Indonesia
NovelToon NovelToon
Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Benih Jenderal Di Rahim Istri Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Sadhana Abhiseva, seorang Jenderal muda yang mendapat misi atau tugas besar Negara yang sangat berbahaya begitu selesai melaksanakan proses pelantikannya. Hampir 4 tahun lamanya, ia menyamar sebagai salah satu anggota klan mafia tersebut. Akan tetapi, ia tidak pernah menggapai inti klan mafia tersebut.

Hingga akhirnya ia terpilih menjadi salah satu orang kepercayaan yang akan selalu berada di sisi Revaldo Arsenalio, sang pemimpin atau ketua klan mafia Black Gold. Namun, rupanya harga kepercayaan itu begitu mahal untuk ia bayar.

"Untuk menjadi salah satu tanganku. Aku ingin kau melaksanakan sebuah tugas khusus untukku."

"Saya siap."

"Aku ingin kau menghamili istriku."

“….”

Ya, ia diperintahkan untuk menghamili istri sah Reval, Jenara Elendria. Saat itulah, untuk pertama kalinya Dhana ragu untuk melanjutkan misinya atau memilih berhenti.

Akankah Dhana melaksanakan perintah Reval dan menyelesaikan misi Negaranya? Atau mungkin sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

23. Salah Paham Part.2

Dhana mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Ia tidak menyukai pertanyaan itu, tidak … lebih tepatnya ia tidak menyukai situasi saat ini. Dimana misi negaranya memang berjalan lancar tetapi harus dibangun dengan menghancurkan kehormatan dan hidup seorang wanita.

Jenara tersenyum tipis, tetapi senyum itu sama sekali tidak mengandung kebahagiaan. "Atau menurutmu aku dan anak ini memang hanya bagian lain dari rencanamu?"

"Nyonya..."

"Seperti yang dilakukan Reval." Satu kalimat itu membuat Dhana terdiam.

Jenara menundukkan pandangan pada perutnya sendiri. "Dia mendapatkan apa yang dia mau dariku." Kemudian matanya kembali terangkat. "Dan kau juga."

Dhana ingin menyangkalnya. Ingin mengatakan bahwa semuanya tidak sesederhana itu. Bahwa sejak awal ia tidak pernah berniat menjadikan Jenara sebagai alat. Bahwa anak yang tumbuh di dalam kandungannya bukan sekadar bagian dari penyamaran atau strategi. Namun semua kata itu berhenti di tenggorokannya. Karena di hadapan Jenara, setiap penjelasan terdengar seperti alasan.

"Aku tidak pernah menganggap mu sebagai alat," ucap Dhana akhirnya, suaranya rendah.

Jenara tertawa kecil. "Benarkah?"

Dhana hanya mampu menatapnya dalam diam.

"Kalau begitu, kenapa kau datang menemuiku sekarang setelah rencanamu berhasil?" Pertanyaan itu menghantam lebih keras daripada yang seharusnya.

Dhana tidak segera menjawab. Karena untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mungkin bukan hanya dirinya yang takut dengan kebenaran yang sedang mereka hadapi. Jenara juga sedang menunggu satu hal darinya. Bukan kabar tentang keberhasilan Reval. Bukan pula pengakuan tentang kehamilannya melainkan jawaban atas satu pertanyaan yang jauh lebih sederhana.

Apakah Dhana datang sebagai seorang anak buah yang sedang menjalankan tugas? Atau sebagai laki-laki yang benar-benar peduli kepadanya? Dhana menatap Jenara dalam diam. Dan untuk pertama kalinya sejak penyamarannya dimulai, ia tidak tahu jawaban mana yang paling aman untuk diberikan untuk pertanyaan itu.

Dhana tetap berdiri di tempatnya. Pertanyaan Jenara masih menggantung di antara mereka. “Apakah kau juga merasa puas?”

Ia seharusnya bisa menjawab. Seharusnya ada satu kalimat yang mampu membuat perempuan itu mengerti bahwa semua yang terjadi bukan sekadar bagian dari rencana. Bahwa kehamilan itu bukan sesuatu yang pernah ia rencanakan. Bahwa bayi yang dikandung Jenara tidak pernah ia anggap sebagai alat untuk mencapai tujuan.

Namun bibir Dhana tidak bergerak. Tidak ada satu pun jawaban yang keluar. Dan diam itu sudah cukup menjadi jawaban bagi Jenara. Tatapan perempuan itu berubah. Kekecewaan yang sebelumnya hanya bersembunyi di balik ketenangan kini terlihat jelas.

"Begitu rupanya."

"Nyonya Jenara—"

"Keluar." Tapi Dhana masih terdiam.

"Aku bilang keluar." Nada suara Jenara bergetar. Bukan karena takut, tapi karena marah.

"Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan. Rencanamu berhasil. Reval mempercayaimu. Kau bahkan berhasil mendapatkan posisi yang selama ini kau incar."

Jenara menunjuk ke arah pintu. "Jadi tidak ada alasan lagi bagimu untuk berada di sini, bukan?"

"Aku datang karena—"

"Aku tidak peduli."

Dhana mengatupkan rahangnya. Jenara mengusap cepat sudut matanya, seolah menolak membiarkan air mata itu jatuh di hadapannya.

"Pergi, Sialan."

Kali ini suaranya jauh lebih lirih. Justru karena itu, Dhana tidak sanggup membantah. Ia menatap Jenara beberapa saat sebelum akhirnya berbalik. Langkahnya terasa berat ketika meninggalkan kamar itu.

Pintu tertutup. Dan begitu suara kunci terdengar dari dalam, Jenara akhirnya kehilangan seluruh kekuatan yang sejak tadi ia gunakan untuk bertahan. Tubuhnya merosot perlahan di balik pintu. Tangannya menutup mulut untuk menahan suara tangis yang pecah. Namun sia-sia, karena isakannya malah semakin terdengar.

Jenara memeluk dirinya sendiri, kemudian tangan satunya turun menyentuh perutnya. "Maaf..." Air mata mengalir tanpa henti. "Maafkan Ibu."

Ia tidak tahu kepada siapa permintaan maaf itu ditujukan. Kepada dirinya sendiri, kepada bayi yang belum lahir. Atau kepada perasaan yang sejak awal seharusnya tidak pernah ia percayakan kepada siapa pun.

...****************...

Di sisi lain pintu, Dhana masih berdiri. Ia mendengar semuanya. Setiap isakan yang berusaha disembunyikan Jenara. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia ingin kembali mengetuk, ingin meminta maaf. Tetapi ia tahu kehadirannya hanya akan membuat luka itu semakin dalam.

Akhirnya Dhana berjalan menjauh. Malam itu ia tidak tidur. Ia terus memikirkan satu hal yang sama. “Jenara dan bayi itu seharusnya tidak pernah terlibat dalam perang yang bukan milik mereka.”

Ia datang ke dunia Reval sebagai seorang jenderal yang menyamar demi negara. Namun dalam prosesnya, ia telah menyeret seorang perempuan yang tidak pernah meminta apa pun darinya. Dan seorang bayi yang bahkan belum mengenal dunia. Untuk pertama kalinya, keberhasilan sebuah misi terasa seperti kegagalan terbesar dalam hidupnya.

...****************...

Rupanya kabar tentang kehamilan Jenara sudah terdengar sampai ke telinga keluarga Utama Arsenalio. Dan bagi Tuan Algra, kabar itu adalah hadiah yang selama ini diam-diam ia tunggu. Seakan usaha mendesak Reval untuk segera memiliki keturunan tidak sia-sia selama ini.

“Tuan, ada kabar dari dokter keluarga kalau Nyonya Jenara saat ini tengah mengandung.”

“Benarkah?” Suara lelaki tua itu terdengar bergetar ketika pelayan menyampaikan berita tersebut.

“Benar, Tuan. Nyonya Jenara sedang mengandung.”

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, wajah keras Tuan Algra berubah menjadi begitu cerah. Setelah lima tahun pernikahan Reval dan Jenara, mereka akhirnya diberikan keturunan yang sudah lama dinantikannya.

“Cicitku…” Satu kata itu keluar nyaris seperti bisikan.

“Tunggu apa lagi! Suruh Elena dan ketiga anak itu untuk ikut denganku menjenguk cucu menantuku itu. Siapkan juga hadiah terbaik untuknya.” Ia segera memerintahkan seluruh keluarga utama Arsenalio bersiap mengunjungi mansion Reval.

“Baik, Tuan!” Tidak ada seorang pun yang berani membantah.

Beberapa jam kemudian, iring-iringan mobil keluarga Arsenalio memasuki halaman mansion. Tuan Algra turun paling dahulu. Di belakangnya menyusul Nyonya Elena dengan ekspresi yang sulit dibaca, Levandro yang tetap tenang seperti biasa, serta si kembar Avalina dan Evano yang sejak perjalanan tadi tak henti-hentinya bertukar pandang.

Mereka semua datang dengan alasan yang sama yaitu menyambut calon anggota baru keluarga Arsenalio. Setidaknya, itulah alasan yang dipercayai Tuan Algra. Meski sebenarnya Nyonya Elena dan ketiga anaknya yang lain lebih ingin memastikan apakah anak yang dikandung wanita itu adalah milik Reval. Mengingat selama ini Reval tidak pernah menyukai wanita itu dan juga ada Vara diantara keduanya.

Begitu Jenara muncul di ruang utama, mata lelaki tua itu langsung tertuju pada perutnya yang masih belum terlalu terlihat.

“Jenara.” Senyum lebar menghiasi wajahnya. “Kemari, Nak.”

Jenara melangkah mendekat dengan hati-hati. Tuan Algra menggenggam kedua tangannya. “Kau membuat lelaki tua ini sangat bahagia.”

Jenara menunduk. “Terima kasih, Kakek.”

“Astaga, aku masih saja tidak menyangka kalau saat ini kau sedang mengandung cicitku… anaknya Reval.” Tuan Algra terkekeh.

Bersambung….

1
InaraAp 09
Lanjut Thor semakin seru ceritanya
InaraAp 09
bagus dhana
InaraAp 09
hati2 dhana, jangan sampai kebongkat
InaraAp 09
lanjut thor
InaraAp 09
jujur pengin nampol Elena dan anaknya
InaraAp 09
gak bisa bayangkan di posisi jenara
InaraAp 09
benar dhana harus tepati janjimu
InaraAp 09
Jadi dhana pasti serba bingung🤔
Sri Yatun
apa sudah tau ke 4 orang itu tentang penyamaran dhana
Fahmi Ardiansyah
iya mungkin jenara gak ada yang bisa di katakan LG.krn dhanagak mau bekerja sama dgn dirinya.
Fahmi Ardiansyah
semoga Reval gak berbuat curang sama dhana.
Fahmi Ardiansyah
setelah tau markasnya kmu harus menyusun rencana sebaik mungkin dhana.biar Reval hancur sampai akarnya.
InaraAp 09
besok up yang banyak kak
InaraAp 09
pantas saja
InaraAp 09
semakin penasaran
InaraAp 09
semakin seru....
InaraAp 09
🤔
InaraAp 09
berharap beneran padahal
InaraAp 09
semangat lanjut up... seruuu
InaraAp 09
up lagi dong kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!