Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.
Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.
Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Waktu tidak terasa semakin berlalu, pernikahan Hasby dan Hawa sudah hampir 6 bulan. Bukan waktu yang sebentar. Mereka melewati hari-hari bersama, walaupun pernikahan mereka terjadi karena perjodohan.
Tapi mereka menjalaninya dengan baik, dan sesekali ada permasalahan, tapi bisa di selesaikan dengan baik.
Tiba waktu Hasby di hadapkan pada ujian akhir sekolah, dia di sibukkan untuk belajar dan harus tetap bekerja. Karena dia kepala keluarga dan Hawa adalah tanggung jawabnya.
Terkadang Hasby merenung, apa dia mampu, tapi berkat do'a dan usahanya serta dukungan istri kecil dan keluarga. Hasby bisa melakukan semua, walau kadang terdapat kekeliruan.
Langit berwarna oranye cerah bercampur kuning lembut ketika Hasby tengah belajar di kamarnya, terdengar suara ketukan di daun pintu kamarnya. Dia mengernyitkan dahinya sembari berdiri dari duduknya, menyeret langkahnya ke pintu kamar.
Daun pintu bergerak pelan dan menampilkan seorang perempuan yang berpakaian gamis ser kerudung cerah yang tidak pernah lepas dari kepalanya, kecuali dia sendirian di kamarnya. Tersenyum lebar dengan tangan menggenggam kedua tangannya dengan antusias.
"Assalamu'alaikum kak," salam Hawa lembut.
"Wa'alaikumsalam, ada apa?"
"Jalan sore yuk kak," ajaknya semangat, tangannya meraih lengan Hasby menariknya pelan.
"Kemana?" tanya Hasby datar.
"Jalan kaki ke depan situ kak, ada bazar kata Mama,, ayooo," rengek Hawa menarik lengan Hasby berulang kali.
"Aku capek Wa,, sama Mama aja sana!" Hasby tetap datar dan memutar matanya malas.
"Iich kakak,,, aku maunya sama kak Hasby, malah di suruh sama Mama, padahal Mama udah pergi sama Papa karena ada meeting sore.," Hawa ngedumel lirih didepan Hasby.
Lengan Hasby ia lepaskan agak kencang, kesal karena Hasby nggak mau diajak. Hawa memutar langkah dan masuk kamarnya dengan cepat sebelum Hasby bertanya lagi.
Dahinya berkerut dan alisnya naik sebelah, menghembuskan napas cepat. Dia kembali ke dalam kamar dan menutup rapat. Hasby melanjutkan kegiatan belajarnya yang terjeda barusan.
Di kamar Hawa, ia tengah bersiap mengambil tas selempang kecil yang hanya muat handphone dan dompet. Segera bersiap dan tidak lupa memakai kaos kakinya. Setelah di rasa sudah rapi dan sopan ia melangkah kearah pintu, melongok apa masih ada suaminya atau tidak.
Ternyata Hasby sudah tidak berada di luar kamar. Segera Hawa berjalan dan menuruni tangga dengan cepat. Dalam waktu singkat ia sudah berada di teras rumah. Ia mengeluarkan gawainya dan mencari nomor suaminya di daftar kontak, setelah menemukannya ia menekan tombol panggilan suara. Tak menunggu lama karena suara Hasby langsung terdengar dari seberang sambungan telepon itu.
"Assalamu'alaikum kak, aku pergi ke bazar ya, makasih," secepat kilat Hawa berbicara lantas mengakhiri panggilan teleponnya. Tanpa memberi waktu untuk suaminya berbicara.
Hawa terkikik pelan, kang Udin sampai bingung melihatnya. Nona mudanya itu melangkah kearah pintu gerbang rumah.
"Mari kang Udin," Hawa tersenyum cerah. Ia berjalan keluar gerbang. Menghirup udara sore yang hangat.
"Iya Neng,, mau kemana neng? Apa perlu diantar?"
"Tidak usah Kang, ya sudah Hawa jalan dulu kang. Assalamu'alaikum," Hawa melangkahkan kakinya dengan pelan tapi pasti, sembari menikmati pemandangan perumahan sore ini.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati Neng," kang Udin agak kencang, karena Hawa sudah ngeloyor pergi.
Hawa melambaikan tangannya singkat, lantas meneruskan langkah kakinya yang pendek itu menuju bazar. Hawa berdo'a semoga Hasby tidak marah karena Hawa main sendiri.
Sepanjang jalan menuju tempat Bazar dilaksanakan, tidak henti-hentinya Hawa menyapa dan membalas sapaan siapa saja yang ia temui.
Ternyata banyak yang berjalan kaki menuju tempat bazar, banyak pasangan muda-mudi, pasutri tua muda dan banyak anak-anak yang menambah keramaian sore ini.
Sesampainya di tempat Bazar, Hawa di buat melongo karena takjub, banyak sekali penjual yang menjajakan dagangannya. Lampu-lampu sudah di nyalakan dan banyak lampu hias warna-warni yang menambah keindahan bazar sore ini.
Netra Hawa berbinar cerah melihatnya, segera ia mengedarkan pandangannya mencari jajanan yang ingin ia makan.
Matanya berkedip-kedip lucu ketika melihat es jeruk yang sangat menggoda. Terlihat begitu menyegarkan, Hawa menelan ludahnya karena sangat haus lalu melangkahkan kaki ke tempat jualan es jeruk itu.
"Bang, tolong es jeruk satu ya," ucap Hawa lembut.
"Ok, duduk dulu neng, antri bentar ya," kata Bang es jeruk ramah.
Hawa menganggukkan kepalanya pelan sembari tersenyum, ia duduk di kursi plastik yang di sediakan penjualnya.
Untung saja antrian tidak terlalu banyak, Hawa segera mendapat giliran mencicipi es jeruk, minuman pertamanya di bazar sore ini.
Hawa meminum es jeruk hingga tersisa setengah cup gelas plastik. Hawa berpamitan dengan penjualnya dan meneruskan perburuan jajan di bazar.
Bazar sore ini begitu banyak yang menjajakan aneka makanan dan minuman. Ada yang kerajinan tangan, aneka aksesoris dan aneka pakaian. Sungguh ramai dan seru sekali. Musik di putar lumayan kencang, menambah ramai suasana senja.
●●●
Di kamar Hasby berbeda dengan suasana Hawa yang ceria. Hasby tidak bisa fokus sama sekali setelah menerima telepon dari istrinya itu. Dengan cepat dia mandi dan berganti baju, lantas turun ke bawah berpamitan pada Bik Im untuk menyusul Hawa. Bik Im tersenyum lembut, akhirnya di susul juga, batin Bibik.
Hasby menggunakan motor sportnya, karena dia malas berjalan kaki, karena lelah sekali. Walaupun jengkel dengan Hawa, tapi tetal Hasby tidak bisa mengabaikannya.
Dia melajukan motornya pelan begitu keluar gerbang langsung saja Hasby menarik gas supaya cepat sampai di bazar.
Hawa tidak sengaja bertemu seseorang dan berkenalan lantas ngobrol berdua di depan orang jualan ayam bakar yang ia mau. Walau baru ketemu tapi orang itu sangat nyambung diajak ngobrol.
Dari kejauhan Hasby melihat Hawa tengah duduk berdua dengan seorang laki-laki. seseorang yang tidak ia kenal. Mereka terlihat akrab dan Hawa terlihat tersenyum ceria.
Tanpa sadar jemarinya mengepal erat hingga buku-bukunya memutih, rahang tegasnya mengeras.
Hasby mengambil langkah panjang dan tegas menghampiri Hawa.
Hawa belum melihat Hasby sama sekali. Karena Hawa duduk menyerong. Sampai sebuah tangan berada di pundaknya, ia menoleh cepat dan kedua bola matanya melebar. Ia segera berdiri dan tersenyum ramah.
"Kak, kesini juga,,, katanya nggak mau," Hawa sedikit merajuk pada suaminya itu. Suaranya terdengar lembut dan manja.
"Pulang!" Hasby berkata dengan sangat datar. Hawa mengernyit. Hawa langsung mengerucutkan bibirnya.
"Maaf, anda siapanya Hawa?" laki-laki dengan berawakan tinggi, putih dan tampan itu bertanya sambil menatap Hasby tenang.
"Saya kakaknya, kenapa?" ucap Hasby datar menatap tajam orang itu.
"Maaf bro, Hawa masih ingin menjelajah di bazar. Jangan di ajak pulang dulu," lanjutnya dengan berani.
"ok,,, Hawa mau pulang atau masih di sini?" Hasby menatap lurus pada istri kecilnya itu.
"hmm, iya kita pulang kak," putus Hawa, ia tahu Hasby marah padanya karena pergi sendiri. ia menoleh pada lelaki yang ngobrol dengannya tadi " Maaf ya kak Dean, aku pulang duluan," ucapnya pelan, merasa tidak nyaman.
"Beneran dia kakak kamu?" bisiknya pelan mendekat ke arah Hawa.
Hasby menatapnya tajam.
"iya beneranlah kak," gumam Hawa.
"ok. Ya udah, oiya boleh minta nomor hape kamu?" lelaki bernama Dean itu menyodorkan handphonenya kearah Hawa.
Sebelum Hawa memberikan nomornya, Hasby sudah menarik lengan Hawa berjalan pergi tanpa pamit ke Dean.
Hawa terkejut lantas mengucap maaf kepada Dean. Ia mengikuti Hasby menarik lengannya, entah kemana ia akan dibawa pergi.
"Kak, aku masih ingin di sini," ucapnya lirih.
"Mau beli apa?" tanya Hasby datar, tetap berjalan dan masih tetap memegang lengan istrinya itu.
"Kak, tolong lepas, aku bisa jalan sendiri," gumamnya pelan.
Hasby tetep mengunci bibirnya tidak menyahuti sama sekali.
"Kak Hasby," berbicara dengan ketus "tolong lepasin aah," saking jengkelnya suaranya naik satu oktaf.
Hasby berhenti dan memutar badannya lantas menatap Hawa tajam. Rahangnya mengeras. Genggamannya semakin erat. Dia tidak menyangka kalau Hawa akan bernada tinggi seperti itu.
"aah kak, sakit," Hawa berkata lirih.
Hasby melepaskan lengan Hawa dan tidak berkata apa-apa lalu memakai helmnya lantas menarik gas motornya kencang.
Hasby melaju cepat dan tidak menoleh pada istrinya lagi. Ada rasa panas di hatinya, rasa tidak suka kalau Hawa dekat-dekat dengan lelaki lain. Tertawa dan ngobrol dengan laki-laki lain, membuat hatinya sakit.
Hawa terdiam di tempatnya menatap nanar suaminya yang pergi entah kemana dengan kecepatan diatas rata-rata.
Dari kejauhan Dean melihat semuanya yang terjadi pada Hawa. Apa yang di lakukan seseorang yang mengaku sebagai kakaknya Hawa. Tapi ada yang aneh. Perlakuannya seperti bukan kakak adik, tapi lebih ke hubungan yang lebih dalam lagi.
Hawa menghubungi Hasby tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Segera ia menghubungi Tian, Hawa sudah menyimpan nomor teman-temannya Hasby sejak sebulan yang lalu. Baru dering ketiga panggilan itu di angkat.
"Assalamu'alaikum kak,"
"Wa'alaikumsalam, ada apa?" datar sekali Tian, sama seperti Hasby.
"Kak, tolong hubungi kak Hasby, dari tadi nggak bisa di hubungi," suara Hawa terdengar sedikit gemetar.
"Kalian berantem?" tebak Tian datar.
"Kak, tolong kak, cariin kak Hasby!" Hawa berkata pelan, ia tidak mau membuka masalahnya ke semua orang.
"Ya, tunggu aja!" Tian memutuskan sambungan telpon itu.
Hawa menghembuskan napas berat, matanya sudah merah berembun. Ia memutuskan pulang, segera menghampiri becak yang berjajar rapi di pinggir jalan.
"Pak, tolong antar ke rumah Pak Darman ya pak," ucap Hawa lembut.
"Oh iya neng, mari neng," ucap bapak becak ramah.
Hawa segera naik dan duduk dengan tenang. Becak mulai bergerak pelan, makin lama semakin cepat. Becak yang ditumpangi Hawa masih becak sederhana, yang di gerakkan oleh tenaga manusia, di kayuh.
Sebenarnya nyaman dan santai, tapi karena pikiran Hawa sedang bercabang-cabang jadinya ia tidak menikmati perjalanan yang santai ini.
Setelah sampai ia mengeluarkan uang untuk membayar ongkos perjalanan dari bazar sampai ke rumah mertuanya. Ia melebihkan ongkosnya. Bapaknya terharu dan sangat berterimakasih pada Hawa.
Hawa segera masuk setelah menyapa Kang Udin di pos jaga depan. Ketika masuk ia tidak menemukan Hasby dan kedua mertuanya.
Ia mencari ke dapur dan menemukan Bik Im sedang membuat rawon untuk makan malam.
"Bik, apa kak Hasby di rumah?" ucap Hawa pelan.
"Lho Neng, kan tadi Den Hasby mau jemput Neng," bibik terkejut.
"Tadi Kak Hasby pergi dulu Bik," Hawa menghela napas pelan "Ya sudah Hawa ke kamar dulu bik," Hawa menyeret langkah menaiki tangga menuju kamarnya, terasa berat dan tinggi sekali. Padahal setiap hari ia naik turun tangga ini.
Ketika ia sampai di kamarnya, dadanya terasa sesak. Apa suaminya marah karena ia pergi sendirian atau karena ia ngobrol dengan lelaki yang baru di kenalnya tadi atau masalah lainnya. Ia bingung dan merebahkan diri di sofa dekat jendela.
Memandang keluar, memikirkan dimana suaminya sekarang. Apa Tian berhasil menemukan Hasby atau tidak.