak malu-malu. Ia menarik napas panjang, merapikan posisi berdirinya, lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Kedua tangannya terangkat ke udara.

Dengan gerakan yang jauh lebih rapi dan luwes dibandingkan minggu lalu, jemari Haruto menari melukis kata demi kata di udara.

[Hana... maafkan aku untuk hari Sabtu lalu,] jemari Haruto bergerak perlahan, matanya menatap lurus ke mataku dengan kesungguhan yang tak bisa diragukan. [Aku panik. Aku tidak tahu apa-apa tentangmu. Tapi aku janji... aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.]

Gerakan isyarat Haruto berhenti sejenak. Pria itu menunduk, mengusap tengkuknya, lalu kembali mengangkat tangannya.

[Sore ini... ada pameran fotografi kecil di galeri seni pusat kota. Ada satu karya yang ingin kuperlihatkan padamu. Maukah kamu pergi bersamaku?]

Aku terpaku di kursiku. Kecepatan Haruto dalam mempelajari bahasa isyarat benar-benar mengejutkanku. Ia tidak lagi sekadar mengetik di layar ponsel atau mengandalkan gerak bibir yang diperjelas; Haruto secara nyata mencoba meruntuhkan tembok pembatas dan masuk ke dalam duniaku yang sunyi dengan bahasaku sendiri.

Melihat kesungguhan di mata Haruto, rasa hangat yang sempat meredup di dadaku kembali menyala. Jika Kaito memang sudah memilih untuk melepas jalannya, bukankah aku juga harus belajar untuk menerima seseorang yang secara terang-terangan berusaha keras untuk merengkuhku?

Aku mengangguk pelan, lalu membentuk isyarat balasan yang sederhana: [Ya. Aku mau.]

Binar lega dan bahagia langsung memancar dari mata Haruto. Senyuman khasnya yang cerah kembali terukir indah di wajahnya.

Galeri seni di pusat kota sore itu sangat lengang. Pencahayaan temaram dari lampu sorot kuning keemasan menyinari foto-foto hitam-putih yang terpajang di sepanjang dinding bata merah. Aroma cat minyak, kayu manis, dan kertas foto tua memenuhi ruangan yang tenang itu.

Haruto menuntutku menyusuri lorong pameran yang sepi. Langkah kaki kami beradu pelan di atas lantai kayu yang mengilap. Di ujung lorong yang agak tersembunyi, terdapat sebuah bingkai foto berukuran besar yang ditutupi tirai kain tipis.

Haruto menghentikan langkahnya di depan bingkai itu. Ia menoleh padaku, memiringkan kepalanya seraya tersenyum misterius.

Dengan gerakan perlahan, Haruto menarik kain penutup itu.

Mataku melebar. Di dalam bingkai kayu hitam itu, terpajang sebuah foto sudut lebar (wide-angle) yang diambil secara candid. Foto itu merekam diriku yang sedang berdiri di bawah naungan pohon maple kampus dua minggu lalu, dengan jemariku yang sedang membentuk bahasa isyarat ke arah udara, diterpa pecahan cahaya matahari sore.

Di bawah foto itu, tertera judul tulisan tangan Haruto: "Melodi dalam Kesunyian."

"Aku mengambil foto ini secara sembunyi-sembunyi waktu pertama kali melihatmu di taman," ujar Haruto pelan. Kali ini ia berbicara langsung dengan gerak bibir yang sangat jelas, matanya terkunci pada foto itu sebelum beralih menatapku penuh intensitas.

Haruto melangkah satu tapak lebih dekat. Ia mengulurkan kedua tangannya, meraih jemariku yang terasa dingin, lalu menggenggamnya erat di antara kedua telapak tangannya yang hangat.

"Hana," panggil Haruto. Suaranya memang tidak bisa kudengar, tetapi gerakan bibirnya dan getaran di jemarinya menyampaikan kedalaman perasaannya secara sempurna. "Hari Sabtu kemarin... saat melihatmu kesakitan dan melihat bagaimana Kaito bisa menjadi penolongmu dengan begitu mudah... aku merasa sangat takut."

Jantungku mulai berdegup kencang secara tidak teratur.

"Aku takut karena aku sadar aku masih menjadi orang asing di duniamu," lanjut Haruto. Gerak bibirnya tertata sangat rapi dan emosional. "Tapi aku tidak mau menyerah. Aku tidak mau hanya jadi penonton dari jauh. Aku ingin belajar memahami setiap bentuk senyumanmu, setiap gerakan tanganmu, dan semua rasa sakitmu."

Haruto menunduk sedikit, menyamakan tinggi pandangannya dengan mataku. Ibu jarinya mengusap lembut punggung tanganku.

"Beri aku kesempatan, Hana," pintanya tulus. "Izinkan aku jadi orang yang berdiri di sisimu. Izinkan aku jadi warnamu yang baru."

Keheningan di galeri seni itu terasa begitu pekat, tetapi dada dirayapi oleh kehangatan yang memabukkan. Usaha Haruto, pengakuannya yang jujur, dan cara pria itu menatapku seolah-olah akulah satu-satunya hal berharga di ruangan ini... semuanya meruntuhkan pertahanan terakhir di dalam hatiku.

Bayangan Kaito yang selalu menjauh dan bersiap pergi ke luar negeri berkelebat sepintas di benakku, tetapi kali ini aku tidak lagi menahannya. Aku membiarkan bayangan itu melayang pergi.

Aku tidak membebaskan tanganku dari genggaman Haruto. Sebagai gantinya, aku meremas balik jemarinya yang hangat. Aku menatap matanya yang berbinar, lalu menganggukkan kepalaku pelan seraya menyunggingkan senyuman paling tulus yang kupunya sore itu.

Haruto tertegun sejenak, seakan tidak percaya dengan jawaban yang baru saja kuberikan. Detik berikutnya, senyuman paling lebar merekah di wajahnya. Tanpa ragu lagi, Haruto menarik tubuhku ke dalam pelukannya—sebuah pelukan hangat yang erat dan penuh kemenangan di bawah pendar remang lampu galeri.

Di dalam pelukan Haruto yang hangat, aku memejamkan mata. Duniaku kini resmi memiliki warna yang baru. Namun, di ceruk hatiku yang paling dalam dan tak tersentuh, ada rintik gerimis dingin yang perlahan menetes sebuah kepedihan sunyi yang meratapi masa kecil yang kini benar-benar telah usai.

1
Prayy
JANGAN LUPA DI LIKE DAN KOMEN YA GUYS AGAR AKU SEMANGAT NULISNYA DAN NGEMBANGIN CERITA CERITA LAIN NYA🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!