Wanita desa menjadi tulang punggung keluarga, semenjak Bapaknya meninggal dunia. Hanum tinggal bersama sang ibu. Ibu yang setiap hari menjual sayuran keliling untuk mencukupi hidupnya.
Usai penderitaan Hanum, tapi ia masih berdiri tegar agar ibunya senang.
Namun jalan tak begitu mulus, kini Hanum tengah di nikahi oleh seorang lelaki yang amat ia cintai, seorang anak pengusaha sukses sebagai CEO.
Namun takdir berkata lain, lelaki yang justru di idamkan oleh Hanum tak sesuai harapan.
Menikah hanya sebuah terpaksa, Arkan enggan menyentuh Hanum karena dari keluarga miskin.
Tapi percayalah kedua orangtua pihak lelaki lebih menyayangi menantu dari anak sendiri.
Riswan akan mengangkat derajat Hanum sebagai CEO, setelah apa yang di perbuat anaknya.
Akankah Arkan mengetahui hal tersebut, apakah ada kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Rohimah II, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gejolak Hati Riana
Dokter Fahri menghubungi nomor telepon Hasan, Alhamdulillah menyambung. Namun tangisan Fatimah tak kunjung reda.
Bayangkan Hanum terjadi sesuatu, Fatimah tak sanggup menahan itu semua.
"Ma, akhirnya kita bisa ketemu Kak Hanum. Sekarang Kak Hanum ada di RS CENDANA HARAPAN. Ma, semuanya baik-baik saja. Jangan khawatir," ucap Hasan, ia tampak khawatir, namun juga kecewa setelah apa yang Hasan liat jika Kaka mengkhianati kepercayaan dalam sebuah pernikahan.
Fatimah mengangguk pasrah, tidak berjumpa dengan Hanum saja setengah mati. Jika berjumpa dengan Arkan, Fatimah mau sampai kapanpun tidak akan pernah meminta.
Mobil yang dikendarai oleh Hasan kini dalam keadaan macet, suasana lagi tegang tapi pikirannya entah kemana.
"San, lebih cepat lagi. Mama ga mau lihat Kaka ipar kamu terjadi sesuatu, Mama takut, San."
Hasan mengangguk pasrah tidak bisa menjamin jika lalu lintas jalan sangat macet. Tapi Hasan akan membawa Fatimah ke RS. Bahkan Hasan juga rindu dengan Kaka Iparnya.
......
Jarak dan waktu akan bisa mengambil semua pelajaran, tidak hanya itu saja jika Riana senang bisa duduk dan bermanja dengan Arkan. Tapi sayang, Arkan memandang Riana adalah wanita setia.
Arkan mencintai Riana lebih dari arti, setiap nama Riana akan terpampang di depan hatinya.
Namun sayang, setelah Hasan dan Papa pulang ia malah mendengar kabar buruk. Apa yang harus Arkan lakukan?
"Sayang, kamu mau kan nikahi gue secara agama, bukan diatas kertas saja."
"Iya sayang, Mas janji. Tapi tidak sekarang."
"Kenapa?" Apa mas mendengar cerita buruk tentang mereka. Tadi maaf, jika gue udah kasar sama nyokap, sayang. Tapi gimana dapat ampunan nya," ujar Riana, ia terus memikirkan bagaimana agar rencana ini berjalan mulus seperti tujuan Riana ingin mendapatkan harta milik Arkan.
Arkan frustasi, tangan nya memegang kepala. Sedangkan ia sendiri pun bingung. Riana berkeliling mengitari depan rumah hingga belakang taman. Tidak perduli, rumah siapa ia menginjak tanpa kepentingan jelas.
Tanpa disadari, Riswan mendengar kebisingan dari bawah ruang tamu. Merasa jika tidur tak nyaman. Riswan keluar, mencuci wajah dan tidak lupa sikat gigi.
Saat langkah Riswan turun dari anak tangga, Riana yang sedang melihat taman belakang. Riswan berjumpa dengan anaknya.
Memeluk Arkan, seolah Arkan lebih dewasa dan tinggi.
"Arkan, kenapa kamu tak bangunin, Papa."
Arkan melongo melihat penampilan Riswan, gagah seperti anak muda. Penampilan Riswan bukan seorang pria tua yang sudah tumbuh uban, gigi tinggal dua, dan kurus. Tapi selama di luar kota, Riswan ingin menampilkan tubuh hanya kepada istrinya.
"Papa!" Apa kabar, Pa." Tanya Arkan ia tampak senang namun firasat sangat buruk.
"Baik, Arkan!" Bagaimana perusahaan kita, apakah berjalan dengan baik. Apakah ada komplen karyawan kita, Nak."
Arkan membisu, kalimat Riswan banyak sekali. Membuat Arkan geleng kepala. Arkan lupa, jika ia membawa Riana kedalam rumah tersebut.
"Alhamdulillah baik, Pa. Tidak ada kendala, Pa," Ujar Arkan, pandangan melihat Riana. Tapi sayang Riana tak menampakkan batang hidungnya.
Riswan seperti ada yang tidak beres dengan anaknya, sikap sangat berbeda. Namun karena Arkan mengendalikan perusahaan, mungkin kerja keras menumpuk sehingga banyak tukar pikiran.
"Gimana kamu dengan Hanum, kapan kasih Papa cucu. Apakah hubungan Arkan dan Hanum baik-baik aja."
Mendelik tajam mengarah pada ucapan Riswan.
"Cucu?" Saya ga pernah menyentuh, Hanum. Bisa ga jangan bahas anak," batin Arkan mulai mendidih, jantung tak karuan pertanyaan demi pertanyaan oleh Papa nya.
"Arkan!" Papa bercanda, tapi Papa tau kamu sedang capek mengurus perusahaan. Besok Papa ingin lihat perkembangan Perusahaan Papa."
Deg!
"Mam***, gimana kalau saya tidak fokus. Bisa-bisa kena lampu merah. Moga Papa ga jadi datang."
Riswan membanting meja, seolah Riswan bertanya dengan siapa? Dulu sebelum Arkan menikah, sifat nya diajak mengobrol dengan orangtua sangat baik, cepat, tanggap. Namun sekarang, Riswan seperti berbicara dengan orang bodoh.
Karena semakin banyak pertanyaan, Riswan ingin kembali ke dapur. Sangat lapar, perutnya mendadak perih.
Tindakan Arkan segera berlari, karena di sana ada Riana. Jika ketahuan bisa mati lampu.
"Pa!" Biar, Arkan aja yang ngambil makanan nya. Papa tunggu disini."
"Aneh kamu, ini rumah Papa. Masa ga boleh, udah kamu susul Mama, Hasan dan Istri kamu, Papa masih sehat," tukas Riswan, ia melihat jika sorot mata Arkan mencemaskan.
"Tapi Pa, Arkan juga mau makan. Lapar."
Sementara Riana sempat mendengar percakapan ribut didepan. Riana meninggalkan taman belakang.
Saat Riana ingin ke taman belakang, Riswan dengan kagetnya melihat ada perempuan lain selain keluarga ini.
"Hey kamu kesini, siapa kamu?"
Riana sebal, ia malah disuruh datang kesana. Riana pun menghina Riswan, bahkan ia tidak mengetahui jika itu adalah orangtua Arkan.
"Kok bisa ada Kakek tua datang kesini, seharusnya gue tanya, kamu siapa?" Sekarang kamu pergi, Kakek tua."
Amarah Riswan menggelegar, tak disangka jika kecurigaan jika Arkan membawa wanita lain.
"Kamu berani menantang, Papa. Sekarang kamu pergi saja, jangan singgah kerumah ini"
"Papa?"Kakek tua jangan ngaku-ngaku. Arkan ini punya kedua orangtua saling mengenal, bukan kayak gini aslinya," titah Riana, ia semakin mengasal, jika Arkan menyebut seorang pembantu yang akan mengurus rumah.
"Hadehhh, kayak mana ini, Riana. Kamu sudah buat kelurga ku berantakan."
"Papa, tahan emosi!" Dia ini pembantu rumah kita, namanya Iyem. Papa, sekarang Papa mau makan, tolong Iyem buatkan Kesukaan Papa ku, nasi goreng."
Tidak terima dengan ucapan Arkan, ia memijak kaki Arkan. Apapun itu bentuknya sudah menghina seorang. Dari samping Arkan memberi kode agar Riana mengikuti perintahnya.
"Betul dibilang anak, Pak Riswan. Saya Iyem, dari Wonosobo. Mari Pak, saya buatkan dulu nasi gorengnya."
Arkan ingin tertawa terbahak-bahak setelah Arkan asal menyebut nama Riana dengan nama samaran. Bagaimana tidak, Riswan dengan kagetnya melihat ada pembantu rumah tangga speak Lc.
Riswan duduk anteng, ia sembari menghidupkan kembali siaran tv. Sudah lama tak melihat berita.
Saat berita yang lain, bukan kepalang sakitnya luar biasa. Viral berita Hanum menyelamatkan anak laki-laki.
"Hanum, itu kan Menantu ku. Yaa Allah, Hanum."
"Arkan, cepat kesini. Arkan."
Arkan memang pura-pura tidak mendengarkan, ia sudah capek dengan sikap orangtua yang selalu menanyakan perihal cucu.
Namun karena Riana tidak suka bau amis di dapur, ia malah keluar dari dapur. Sayangnya, mulut tak bisa direm. Yang lebih parah, Riana disebut pembantu dengan nama samaran Iyem.
Saat Riana ingin mengambil sesuatu dari depan, terkejut melihat berita terkait dengan bocah laki-laki terjepit di balik kayu bergerombolan.
"Chandra!" mengapa ia bisa kabur dari rumah, awas kamu Chandra. Kaka ga akan melepaskan kamu, kamu sudah buat ibu bapak menderita."
Riswan sedang mencari dimana informasi mengenai Hanum, ia malah di kejutkan seorang pembantu jika itu adalah adik kandungnya yang tengah kabur dari rumah. Dikarenakan kedua orangtuanya Kdrt membuat Bocah laki-laki itu harus milih pergi atau tetap dirumah dengan lingkungan toxic.