Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Monster Tingkat Tinggi
Tanah bergetar hebat, seolah gempa kecil mengguncang akar-akar pohon di sekitar lokasi pertempuran, membuat Sekar yang baru saja berhasil duduk tegak kembali terhuyung menahan keseimbangan.
Ia berusaha memapah tubuh Galih yang terkulai lemas di pundaknya, berjuang keras berdiri meski setiap otot di kakinya berteriak protes menahan beban ganda yang harus ia tanggung. Rasa lelah yang teramat sangat, sisa pertarungan panjang melawan kawanan Bayangkara ditambah syok menyaksikan kekuatan Galih yang meledak tiba-tiba, telah melumpuhkan hampir seluruh tenaganya. Lengan kirinya yang masih perih oleh luka gores lama berdenyut setiap kali ia menggeser posisi tubuh Galih agar lebih seimbang di pundaknya.
"Ayo, Galih, kita harus keluar dari sini," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri, mencoba menyeret langkah menuju arah yang ia yakini sebagai jalan pulang, meski kepalanya sendiri terasa berat dan pandangannya sesekali berkunang-kunang.
Namun getaran tanah itu semakin kuat, disertai suara derap langkah berat yang menghantam bumi, mendekat dari kegelapan hutan yang masih diselimuti sisa kabut tipis.
Sekar membeku, tubuhnya yang sudah lelah kini ditambah rasa dingin yang menjalar cepat di sepanjang tulang punggungnya. Dari balik pepohonan raksasa yang bergoyang keras setiap kali langkah itu mendarat, muncul sesosok makhluk yang membuat napasnya tercekat di tenggorokan.
Tubuhnya sebesar rumah kecil, berbulu legam pekat yang berkilau samar diterpa cahaya bulan yang menembus celah kabut, dengan sepasang taring melengkung tajam menyerupai bilah pedang mencuat dari rahangnya yang menganga. Cakar-cakar besar di keempat kakinya mencengkeram tanah dalam-dalam setiap kali ia melangkah, meninggalkan bekas jejak sedalam telapak kaki manusia dewasa. Matanya menyala merah kekuningan, menatap lurus ke arah Sekar dan tubuh Galih yang tak berdaya di pundaknya, seolah sedang menghitung berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menghabisi kedua mangsa lemah di hadapannya.
Kalabayu.
Sekar pernah mendengar cerita tentang boss penguasa hutan itu dari Ki Wira, cerita yang selalu diakhiri dengan peringatan agar tidak pernah, dalam kondisi apa pun, mencoba menantangnya seorang diri. Ki Wira pernah bilang bahkan pemburu Tingkat 3 sekalipun butuh berpikir dua kali sebelum berhadapan dengan Kalabayu tanpa persiapan matang. Kini, berdiri di hadapan makhluk itu dengan tenaga yang sudah nyaris habis dan seorang pemuda tak sadarkan diri di pundaknya, kata-kata peringatan itu terasa jauh lebih nyata dari sekadar cerita.
Kalabayu mengangkat kepalanya tinggi, melepaskan raungan yang memekakkan telinga, gelombang suaranya menghantam dedaunan hingga berguguran serentak, membuat burung-burung malam yang bersembunyi di ranting terbang panik menjauh. Tekanan aura tingkat tinggi yang terpancar dari tubuhnya membuat darah Sekar berdesir ketakutan, jauh berbeda dari tekanan yang pernah ia rasakan dari Bayangkara mana pun. Bahkan tubuh Galih yang tak sadarkan diri di pundaknya seolah ikut merasakan tekanan itu, dengusan napasnya menjadi sedikit lebih berat meski matanya tetap terpejam rapat.
Kakinya sendiri gemetar, bukan karena kelelahan semata, namun karena insting purbanya sebagai manusia berteriak lantang bahwa makhluk di hadapannya ini berada jauh di luar jangkauan kemampuannya saat ini.
"Tidak," desis Sekar, mencoba menahan Galih lebih erat di pundaknya sambil melangkah mundur perlahan, matanya tidak berani lepas dari sosok raksasa itu barang sedetik pun. "Tidak sekarang, tidak dengan kondisi begini. Bukan sekarang."
Kalabayu melangkah maju satu kali, tanah kembali bergetar, dan Sekar tahu ia tidak akan sanggup lari cukup jauh dengan beban di pundaknya dan tenaga yang sudah terkuras habis. Ia meletakkan Galih perlahan ke tanah di belakangnya, mencoba melindunginya sebisa mungkin meski tahu benar bahwa parangnya sendiri sudah tertinggal entah di mana sejak pertarungan melawan Bayangkara tadi. Tangannya yang kosong terkepal erat, satu-satunya senjata yang tersisa hanyalah tekad untuk tidak membiarkan siapa pun menyentuh Galih.
Tepat ketika Kalabayu bersiap melangkah lebih dekat, sesosok bayangan melesat cepat dari balik pepohonan, mendarat ringan tepat di antara Sekar dan makhluk raksasa itu. Debu dan serpihan daun kering berhamburan dari titik pendaratannya, tanda betapa cepat dan jauh lompatan yang baru saja ia lakukan.
"Larasati?!"
Sekar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Gadis berambut sewarna madu itu berdiri tegak di hadapannya, tongkat sihir bercahaya putih keperakan tergenggam erat di tangan kanannya, napasnya masih memburu tanda ia baru saja berlari jauh menembus hutan. Beberapa goresan kecil terlihat di lengan dan pipinya, bekas dahan berduri yang ia terjang tanpa peduli sepanjang perjalanan menuju sumber gejolak energi tadi.
"Aku merasakan gejolak energi gila dari sini," kata Larasati cepat, tanpa mengalihkan pandangan dari Kalabayu yang kini menatap kehadiran baru itu dengan geraman rendah. "Untung aku sampai tepat waktu. Sedikit lagi saja aku terlambat."
"Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Sekar, masih tercengang meski situasi genting sama sekali tidak mereda.
"Tidak ada waktu untuk itu sekarang," sahut Larasati tegas, mengangkat tongkatnya lebih tinggi, cahaya putih di ujungnya berpendar semakin terang seolah bersiap melepaskan mantra pertahanan. "Kalian berdua sudah kehabisan tenaga. Aku akan menahan boss ini semampuku."
"Kau gila? Ini Kalabayu, bukan monster biasa!" seru Sekar panik, mencoba menarik lengan Larasati mundur, matanya berkaca-kaca menahan campuran takut kehilangan teman baru dan rasa tidak berdaya karena tidak bisa berbuat lebih banyak.
Namun Larasati menggeleng tegas, matanya tetap terpaku pada sosok raksasa di hadapan mereka. "Aku tahu risikonya. Tapi kalau aku tidak melakukan apa pun, kalian berdua tidak akan selamat malam ini. Jaga Galih. Biar aku yang menahan waktu."
Kalimat itu diucapkan dengan tekad yang begitu kuat, membuat Sekar terdiam sejenak, meski hatinya masih dipenuhi kekhawatiran melihat gadis dari kelompok rival itu bersiap menghadapi bahaya sebesar ini demi orang-orang yang bahkan belum benar-benar ia kenal. Ia tidak habis pikir mengapa Larasati, yang notabene masih tercatat sebagai anggota Naga Selatan, mau mempertaruhkan nyawanya sejauh ini demi mereka.
Kalabayu, seolah tidak sabar lagi dengan penundaan singkat itu, mengentakkan kaki depannya yang besar ke tanah dengan keras, menciptakan retakan kecil yang menjalar di permukaan bumi hingga ke dekat kaki Sekar. Raungannya kembali menggema, kali ini lebih dekat, lebih mengancam, sorot matanya yang menyala merah kekuningan terkunci lurus pada Larasati yang berdiri berani di antara dirinya dan kedua mangsa yang tersisa.
Otot-otot besar di bahu makhluk itu menegang, bersiap melesat maju dengan kecepatan yang tidak akan memberi ruang sedikit pun bagi ketiga manusia lemah yang kini terjebak di teritorinya, tanpa peduli seberapa besar tekad yang baru saja diucapkan salah satu dari mereka. Cahaya bulan yang menembus celah dedaunan memantul di taring tajamnya, menciptakan kilatan sekilas yang seolah menjadi pertanda betapa dekatnya maut mengintai ketiga sosok yang berdiri berdampingan di hadapannya.