Indonesia
NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9

Dering alarm merah yang menggema di dalam kepala Ren bukanlah sekadar peringatan—itu adalah lonceng eksekusi. Lampu-lampu darurat di dalam gerbong Workshop berkedip liar, memproyeksikan bayangan Ren dan Leo yang tampak seperti tarian hantu di dinding baja yang penuh noda minyak.

"Pasukan Penghancur Rel," gumam Ren, suaranya sedatar es, namun otot-otot di lengannya menegang hingga urat-uratnya menonjol. Ia tidak menoleh pada Leo, namun ia merasakan kehadiran pemuda itu di sampingnya, yang kini sedang mengutak-atik konsol utama dengan jemari yang menari secepat kilat.

Leo menelan ludah, wajahnya yang tadi ceria berubah menjadi serius—sebuah ketajaman mekanis yang jarang terlihat. "Mereka bukan datang untuk berpatroli, Ren. Unit Penghancur Rel adalah tim eksekutor. Jika mereka sampai di sini, artinya mereka sudah mengunci koordinat kereta ini sebagai target 'Sampah Berbahaya' yang harus dimusnahkan. Mereka tidak akan memberi kita kesempatan bicara."

Ren menatap layar monitor utama yang kini menampilkan citra radar yang mulai memerah. Titik-titik target musuh—The Rail-Breakers—mendekat dengan kecepatan yang tidak wajar. Namun, di tengah kepungan maut itu, Ren justru merasakan ketenangan yang aneh, seolah-olah mesin di dalam dadanya telah mengambil alih kendali atas saraf-saraf ketakutannya.

"Berapa lama lagi kau butuh untuk mengaktifkan reaktor utama?" tanya Ren, suaranya tetap rendah namun memerintah.

Leo menarik napas panjang, menatap Ren dengan tatapan yang menyiratkan tantangan sekaligus rasa hormat. "Jika aku memaksanya masuk ke sirkuit utama, kita akan punya tenaga dorong tiga kali lipat. Tapi ingat, ini adalah reaktor tua yang aku curi dari bangkai kapal uap purba. Jika sistem sirkulasi uapnya tidak stabil, seluruh bagian belakang gerbong bisa meledak sebelum kita sempat meluncur satu meter pun."

Ren mengangguk sekali, sebuah konfirmasi singkat. "Lakukan."

Leo tidak perlu diminta dua kali. Pemuda itu menerjang ke arah ruang mesin, tangannya yang terampil menarik tuas-tuas katup dan menyambungkan kabel-kabel inti reaktor yang berdenyut dengan pendaran cahaya hijau radioaktif yang menyengat mata.

"Tutup semua palka!" teriak Leo.

Ren segera bertindak. Ia berlari ke pintu palka penghubung, memastikan mekanisme kunci baja terkunci rapat dengan dentuman logam yang mantap. Saat itulah ia menatap sekeliling gerbongnya. Transformasi yang dilakukan Leo dalam hitungan jam benar-benar melampaui logika.

Di mana tadinya hanya ada tumpukan rongsokan yang ditambal seadanya, kini gerbong itu terlihat seperti ruang kendali yang penuh dengan layar hologram, panel kontrol mandiri, dan deretan senjata hasil rakitan jenius. Kursi operator yang tadinya hanya bangku kayu kini dilengkapi dengan bantalan peredam kejut, dan di atas kepala Ren, sistem sensor radar baru telah terpasang rapi, membungkus kereta rongsokan itu dengan teknologi yang setara dengan kelas Dreadnought menengah.

"Ini tidak masuk akal," bisik Ren, matanya tak lepas dari efisiensi kabel-kabel yang disusun Leo dengan pola rumit namun indah. "Kau mengubah tumpukan besi tua ini menjadi... kereta sultan."

"Jangan remehkan seorang mekanik yang pernah mencuri rahasia bengkel utama Aether Corp," balas Leo sambil tertawa kecil di balik kabut uap yang mulai memenuhi ruangan. "Pegang sesuatu yang kuat! Reaktornya akan berteriak!"

Wuuuuum!

Suara lengkingan frekuensi tinggi meledak dari bawah lantai. Seluruh gerbong bergetar dahsyat, seolah-olah seekor naga besi raksasa yang sudah tertidur selama ribuan tahun baru saja terbangun dari hibernasi panjangnya. Inti reaktor tua itu mulai menderu, mengubah sisa-sisa uap menjadi energi panas yang luar biasa pekat, mengalir ke roda-roda kereta yang langsung mencengkeram rel dengan tenaga yang belum pernah dirasakan Ren sebelumnya.

Gerbong Vanguard itu melesat maju.

Kekuatan akselerasinya begitu brutal hingga membuat punggung Ren terhempas ke kursi operator. Kereta itu tidak lagi berjalan; ia meluncur seperti proyektil baja, menghancurkan tumpukan es yang menghalangi jalur keluar stasiun dengan sekali tabrak. Rangka baja yang sebelumnya tampak ringkih kini justru terlihat seperti pisau pemotong raksasa yang mengiris badai salju kelas menengah di depan mereka.

Luar biasa. Ren menatap monitor utama, melihat bagaimana kereta mereka tidak lagi tergoncang hebat saat menghantam bongkahan es di jalur. Sistem suspensi magnetik darurat yang dirakit Leo meredam setiap guncangan, membuat perjalanan terasa mulus meskipun di luar sana badai sedang mengamuk layaknya iblis yang marah.

"Lihat itu!" Leo menunjuk ke radar. "Unit Penghancur Rel baru saja memasuki area stasiun. Mereka akan menyadari kita sudah pergi dalam sepuluh detik. Kita punya waktu sebelum mereka sadar dan mengejar kita dengan kecepatan maksimal."

Ren mengamati radar. Titik merah musuh berhenti tepat di tempat mereka berdiri beberapa menit yang lalu. Mereka sedang memindai sisa-sisa jejak panas yang tertinggal.

"Kita tidak akan kabur hanya dengan bersembunyi," ucap Ren, tangannya mulai mengambil alih kontrol radar, jemarinya menari di atas layar sentuh hologram yang sensitif. "Leo, aktifkan sistem Stealth jangka pendek. Jika mereka ingin menghancurkan rel, biarkan mereka menghancurkan jejak kita sendiri."

Leo mengerutkan kening, lalu matanya membelalak. "Kau ingin memancing mereka masuk ke jebakan di zona longsor es?"

Ren hanya menjawab dengan menaikkan tuas kecepatan hingga ke batas maksimal. Reaktor di jantung gerbong meraung semakin kencang, suaranya kini seperti raungan mesin perang sejati.

Di luar sana, badai salju kelas menengah menghantam gerbong mereka dengan kecepatan ratusan kilometer per jam, namun Vanguard itu terus melaju, membelah kegelapan dengan pendaran biru dari sistem yang telah menyatu dengan mesin. Mereka bergerak menuju wilayah terlarang, sebuah ngarai es di mana dinding-dinding gunung dapat runtuh hanya dengan dentuman meriam yang kuat.

Ren memutar kemudi, membawa keretanya masuk ke dalam kegelapan ngarai yang sempit. Radar musuh mulai kehilangan jejak mereka karena gangguan sinyal elektromagnetik dari dinding-dinding kristal es yang kaya akan mineral aneh.

"Ren, tunggu," Leo menatap layar monitor dengan raut wajah yang berubah drastis. "Sensor radar mendeteksi sesuatu di depan kita. Bukan musuh... tapi sesuatu yang lebih besar dari unit penghancur mana pun yang pernah kulihat di arsip korporasi."

Ren memelankan laju kereta, namun ia tidak berhenti. Di depan mereka, di tengah badai yang memuncak, sebuah pendaran cahaya merah tua muncul dari kedalaman ngarai. Cahaya itu tidak berpendar layaknya lampu mesin, melainkan seperti mata raksasa yang membuka diri di tengah kegelapan total.

Tanpa peringatan, seluruh sistem kereta mati total. Layar hologram padam, raungan reaktor di bawah kaki mereka berhenti seketika, dan gerbong itu terombang-ambing di atas rel yang kini terasa bergetar oleh sesuatu yang bergerak di bawah tanah.

"Apa itu?" suara Leo bergetar hebat.

Ren memegang Rust-Bite Blade-nya, matanya menatap ke depan di mana dinding es di depan mereka perlahan-lahan mulai retak, menampakkan sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari sekadar pasukan pemburu korporasi, saat tiba-tiba saja sebuah dentuman keras menghantam bagian atas gerbong mereka, membuat langit-langit baja itu penyok dalam seketika, dan sebuah cakar logam raksasa menembus atap, mencengkeram rangka kereta tepat di atas kepala mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!