Benih Kecemburuan dan Ancaman Tersembunyi

​Hari-hari menjelang keberangkatan Sterling bersaudara ke luar negeri terasa semakin menekan. Di usianya yang baru menginjak 13 tahun, Ceira harus ekstra hati-hati dalam melangkah. Setiap sudut Kediaman Sterling seolah memiliki mata dan telinga yang siap melaporkan gerak-geriknya kepada dua calon penguasa itu.

​Sore itu, Ceira sedang duduk di area gazebo taman belakang mansion. Di atas pangkuannya terdapat sebuah buku sketsa tebal. Menggunakan pensil grafit, jemari Ceira menari dengan lihai di atas kertas, meluapkan emosi dan gambaran emosional dalam bentuk lukisan abstrak yang memukau.

​Ini adalah bentuk terapinya—sekaligus cara Ceira mengasah bakat melukisnya agar kelak bisa dijual secara anonim melalui pasar seni gelap.

​"Bagus sekali lukisanmu, Adik Angkat."

​Suara bernada halus namun dingin mengejutkan Ceira. Ia menoleh dan menemukan Audrey sedang berdiri di tangga gazebo. Gadis 15 tahun itu mengenakan gaun sutra berwarna biru pastel yang sangat anggun. Sebagai tunangan resmi si kembar dari keluarga kaya raya, penampilan Audrey selalu sempurna.

​Namun, tidak ada lagi sorot kepolosan di mata biru Audrey. Yang ada hanyalah tatapan dingin dan kecemburuan yang tertahan.

​"Terima kasih, Kak Audrey," jawab Ceira datar. Ia dengan tenang menutup buku sketsanya, menolak membiarkan orang lain melihat detail karyanya.

​Audrey berjalan mendekat, lalu duduk di kursi ukir di hadapan Ceira. Matanya mengintip buku sketsa di tangan Ceira dengan tatapan meremehkan.

​"Keluarga Sterling selalu menyukai hal-hal yang sempurna, Ceira," ucap Audrey dengan nada suara teratur, namun sarat akan penekanan. "Kamu hanyalah anak dari sahabat almarhumah Nyonya yang diangkat anak karena rasa kasihan. Jangan berpikir karena kamu tinggal di rumah ini, kamu bisa memiliki segalanya."

​Ceira memiringkan kepalanya tipis. Sebagai mantan anak panti asuhan yang kenyang asam garam kehidupan jalanan, sindiran halus seperti ini sama sekali tidak melukai perasaannya.

​"Aku sangat sadar posisi diriku, Kak Audrey," balas Ceira tenang, menatap lurus mata Audrey tanpa gentar sedikit pun. "Aku tahu aku hanya adik angkat di rumah ini."

​"Bagus kalau kamu sadar," potong Audrey cepat, jemarinya mengepal di atas gaunnya. "Karena statusku adalah tunangan resmi Kaiser dan King. Suatu hari nanti, akulah yang akan berdiri di samping mereka sebagai Nyonya Rumah ini. Tapi sikapmu... dan cara mereka menatapmu belakangan ini, sangat menggangguku."

​Ceira hampir saja memutar matanya bosan.

keluarga Sterling yang gila ini bahkan tidak melirikmu sama sekali, Audrey. batin Ceira sinis.

​Di alur novel asli, si kembar memang terobsesi pada Audrey. Tapi ketika Ceira masuk ke dunia novel, Ceira bisa merasakan dengan jelas bahwa radar posesif Kaiser dan King telah berbelok 180 derajat ke arahnya.

Audrey yang menyadari perubahan itu kini perlahan bergeser menjadi antagonis yang terbakar rasa cemburu.

​"Jika Kak Audrey merasa terganggu, Kakak bisa menyampaikannya langsung pada Kak Kaiser dan Kak King," ujar Ceira, memberikan jawaban skakmat yang membuat wajah Audrey seketika memerah padam.

​"Kamu—"

​"Menyampaikan apa pada kami?"

​Suara berat dan dominan mendadak memotong kalimat Audrey.

​Dari balik deretan pohon palem taman, Kaiser Sterling dan King Sterling melangkah mendekati gazebo. Di usia mereka yang menginjak 17 tahun, postur tubuh kedua remaja kembar itu sudah sangat tinggi dan tegap. Kemeja hitam yang membalut tubuh mereka memancarkan kesan berkelas sekaligus berbahaya.

​Audrey seketika berdiri, mengulas senyuman manis terbaiknya. "Kaiser, King... aku hanya sedang mengobrol santai dengan adik angkat kalian."

​Namun, King bahkan tidak melirik Audrey. Mata peraknya berfokus penuh pada Ceira yang duduk terdiam. King melangkah naik ke gazebo, mengambil posisi berdiri tepat di samping tempat duduk Ceira.

​"Pakaianmu terlalu tipis untuk udara sore, Adik Kecil," bisik King dingin. Tanpa meminta izin, King melepaskan jas mewahnya dan menyampirkannya ke bahu mungil Ceira.

​Aroma parfum kayu kasmir dan dominasi dingin khas King langsung menyergap indra penciuman Ceira. Tubuh Ceira seketika kaku, naluri bertahannya membuat bahunya agak merapat. Karakter Lucid di dalam diri King mulai terasa begitu mengintimidasi.

​Sementara itu, Kaiser berjalan mendekati Audrey. Namun bukannya memberikan tatapan hangat pada tunangannya, Kaiser justru menatap Audrey dari atas ke bawah dengan mata hitam pekatnya yang mati rasa—sisi gelap Zero yang begitu mencekam.

​"Mobil keluargamu sudah menunggu di depan, Audrey," ucap Kaiser dengan suara yang sanggup membekukan udara di sekitarnya. "Jangan lagi datang ke mansion ini tanpa undangan dariku."

​Wajah Audrey memucat hebat. Kalimat datar dari Kaiser terasa seperti tamparan keras bagi harga dirinya sebagai tunangan resmi. "Kaiser... aku hanya ingin menyapa kalian sebelum kalian berangkat ke luar negeri besok—"

​"Pergi," potong Kaiser Pendek, mutlak, dan tanpa bantahan.

​Audrey mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Dengan mata berkaca-kaca karena rasa malu dan cemburu yang membakar dada, ia melirik tajam ke arah Ceira sejenak sebelum akhirnya berbalik dan berlari pergi meninggalkan area taman.

​Ceira menelan ludah dengan susah payah. Di dalam hatinya, ia tahu Audrey tidak akan tinggal diam. Dendam dan cemburu Audrey pasti akan berkembang selama 7 tahun ke depan.

​"Kenapa kamu membiarkan perempuan itu bicara padamu, Kucing Kecil?" tanya Kaiser, melangkah mendekati Ceira dan berlutut satu kaki di hadapan kursi gadis kecil itu.

​Jemari Kaiser yang dingin menyentuh dagu Ceira, memaksa gadis itu menatap lurus ke dalam matanya.

​"A-aku hanya tidak ingin membuat keributan, Kak Kaiser," jawab Ceira dengan nada suara terhalus yang ia punya. Di hadapan Kaiser yang aura terornya sudah sangat matang, keberanian Ceira selalu luntur seketika.

​King terkekeh dingin dari atas kepala Ceira, tangannya mengusap rambut Ceira dengan ketat. "Besok kami berangkat ke luar negeri untuk memegang kendali perusahaan Kakek. Selama kami tidak ada... jangan berani-berani dekat dengan pria mana pun, Adik Kecil."

​"Bahkan pelatih pribadimu atau teknisi rumah ini," tambah Kaiser dingin, cengkeramannya di dagu Ceira sedikit mengerat. "Jika aku tahu ada pria yang berani menyentuh atau berbicara terlalu dekat padamu... aku akan memastikan orang itu menghilang tanpa jejak dari dunia ini."

​Deg!

​Jantung Ceira berdegup kencang. Peringatan itu bukan sekadar gertakan main-main. Itu adalah janji dari dua predator yang kelak akan menguasai underworld dan takhta bisnis dunia.

​"I-iya, Kak... aku mengerti," bisik Ceira pasrah, menundukkan pandangan matanya demi meredakan gejolak posesif di mata kedua kakak angkatnya.

​Kaiser tersenyum miring, merasa puas melihat kepatuhan gadis kecil itu, lalu melepaskan cengkeramannya. "Bagus. Tetaplah menjadi Putri kecil yang penurut sampai kami kembali."

​Malam harinya, setelah memastikan mansion sepi dan si kembar sibuk berkemas, Ceira berdiri di balik tirai kamarnya, menatap jet pribadi keluarga Sterling yang lepas landas di kejauhan malam.

​Senyuman tipis akhirnya terukir di bibir mungil Ceira. Rasa lega yang luar biasa membuncah di dadanya.

​"Akhirnya... mereka pergi," gumam Ceira seraya mengepalkan tangannya.

​Menurut ingatannya tentang alur novel asli, Kaiser dan King baru akan kembali ke tanah air saat mereka berusia 25 tahun. Itu artinya, Ceira memiliki waktu 7 tahun penuh dari usianya 13 tahun hingga 20 tahun nanti. untuk bergerak bebas!

​"7 tahun," bisik Ceira dengan mata berbinar penuh tekad. "Aku akan menggunakan waktu 7 tahun ini untuk melatih fisikku sampai jago bertarung, menjadi hacker kelas atas, dan menjual lukisanku. Begitu umurku 20 tahun... aku akan menghilang sebelum mereka sempat pulang di umur 25 tahun!"

​Namun, Ceira tidak pernah tahu... takdir di dunia ini telah bergeser total.

Episodes
1 Jiwa Baru dan Dua Gerhana
2 Rencana Rahasia Ceira
3 Pertemuan Ceira dengan Protogonis dan Antagonis wanita.
4 Benih Kecemburuan dan Ancaman Tersembunyi
5 Sangkar Tanpa Tuan
6 Jejak Rahasia Sang Merpati
7 Bayangan di Balik Layar
8 Tanda di Leher Sang Kucing Kecil
9 BAB 9: Kurungan Tanpa Celah
10 Sangkar Emas Tanpa Jalan Keluar
11 Malam Pertama di Kandang Sang Pemangsa
12 Jerat Rantai Tersembunyi
13 Ciuman di Balik Kaca Gelap dan Senyum Beracun di Kampus
14 Badai di Koridor Kampus, Tamparan Telak, dan Tiga Sekutu Tak Terduga
15 Pukulan Telak Sang Primadona dan Ujian di Tengah Malam
16 Bayang-Bayang di Balik Pintu, Sisi Lain Scarlett, dan Pertaruhan Tengah Malam
17 Jerat Sang Predator dan Sanksi Mutlak
18 Belenggu Candu dan Paksaan Sang Predator
19 Buku Nikah, Cemburu Buta, dan Badai Hasrat Pagi Hari
20 Pagi yang Beku dan Pertemuan di Koridor Kampus
21 Kepungan di Jam Istirahat dan Pesona Sang Alter Ego
22 Bayangan Pengintai dan Keputusan Sang Predator
23 Bayang-Bayang Menjelang Perjamuan Agung
24 Gaun Merah Darah dan Perangkap di Aula Megah
25 Tetesan Beracun di Balik Kekacauan
26 Permainan Balas Dendam Dimulai
27 Jeritan di Lorong Bawah Tanah
28 Bisikan di Balik Bayang-Bayang Gelap
29 Darah di Atas Semen Dingin
30 Bayangan di Ujung Fajar
31 Simfoni Kematian di Pelabuhan Utara
32 Runtuhnya Singgasana Sang Penguasa Palsu
33 Warisan Darah di Puing-Puing Kerajaan
34 Bayangan di Balik Pintu Besi
35 Malam Penjemputan di Pelabuhan Lama
Episodes

Updated 35 Episodes

1
Jiwa Baru dan Dua Gerhana
2
Rencana Rahasia Ceira
3
Pertemuan Ceira dengan Protogonis dan Antagonis wanita.
4
Benih Kecemburuan dan Ancaman Tersembunyi
5
Sangkar Tanpa Tuan
6
Jejak Rahasia Sang Merpati
7
Bayangan di Balik Layar
8
Tanda di Leher Sang Kucing Kecil
9
BAB 9: Kurungan Tanpa Celah
10
Sangkar Emas Tanpa Jalan Keluar
11
Malam Pertama di Kandang Sang Pemangsa
12
Jerat Rantai Tersembunyi
13
Ciuman di Balik Kaca Gelap dan Senyum Beracun di Kampus
14
Badai di Koridor Kampus, Tamparan Telak, dan Tiga Sekutu Tak Terduga
15
Pukulan Telak Sang Primadona dan Ujian di Tengah Malam
16
Bayang-Bayang di Balik Pintu, Sisi Lain Scarlett, dan Pertaruhan Tengah Malam
17
Jerat Sang Predator dan Sanksi Mutlak
18
Belenggu Candu dan Paksaan Sang Predator
19
Buku Nikah, Cemburu Buta, dan Badai Hasrat Pagi Hari
20
Pagi yang Beku dan Pertemuan di Koridor Kampus
21
Kepungan di Jam Istirahat dan Pesona Sang Alter Ego
22
Bayangan Pengintai dan Keputusan Sang Predator
23
Bayang-Bayang Menjelang Perjamuan Agung
24
Gaun Merah Darah dan Perangkap di Aula Megah
25
Tetesan Beracun di Balik Kekacauan
26
Permainan Balas Dendam Dimulai
27
Jeritan di Lorong Bawah Tanah
28
Bisikan di Balik Bayang-Bayang Gelap
29
Darah di Atas Semen Dingin
30
Bayangan di Ujung Fajar
31
Simfoni Kematian di Pelabuhan Utara
32
Runtuhnya Singgasana Sang Penguasa Palsu
33
Warisan Darah di Puing-Puing Kerajaan
34
Bayangan di Balik Pintu Besi
35
Malam Penjemputan di Pelabuhan Lama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!