Almeera Naela Al Rashid selalu hidup semaunya. Keras kepala dan tidak bisa diatur. Namun, benteng keangkuhannya runtuh saat lelaki yang paling ia percaya berbalik arah dan memilih perempuan lain.
Kehilangan itu menjadi tamparan keras. Almeera sadar, ia sudah terlalu jauh melangkah dan melupakan Rabb-nya.
Memilih jalan hijrah ternyata penuh liku. Di saat Almeera berjuang melepas luka masa lalu dan memperbaiki salatnya, takdir mempertemukannya dengan seorang lelaki yang kehadirannya sama sekali tidak terduga.
Bukan sekadar obat patah hati, lelaki itu perlahan menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya. Apakah ini jawaban atas doa-doanya setelah memilih pulang, atau sekadar persinggahan lain dalam takdirnya?
Sebab bagi Almeera, tidak semua kehilangan adalah akhir. Terkadang, patah hati adalah cara Allah mengubah arah langkahnya menuju tempat yang seharusnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fina Indri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari - Hari yang Biasa
Jarum jam baru saja menyentuh angka tujuh pagi.
Di sudut kamar, alarm ponsel Almeera sudah memekakkan telinga untuk yang kesekian kalinya. Almeera hanya melenguh pelan. Tangannya terjulur malas dari balik selimut hangat, meraba-raba permukaan meja nakas di samping tempat tidur. Begitu jemarinya menemukan benda pipih itu, ia langsung mematikan alarm tanpa bersusah payah membuka mata.
Hanya butuh waktu lima menit bagi Almeera untuk kembali terlelap ke alam mimpi.
Sampai akhirnya, sebuah ketukan keras di pintu kamarnya terdengar bertubi-tubi.
"Meera! Bangun!" seru Mama dari balik pintu.
Almeera yang masih setengah sadar justru menarik selimutnya ke atas, menutupi seluruh kepala.
"Meera! Buruan bangun!" panggil Mama lagi, kali ini nadanya lebih tegas.
"Iya, Ma... bentar," sahut Almeera dengan suara serak khas orang mengantuk.
"Ini sudah lewat jam tujuh, Meera. Kamu mau kuliah atau mau tidur sampai siang?" omel Mama dari luar.
Mendengar kata 'kuliah', sepasang mata Almeera langsung terbuka lebar. Rasa kantuknya mendadak menguap. Ia buru-buru menyambar ponsel di sampingnya untuk memeriksa jam.
07.15.
"Astaga!" seru Almeera panik. Ia langsung melompat dari tempat tidur.
"Kenapa baru heboh sekarang bangunnya?" tanya Mama yang mendengar kegaduhan dari dalam kamar.
"Alarmnya nggak kedengaran, Ma!" kilas Almeera sambil mencari handuk.
"Nggak kedengaran bagaimana? Wong Mama aja sampai dengar dari tadi," ucap Mama menyindir.
Almeera hanya bisa mengacak rambutnya yang berantakan dengan frustrasi. "Iya, iya, Ma. Ini Meera langsung siap-siap."
"Jangan lupa makan dulu sebelum berangkat!" pesan Mama sebelum langkah kakinya terdengar menjauh.
"Iya, Ma," jawab Almeera pendek.
Tanpa buang waktu lagi, Almeera segera melesat ke kamar mandi.
Tidak sampai tiga puluh menit, ia sudah keluar kamar dengan setelan kuliah yang kasual dan simpel. Rambut panjangnya hanya diikat asal-asalan, sebuah tas ransel disampirkan di bahu, sementara ponselnya langsung diselipkan ke dalam saku.
Almeera menuruni anak tangga dengan langkah setengah berlari.
"Meera, sarapan dulu ini," tegur Mama begitu melihat putrinya melintas di ruang makan.
"Nanti aja deh, Ma. Ini udah telat banget," sahut Almeera tanpa menghentikan langkah.
"Kamu itu setiap hari alasannya selalu sama," keluh Mama sambil menggelengkan kepala.
"Aman, Ma. Kalau telat, nanti gampang tinggal makan di kantin kampus," jawab Almeera santai.
Mama hanya bisa menghela napas panjang melihat tingkah anak gadisnya. "Kamu itu susah sekali kalau dibilangin dan diatur."
Almeera justru memamerkan senyum lebarnya tanpa beban. "Namanya juga hidup, Ma. Dibawa santai aja, jangan terlalu serius."
"Justru karena ini hidup, kamu jangan terlalu santai, Meera," balas Mama mengingatkan.
Almeera tertawa kecil, lalu meraih tangan Mamanya untuk berpamitan. "Iya, iya, Ma. Meera berangkat dulu, ya."
"Hati-hati di jalan."
"Siap, Ma!"
Almeera pun melangkah keluar rumah.
Begitulah gambaran hampir setiap pagi dalam lembaran hidupnya. Bangun kesiangan, bersiap dengan terburu-buru, berangkat kuliah, lalu pulang. Sisa harinya akan ia habiskan bersama para sahabatnya atau bersama Kaizan.
Almeera tipikal gadis yang tidak pernah mau ambil pusing memikirkan masa depan. Baginya, hidup ini terlalu singkat jika harus dihabiskan untuk mencemaskan hal hal yang belum tentu terjadi. Ia hanya ingin menikmati masa mudanya dengan bebas, bersenang senang, dan melakukan apa pun yang ia sukai.
Dan tentu saja, menghabiskan sebanyak mungkin waktu dengan satu-satunya orang yang paling ia sayangi.
Kaizan Rafif Al Mansaouri.
Lelaki kekasihnya. Hubungan mereka sudah berjalan cukup lama. Kaizan adalah sosok yang hampir selalu mengisi setiap jengkal rutinitas harian Almeera. Mereka terbiasa bertemu selepas jam kuliah usai, jalan-jalan bersama, dan bertukar pesan singkat hampir setiap menit. Bagi Almeera, Kaizan bukan sekadar pacar. Lelaki itu sudah melekat menjadi bagian dari napas dan kesehariannya.
Begitu menginjakkan kaki di area kampus, Almeera langsung menangkap lambaian tangan dari dua orang sahabatnya yang sudah berdiri menunggu di depan gedung fakultas.
"Meera!" panggil salah satu dari mereka dengan suara agak keras.
Almeera menoleh, lalu mempercepat langkahnya. "Kenapa?" tanya Almeera begitu sampai di hadapan mereka.
"Lu lagi lagi hampir telat ya," sindir sahabatnya sembari menunjuk jam tangan.
"Tapi yang penting gua sampai tepat waktu, kan?" jawab Almeera membela diri dengan santai.
"Nanti kalau suatu hari dosen kita beneran ngamuk gimana?" tanya sahabatnya lagi, gemas dengan sikap cuek Almeera.
"Ya tinggal minta maaf," sahut Almeera enteng.
"Dasar, lu memang nggak pernah ada kapoknya," ucap sang sahabat sambil tertawa pasrah.
Almeera ikut terkekeh. Mereka bertiga kemudian berjalan beriringan memasuki gedung fakultas untuk mengikuti kelas pertama.
Beberapa jam berlalu di dalam ruang kuliah yang cukup membosankan. Begitu dosen menutup kelas dan keluar ruangan, Almeera menjadi orang pertama yang langsung menyambar ponselnya.
Tepat dugaan. Ada satu notifikasi pesan masuk dari Kaizan.
“Udah selesai kelasnya?”
Seketika seulas senyum manis merekah di wajah Almeera.
“Udah,” balas Almeera cepat.
“Mau ketemu?” tanya Kaizan di seberang sana.
Jemari Almeera dengan lincah mengetik balasan. “Boleh.”
“Di tempat biasa?”
“Iya.”
Almeera memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas, sementara senyuman kecil masih tertinggal di sudut bibirnya.
"Lu mau langsung ke mana?" tanya sahabatnya yang memperhatikan perubahan ekspresi Almeera.
"Mau ketemu Kaizan," jawab Almeera jujur.
"Lagi?" tanggap sahabatnya dengan alis terangkat.
"Iya. Memangnya kenapa?" Almeera balik bertanya.
"Nggak apa apa sih. Cuma perasaan kalian hampir setiap hari ketemu deh," ucap sahabatnya setengah menggoda.
"Ya terus kenapa? Kan nggak ada yang melarang," jawab Almeera sambil menjulurkan lidahnya.
Sahabatnya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Almeera. "Ya udah deh, sana pergi."
"Oke, gua cabut duluan ya!" pamit Almeera.
"Hati-hati!"
"Sip!"
Almeera berjalan riang meninggalkan area kampus.
Benar benar tidak ada yang istimewa dari hari itu. Tidak ada pertengkaran hebat, tidak ada kabar buruk yang mengejutkan, dan tidak ada tanda tanda sedikit pun bahwa roda kehidupannya akan berubah arah. Almeera masih menjadi Almeera yang dulu; gadis keras kepala, pemberani, tidak suka dikekang oleh banyak aturan, dan sangat percaya bahwa selama seseorang mencintainya, orang itu akan selalu bertahan di sisinya.
Sore harinya, Almeera akhirnya tiba di tempat pertemuan mereka. Begitu sosok Kaizan tertangkap oleh pandangannya, senyum Almeera langsung mengembang sempurna.
"Kaizan!" panggil Almeera setengah berseru.
Lelaki yang sedang duduk itu menoleh. "Hei, Meera," sapa Kaizan hangat.
Almeera mengambil tempat duduk tepat di sampingnya. "Kamu udah lama nungguin aku?"
"Nggak kok, baru aja sampai," jawab Kaizan lembut. "Hari ini kuliahmu gimana?"
Almeera langsung memasang wajah cemberut. "Capek banget. Dosennya banyak banget kasih tugas, pusing."
Kaizan tertawa kecil mendengarnya. "Kamu pasti belum menyentuh tugasnya sama sekali, kan?" tebak Kaizan telak.
"Ya... belum," jawab Almeera tanpa rasa bersalah.
"Kenapa nggak langsung dikerjain?" tanya Kaizan sambil menatapnya jenaka.
"Nanti nanti aja lah. Dikumpulkannya juga masih lama kok," sahut Almeera santai.
Kaizan menatapnya lekat-lekat, lalu tersenyum tipis. "Kamu ini memang nggak pernah berubah ya, Meera."
Almeera membalas tatapan itu dengan binar mata jenaka. "Loh, kalau aku berubah, nanti kamu nggak bakal kenal lagi sama aku."
Kaizan terkekeh, tangannya bergerak mengacak puncak kepala Almeera dengan gemas. "Mau kamu berubah kayak gimana juga, aku bakal tetap kenal kamu."
Almeera menatap dalam dalam manik mata kekasihnya. "Janji?" tagih Almeera manja.
"Iya, janji," ucap Kaizan mantap.
Almeera tersenyum puas mendengar untaian kata itu. Saat sore itu, ia benar benar menaruh seluruh kepercayaannya pada janji manis tersebut. Ia tidak pernah tahu, bahwa suatu hari nanti, kalimat sederhana yang diucapkan Kaizan di sore itu justru akan bertransformasi menjadi salah satu hal yang paling menyakitkan untuk ia ingat.
Sebab, ada masanya ketika seseorang bisa dengan begitu mudah berjanji untuk selalu tinggal, namun pada akhirnya tetap memilih untuk melangkah pergi.
Dan Almeera sama sekali belum menyadari, bahwa hari menyakitkan itu sedang berjalan perlahan mendekatinya.
Untuk saat ini, Almeera hanya ingin mematung waktu, menikmati sisa sore yang hangat bersama Kaizan. Tanpa sedikit pun ia tahu, bahwa kehidupan santai yang selama ini ia anggap biasa saja, sebentar lagi akan berbalik seratus delapan puluh derajat.
Bukan berubah sedikit, melainkan hancur seluruhnya.