Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Manis Tuan Regan

Istri Manis Tuan Regan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Romanova

Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.

"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.

Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.

Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Pintu yang megah itu terbuka lebar.

Zara melangkah masuk dengan gaunnya yang masih tampak rapi tanpa cela. Dagu dan bahunya terangkat tegak, memancarkan aura ketenangan luar biasa.

Di ruang keluarga yang mewah, tiga orang sudah menunggunya bagaikan hakim yang siap menjatuhkan hukuman.

Hendra berdiri di dekat meja dengan tangan bersedekap, sorot matanya tajam dan dipenuhi kemarahan yang tertahan. Di sampingnya, ada Roselin yang duduk anggun di sofa dengan senyuman tipis yang sarat akan dominasi, sementara Selene menatap Zara dari atas ke bawah dengan tatapan benci yang tak bisa lagi disembunyikan.

"Akhirnya kamu punya keberanian untuk menginjakkan kaki di rumah ini lagi, Zara atau harus Papi sebut kamu sebagai Nyonya Benedict yang terhormat sekarang?" ucap Hendra dengan suara berat dan bergetar menahan amarah.

Zara berhenti beberapa langkah di depan mereka.

Ia tidak menundukkan kepala, ia juga tidak gemetar sama sekali. Sebaliknya, ia menyunggingkan senyuman tipis yang amat tenang, sebuah senyuman yang seketika membuat dada Hendra makin sesak dengan emosi.

"Papi yang memanggil Zara pulang." sahut Zara dengan tenang. "Ada hal penting apa sampai Papi harus memberi ancaman di telepon malam-malam begini? Apakah perusahaan Adhitama butuh suntikan dana lagi?" tanyanya.

"Zara!" bentak Hendra, mukanya memerah seketika. "Jaga mulutmu!"

"Papi, lihat kan?" potong Selene cepat, ia langsung berdiri dari duduknya dan menunjuk Zara dengan jari gemetar.

"Baru saja datang dia sudah kurang ajar! Papi tahu kan apa yang dia katakan di depan semua anggota The Sapphire Club tadi siang? Dia merusak nama baik keluarga kita, Papi!"

Roselin mengelus pelan tangan Hendra, bukan untuk menenangkan tapi untuk menambahkan racunnya dengan nada pura-pura sedih.

"Zara... Mami tidak akui kamu sebagai anak jika caramu membalas budi pada Papi yang membesarkanmu adalah dengan cara menghancurkan reputasi keluarga di depan sosialita. Apa Regantara Benedict tidak pernah mengajarimu tata krama?"

Mendengar nama suaminya disebut dari mulut Roselin, kilatan mata Zara seketika meredup dan mendingin hingga mencapai titik beku.

"Tata krama?" ulang Zara pelan. Ia melangkah mendekat, menatap Roselin tepat di manik matanya. "Tante Roselin bicara tentang tata krama di rumah yang dibangun menggunakan seluruh harta dan keringat mendiang Mama Zara?" ucapnya.

Suasana di ruangan itu seketika mendingin secara mendadak, senyuman culas di wajah Roselin membeku dalam hitungan detik.

PLAK!

Suara hantaman keras bergema di seluruh penjuru ruang keluarga, tamparan keras melayang tepat ke pipi Zara, membuat kepalanya tertoleh ke samping. Pipi kirinya seketika memerah dan terasa panas membakar.

"Anak tidak tahu berbalas budi!" bentak Hendra dengan napas memburu dan dada naik-turun.

"Berani-beraninya kamu menyebut nama Ibumu untuk menghina Roselin di rumah saya sendiri!"

Roselin dan Selene yang menyaksikan kejadian itu dengan senyuman puas di balik raut wajah yang pura-pura terkejut. Selene bahkan bersedekap dada, menikmati setiap detik penderitaan Zara.

Namun, sebelum amarah Hendra berlanjut lebih jauh.

BRAK!

Pintu depan terdorong kasar hingga menghantam dinding, Pak Karta melangkah masuk dengan wajah dingin. Kedua matanya yang tajam menatap ke arah Hendra, sementara tubuh tegapnya langsung mengambil posisi berdiri tepat di samping Zara, untuk melindunginya dari jangkauan tangan Hendra.

"Tuan Hendra Adhitama, saya ingatkan. Anda baru saja mendaratkan tangan anda pada istri Tuan Regantara Benedict." suara Pak Karta terdengar datar namun sarat akan ancaman yang sangat berbahaya.

Mendengar kata Benedict yang penuh penekanan oleh pengawal tersebut, wajah Hendra seketika pucat pasi. Amarahnya yang meledak-ledak seolah disiram air es. Ia sadar, pria tua di depannya ini bukan sekadar supir, melainkan orang kepercayaan Regantara.

"Ini... ini urusan internal keluarga saya! Dia anak saya!" gertak Hendra, sambil berusaha mempertahankan wibawanya meski suaranya mulai bergetar sekarang.

Zara perlahan mengusap pipinya yang terasa panas dengan ujung jemarinya.

Ia tidak menangis. Tidak ada satu pun tetes air mata yang jatuh dari matanya. Sebaliknya, Zara mendongak menatap Hendra dengan mata jernih yang memancarkan sorot dingin.

"Anak? Setahu Zara, Papi sudah menjual anak ini kepada Benedict demi menyelamatkan perusahaan Papi yang hampir bangkrut itu." bisik Zara, lalu menyunggingkan senyuman tipisnya.

Roselin melangkah maju dengan cemas, ia menarik lengan suaminya.

"Zara, jangan keterlaluan! Papimu melakukan itu demi kebaikanmu juga!"

"Kebaikan? Simpan saja omong kosong Tante." Zara melirik Roselin dingin, membuat wanita itu tersentak mundur satu langkah.

Zara lalu beralih menatap Hendra lagi yang kini masih berdiri terpaku dengan napas memburu.

"Tamparan ini..." ujar Zara pelan namun sangat jelas, ia menunjuk pipinya yang memerah. "...akan menjadi bukti pembayaran terakhir atas seluruh ikatan darah yang tersisa di antara kita, Papi. Mulai detik ini, tidak ada lagi hubungan ayah dan anak."

Zara berbalik pergi.

"Pak Karta, kita pulang." ucap Zara.

Pak Karta menunduk hormat, lalu memberi tatapan peringatan kepada Hendra, Roselin, dan Selene sebelum berbalik menyusul Zara yang sudah keluar dari rumah itu.

Di dalam rumah, suasana mendadak hening.

Hendra menatap tangannya yang tadi menampar Zara dengan perasaan campur aduk, ada kemarahan yang membara, namun juga rasa takut yang mendalam atas apa yang akan dilakukan Regantara setelah ini.

Mobil mewah itu bergerak dengan kecepatan sedang. Di kursi belakang, Zara bersandar lemah di sudut pintu mobil, ia menempelkan keningnya ke kaca jendela yang dingin.

Pandangannya samar, menatap pendar lampu jalanan yang berkelebat dan membias bersama genangan air mata di kelopak matanya.

Sebuah isakan kecil yang amat pelan lolos dari bibirnya. Zara memeluk dirinya sendiri, menahan rasa sesak di dadanya yang bergemuruh hebat akibat rasa perih di pipinya dan yang paling utama, luka lama yang kembali terbuka di hatinya.

"Mama... Zara rindu Mama..." batinnya terisak dalam diam.

Kenangan masa kecil yang kelam mendadak membanjiri pikirannya. Dulu, tak lama setelah kepergian ibunya, kedatangan Roselin di rumah besar itu sebenarnya terasa sangat biasa dan disambut hangat oleh Zara yang berharap Roselin bisa menjadi sosok ibu kedua untuknya.

Namun, semua kehangatan palsu itu musnah tanpa sisa dalam hitungan bulan.

Selene kecil, yang dipelihara oleh sifat iri hati ibunya, sering kali menangis dan mengadu hal-hal bohong kepada Hendra dengan tuduhan palsu bahwa Zara telah merusak mainannya, merebut pakaiannya, atau berkata kasar padanya.

Dan setiap kali aduan bohong itu terlontar dari mulut Selene, Hendra tak pernah sekali pun mau mendengarkan penjelasan Zara kecil.

Tamparan, dorongan kasar, dan bentakan Hendra menjadi konsumsi harian Zara sejak ia masih berusia sangat muda. Ayah kandungnya sendiri perlahan berubah menjadi monster di bawah pengaruh Roselin dan manipulasi Selene.

Tamparan malam ini, sebenarnya hanyalah rembesan kecil dari lautan luka yang sudah ia tanggung selama bertahun-tahun.

Zara mengusap pipinya pelan dengan ujung jarinya yang gemetar. Air matanya menetes satu per satu, hingga membasahi kain gaunnya.

Di kursi kemudi, Pak Karta melirik melalui kaca spion tengah dengan raut wajah yang dipenuhi rasa iba sekaligus kemarahan yang tertahan.

1
jenny
coba Zara dibawa sama kakek Sehari... kira² Regan kelabakan gak tuh?? 😄
Ipan Pratama
menarik
Ipan Pratama
lanjut dong thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!