Aisyah pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Raka akan bertahan selamanya. Selama lima belas tahun, mereka membangun keluarga sederhana dari nol, melewati susah dan senang hingga dikaruniai dua anak yang menjadi sumber kebahagiaan mereka.
Sampai suatu hari, suaminya mengaku telah jatuh cinta pada Nabila, sahabat Aisyah sendiri, dan meminta izin untuk menikahinya. Dengan hati yang hancur, pada akhirnya Aisyah mengizinkannya.
Namun, Aisyah tidak ingin menjadi.lemah. Demi anak-anaknya, dia mulai menyusun strategi. Hasil keringatnya bertahun-tahun, ia tak rela dinikmati oleh wanita lain yang sama sekali tak ikut berjuang.
Setelah Aisyah pergi, barulah Raka menyadari tak ada yang lebih baik dari Aisyah. Raka menyesal dan ingin kembali.
Namun, mampukan Aisyah melupakan luka ketika lelaki yang paling ia cintai pernah memilih wanita lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
03
.
Aisyah menatap wajah suaminya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Mereka kini sama-sama duduk di sofa, tapi tak lagi berdampingan. Aisyah memilih duduk dengan posisi saling berhadapan berseberangan berbatas meja kaca. Hanya mereka berdua di rumah. Anak-anak sudah berangkat sekolah. Dan Aisyah sedang tidak punya tenaga untuk bersiap membuka toko.
"Mas masih tetap ingin menikahinya?” tanya Aisyah ingin memastikan.
Raka mengangguk tanpa ragu. “Aku akan bersikap adil. Dia wanita yang baik, apalagi dia juga temanmu, pasti kalian akan bisa hidup rukun.”
Aisyah membuang nafas yang terasa menyesakkan. Merasa heran dengan jalan pikiran suaminya. Teman. Nabila memang temannya. Kalau hanya berbagi rejeki ia akan dengan sangat senang hati. Tapi berbagi suami?
“Kamu tahu apa yang paling menyakitkan, Mas?" Pertanyaan dari Aisyah yang hanya dijawab dengan gelengan kepala oleh Raka.
Aisyah kembali menarik napas panjang. "Bukan hanya karena Mas ingin menikah lagi. Tapi karena perempuan itu Nabila."
Raka menundukkan kepala. Apanya yang salah? Nabila baik. Nabila teman Aisyah. Kenapa sulit bagi Aisyah untuk menerima?
"Kalau itu perempuan lain, mungkin aku masih bisa mencoba memahami. Tapi Nabila?" Suara Aisyah mulai bergetar. "Aku sendiri yang mengenalkan dia kepadamu. Aku yang membawanya masuk ke rumah ini. Aku percaya kepadanya."
Aisyah mengusap pipinya yang basah dengan mata masih menatap lekat ke arah suaminya. "Kalau sejak awal aku tahu dia akan menjadi duri dalam pernikahan kita, aku tak kan membawanya masuk dalam rumah ini.”
Raka terdiam. Suara isakan pelan istrinya membuat hatinya ikut pilu. Namun entah kenapa sama sekali tak menyurutkan keinginannya untuk tetap menikahi Nabila.
“Kalau Mas ingin menikah lagi, kenapa tidak mencari wanita lain? Setidaknya hatiku tidak akan terlalu sakit.”
"Maafkan aku… Aku tidak bermaksud menyakitimu."
"Tapi kamu sudah menyakitiku."
Ucapan Aisyah membuat Raka terdiam cukup lama.
Aisyah menunduk. Ia berusaha menahan tangis, tapi air mata tetap jatuh juga. "Ada satu hal yang ingin aku tanyakan.”
Raka mengangguk pelan dengan mata menatap ke arah istrinya penuh harap.
"Apakah Mas yakin, Nabila juga mencintai Mas?"
Raka tidak langsung menjawab. Mungkin pria itu juga merasa ragu. Tapi hanya sekian detik karena pada detik berikutnya pria itu mengangguk. "Iya. Aku yakin dia juga mencintaiku. Dia bilang dia hanya ingin hidup bersamaku, dia tidak akan menuntut apapun berlebihan. Aku yakin dia akan menjadi adik madu yang baik untukmu.”
Aisyah memejamkan mata mendengar keyakinan yang begitu teguh dari suaminya. Namun entah kenapa ia merasa tidak yakin kedepannya akan terjadi seperti itu.
Aisyah mengusap wajahnya dengan kasar. "Apakah kalian sudah pernah membicarakan soal pernikahan, sebelum Mas memberitahuku?"
Raka mengangguk pelan. "Sudah."
Aisyah terdiam dengan dadanya yang terasa semakin sesak.
"Jadi semuanya sudah direncanakan?"
"Belum sampai sejauh itu."
"Tapi Mas sudah berniat."
"Iya."
Aisyah menatapnya cukup lama, lalu berdiri. Raka ikut bangkit.
"Aisyah..."
Ia mengangkat tangan, memberi isyarat agar berhenti. “Aku belum memberi jawaban apa-apa. Sebelum aku memutuskan, aku minta satu hal."
"Apa itu?"
Aisyah menarik napas dalam-dalam. "Jangan temui Nabila. Jangan datang ke rumahnya. Jangan hubungi dia, jangan telepon dia."
"Aisyah..."
"Aku hanya minta itu. Kalau Mas masih menghargai lima belas tahun pernikahan kita, beri aku waktu untuk berpikir tanpa terus dibayangi hubungan kalian berdua."
Raka mengangguk pelan. "Baik. Aku akan lakukan itu."
*
*
*
Pagi berikutnya Aisyah kembali bersikap biasa, menyiapkan sarapan seperti biasa, membangunkan anak-anak. Tetap tersenyum saat melayani suaminya di meja makan. Tak ada satu pun yang tahu, di balik senyum itu, ada hati yang sedang tergores. Betapa tidak, rumah tangga yang dibangunnya selama lima belas tahun, sebentar lagi bukan hanya miliknya.
Aisyah tersenyum saat Raka memuji masakannya. Namun, tiba-tiba saja wanita itu terdiam. Ingatannya menerawang jauh, ke arah kenangan yang terjadi di antara mereka berdua lima belas tahun silam.
Flashback on.
Aisyah hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani kehidupan tanpa banyak keinginan. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah rumah kecil di pinggir kota. Ayahnya bekerja serabutan, sementara ibunya menerima pesanan makanan dari tetangga untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Aisyah pun terbiasa hidup sederhana. Ia tidak pernah memiliki pakaian mahal, tidak pernah bergaul di tempat-tempat mewah, dan tidak pernah mengejar kehidupan yang jauh di luar kemampuannya. Baginya, hidup yang tenang bersama keluarga sudah cukup.
Sampai suatu hari, Raka datang dalam hidupnya. Pertemuan pertama mereka sebenarnya tidak istimewa. Saat itu Aisyah sedang membeli beberapa kebutuhan di sebuah toko kecil dekat pasar. Tangannya penuh dengan barang ketika tanpa sengaja seseorang menabraknya dari arah belakang hingga kantong belanjaannya terjatuh.
"Maaf."
Aisyah segera membungkuk hendak mengambilnya. Namun, sebuah tangan lebih dahulu mengambil kantong tersebut.
"Ini."
Aisyah mendongak. Tampak olehnya seorang lelaki berdiri di hadapannya. Usianya tidak jauh berbeda dengannya. Penampilannya sederhana, tetapi terlihat jauh lebih rapi dibandingkan kebanyakan lelaki yang sering Aisyah temui di lingkungan tempat tinggalnya.
Raka menyerahkan kantong itu dan Aisyah menerimanya.
"Terima kasih."
"Sama-sama."
Pertemuan itu seharusnya selesai sampai di sana. Namun, ternyata tidak. Beberapa hari kemudian, Aisyah kembali bertemu dengannya saat ia sedang membeli sesuatu di warung tetangga. Aisyah melihat Raka sedang duduk sendirian di salah satu meja.
Sementara itu di tempat Raka, begitu melihat Aisyah masuk, lelaki itu langsung mengenalinya. “Mau belanja, Neng?” tanya Raka basa-basi.
“Iya.” Aisyah mengangguk malu-malu, karena selama ini ia tak pernah dekat dengan laki-laki.
Sejak saat itu, pertemuan mereka mulai terjadi lebih sering. Awalnya Aisyah menganggap semuanya kebetulan. Namun, semakin lama ia mulai menyadari bahwa Raka seperti sengaja mencari kesempatan untuk bertemu dengannya.
Tetapi gadis itu memilih mengabaikannya. Ia tidak ingin terlalu cepat berharap. Siapa yang sangka, hubungan mereka kemudian berjalan perlahan. Tidak ada kata pacaran yang diucapkan pada awalnya. Mereka hanya semakin sering berbicara.
*
Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Tanpa mereka sadari, kedekatan itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam. Raka mulai menjadi orang pertama yang dicari Aisyah ketika ia memiliki masalah. Begitu pula sebaliknya.
Ketika ayah Aisyah jatuh sakit, Raka datang membantu tanpa diminta. Ia mengantar Aisyah ke rumah sakit, membelikan obat, bahkan menunggu sampai malam tanpa mengeluh. Saat itulah Aisyah mulai menyadari bahwa perasaannya terhadap lelaki itu bukan lagi sekadar rasa nyaman.
Ia telah jatuh cinta pada Raka. Namun, sebagai seorang wanita tanpa, tak mungkin ia mengutarakan perasaan lebih dulu.
Hingga suatu malam, Raka mengajaknya bertemu di sebuah taman kecil dekat rumah mereka, Aisyah sudah merasa ada sesuatu yang berbeda.
Raka duduk di sampingnya, nama pria itu sama sekali tidak banyak bicara, hal-hal itu membuat Aisyah bertanya-tanya. Sampai akhirnya lelaki itu menarik napas panjang.
"Aisyah."
"Ya?"
“Ayo kita menikah!”
demi kedua ank mu ,,
kalo msh ngandelin raka ,, tkut nenek kebayan d sebrang sana jd tantrum🤭🤭😒😒😒😒
Nabila belum tahu aja semua surat-surat berharga harta Raka selama perkawinan dengan Aisyah sudah di amankan Aisyah...