Indonesia
NovelToon NovelToon
HABISNYA CINTA SUAMIKU

HABISNYA CINTA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Duda
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Demi amanah terakhir sang kakak, Alana rela menikah dengan kakak iparnya, Gema. Namun selama enam tahun, Alana hanyalah pelengkap. Gema mengunci rapat hatinya, terjebak duka masa lalu, dan memperlakukan Alana hanya sebagai pengasuh berstatus istri. Bahkan sakit maag akut yang diderita Alana pun tak pernah Gema ketahui.

​Beruntung, Alana wanita mandiri. Pemilik toko kue besar ini bertahan murni demi sang anak sambung yang menyayanginya sebagai Bunda.

​Hingga suatu malam, pertahanan Alana runtuh bersama rasa sakit yang tak lagi bisa disembunyikan. Di saat Gema akhirnya berbalik ingin meraihnya, akankah sisa-sisa cinta Alana masih ada, atau justru sudah habis tak bersisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HABISNYA CINTA SUAMIKU

​Keheningan malam di kamar kos nomor 04 terasa kian pekat dan menghimpit. Maya masih setia duduk di tepi kasur busa, menggenggam erat jemari Alana yang dingin dan gemetar. Di atas meja kayu kecil di sudut ruangan, dua porsi nasi dan sup ayam hangat yang baru saja dibawa Maya dari dapur Lumiere Bakehouse terbengkalai begitu saja, membiarkan uap panasnya perlahan menghilang digantikan dinginnya udara malam.

​Alana memeluk kedua lututnya rapat-rapat ke dada, menyandarkan dagunya di sana. Wajahnya yang pucat pasi terhias jejak air mata yang mengering, namun matanya masih sembap dan merah. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, bayangan Tania langsung hadir dengan begitu jelas senyum polosnya saat menyambut Alana pulang kerja, rewelnya saat tubuh mungilnya terserang demam, serta jemari kecilnya yang selalu mengusap pipi Alana tiap kali membacakan dongeng sebelum tidur.

​Maya meremas lembut jemari sahabatnya, berusaha memanggil kembali kesadaran Alana yang seperti melayang jauh. "Mbak... makan sedikit dulu, yuk? Dari siang Mbak Alana belum masuk makanan sama sekali. Nanti Mbak bisa sakit kalau perutnya kosong."

​Alana menggelengkan kepala lambat, menyunggingkan senyum tipis yang terasa begitu paksain dan getir. "Nggak bisa, May... tenggorokanku rasanya ganjel banget. Buat menelan air liur saja rasanya sakit."

​Maya mendesah pelan. Ia sangat memahami rasa sesak yang sedang menyumbat dada Alana. "Mbak masih kepikiran Tania terus, ya?"

​Pertanyaan sederhana itu seketika memicu gelombang emosi baru yang tak lagi mampu ditahan Alana. Pundaknya mulai berguncang hebat, dan isakan lirih kembali lolos dari bibirnya yang kelu.

​"May..." bisik Alana, suaranya parau dan terputus-putus. "Tania kan... Tania kan bukan anak kandung aku, May. Kemungkinan besar hak asuh anak pasti di tangannya Mas Gema. Secara hukum dan legalitas, aku ini bukan siapa-siapa. Aku cuma ibu sambungnya."

​Alana memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan lelehan air mata hangat kembali mengalir deras membasahi pipinya. Kepahitan kenyataan itu menghantam dadanya seperti hantaman godam yang menghancurkan seluruh sisa ketahanannya.

​"Sebenarnya berat banget buat aku, May... berat banget," rintih Alana, jemarinya mencengkeram kain celananya sendiri dengan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Apalagi Tania dari bayi sama aku. Dia belum paham apa-apa waktu mamanya meninggal. Aku yang megang dia waktu dia nangis kehausan di tengah malam, aku yang ngajarin dia merangkak, ngajarin dia jalan, sampai dia panggil aku Bunda untuk pertama kalinya..."

​Setiap kenangan itu terasa seperti sembilu yang mengiris-iris hatinya tanpa ampun.

​"Aku yang merawat dia dari bayi, May... dari dia belum bisa apa-apa sampai tumbuh jadi anak yang secerdas dan sepadai sekarang. Batinku sudah menyatu sepenuhnya sama Tania. Rasanya separuh jiwaku dicabut paksa waktu aku tahu harus melangkah keluar dari rumah itu dan ngelepas Tania..."

​Maya tidak sanggup lagi menahan rasa harunya. Air mata ikut menetes di pipi Maya melihat betapa hancurnya wanita di hadapannya ini. Tanpa ragu, Maya menggeser duduknya makin merapat dan kembali membawa tubuh Alana ke dalam pelukannya. Ia mengusap-usap punggung Alana dengan ritme yang konstan, memberikan kenyamanan dan rasa aman yang begitu ia butuhkan.

​"Aku tahu, Mbak... aku tahu banget betapa Mbak Alana sayang sama Tania melebihi anak kandung sendiri," tutur Maya lurus dan tulus di samping telinga Alana. "Aku saksinya selama bertahun-tahun ini. Aku lihat sendiri bagaimana Mbak Alana selalu menomor satukan kebutuhan Tania di atas kenyamanan dan kelelahan Mbak sendiri."

​"Aku takut, May..." isak Alana lagi di dalam dekapan Maya. "Aku takut keluarga Mas Gema bakal menanamkan hal-hal buruk tentang aku ke Tania. Aku takut adik mas Gema atau Mas Gema bilang kalau Bundanya jahat karena tiba-tiba hilang dan ninggalin dia..."

​"Nggak akan, Mbak. Percaya sama aku," potong Maya tegas namun penuh kelembutan. Ia mengurai pelukannya sedikit, memegang kedua belah bahu Alana dan menatap tepat ke dalam manik mata sahabatnya itu. "Tania itu anak yang sangat pintar dan peka. Kasih sayang dan perhatian yang Mbak berikan secara tulus selama enam tahun ini bukan sesuatu yang bisa dihapus cuma dengan bentakan atau doktrin orang lain. Anak kecil itu punya insting yang jujur, Mbak. Dia tahu siapa yang benar-benar mencintainya dengan tulus."

​Maya mengusap sisa-sisa air mata di pipi Alana menggunakan ibu jarinya.

"Untuk saat ini, Mbak Alana harus pasrah dan merelakan keadaan ini dulu. Hak asuh secara hukum memang ada di tangan Mas Gema, tapi bukan berarti ikatan batin Mbak dan Tania putus begitu saja. Setelah semua proses perceraian ini selesai, setelah emosi semua orang sudah dingin dan situasi mereda, Mbak pasti bisa cari jalan buat ketemu Tania lagi."

​"Tapi gimana kalau Mas Gema halang-halangi aku, May?" tanya Alana lirih, menyuarakan ketakutan terbesarnya.

​"Kalau Mas Gema halang-halangi, kita cari cara lain. Ada hukum, ada kebaikan, dan ada waktu yang bakal bekerja," tegas Maya memberikan kepastian. "Tapi syarat utamanya satu, Mbak: Mbak Alana harus sembuh dan utuh dulu. Kalau Mbak Alana tetap bertahan di rumah itu cuma demi Tania sambil mengorbankan kesehatan mental dan jiwa Mbak sendiri, Mbak nggak akan pernah bisa jadi ibu yang bahagia buat Tania. Tania butuh Bunda yang kuat dan bahagia, bukan Bunda yang jiwanya hancur dan terus tertekan."

​Kalimat Maya meresap pelan ke dalam sanubari Alana. Ada kebenaran yang begitu nyata dari ucapan sahabatnya itu. Selama ini, Alana selalu berpikir bahwa bertahan di tengah pernikahan yang dingin adalah bentuk pengorbanan demi Tania. Namun ia lupa, anak kecil sepeka Tania tentu bisa merasakan kepedihan dan kepura-puraan yang tersimpan rapat di balik senyuman ibunya.

​Alana menarik napas panjang, mencoba mengisi paru-parunya yang terasa sesak. Ia mengangguk pelan, menerima kenyataan pahit itu sebagai bagian dari proses yang harus ia lewati.

​"Makasih ya, May... Kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu harus lari ke mana malam ini," ucap Alana dengan tulus.

​Maya tersenyum hangat dan menggelengkan kepalanya. "Mbak nggak usah ngomong gitu. Kita ini sudah seperti saudara. Sekarang, yang penting Mbak Alana fokus menata hati dan pikiran buat menghadapi proses hukum besok."

​Maya kemudian melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul setengah ten. Ia menghela napas pendek, mengingat tanggung jawab operasional toko yang masih menunggunya.

​"Mbak Alana," panggil Maya pelan. "Aku harus balik ke Lumiere Bakehouse sebentar ya? Mas Budi dan anak-anak kasir lagi proses closing dan hitung rekap penjualan hari ini. Aku cuma mau memastikan semua peralatan dapur sudah bersih dan laporan keuangan malam ini aman sebelum toko dikunci."

​Alana mengangguk memahami. "Iya, May. Kamu balik saja ke toko. Jangan sampai pekerjaan kamu terganggu gara-gara urusanku."

​"Nggak terganggu sama sekali, Mbak," potong Maya cepat. "Aku cuma balik sekitar satu jam. Setelah toko dikunci rapat dan anak-anak pulang, aku langsung balik ke kamar kosku di sebelah. Nanti kunci kamar Mbak aku pegang satu, Mbak kunci dari dalam ya demi keamanan."

​Maya berdiri dari tepi kasur, membetulkan letak pakaiannya, lalu menyusun piring makanan yang belum tersentuh tadi ke atas meja agar tidak dihinggapi lalat. Ia menatap Alana sekali lagi dengan tatapan penuh perlindungan.

​"Mbak Alana jangan melamun terus ya. Jangan lupa dikunci pintunya setelah aku keluar," pesan Maya tegas.

​"Iya, May. Hati-hati di jalan," balas Alana tipis.

​Maya tersenyum, mengacungkan jempolnya, lalu melangkah keluar dari kamar nomor 04 dan menutup pintunya dengan pelan. Suara derap langkah kaki Maya yang menuruni tangga semen perlahan-lahan makin menjauh, hingga akhirnya lenyap ditelan kesunyian malam.

​Begitu ditinggal sendirian, kamar kos berukuran empat kali empat meter itu terasa makin hening. Namun, tidak ada lagi histeria atau tangisan berderai. Rasa lelah yang sangat berat secara fisik dan emosional mulai menjalar ke seluruh persendian Alana.

​Alana bangkit berdiri dari kasur busa. Ia berjalan menuju pintu, memutar kunci kait dua kali, dan memasang slot pengaman tambahan sesuai pesan Maya.

​Setelah memastikan pintu terkunci rapat, Alana berbalik dan melangkah perlahan menuju kamar mandi kecil di sudut ruangan. Ia menyalakan lampu kamar mandi yang memancarkan cahaya putih terang, menatap bayangan dirinya sendiri di cermin gantung yang agak buram.

​Di dalam cermin itu, berdiri seorang wanita dengan mata sembap, hijab yang kusut dan wajah polos tanpa make-up. Namun, di balik keletihan yang amat sangat itu, Alana melihat sesuatu yang sudah lama hilang dari sorot matanya sebuah ketegasan dan keberanian untuk memegang kendali atas hidupnya sendiri.

​Alana memutar kran shower. Air dingin menyembur keluar dengan deras, membasahi lantai keramik.

​Alana memutuskan untuk mandi sore ini. Ia butuh air dingin itu untuk membasuh habis sisa-sisa debu, keringat, dan jejak emosi kelam dari rumah yang baru saja ia tinggalkan. Ia ingin menyucikan dirinya, menyambut lembaran baru dalam hidupnya sebagai seorang wanita yang mandiri dan merdeka.

1
Elina thea
next....
Sri Widiyarti
nyesek banget 😭😭😭
Sasikarin Sasikarin
kok g greget Thor 2 bab ini 🙏
Ma Em
Bagus Alana keputusan Alana sdh benar jgn menyiksa diri sendiri hanya untuk membahagiakan orang lain lbh baik Alana cari kebahagiaan Alana sendiri , semoga Alana dapat pengganti gema lelaki baik yg mencintai dan menyayangi Alana 🤲🤲.
Arieee
mantap alana💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
Sri Widiyarti
nyesek banget Alana 😭 semoga author kasih pasangan hidup yang memuliakan Alana ...
Zhafran Althaf
good job alana
Lee Mba Young
eleh paling nnti juga balikan🤣. soale yg bucin Alana nya nnti dng alasan Tania pasti balikan.
Chintya Ananda
bagus alana pergilah dan raihlah kebahagiaanmu...lanjut thor💪💪
Lee Mba Young: nnti pling juga balikan, biasanya bgitu sih 🤣.
total 1 replies
sutiasih kasih
telatttt gema....
kmana aja km 6 th ini🤔🤔🤔
sutiasih kasih
bukan tiba" dodol.....
justru alana sdh sangat siap melepas org" yg tak tau diri.....
sutiasih kasih
keren g tuh......
brtahun lamanya brtahan dlm ksakitan.... akhirnya mmbuat kputusan yg bkal mnnghuncangkn jiwa suami egois dan tak tau diri😅😅
Elina thea
akhirnya Alana membuat keputusan yg benar👍... please Alana setelah ini kamu harus lebih berani kalo di rendahkan ibumu atau orang lain,jangan mudah luluh sampai rujuk lagi kayak cerita kebanyakan yah...
Susi Susanti: ini judul nya mesti di balik🤭
total 1 replies
Elina thea
memang mikirnya harusnya kesana alana...buat apa mempertahankan pernikahan dgn alasan anak kalo diri sendiri udah sakit,sakit secara fisik masih bisa ke dokter untuk bisa sembuh...tapi batin dan jiwa yg sakit,sekalipun bibir berucap sudah ikhlas dan memberikan kesempatan kedua belum tentu bisa sembuh meski dalam waktu yg panjang,karna sakit batin yg tidak terlihat justru akan slalu di ingat dan akan jadi bayangan di dalam pernikahan...
Sri Widiyarti
Ya Allah terbayang diposisi Alana 😭😭😭
Arieee
menguras emosi💪💪💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
sutiasih kasih
pdahal alana bukan perempuan biasa lho....
dia perempuan mandiri... sukses & hatinya baik...
tpi memang org" di skitrnya bneran buta mata dan hatinya....
sutiasih kasih: suka heran dgn mereka...
ap lgi ibunya Alana tuh.... g tau malu... minta uang buat selametan kirana... tpi mulutnya paling pintar mncaci dan merendhkn Alana....
kpan sih ibunya Alana kena stroke🙄🙄
total 2 replies
sutiasih kasih
kpan ibu durjananya kena stroke🤔🤔
sutiasih kasih
mau km tebus pke apa.... luks hati istrimu slm ber tahun lamanya....
blcak areng
terima kasih kakak 🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!