TRANSMIGRASI CEIRA: TERJERAT CANDU LIAR EMPAT PENGUASA

TRANSMIGRASI CEIRA: TERJERAT CANDU LIAR EMPAT PENGUASA

Jiwa Baru dan Dua Gerhana

​Bau antiseptik yang menyengat adalah hal pertama yang menyapa indra penciuman Ceira. Diikuti oleh suara ritmis alat pemantau detak jantung yang berbunyi teratur di celah kesunyian.

​Bip. Bip. Bip.

​Rasa sakit yang hebat menjalar di sekitar dadanya. Paru-parunya serasa terbakar, seolah-olah baru saja menenggak literan air yang memaksa masuk secara brutal. Ceira terbatuk pelan, tubuhnya menegang otomatis.

Tunggu... apa aku masih hidup? batin Ceira. Tapi ini dimana?

​Memori terakhirnya sangat jelas dan brutal. Bus tour anak-anak panti asuhan yang ia tumpangi mengalami rem blong, menghantam pembatas jalan, dan jatuh meluncur ke dalam jurang yang dalam.

Sebagai gadis panti asuhan yang tumbuh keras di jalanan—bertahan hidup dengan kepalan tangan di ring tinju ilegal, mencari uang lewat kejeniusan hacking, dan meluapkan trauma lewat goresan lukisan—refleks bertahan hidup Ceira sangat cepat.

​Secara insting, Ceira tidak langsung berteriak. Ia menahan napasnya sejenak, memasang mode waspada, lalu perlahan membuka matanya.

​Namun, penglihatan pertamanya bukan ruang ICU rumah sakit umum yang kumuh dan berbau obat murah.

​Ia berada di sebuah kamar VIP yang luar biasa luas dan mewah. Dindingnya terbuat dari marmer hitam elegan, berpadu dengan furnitur monokrom bergaya minimalis modern yang memancarkan aroma kekayaan tak terbatas.

​Dan yang paling mengejutkan... tepat di samping ranjangnya, berdiri dua anak laki-laki kembar sangat tampan, berusia tujuh belas tahun.

​Kedua bocah itu mengenakan setelan jas hitam buatan penjahit kelas atas yang melekat sempurna di tubuh mereka. Wajah mereka luar biasa tampan, bak pahatan porselen mahal yang tak tersentuh noda. Namun, yang membuat bulu kuduk Ceira berdiri adalah mata mereka.

​Dingin. Gelap. Kosong. Bagaikan sumur tua tanpa dasar yang menelan seluruh cahaya di sekitarnya.

"Dia sudah sadar, Kaiser," ucap bocah di sebelah kiri. Suaranya terdengar lembut, dilengkapi dengan senyuman tipis yang sangat memikat. Namun, mata peraknya tidak memancarkan kehangatan sedikit pun.

​Bocah yang dipanggil Kaiser—berdiri di sebelah kanan—hanya menatap Ceira datar. Tangannya dimasukkan ke dalam saku celana bahan mewahnya.

Tanpa mengeluarakan sepatah kata pun, aura dominasi yang memancar dari tubuh kecilnya terasa begitu berat, seolah sanggup menekan napas siapa saja yang berada di satu ruangan dengannya.

​Deg!

​Jantung Ceira berdegup kencang. Naluri bertahannya sebagai petinju langsung menyala merah. Tubuhnya memberi sinyal bahaya yang amat sangat: Orang-orang di depannya adalah predator puncak.

​Seketika itu pula, rasa pening yang luar biasa menghantam kepala Ceira. Berbagai ingatan asing yang bukan miliknya berjejal masuk secara paksa, berputar seperti rol film berkecepatan tinggi.

​Nama tubuh yang ia tempati ini adalah Ceira.

​Seorang bocah perempuan berusia tiga belas tahun yang diangkat anak ketika masih bayi secara resmi oleh keluarga Sterling. Ibu kandung Ceira tewas mengenaskan dalam kecelakaan tragis bersama suaminya tepat di hari Ceira dilahirkan. Karena rasa utang budi dan kasih sayang mendalam pada sang sahabat, orang tua Sterling membawa Ceira kecil ke kediaman mereka dan merawatnya bagai putri bungsu.

​Dan dua bocah kembar di hadapannya saat ini... adalah Kaiser Sterling dan King Sterling.

Dua gerhana! batin Ceira menjerit.

​Anak kembar pemilik takhta Sterling yang kelak akan membagi dunia menjadi dua kekuasaan mutlak: dunia atas yang dikuasai bisnis dan politik, serta dunia bawah yang dikuasai darah dan hukum mafia.

​Ceira menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya membelalak kecil.

Ini... ini adalah dunia novel dark romance yang pernah kubaca! jerit Ceira kembali dalam hati.

​Di dalam alur asli novel tersebut, sosok Ceira hanyalah seorang figuran sepele. Karakter yang harusnya mati tenggelam hari ini di kolam renang mansion setelah didorong secara tak sengaja saat bermain bersama sang Pemeran Utama Wanita dan karakter Antagonis. Mati muda, dilupakan, dan hanya menjadi footnote singkat di bab awal.

​Tapi masalah terbesarnya bukan itu.

​Masalah utamanya adalah dua bocah kembar di hadapannya. Di dalam novel, Kaiser dan King adalah sosok psikopat yang tidak memiliki empati. Mereka memiliki sisi gelap dan alter ego yang sangat mengerikan. Siapa pun yang berani mengusik lingkaran mereka akan berakhir mengenaskan.

​"Kenapa kamu menatap kami seperti itu, Adik kecil?" suara King memecahkan kesunyian. Bocah sepuluh tahun itu melangkah mendekat, menumpukan kedua tangannya di pinggir ranjang tempat tidur Ceira.

​Senyum King terkembang manis, tetapi matanya mengunci pergerakan Ceira bagaikan seekor ular yang sedang mengamati mangsanya. "Kamu kelihatan... beda. Biasanya kalau melihat kami, kamu akan menangis dan bersembunyi di balik gaun Ibu."

​Ceira mengepalkan jemarinya di balik selimut putih. Buku-buku jarinya memutih.

​Jika ini adalah Ceira yang asli—si bocah penakut dan lemah—dia pasti sudah gemetar ketakutan dan meminta maaf. Tapi jiwa yang ada di dalam tubuh ini sekarang adalah Ceira si petinju jalanan dan peretas dingin.

​Ceira mengatur napasnya yang sempat memburu. Ia memaksakan matanya menatap lurus ke dalam manik mata King. Naluri petinjunya menolak untuk menunjukkan kelemahan di hadapan lawan, meski tubuh kecil sepuluh tahun ini sejujurnya sangat rapuh.

​"Aku cuma... sedikit pusing," jawab Ceira dengan suara serak. Ia berusaha keras membuat nada suaranya terdengar datar dan tenang.

​Alis King terangkat tipis. Ada kilatan ketertarikan yang asing melintas di matanya. Ia berpaling menatap kembarannya. "Kaiser, dengar itu? Adik kecil kita yang penakut tidak menangis sama sekali hari ini."

​Kaiser tidak langsung menjawab. Langkah kakinya yang teratur bergema di lantai marmer saat ia berjalan mendekati sisi ranjang Ceira.

​Setiap langkah Kaiser terasa bagaikan hitungan mundur menuju kematian. Ketika Kaiser berdiri tepat di samping ranjang, ia menunduk, menatap Ceira dari atas ke bawah.

​Tidak ada ekspresi di wajah Kaiser. Tatapannya begitu dingin, menusuk hingga ke tulang hitam Ceira.

​Kaiser mengulurkan tangannya yang mungil namun bersih, jemarinya yang dingin menyentuh dagu Ceira, memaksa gadis kecil itu untuk mendongak menatapnya.

​Deg.

​Sensasi dingin menyengat kulit Ceira. Pada detik itu, Ceira bisa merasakan sesuatu yang membahayakan di balik mata Kaiser. Sesuatu yang terlelap, liar, dan mematikan—sisi kegelapan yang kelak akan dikenal sebagai Zero.

​"Matamu," ucap Kaiser pelan. Suaranya datar tanpa nada, namun sanggup membekukan udara di dalam kamar. "Sejak kapan matamu memiliki tatapan menantang seperti ini, Putri kecil?"

​Ceira menahan napas. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai-sampai ia takut suara detak jantungnya bisa terdengar oleh Kaiser. Tubuh kecilnya bereaksi secara alami terhadap aura intimidasi mutlak milik sang kakak tertua.

​Naluri bertahannya berteriak. Berbahaya! Berbahaya! jangan menentang orang ini! batinnya cemas.

​Secara tidak sadar, keberanian Ceira yang tadi sempat menyala perlahan luntur. Otot-otot tubuhnya menegang, dan untuk pertama kalinya sejak sadar, Ceira menurunkan pandangan matanya. Ia tidak sanggup menatap mata Kaiser lebih lama lagi. Rasa ciut dan ketakutan yang mendalam mendadak menjalar ke seluruh pembuluh darahnya.

​Kaiser yang menyadari perubahan reaksi Ceira—bagaimana gadis itu mendadak gemetar dan pasrah di bawah cengkeraman jarinya—memiringkan kepalanya tipis. Ada rasa puas yang aneh menyelinap di benak bocah kembar tertua itu.

​"Bagus," bisik Kaiser dingin. Ia melepaskan dagu Ceira secara perlahan. "Tetaplah tunduk seperti itu."

​King yang memperhatikan dari samping menyeringai lebar. "Ibu dan Ayah sedang mengurus anak yang mendorongmu ke kolam renang. Tapi sepertinya... tenggelam di air dingin membuat otakmu sedikit lebih berguna, Adik Kecil."

​Ceira mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia menghela napas panjang saat kedua bocah kembar itu berbalik dan berjalan menuju pintu keluar.

​Sebelum membuka pintu, Kaiser sempat berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang. "Istirahatlah. Karena mulai hari ini, kamu tidak akan pernah bisa lari dari rumah ini, Ceira."​

Brak.

​Pintu kamar VIP tertutup rapat. Kesunyian kembali melingkupi ruangan.

​Ceira menyandarkan kepalanya ke bantal empuk, menyapu keringat dingin yang membasahi dahi mungilnya. Tangannya yang mungil masih gemetar hebat.

​Ia sudah masuk ke dalam tubuh figuran ini. Dan secara tidak sengaja, sikap barunya baru saja memancing perhatian dua predator paling berbahaya di dunia ini.

​Di alur asli novel, si kembar seharusnya terobsesi pada sang Pemeran Utama Wanita. Tapi respon mereka padanya hari ini... memberikan sinyal buruk.

​"Aku harus memanfaatkan kemampuan hacking-ku untuk mengumpulkan uang secara rahasia," gumam Ceira lirih, menatap jemari tangannya. "Aku juga harus melatih tubuh kecil ini agar bisa bertarung lagi. Begitu aku dewasa... aku harus kabur dari keluarga Sterling."

​Namun Ceira tidak menyadari, jauh di luar ruangan, dua bocah kembar Sterling sedang berdiri di balik kaca transparan, memperhatikan gerak-geriknya dengan tatapan obsesif yang mulai mengakar kuat.

​Jerat liar itu telah terpasang. Dan Ceira... baru saja melangkah masuk ke dalamnya.

Terpopuler

Comments

Feni sang penulis novel

Feni sang penulis novel

halo kak salam kenal dari Bogor Jawa Barat ya kak kak saya suka banget dengan semua cerita ini bagian dingin pekat kosong bagaikan sumur tua tanpa dasar yang menelan cahaya di sekitarnya Saya suka banget bagian ini kalau boleh kakak mampir dulu dengan aku novel saya karya saya ada dua loh kalau kakak suka salah satunya tolong komentar tolong berikan bintang 5 kalau nggak suka ya nggak apa-apa tolong berikan komentar aja terima kasih kak semoga sukses🙏🙏🙏🙏

2026-08-02

1

Feni sang penulis novel

Feni sang penulis novel

saya izin memberikan komentar ya dan saya izin memberikan bintang 5 kita saling bantu aja ya kak saling mendukung aja karya kita masing-masing

2026-08-02

1

Restu

Restu

mampir thor.jangan setengah jalan thor🙏
aku tunggu👍👍👍👍
semangat......

2026-08-05

1

lihat semua
Episodes
1 Jiwa Baru dan Dua Gerhana
2 Rencana Rahasia Ceira
3 Pertemuan Ceira dengan Protogonis dan Antagonis wanita.
4 Benih Kecemburuan dan Ancaman Tersembunyi
5 Sangkar Tanpa Tuan
6 Jejak Rahasia Sang Merpati
7 Bayangan di Balik Layar
8 Tanda di Leher Sang Kucing Kecil
9 BAB 9: Kurungan Tanpa Celah
10 Sangkar Emas Tanpa Jalan Keluar
11 Malam Pertama di Kandang Sang Pemangsa
12 Jerat Rantai Tersembunyi
13 Ciuman di Balik Kaca Gelap dan Senyum Beracun di Kampus
14 Badai di Koridor Kampus, Tamparan Telak, dan Tiga Sekutu Tak Terduga
15 Pukulan Telak Sang Primadona dan Ujian di Tengah Malam
16 Bayang-Bayang di Balik Pintu, Sisi Lain Scarlett, dan Pertaruhan Tengah Malam
17 Jerat Sang Predator dan Sanksi Mutlak
18 Belenggu Candu dan Paksaan Sang Predator
19 Buku Nikah, Cemburu Buta, dan Badai Hasrat Pagi Hari
20 Pagi yang Beku dan Pertemuan di Koridor Kampus
21 Kepungan di Jam Istirahat dan Pesona Sang Alter Ego
22 Bayangan Pengintai dan Keputusan Sang Predator
23 Bayang-Bayang Menjelang Perjamuan Agung
24 Gaun Merah Darah dan Perangkap di Aula Megah
25 Tetesan Beracun di Balik Kekacauan
26 Permainan Balas Dendam Dimulai
27 Jeritan di Lorong Bawah Tanah
28 Bisikan di Balik Bayang-Bayang Gelap
29 Darah di Atas Semen Dingin
30 Bayangan di Ujung Fajar
31 Simfoni Kematian di Pelabuhan Utara
32 Runtuhnya Singgasana Sang Penguasa Palsu
33 Warisan Darah di Puing-Puing Kerajaan
34 Bayangan di Balik Pintu Besi
35 Malam Penjemputan di Pelabuhan Lama
Episodes

Updated 35 Episodes

1
Jiwa Baru dan Dua Gerhana
2
Rencana Rahasia Ceira
3
Pertemuan Ceira dengan Protogonis dan Antagonis wanita.
4
Benih Kecemburuan dan Ancaman Tersembunyi
5
Sangkar Tanpa Tuan
6
Jejak Rahasia Sang Merpati
7
Bayangan di Balik Layar
8
Tanda di Leher Sang Kucing Kecil
9
BAB 9: Kurungan Tanpa Celah
10
Sangkar Emas Tanpa Jalan Keluar
11
Malam Pertama di Kandang Sang Pemangsa
12
Jerat Rantai Tersembunyi
13
Ciuman di Balik Kaca Gelap dan Senyum Beracun di Kampus
14
Badai di Koridor Kampus, Tamparan Telak, dan Tiga Sekutu Tak Terduga
15
Pukulan Telak Sang Primadona dan Ujian di Tengah Malam
16
Bayang-Bayang di Balik Pintu, Sisi Lain Scarlett, dan Pertaruhan Tengah Malam
17
Jerat Sang Predator dan Sanksi Mutlak
18
Belenggu Candu dan Paksaan Sang Predator
19
Buku Nikah, Cemburu Buta, dan Badai Hasrat Pagi Hari
20
Pagi yang Beku dan Pertemuan di Koridor Kampus
21
Kepungan di Jam Istirahat dan Pesona Sang Alter Ego
22
Bayangan Pengintai dan Keputusan Sang Predator
23
Bayang-Bayang Menjelang Perjamuan Agung
24
Gaun Merah Darah dan Perangkap di Aula Megah
25
Tetesan Beracun di Balik Kekacauan
26
Permainan Balas Dendam Dimulai
27
Jeritan di Lorong Bawah Tanah
28
Bisikan di Balik Bayang-Bayang Gelap
29
Darah di Atas Semen Dingin
30
Bayangan di Ujung Fajar
31
Simfoni Kematian di Pelabuhan Utara
32
Runtuhnya Singgasana Sang Penguasa Palsu
33
Warisan Darah di Puing-Puing Kerajaan
34
Bayangan di Balik Pintu Besi
35
Malam Penjemputan di Pelabuhan Lama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!