Indonesia
NovelToon NovelToon
Rumah Yang Menggantikan Aku

Rumah Yang Menggantikan Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Pengganti / Kehidupan di Kantor / Keluarga & Kasih Sayang / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: A. A. Pusung

Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Suamiku Tidak Mengenaliku

Suara Mbok Rini gemetar, tetapi cukup jelas untuk memutus semua bisik-bisik di ruangan. Gelas yang hendak diletakkan tertahan di udara. Bahkan anak-anak yang sejak tadi berlarian ikut berhenti.

Kaluna berdiri di dekat pintu utama dengan pecahan kaca berserakan beberapa langkah di depannya. Mata Mbok Rini berkaca-kaca. Kedua tangannya terangkat di depan dada, ingin mendekat, tetapi ragu seakan Kaluna bisa menghilang kapan saja.

“Itu Nona Kaluna,” katanya lagi. “Saya tidak mungkin salah.”

Seorang tamu yang berdiri di dekat meja hidangan berbisik kepada temannya.

“Mirip sekali.”

“Jangan-jangan cuma kebetulan.”

“Mana mungkin orang mati tiba-tiba datang ke acara kematiannya sendiri?”

Bisikan lain segera menyusul.

Kaluna mendengarnya tanpa menoleh. Di tengah ruangan, Arsen berdiri beberapa langkah dari Veyra dan Elara. Wajahnya memucat, lalu rahangnya mengeras saat berusaha menguasai diri.

Veyra lebih cepat bergerak. Ia menarik Elara ke sisinya dan meletakkan tangan di bahu anak itu, seperti seorang ibu yang sedang melindungi anaknya dari sesuatu yang belum mereka pahami.

Elara memperhatikan Kaluna dari balik tubuh Veyra.

“Siapa dia, Ma?” tanyanya pelan.

Veyra menunduk sebentar. “Mama belum tahu.”

“Tapi Mbok Rini memanggilnya Kaluna.”

Veyra mengusap rambut Elara.

“Kita tunggu Papa bicara, ya.”

Jemari Veyra masih mencengkeram bahu Elara sedikit lebih erat.

Naren berdiri di samping Kaluna, tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk menghadang siapa pun yang mencoba mendekat tanpa izin. Beberapa orang mulai mengangkat telepon.

Naren segera maju setengah langkah.

“Jangan direkam.”

Seorang pria yang sudah memegang telepon menatapnya dengan tidak suka. “Ini rumah keluarga Mahardika.”

“Iya. Tetap jangan.”

Nada bicara Naren tidak tinggi. Beberapa tamu menurunkan telepon.

Arsen akhirnya bergerak. Ia berjalan mendekati Kaluna dengan langkah pelan. Setiap langkahnya terasa berat. Kaluna tidak mundur. Jarak di antara mereka semakin dekat.

Arsen memperhatikan wajah Kaluna dengan teliti. Matanya menyusuri dahi, pelipis kiri, hidung, lalu berhenti cukup lama pada bibir Kaluna. Kaluna membiarkannya.

Kaluna tahu wajahnya tidak lagi persis sama. Bekas luka di dekat pelipis mengubah sedikit sisi kirinya, dan tubuhnya jauh lebih kurus. Tiga tahun menjalani pengobatan, menahan sakit kepala, serta mengumpulkan ingatan yang pulang sedikit demi sedikit telah meninggalkan banyak perubahan.

Meski begitu, ia tetap Kaluna.

Tenggorokan Arsen bergerak.

“Siapa kamu?”

Kaluna sempat kehilangan napas.

Ia menarik napas sebelum menjawab, “Kaluna Adiswara.”

Beberapa orang kembali berbisik. Arsen tidak bereaksi selama beberapa detik. Ia menggeleng kecil.

“Kaluna sudah meninggal.”

“Tubuhku tidak pernah ditemukan.”

“Mobilmu ditemukan di sungai.”

“Mobilku, bukan tubuhku.”

Arsen menarik napas panjang. Wajah Arsen kembali kaku. Ia tampak belum siap menerima kemungkinan bahwa perempuan di depannya benar-benar Kaluna.

“Kamu pikir datang begini saja kami langsung percaya?”

Kaluna merasakan sesuatu menusuk dadanya, tetapi ia tidak memperlihatkannya.

“Wajah seperti ini?”

“Kamu mirip dia.” Arsen berhenti sebentar. “Sangat mirip.”

“Aku memang dia.”

“Jangan.”

Suara Arsen terdengar lebih keras.

Elara tersentak dan semakin merapat kepada Veyra. Kaluna menangkap gerakan itu, lalu menahan dirinya agar tidak melangkah mendekat.

Arsen beralih kepada para tamu yang mulai berkerumun.

“Semua berhenti merekam,” katanya. “Simpan telepon kalian.”

Tidak ada yang langsung bergerak.

Arsen mengulang dengan nada lebih tegas, “Sekarang.”

Satu per satu telepon diturunkan.

“Acara selesai,” lanjutnya. “Saya minta semuanya pulang.”

Beberapa tamu tampak kecewa, tetapi tidak ada yang berani membantah. Mereka mulai mengambil tas dan berjalan menuju pintu sambil sesekali memperhatikan Kaluna.

Mbok Rini masih berdiri di tempatnya.

“Nona, saya tahu ini Nona,” katanya. “Kalau gugup, Nona Kaluna selalu mengusap kuku jempolnya. Dari dulu begitu.”

Kaluna menunduk. Tanpa disadari, jari telunjuknya memang sedang mengusap kuku jempol kiri.

Arsen ikut memperhatikan gerakan itu. Raut wajahnya berubah sesaat, lalu kembali kaku.

“Kebiasaan seperti itu bisa dipelajari.”

Mbok Rini menggeleng cepat. “Tapi, Tuan...”

“Mbok, tolong bawa Elara ke atas.”

Elara memperhatikan Arsen.

“Kenapa aku harus ke atas?”

Veyra menunduk di sampingnya. “Karena sudah malam.”

“Tapi siapa dia?”

Kaluna menangkap rasa ingin tahu di mata putrinya, bercampur dengan kebingungan. Tidak ada pengenalan ataupun kerinduan. Hanya tatapan seorang anak kepada perempuan asing yang wajahnya sama seperti foto di ruang keluarga.

Elara menunjuk foto besar di atas meja.

“Kenapa wajahnya sama seperti foto Mama Kaluna?”

Tak ada yang segera bicara.

Dada Kaluna mengencang. Veyra mengalihkan pandangan kepada Arsen, menunggu jawaban. Lelaki itu berdiri kaku.

Kaluna ingin mengatakan bahwa dialah perempuan dalam foto itu. Ia ingin mendekat, berjongkok di depan Elara, dan menjelaskan semuanya selembut mungkin.

Begitu mata mereka bertemu, Elara malah bersembunyi di belakang Veyra.

Kaluna menghentikan langkah sebelum sempat dimulai. Ia tidak boleh memaksa.

Tidak malam ini.

Naren memberi isyarat kecil. Kaluna langsung mengerti. Ia mengangguk.

Veyra merangkul Elara.

“Kamu ke atas dulu bersama Mbok Rini.”

“Aku mau sama Mama.”

“Aku ikut mengantar.”

Veyra belum sempat bergerak ketika Arsen kembali beralih kepada Kaluna.

“Siapa yang menyuruhmu datang?”

“Tidak ada.”

“Lalu apa maumu?”

“Aku datang ke rumahku.”

“Itu bukan jawaban.”

“Karena pertanyaanmu salah.”

Arsen mengembuskan napas kasar.

“Baik. Kamu datang ke sini, mengaku sebagai istriku yang sudah meninggal tiga tahun lalu, lalu berharap kami percaya begitu saja?”

“Aku tidak mengharapkan apa pun darimu.”

Arsen terdiam mendengarnya.

Kaluna melanjutkan, “Aku cuma mau bilang aku masih hidup.”

“Kalau benar kamu Kaluna, kenapa baru sekarang?”

Kepala Kaluna berdenyut. Bayangan air gelap, suara logam, dan cahaya yang pecah melintas sekilas. Ia memejamkan mata sebentar sebelum menghadap Arsen lagi.

“Aku kehilangan sebagian ingatanku.”

Arsen tertawa pendek tanpa sedikit pun rasa lucu.

“Tentu saja.”

“Kamu tidak harus percaya malam ini.”

“Terus aku mesti percaya kapan? Setelah bawa dokumen? Atau setelah minta uang?”

Kaluna memperhatikannya.

“Jadi, itu yang kamu pikirkan?”

“Aku tidak tahu apa yang harus kupikirkan.”

“Mulai dari satu hal saja. Tubuhku nggak pernah ditemukan.”

Arsen menegang.

Veyra, yang sejak tadi diam, akhirnya berbicara.

“Arsen, mungkin sebaiknya kita membicarakan ini di ruangan lain.”

Nada suaranya lembut. Tidak terdengar ancaman ataupun kemarahan. Wajah Veyra semakin pucat.

Arsen tidak menjawab saran itu. Perhatiannya tetap tertuju kepada Kaluna.

“Kamu bisa cari tahu soal kami. Foto, berita, macam-macam.”

“Tidak semuanya.”

“Apa maksudmu?”

“Ada hal yang tidak pernah masuk berita.”

Arsen maju satu langkah.

“Kalau begitu, buktikan.”

Kaluna diam beberapa detik.

Ia memiliki banyak ingatan tentang Arsen. Cara lelaki itu tidur dengan satu tangan di bawah bantal. Kebiasaannya meminum kopi saat masih terlalu panas. Cara ia selalu memeriksa pintu dua kali sebelum tidur meskipun sudah yakin pintu itu terkunci.

Kebiasaan seperti itu mungkin diketahui orang lain.

Kaluna membutuhkan sesuatu yang hanya menjadi milik mereka berdua.

Pandangan Kaluna turun ke bahu kanan Arsen.

“Kamu punya bekas luka di bawah tulang belikat kanan.”

Arsen tidak bergerak.

“Bentuknya seperti bulan sabit,” lanjut Kaluna. “Tipis, tetapi warnanya masih lebih gelap daripada kulit di sekitarnya.”

Beberapa orang yang belum benar-benar meninggalkan ruangan saling berpandangan.

Rahang Arsen bergerak pelan.

“Banyak orang punya bekas luka.”

“Benar.”

“Dan keluargaku tahu tentang luka itu.”

“Mereka tahu ada lukanya. Mereka nggak tahu dari mana.”

Arsen kembali diam.

Veyra memperhatikannya dari samping.

“Kamu bilang kepada semua orang kalau luka itu berasal dari kecelakaan waktu kecil,” katanya. “Padahal bukan.”

Arsen tidak menjawab.

“Itu waktu malam kedua bulan madu kita.”

Napas Arsen tertahan.

“Kamu mencoba membuat teh sendiri karena bilang aku terlalu lama di kamar mandi. Ketelnya jatuh ketika kamu menarik kabelnya terlalu keras. Air panas mengenai punggungmu.”

Arsen terpaku di tempat.

“Kamu marah sepanjang malam,” lanjut Kaluna. “Bukan karena sakit. Kamu malu kalau harus menjelaskan kejadian itu kepada dokter hotel.”

Sudut bibir Kaluna hampir terangkat, tetapi segera ditahannya.

“Aku yang membersihkan lukanya. Aku juga yang mengoleskan obat sampai pagi karena kamu terus mengeluh perih, tetapi tetap menolak pergi ke klinik.”

Arsen tanpa sadar menggerakkan bahu kanannya.

Gerakan itu sangat kecil, tetapi Veyra melihatnya.

Wajah perempuan itu semakin kehilangan warna.

Elara masih bersembunyi di belakang Veyra. Hanya separuh wajahnya yang terlihat.

Kaluna diam.

Ia tidak perlu mengatakan apa-apa lagi.

Arsen tetap berada di tempatnya beberapa saat.

Kemarahan di wajahnya belum hilang. Ada takut di sana. Juga ragu. Lalu sebuah ingatan yang hanya mereka berdua punya.

Bibir Arsen bergerak pelan.

“Luna.”

Dada Kaluna menegang mendengar panggilan itu.

Arsen hampir tidak pernah menggunakannya di depan orang lain. Biasanya hanya saat mereka berdua, ketika ia hendak meminta maaf atau Kaluna terlalu marah untuk menjawab.

Kini Arsen seperti baru benar-benar mengenalinya.

“Kau benar-benar Kaluna?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!