Tiga tahun Ratri Kusuma dijuluki janda pembawa sial — dituduh membunuh tunangan suaminya dan menyeret ibunya sampai tewas. Suaminya, Baskara Adiningrat, pewaris konglomerat, lenyap tepat setelah malam pernikahan.
Namun di balik topeng itu, Ratri adalah ahli forensik paling ditakuti di negeri ini, dipanggil "Nyai Ratri". Ia juga mengidap garis takdir nyaris putus — nyawanya bisa padam kapan saja.
Lalu Baskara kembali. Bukan untuk menceraikannya, melainkan berlutut dan diam-diam menyambung nyawanya ke sang istri. Ia menyembunyikan dua rahasia: dialah pria terkaya di dunia, dan ia terlahir dengan waskita — mampu melihat takdir semua orang setahun ke depan, kecuali takdir Ratri. Karena perempuan itu memang tak punya masa depan.
Satu per satu topeng terbuka, utang lama ditagih. Dan Jakarta akan belajar: janda yang mereka injak ternyata berdiri di atas mereka semua.
"Kalau kau memang ingin aku menjanda… buktikan dulu kau benar-benar mati, Baskara."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 26
Suami yang Tak Tahu Malu
Baskara mulai bangun lebih pagi daripada Bibi Sari.
Hari pertama, ia menempelkan jadwal makan Ratri di pintu lemari pendingin.
Hari kedua, ia memindahkan semua kopi pekat dari dapur utama dan menggantinya dengan minuman rempah tanpa gula.
Hari ketiga, ia berdiri di depan pintu saat dua kerabat jauh keluarga Adiningrat datang untuk meminta penjelasan tentang video Nyai Ratri.
"Ratri tidak menerima tamu," katanya.
"Kami keluarga."
"Itu bukan janji temu."
Keduanya pulang tanpa sempat melewati ruang depan.
Para pelayan mulai membicarakannya di dapur.
"Ndoro Baskara pulang tiga tahun cuma untuk jadi penjaga pintu?"
"Katanya tidak punya pekerjaan. Mungkin memang itu pekerjaannya sekarang."
Bibi Sari memukul meja dengan sendok kayu. "Jangan omong sembarangan."
Lalu ia menoleh ke arah koridor dan menahan senyum sendiri.
Ratri mengetahui semua itu. Ia memilih tidak bereaksi sampai Baskara muncul di depan lift Sinar Sentosa pada pukul sembilan malam sambil membawa payung.
Pria itu sudah menunggu hampir dua jam. Di kursi sampingnya terdapat termos air hangat, roti tanpa pemanis, serta obat luar untuk lebam yang belum tentu muncul. Baskara tidak pernah bertanya kapan Ratri selesai, tetapi entah bagaimana selalu datang beberapa menit sebelum ia keluar.
"Ndoro Baskara menolak naik," kata satpam. "Beliau bilang tidak mau mengganggu pekerjaan Ibu."
Ratri melihat sepatu Baskara yang terkena percikan hujan dan koran sore yang telah dibaca sampai lipatannya lunak. Ia seharusnya merasa terganggu. Sebaliknya, ada rasa aneh ketika menyadari seseorang benar-benar menunggu tanpa menuntut ia pulang lebih cepat.
"Apa yang Anda lakukan di sini?"
"Menjemputmu."
"Saya punya mobil dan Wira."
"Hujan."
"Mobil punya atap."
Baskara membuka payung di dalam lobi. Ujungnya hampir mengenai lampu gantung.
Ratri merebut gagangnya sebelum satpam menegur. "Tutup."
"Kau menerima payungku lagi."
"Saya menyelamatkan gedung."
Mbak Lia keluar dari lift berikutnya dan langsung menunduk agar tidak terlihat tertawa.
Di luar, hujan turun deras. Baskara membuka payung di atas kepala Ratri. Perempuan itu mendorongnya ke samping dan berjalan menuju mobil tanpa perlindungan.
"Tiga tahun tidak pulang," katanya, "sekarang rajin membawa payung untuk siapa?"
"Untuk istriku."
"Terlambat."
Satu kata itu lebih dingin daripada hujan. Baskara tetap mengikuti, membiarkan separuh bahunya basah agar payung berada di atas Ratri meski ia pura-pura menolak.
Saat mereka masuk mobil, ia bersin sekali.
Ratri memberikan tisu tanpa menatap. "Jangan salah paham. Saya tidak mau Anda sakit lalu menyalahkan hujan."
"Aku tidak akan salah paham."
"Anda sedang tersenyum."
"Wajahku memang begini."
Wira menatap lurus ke jalan, memilih tidak terlibat.
Di rumah, jadwal buatan Baskara sudah robek dan berada di tempat sampah.
Ia mengambilnya, menyatukan dua bagian dengan selotip, lalu menempelkan kembali di pintu lemari pendingin.
Keesokan pagi, Ratri merobeknya menjadi empat.
Baskara menyalin jadwal baru dengan tulisan lebih besar.
Hari berikutnya, jadwal itu hilang.
Ia membuat salinan dan menyelipkannya ke meja makan.
Yang paling mengganggu Ratri bukan keberadaan jadwal, melainkan ketepatannya. Baskara menandai waktu ketika tubuhnya biasanya kehilangan tenaga, makanan yang membuat aliran darah lebih sulit stabil, serta jeda laku yang pernah disebut Eyang Suryo hanya sekali di rumah sakit.
Beberapa catatan bahkan mendahului gejalanya. Pada suatu sore, Baskara meletakkan pusaka di tas sebelah kiri sebelum Ratri merasa dada berat. Satu jam kemudian, guncangan ringan pada garis takdirnya datang tepat seperti yang ia antisipasi.
Ia tidak mungkin terus menyebut semua ketepatan itu sebagai perhatian seorang suami biasa.
Ratri tidak tahu apakah itu kebetulan, pengamatan, atau bagian lain dari dunia yang disembunyikannya.
"Ndoro mungkin sebaiknya berhenti," bisik Bibi Sari.
"Kalau aku berhenti, dia menang."
"Bukankah Ndoro memang ingin Ndoro Putri menang?"
Baskara terdiam. "Benar juga."
Namun, jadwal berikutnya tetap muncul.
Ratri akhirnya memanggilnya ke ruang duduk. "Apa yang sebenarnya Anda inginkan?"
"Tinggal di sini."
"Rumah ini milik keluarga Anda."
"Tapi sayap ini milikmu. Kau bisa mengusirku."
"Saya sedang mempertimbangkannya."
Baskara duduk di ujung sofa dengan ekspresi menyedihkan yang terlalu dibuat-buat. "Aku tidak punya pekerjaan, asetku tidak jelas, dan aku punya utang. Kalau kau mengusirku, aku tidur di mana?"
"Hotel."
"Tidak punya uang."
"Jual jam Anda."
Baskara langsung menutupi jam tua di pergelangan. "Peninggalan keluarga."
Ratri tahu jam itu bernilai sangat tinggi. Ia ingin melihat seberapa jauh pria tersebut mempertahankan kebohongannya.
"Berapa utang Anda?"
"Belum kuhitung."
"Siapa pemberi utang?"
"Teman."
"Nama teman?"
"Panji."
Di luar pintu, Panji yang baru tiba hampir tersedak.
Ratri menyilangkan tangan. "Buat surat utang. Tulis bahwa Anda membayar tempat tinggal dengan pekerjaan rumah sampai utang lunas."
Baskara sama sekali tidak merasa dihina. Ia justru mengambil kertas dan pena dengan antusias.
"Pekerjaan apa?"
"Apa pun yang Bibi Sari suruh."
"Termasuk memasak?"
"Terutama memasak."
Baskara menjalani hari pertamanya sebagai pembayar utang dengan mencuci piring sarapan. Ia memakai terlalu banyak sabun hingga lantai dapur dipenuhi busa. Satu mangkuk lepas dari tangannya, tetapi Pak Ganda menangkapnya sebelum pecah.
"Ndoro tidak pernah melakukan ini sebelumnya?" tanya Bibi Sari.
"Pernah."
"Kapan?"
"Hari ini."
Para pelayan tertawa. Baskara tidak tersinggung. Ia mengeringkan piring satu per satu dan bertanya mangkuk mana yang biasa dipakai Ratri untuk sup. Ketika tangannya terkena pecahan kecil dari gelas yang retak, ia hanya membungkusnya dan melanjutkan.
Ratri melihat dari ambang pintu. Seorang pria dengan jam bernilai miliaran rupiah sedang berdebat dengan spons pencuci piring demi mempertahankan peran sebagai orang berutang. Pemandangan itu terlalu tidak masuk akal untuk tidak menyimpan tujuan.
Baskara menulis surat itu, menandatangani, lalu menyerahkannya. Ratri membaca perlahan.
Di bagian atas kertas ada bekas logo yang dicoret dengan tinta. Baskara tampaknya mengambil lembar pertama dari map Panji tanpa melihat. Sebagian huruf masih terbaca di sudut.
NG Executive Office.
Di bawahnya terdapat nomor referensi yang memakai format sama dengan perusahaan yang memulihkan akses distribusi Rara dan yayasan anonim pembayar rumah sakit.
Ratri melipat kertas tersebut.
"Ada masalah?" tanya Baskara.
"Tidak. Mulai besok Anda mencuci piring."
Malamnya, setelah semua orang tidur, Baskara kembali ke ruang sunyi. Luka di lengan kirinya belum pulih, tetapi garis takdir Ratri kembali bergetar lemah di dalam ikatan sukma mereka.
Ia membuka luka lama, meneteskan darah, dan memulai laku tanpa suara.
Di kamarnya, Ratri meletakkan surat utang di samping laporan tentang Nardi.
Dua nomor referensi itu sejajar sempurna.
Suaminya baru saja memberi satu celah pada kebohongan yang selama tiga tahun tidak bisa ditembus siapa pun.
Dan Ratri akan membukanya.