Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.
Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.
Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Di negeri Kanguru yang jauh dari hiruk-pikuk Jakarta, pagi terasa berbeda. Cahaya matahari Australia masuk melalui jendela apartemen kecil yang Naya sewa di kawasan suburban Melbourne. Udaranya sejuk, langit biru bersih, dan bunyi burung di luar terdengar lebih nyaring daripada klakson mobil yang dulu biasa ia dengar setiap pagi.
Naya berdiri di depan cermin panjang di kamarnya. Ia mengenakan blazer navy yang rapi, kemeja putih polos, dan celana bahan abu-abu gelap. Rambutnya diikat setengah, make-up tipis hanya cukup untuk membuat wajahnya terlihat segar dan profesional.
Ia memiringkan kepala sedikit, memeriksa penampilannya dari berbagai sudut, lalu tersenyum kecil pada bayangannya sendiri.
“Sudah rapi,” gumamnya pelan. Senyum itu tulus, bukan senyum pahit yang dulu sering muncul di sudut bibirnya.
Hari ini adalah hari penting. Interview di salah satu perusahaan teknologi terbesar di Australia. Posisi yang ia lamar berhubungan dengan manajemen sumber daya manusia, bidang yang dulu sempat ia tunda karena pernikahan. Kini, setelah berbulan-bulan mempersiapkan diri, beasiswa studi yang sudah berjalan, dan lamaran yang akhirnya mendapat panggilan, ia berdiri di ambang kesempatan baru.
Naya meraih tas kulit cokelat dari atas meja, memeriksa isinya sekali lagi, CV, portfolio, charger, dan botol minum. Ia menarik napas dalam-dalam, memandang sejenak unit apartemen mungil yang masih minim perabotan, lalu melangkah keluar.
Klek...
Pintu terkunci.
Naya berjalan menuruni tangga. Di halte bus tidak jauh dari apartemen, ia menunggu kendaraan umum dengan tenang. Beberapa penumpang lokal tersenyum kecil padanya, dan Naya membalas dengan anggukan ramah.
Bus datang tepat waktu. Ia duduk di dekat jendela, memandang pemandangan kota yang berganti, taman hijau, gedung-gedung modern, dan orang-orang yang berjalan dengan langkah santai.
Perjalanan tidak sampai satu jam. Ketika bus berhenti di halte dekat kawasan bisnis, Naya turun dan berjalan menuju gedung pencakar langit yang menjadi tujuannya. Kaca-kaca gedung memantulkan cahaya pagi, logo perusahaan besar terpampang jelas di bagian atas. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, tapi bukan karena takut. Lebih seperti antusiasme yang sudah lama tidak ia rasakan.
Sebelum masuk ke lobi utama, Naya berhenti sejenak di depan pintu kaca. Ia merapikan blazernya sekali lagi, menegakkan punggung, lalu melangkah masuk. Lobi yang luas dan modern menyambutnya dengan lantai mengilap serta tanaman hijau di beberapa sudut. Ia langsung menuju meja resepsionis.
“Selamat pagi. Saya Naya Adriani. Saya ada janji interview pukul sembilan,” ucapnya jelas, dengan bahasa Inggris yang sudah ia latih berbulan-bulan.
Resepsionis tersenyum profesional, memeriksa daftar di komputer, lalu mengangguk. “Selamat pagi, Ms. Adriani. Silakan menunggu di ruang tunggu. Tim HR akan segera menemui Anda.”
Naya mengucapkan terima kasih, lalu duduk di salah satu sofa kulit di ruang tunggu. Ia menaruh tas di pangkuan, menarik napas pelan, dan menatap ke luar jendela yang menampilkan langit Australia yang cerah.
Di sini, tidak ada yang tahu tentang Aslan.
Tidak ada yang tahu tentang Liza, tidak ada yang tahu tentang air mata di balik pintu atau tamparan di ruang makan. Yang ada hanyalah Naya, perempuan yang sedang memulai segalanya dari awal, dengan CV di tangan dan masa depan yang untuk pertama kalinya benar-benar ia tentukan sendiri.
Ia tersenyum tipis, kali ini lebih lega.
Pagi ini, di negara yang jauh, hidup barunya resmi dimulai.
******
Ruang interview di lantai dua belas terasa formal dan sedikit dingin. Meja panjang dari kayu gelap memisahkan Naya dengan dua orang staf HRD yang duduk di seberang. Di dinding, logo perusahaan tercetak besar, dan di balik kaca jendela, pemandangan kota Melbourne terlihat jelas di bawah langit pagi yang cerah.
Naya duduk tegak, tangan tersusun rapi di pangkuan, CV dan dokumen pendukung sudah diserahkan sejak awal.
Suasana di antara mereka serius. Salah satu staf HRD, wanita berambut pendek dengan kacamata tipis, sedang meneliti berkas Naya untuk terakhir kalinya sebelum menutup map itu.
“Terima kasih sudah datang hari ini, Ms. Naya,” ujarnya profesional. “Kami sudah melihat kualifikasi dan pengalaman Anda. Sayangnya, posisi yang Anda lamar di divisi Human Resources sudah terisi penuh sejak minggu lalu.”
Naya mengangguk pelan, mencoba menjaga ekspresi tetap tenang meski ada sedikit rasa kecewa yang menyelinap. Ia sudah mempersiapkan diri untuk posisi itu selama berminggu-minggu.
Wanita HRD itu melanjutkan, kali ini dengan nada yang lebih hati-hati. “Namun, saat ini perusahaan sedang membutuhkan seorang sekretaris untuk CEO. Posisinya cukup urgent. Kami melihat latar belakang pendidikan dan kemampuan organisasi Anda cukup kuat. Kami ingin menawarkan posisi tersebut kepada Anda.”
Naya terdiam sejenak. Ia menatap wanita di hadapannya, lalu berbicara lirih tapi jelas. “Tapi saya belum punya pengalaman menjadi sekretaris.”
“Tidak masalah,” jawab staf HRD cepat, seolah sudah menyiapkan jawaban itu. “Anda akan di bimbing langsung oleh asisten CEO yang sekarang. Beliau akan mendampingi Anda selama masa peralihan. Gaji dan benefit-nya juga lebih tinggi dari posisi yang Anda lamar sebelumnya.”
Naya diam. Ia mencoba mencerna setiap kata yang baru saja disampaikan. Di kepalanya, berbagai pertimbangan berputar cepat. Ia datang ke Australia untuk melanjutkan studi dan membangun karier di bidang yang ia minati, bukan untuk menjadi sekretaris. Posisi itu terasa seperti langkah mundur, atau setidaknya menyimpang jauh dari rencana awal. Ada rasa seperti dipaksa masuk ke jalur yang tidak ia pilih.
Suasana di ruangan menjadi sunyi sejenak. Hanya bunyi AC yang samar terdengar. Staf HRD menatapnya menunggu, sementara Naya menunduk sedikit, jari-jarinya saling menggenggam di pangkuan.
Ia teringat perjalanan panjang yang sudah dilaluinya, pernikahan yang hancur, air mata di apartemen kosong, beasiswa yang ia perjuangkan, dan keputusan untuk memulai segalanya dari nol di negara orang. Ia tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan hanya karena takut kehilangan kesempatan. Tapi di saat yang sama, ia juga tahu bahwa menolak mentah-mentah bisa berarti menunggu lebih lama untuk mendapatkan penghasilan tetap di tengah biaya hidup yang tidak murah.
Naya mengangkat wajah, menarik napas pelan, lalu berbicara dengan tenang. “Boleh saya minta waktu untuk mempertimbangkannya? Saya ingin melihat deskripsi pekerjaan secara lebih detail, termasuk tanggung jawab harian dan jadwal pelatihannya"
Wanita HRD itu tersenyum tipis, sepertinya menghargai sikap profesional Naya. “Tentu. Kami akan kirimkan dokumen lengkap ke email Anda hari ini. Kami harap bisa mendapat jawaban paling lambat dua hari ke depan.”
Naya mengangguk. “Terima kasih. Saya akan pelajari dengan seksama.”
Interview itu berakhir dengan jabat tangan formal. Naya keluar dari ruangan dengan langkah stabil, meski di dalam dada ada pergolakan yang belum selesai.
Di dalam lift menuju lantai dasar, ia menatap bayangannya di dinding cermin. Wajahnya masih tenang, tapi matanya menunjukkan bahwa ia sedang menimbang sesuatu dengan serius.
Di luar gedung, angin Melbourne yang sejuk menyambutnya. Naya berjalan menuju halte, memikirkan tawaran yang baru saja ia terima.
******
Di lantai atas sosok pria tampan seumuran Naya sedang bertanda pada asistennya.
"Bagaimana? Dia menerimanya atau tidak?"
"Dia masih ingin mempertimbangkannya terlebih dahulu, tuan. Karena menjadi sekretaris bukan keinginan dia melamar di perusahaan ini"
"Dia memang teliti soal pekerjaan. Tapi sayangnya dia tidak teliti dalam memilih pasangan"
jadi kenapa kamu harus marah?