Status adik angkat tak pernah membuatku aman dari mereka."
Bertransmigrasi ke tubuh figuran yang diangkat anak oleh keluarga Sterling, Ceira berniat kabur dari alur novel. Namun, jiwa barunya yang tangguh justru memicu obsesi gelap Kaiser dan King Sterling.
Satu tubuh adik angkat, dua raga kembar, dan empat jiwa penguasa yang terobsesi mengunci hidupnya. Lari bukanlah opsi saat jerat liar mereka sudah mengunci mati.
"Mampukah dia lolos dari jerat liar mereka?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bisikan di Balik Bayang-Bayang Gelap
Pintu besi tebal dan berlapis baja di ruang bawah tanah Kediaman Grand Sterling berderit menutup perlahan, menghasilkan dentuman logam berat yang menggema pekat ke seluruh dinding batu kali yang lembap, dingin, serta dipenuhi lumut hitam. Aroma darah segar, karat besi tua, debu beterbangan, serta sisa-sisa ketakutan yang pekat langsung menyergap indra penciuman siapa saja yang berani menginjakkan kaki di tempat pembuangan akhir para pengkhianat sindikat tersebut. Di bawah temaram lampu gantung tua berantai besi yang berayun pelan karena terpaan angin malam dari ventilasi sempit, Clara dan ayahnya dihempaskan begitu saja ke lantai semen kasar yang dingin oleh dua pengawal bayaran bertubuh kekar. Isak tangis tertahan, napas tersengal-sengal, serta rintihan putus asa yang memilukan memenuhi ruangan sempit berbau kematian itu, namun tidak ada satu pun dinding atau lantai kediaman mewah di atas sana yang akan mendengar ratapan mereka. Tempat ini adalah kuburan tanpa nisan dan tanpa nama bagi siapa pun yang cukup bodoh untuk berani mengusik ketenangan mutlak keluarga Sterling.
Di sisi ruangan yang agak tersembunyi dari tetesan air yang menetes konstan dari langit-langit batu, Zero berdiri tegak dengan tangan bersidekap kokoh di dada bidangnya. Manik mata merah pekatnya menatap kosong penuh kengerian ke arah dua orang yang kini berlutut gemetar tak berdaya di hadapannya, mencerminkan kedinginan mutlak seorang pembunuh berdarah dingin yang tidak pernah mengenal kata belas kasihan. Tidak ada ekspresi lain di wajah tampannya selain aura kematian pekat yang siap merenggut nyawa siapa saja kapan saja tanpa perlu memberikan peringatan kedua. Setiap tarikan napas di ruangan itu terasa begitu berat, seolah oksigen telah habis disedot oleh ketegangan ekstrim yang diciptakan oleh kehadiran para penguasa dunia hitam.
Langkah kaki ringan namun tegas terdengar memecah keheningan lantai bawah tanah yang amat mencekam. Ceira—atau lebih tepatnya Scarlett, yang kesadarannya kini mengambil alih kendali penuh atas raga fisik mereka dengan dominasi mutlak—muncul dari balik lorong gelap berhiaskan obor dengan gaun malam merah darah yang berkilauan gemerlap di bawah cahaya temaram lampu redup. Langkah kakinya begitu anggun, teratur, dan penuh wibawa bagaikan seorang ratu kegelapan yang mendatangi singgasana eksekusinya sendiri, memancarkan aura dominasi yang bahkan membuat para pengawal bayaran kekar itu spontan menunduk hormat demi menghindari tatapan matanya.
“Ah, udara di tempat busuk ini jauh lebih menyegarkan daripada kepalsuan para tamu menjijikkan di atas sana,” desis Scarlett di dalam ruang batin mereka, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang begitu mematikan, dingin, dan penuh kepuasan tak terbatas. “Mari kita nikmati pemandangan menyedihkan ini selagi bisa, Ceira. Inilah balasan setimpal bagi siapa saja yang berani mencoba mengotori tangan kita dengan tipu daya murahan dan rencana busuk yang tidak ada apa-apanya dibanding badai yang kita bawa.”
Ruangan bawah tanah itu terasa semakin senyap ketika deru napas ketakutan Clara berpadu dengan suara tetesan air yang monoton. Di dalam batinnya, Scarlett merasakan kepuasan batin yang luar biasa melihat bagaimana musuh yang tadinya begitu angkuh dan sombong di kampus kini bersujud tak berdaya di atas lantai semen kotor di hadapan mereka. Setiap detik penyiksaan psikologis ini dirancang dengan presisi tinggi oleh para penguasa sindikat, memastikan bahwa rasa penyesalan yang mendalam meresap hingga ke sumsum tulang belakang sebelum maut menjemput mereka tanpa ampun.
Zero mengalihkan pandangannya dari Clara yang meringkuk ketakutan hingga pipinya bergesekan dengan semen dingin, lalu membiarkan manik mata merah menyalanya terkunci lurus pada sosok wanita bergaun merah darah di hadapannya. Tanpa ragu sedikit pun, pria berdarah dingin itu melangkah mendekat, menutup jarak di antara mereka hingga aroma parfum mewah bercampur dengan adrenalin murni menguar di udara lembap ruang bawah tanah. Zero mengulurkan tangan kanannya yang kokoh dan berurat, menyentuh lembut rahang Scarlett dan menepis perlahan helaian rambut hitam yang menutupi leher jenjang wanita itu dengan penuh penguasaan.
"Kau terlalu membuang tenaga untuk mengurus sampah tidak berguna seperti mereka, Kucing Liar," suara serak Zero mengalun sangat rendah, begitu dekat hingga napas hangatnya menyapu bibir Scarlett dengan sentuhan yang membakar. Ada kilatan posesif yang membara di balik manik mata merah pria itu—sebuah keintiman liar dan gelap yang hanya diberikan khusus untuk jiwa yang bersemayam di dalam raga Ceira.
Scarlett mendengus pelan, tidak sedikit pun merasa gentar oleh cengkeraman lembut namun penuh dominasi di dagunya. Ia justru mendongakkan kepala lebih tinggi, menantang tatapan intens Zero dengan bendar mata yang menyala tajam penuh gairah liar.
“Sentuhan pria ini selalu berhasil membuat darahku mendidih, bergejolak, dan memberontak melawan logika,” batin Scarlett mendesis penuh gairah di sela-sela amarah yang belum sepenuhnya padam dari insiden perjamuan tadi. “Dia tahu persis bagaimana caranya memperlakukan seorang ratu kegelapan dengan cara yang paling biadab sekaligus memuja, bahkan di tempat pembuangan bangkai sekalipun. Tidak ada pria lain di dunia ini yang bisa menyamai intensitas kegilaannya.”
"Sampah harus dibersihkan sebelum mereka sempat mencemari istana kita, Zero," jawab Scarlett dengan suara berat yang menggoda dan penuh tantangan terbuka, bibirnya bergesekan tipis dengan telunjuk Zero yang masih menangkup rahangnya.
Zero menyunggingkan senyuman miring, sebuah seringai langka yang penuh dengan pemujaan gelap dan hasrat membara yang tidak tertahankan. Tanpa memperingatkan lebih dulu, tangan kiri Zero melingkar erat di pinggang ramping Scarlett, menarik tubuh wanita itu hingga menempel sempurna di dadanya tanpa menyisakan celah sedikit pun di antara tubuh mereka. Ciuman menuntut, panas, dan penuh kepemilikan mutlak langsung dilayangkan Zero ke bibir Scarlett—sebuah bentuk penyatuan gairah yang liar dan bahaya yang membakar sisa-sisa udara dingin di ruang bawah tanah itu.
Ciuman tersebut bukan sekadar sentuhan romantis di tengah malam yang damai, melainkan sebuah tanda penguasaan mutlak bahwa jiwa liar di dalam diri Ceira adalah milik mutlak para penguasa Sterling—terutama Zero yang memuja setiap sisi gelap, retak, dan berbahaya dari diri mereka. Tangan Zero merengkuh tengkuk Scarlett semakin dalam, memperdalam ciuman itu hingga membuat napas mereka memburu di tengah keheningan ruang eksekusi yang kelam.
Di hadapan pemandangan intim yang mengerikan sekaligus memukau itu, Clara yang masih meringkuk di lantai semen membelalakkan matanya ngeri hingga nyaris copot dari soketnya. Ia menyadari sepenuhnya dengan cara yang sangat menyakitkan bahwa wanita yang ia coba celakai dengan racun murahan bukan hanya dilindungi oleh para monster paling ditakuti di dunia hitam, tetapi juga disembah dan dipuja oleh mereka dengan cara yang paling ekstrem di muka bumi ini.
"Tolong... ampunilah kami... kumohon..." rintih Ayah Clara gemetar ketakutan melihat putri dan dirinya sendiri berada di ambang maut yang nyata.
Zero melepas ciumannya perlahan dengan napas yang masih memburu, menatap tajam ke arah dua pengkhianat itu tanpa sedikit pun melepaskan rangkulannya dari pinggang Scarlett. Manik mata merahnya berkilat dingin bagaikan belati es.
"Kalian memohon pada orang yang salah," ucap Zero dingin bagaikan hakim dari neraka, sebelum melambaikan tangan kanannya memberikan isyarat eksekusi mutlak kepada para algojo bayaran yang berdiri di dalam bayang-bayang.
aku tunggu👍👍👍👍
semangat......
gak jdi tuker tempat ma kamu ah..atutt 🤣🤣🤣🤣 jiwa halu ku meronta 😩😩
aahhh...gak sabar up lgi..👏👏👏