Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama di Dalam Rumah Kedelapan
Pintu kayu tua itu terbuka perlahan, menimbulkan suara decit panjang yang bergema di seluruh ruangan, seakan rumah itu sedang menghela napas panjang setelah bertahun-tahun tertutup rapat. Udara yang keluar dari dalam rumah itu terasa dingin dan lembap, bercampur dengan bau debu, kayu lapuk, dan sesuatu yang samar-samar, seperti bau bunga yang sudah lama kering namun belum pernah dibuang. Cahaya matahari pagi yang masuk melalui pintu yang terbuka itu menembus kegelapan, menampakkan butiran-butiran debu yang beterbangan perlahan di udara, seakan ribuan kenangan yang terbangun kembali.
Raka berdiri di ambang pintu sejenak, membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan cahaya yang redup di dalam sana. Di belakangnya, seluruh anggota kru berdiri berdesak-desakan, napas mereka tertahan, tak satu pun berani bersuara. Laras menggenggam tali tas bahunya erat-erat, jantungnya berdegup kencang seakan hendak melompat keluar dari dada. Sejak pertama kali melihat rumah itu dari luar, ia merasa ada sesuatu yang memanggil-manggil namanya dari dalam sana, sesuatu yang lembut namun tak bisa ditolak.
"Masuklah," ucap Raka pelan, suaranya terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu. "Tapi ingat pesan Pak Tua Suryo: jangan menyentuh apa pun tanpa perlu, jangan berpisah dari rombongan, dan jika ada yang merasa tidak enak badan atau melihat sesuatu yang aneh, segera beri tahu yang lain. Kita keluar bersama-sama."
Mereka melangkah masuk satu per satu dengan langkah pelan dan hati-hati. Lantai semen di dalam rumah itu terasa dingin di bawah alas kaki, meskipun dilapisi sepatu. Ruang tengah itu cukup luas, dengan ruang tamu di sebelah kiri dan ruang makan di sebelah kanan. Di tengah ruangan terdapat meja kayu besar yang permukaannya tertutup lapisan debu tebal. Di atas meja itu masih terdapat sebuah teko keramik dan empat cangkir yang tersusun rapi, seakan pemiliknya baru saja meninggalkannya sebentar dan akan kembali kapan saja. Di sudut ruangan berdiri sebuah lemari kayu tinggi yang pintunya tertutup rapat, dan di dinding tergantung sebuah jam dinding yang jarumnya berhenti tepat pada pukul dua belas lewat sepuluh menit.
"Lihat, semuanya masih ada di tempatnya," bisik Maya, penata busana, suaranya bergetar. "Seakan mereka pergi dalam keadaan terburu-buru, tapi tidak ada yang berantakan. Semuanya rapi."
"Justru kerapian ini yang membuatnya aneh," jawab Bu Sari pelan, matanya mengamati setiap sudut ruangan. "Kalau mereka pindah atau pergi lama, pasti ada barang yang dibawa, pasti ada tanda-tanda kemasan. Tapi di sini... semuanya tetap utuh. Seakan waktu berhenti di rumah ini sejak hari itu."
Raka berjalan perlahan menuju jendela besar di sisi ruangan, jendela yang dari luar terlihat seperti mata raksasa yang mengawasi. Tirai kain yang warnanya sudah pudar tergantung longgar, sebagian tertutup debu. Di bawah jendela itu terdapat sebuah meja kecil dan kursi kayu, seakan tempat itu biasa digunakan untuk duduk sambil melihat ke luar. Raka menatap ke luar jendela itu, ke arah tujuh rumah yang berjejer di kejauhan, dan untuk sesaat ia merasa ada seseorang yang sedang menatapnya balik dari salah satu rumah itu, namun saat ia memicingkan mata, tidak ada siapa-siapa di sana.
"Kita mulai dari ruang bawah dulu," ucap Bu Sari kepada Budi dan Eko yang sudah menyiapkan kamera dan lampu. "Ambil gambar dari sudut yang luas dulu, biarkan penonton merasakan suasana rumah ini. Jangan terlalu banyak mengubah posisi benda, cukup ambil apa adanya."
Kamera mulai berputar, lampu sorot dinyalakan perlahan agar tidak terlalu menyilaukan. Cahaya lampu itu menampakkan detail ruangan yang sebelumnya tersembunyi di kegelapan: pola ukiran di kaki meja, retakan halus di dinding, bingkai foto yang tergantung di dinding namun isinya sudah tidak terlihat jelas karena tertutup debu. Laras berjalan mendekati dinding itu, matanya terpaku pada salah satu bingkai foto yang ukurannya agak besar. Ia ingin sekali menyeka debu yang menutupinya, namun tangan terangkatnya terhenti di udara. Ingat pesan Pak Tua Suryo jangan menyentuh apa pun.
"Kita naik ke lantai dua sebentar," usul Raka setelah beberapa saat. "Jendela besar yang terlihat dari luar pasti ada di lantai atas. Mungkin dari sana kita bisa mendapatkan sudut pandang yang bagus."
Tangga menuju lantai dua terletak di sudut ruangan, di balik pintu kayu yang setengah terbuka. Tangganya terbuat dari kayu yang sudah tua, setiap anak tangganya tampak kokoh namun warnanya sudah gelap dimakan waktu. Mereka berjalan naik satu per satu dengan sangat hati-hati, suara langkah kaki mereka di atas kayu itu terdengar berirama dan berat, bergema ke seluruh bagian rumah. Semakin naik ke atas, semakin terasa hawa yang dingin dan sepi, seakan rumah itu menyimpan seluruh kesedihan penghuninya di lantai atas.
Lantai dua terdiri dari lorong pendek dengan tiga pintu kamar. Pintu di ujung lorong itu sedikit terbuka, dan dari celah itu masuk cahaya yang lebih terang dibanding ruangan lain. Itulah ruangan dengan jendela besar yang terlihat dari luar. Raka berjalan mendahului mereka, perlahan mendorong pintu itu hingga terbuka lebar.
Ruangan itu adalah sebuah kamar tidur yang cukup luas, dan di sisi yang menghadap ke luar berdiri jendela besar yang kacanya bening dan bersih, satu-satunya benda di rumah itu yang tidak tertutup debu. Di dalam kamar itu terdapat tempat tidur yang sudah tanpa seprai, lemari pakaian yang pintunya tertutup rapat, dan di sudut ruangan terdapat meja belajar kecil dengan kursi yang menghadap jendela. Di atas meja itu terdapat sebuah buku yang tertutup rapat, pulpen, dan sebuah lampu meja yang masih terpasang di tempatnya.
Laras berjalan mendekati meja itu tanpa sadar. Sesuatu menarik perhatiannya buku di atas meja itu terlihat seperti buku harian. Ia tahu ia tidak boleh menyentuhnya, namun hatinya berdebar kencang. Rasanya buku itu memanggilnya, seakan pemiliknya ingin agar seseorang membacanya, ingin agar kebenaran yang tersimpan di dalamnya diketahui orang lain.
"Itu buku harian," bisik Laras pelan, suaranya hampir tak terdengar. "Ada seseorang yang menulis di sini."
"Jangan disentuh dulu, Laras," tegur Raka lembut namun tegas. "Kita rekam saja dulu apa adanya. Buku itu adalah milik penghuni rumah ini. Kita tidak berhak membukanya tanpa izin."
Namun saat itu juga, angin tiba-tiba berhembus kencang melalui celah jendela yang sedikit terbuka, meniup halaman buku itu hingga terbuka di halaman yang sudah ditulis penuh dengan tulisan tangan yang rapi dan halus. Seketika itu juga, seluruh ruangan menjadi sunyi senyap. Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bernapas. Di halaman yang terbuka itu, terlihat jelas tulisan pertama di bagian atas:
"Hari ini mereka datang lagi. Mereka bilang rumah ini tidak boleh ada, tapi rumah ini sudah ada sejak kami pindah ke sini. Apa salah kami mencari tempat yang tenang?"
Dan di bawahnya, tertulis kalimat yang membuat bulu kuduk seluruh kru merinding seketika:
"Mereka bilang rumah kedelapan ini akan membawa bencana. Tapi aku rasa bukan rumah ini yang berbahaya... melainkan sesuatu yang sudah ada di sini sebelum kami datang. Sesuatu yang menunggu."
Angin berhenti berhembus seketika, seakan tak ingin mengungkapkan kalimat berikutnya. Buku itu tetap terbuka di halaman itu, menatap mereka dengan diam, menyimpan rahasia yang baru saja terungkap sebagian. Dan di luar jendela, matahari yang tadinya bersinar terang perlahan tertutup awan kelabu, seakan alam pun ikut menahan napas menyadari bahwa mereka baru saja menemukan sesuatu yang jauh lebih besar dan jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.