Genta, pemuda udik dari gunung dengan kemampuan medis legendaris, turun ke kota metropolitan untuk menikahi Kiara Prameswari, CEO cantik dan dingin dari keluarga konglomerat, sesuai wasiat gurunya. Alih-alih sambutan hangat, Genta justru dihina dan dianggap benalu oleh Kiara dan keluarganya yang tidak tahu bahwa di balik penampilannya yang lusuh, Genta didampingi oleh "Sistem Pewaris Tabib Sakti" yang memungkinkannya menyembuhkan penyakit mustahil. Terjebak dalam pernikahan politik yang dingin, Genta harus menggunakan ilmu medis magis dan bantuan sistemnya untuk menampar balik semua orang yang meremehkannya, menyelamatkan nyawa, dan membangun kekuasaannya sendiri di rimba kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Genta melangkah keluar dari mobil yang berasap, membetulkan letak jas mahalnya dengan sangat santai seolah dia sedang turun di lobi hotel.
Pria asing berwajah codet itu langsung mengarahkan moncong pistolnya tepat ke dada Genta.
"Ternyata kau punya nyali juga gembel, tapi nyalimu akan membawamu ke neraka lebih cepat malam ini," ejek pemimpin pembunuh itu.
Genta sama sekali tidak gentar, dia menatap kesepuluh pembunuh itu dengan pandangan malas yang sangat merendahkan.
"Patriark Adhitama benar-benar pelit, dia sudah kehilangan satu triliun tapi hanya mampu menyewa sampah-sampah murahan seperti kalian untuk membunuhku."
Ejekan telak itu membuat wajah pemimpin pembunuh memerah karena amarah.
"Habisi pria sombong ini, cincang tubuhnya dan bawa wanita di dalam mobil itu hidup-hidup!" teriak pria asing itu memberi perintah.
Sembilan pembunuh bayaran langsung menerjang maju secara serentak, mengayunkan parang panjang dan tongkat besi ke arah kepala Genta.
Kiara yang melihat dari dalam mobil hanya bisa menjerit histeris dan menutup wajahnya tidak sanggup melihat suaminya terbunuh.
Namun di luar sana, sistem di dalam kepala Genta kembali berbunyi dengan nada yang sangat mekanis dan mematikan.
[Teknik Pukulan Penghancur Tulang Level 1 diaktifkan.]
[Mengalirkan energi perusak meridian ke seluruh otot lengan Master.]
Genta mengepalkan kedua tangannya, terdengar suara gemeretak tulang yang mengerikan dari buku-buku jarinya.
Dia tidak menghindar sedikitpun, justru melangkah maju menyongsong parang tajam yang mengarah ke kepalanya.
Trang!
Genta memukul bilah parang baja itu dengan tangan kosongnya dari arah samping.
Parang baja tebal itu langsung patah menjadi dua bagian seperti ranting kering yang rapuh.
Pembunuh pertama terbelalak tidak percaya melihat senjatanya hancur hanya dengan sekali pukulan tangan kosong.
Belum sempat dia bereaksi, tinju kanan Genta sudah melesat menghantam tepat di tengah tulang dadanya.
Krak!
Suara tulang rusuk yang remuk berkeping-keping terdengar sangat jelas memecah kesunyian malam.
Pembunuh itu memuntahkan darah segar dan tubuhnya terpental mundur belasan meter menabrak mobil SUV mereka sendiri.
Delapan pembunuh lainnya seketika membeku melihat kekuatan fisik yang di luar nalar manusia tersebut.
"Jangan diam saja bodoh! Serang dia bersamaan!" teriak pemimpin mereka panik sambil bersiap menarik pelatuk pistol.
Namun Genta tidak memberikan mereka kesempatan untuk bernapas.
Gerakannya berubah menjadi sangat cepat bagaikan hantu yang menari di bawah cahaya bulan.
Bugh! Krak! Krek!
Setiap pukulan yang dilayangkan Genta selalu tepat mengenai titik lemah persendian lawan.
Tulang lengan patah, tempurung lutut hancur, dan tulang rahang bergeser parah.
Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, sembilan pembunuh bayaran internasional itu sudah tergeletak di atas aspal dengan tubuh kejang-kejang kesakitan.
Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa berdiri lagi, semua tulang penyangga tubuh mereka telah dihancurkan dengan presisi medis yang mengerikan.
Pemimpin berwajah codet itu kini berdiri sendirian dengan tubuh bergetar hebat hingga pistol di tangannya ikut bergoyang.
"M-monster! Kau bukan manusia!" jerit pria asing itu mundur ketakutan melihat pasukannya dibantai tanpa perlawanan.
Dia segera mengarahkan pistolnya ke arah Genta dan menekan pelatuknya membabi buta.
Dor! Dor! Dor!
Tiga peluru melesat membelah udara, mengincar dada, leher, dan kepala Genta.
[Mata Surgawi Level 1 dipacu maksimal. Membaca lintasan proyektil peluru.]
Dunia di mata Genta seakan bergerak menjadi sangat lambat.
Dia hanya memiringkan lehernya sedikit dan memutar bahunya ke samping.
Tiga peluru mematikan itu mendesing melewati tubuhnya hanya berjarak beberapa milimeter, merobek sedikit ujung lengan jas mahalnya.
Melihat tembakannya meleset sepenuhnya, pemimpin pembunuh itu langsung membuang senjatanya dan berlutut di tanah.
"Ampuni aku! Patriark Adhitama yang membayarku sepuluh miliar untuk melakukan ini, aku hanya menjalankan perintah!" tangis pembunuh kejam itu memohon nyawanya.
Genta melangkah pelan mendekati pria yang sedang bersujud itu, aura membunuhnya benar-benar mencekik udara di sekitar mereka.
"Aku sudah pernah memberi peringatan pada keluarga anjing itu, tapi sepertinya mereka memilih jalan kematian."
Genta mengangkat kaki kanannya dan menginjak tepat di pergelangan tangan pria asing tersebut.
Krak!
"Arrrgghhh!"
"Itu hukuman karena kau berani menodongkan senjata ke arah istriku."
Genta kemudian menekan titik tidur di leher pria itu, membuatnya pingsan seketika sebelum dia berteriak lebih keras lagi.
Pertarungan berdarah itu berakhir mutlak, menyisakan sepuluh tubuh manusia yang cacat permanen bergelimpangan di jalan tol.
Genta menghela napas panjang, menetralkan kembali energi di tubuhnya sebelum berjalan kembali menuju mobil sedannya.
Kiara segera membuka pintu mobil yang sudah hancur itu dan langsung berhambur memeluk Genta dengan sangat erat.
"Genta! Kau masih hidup, syukurlah kau tidak apa-apa," isak Kiara membenamkan wajahnya di dada Genta.
Seluruh rasa gengsi dan wibawa dinginnya sebagai CEO benar-benar hancur malam ini melihat suaminya mempertaruhkan nyawa untuknya.
Genta tersenyum lembut dan membalas pelukan istrinya, mengelus rambut Kiara yang sedikit berantakan.
"Aku sudah bilang kan, sampah-sampah ini tidak akan bisa menyentuhku Nona CEO," ucap Genta menenangkan.
Namun saat Kiara melepaskan pelukannya, matanya menangkap bercak darah yang merembes di lengan jas Genta.
Satu peluru tadi ternyata berhasil menggores lengan atas Genta cukup dalam.
"Kau berdarah Genta! Kau tertembak!" jerit Kiara panik, wajahnya kembali pucat melihat darah segar mengalir dari lengan suaminya.
Genta melirik lengannya sendiri dengan santai, dia bahkan tidak merasakan sakit karena adrenalin yang masih tinggi.
"Ini hanya luka gores kecil Kiara, bahkan nyamuk di gunung Rinjani gigitannya lebih perih dari ini," canda Genta mencoba mencairkan suasana.
Kiara tidak peduli dengan candaan Genta, dia langsung merobek ujung gaun mahalnya tanpa ragu sedikitpun.
Dengan tangan yang masih gemetar, Kiara membalut luka di lengan Genta menggunakan kain gaunnya itu dengan sangat telaten.
"Jangan banyak bicara bodoh, kau bisa kehabisan darah kalau ini tidak segera dihentikan," omel Kiara dengan mata berkaca-kaca.
Genta terdiam melihat raut wajah khawatir yang sangat tulus dari wanita yang selalu memandangnya rendah beberapa hari yang lalu.
Dia bisa merasakan sentuhan tangan Kiara yang sangat lembut dan hati-hati saat mengikat balutan luka itu.
"Terima kasih, Kiara," ucap Genta pelan dengan nada suara yang benar-benar serius kali ini.
Kiara mendongak menatap mata Genta dari jarak yang sangat dekat, napas mereka berdua saling berembus di wajah satu sama lain.
Di bawah cahaya rembulan jalan tol yang sunyi itu, tidak ada lagi status CEO konglomerat dan tukang pel rendahan.
Hanya ada sepasang suami istri yang baru saja lolos dari maut dan mulai menyadari arti kehadiran satu sama lain.
Kiara tidak memalingkan wajahnya, dia justru menempelkan pipinya pelan di dada Genta, mencari perlindungan dan rasa aman yang belum pernah dia rasakan seumur hidupnya.
"Ayo kita pulang Genta, aku sudah muak berada di tempat mengerikan ini," bisik Kiara lirih.
Genta mengangguk pelan, dia segera menghubungi ambulans dan polisi untuk mengurus sopir mereka serta mayat-mayat hidup keluarga Adhitama di aspal.
Matanya menatap lurus menembus kegelapan malam dengan sorot kebencian yang mendalam.
[Ding!]
[Misi bertahan hidup berhasil diselesaikan dengan sempurna.]
[Sistem mendeteksi deklarasi perang mutlak dari keluarga Adhitama.]
"Patriark Adhitama... kau telah menyentuh batas kesabaranku malam ini," batin Genta berjanji dalam hati.
"Besok pagi, kota metropolitan ini akan melihat kehancuran keluarga Adhitama hingga ke akar-akarnya."