Sangkar Tanpa Tuan

​Deru mesin jet pribadi menggema pelan dari landasan helipad pribadi di area belakang Kediaman Sterling. Angin kencang menyapu halaman luas, mengibarkan gaun terusan hitam yang dikenakan Ceira.

Suara bilah turbin berputar memecah keheningan sore, menciptakan getaran yang merambat hingga ke sol sepatunya.

​Di usianya yang menginjak 13 tahun, postur tubuh Ceira masih sangat mungil jika dibandingkan dengan dua pemuda berusia 17 tahun yang kini berdiri tegak di hadapannya.

​Kaiser dan King mengenakan setelan mantel panjang berwarna gelap khas petinggi dunia korporat. Di balik pakaian formal tersebut, terpancar aura kedewasaan yang terlalu cepat matang. Tidak ada sedikit pun keraguan, kecemasan, atau ketakutan di wajah mereka yang akan melangkah ke medan tempur bisnis internasional dan jaringan bawah tanah yang kejam.

​Nyonya Helena tampak mengusap air matanya dengan saputangan sutra berenda, memeluk kedua putra kembarnya bergantian dengan penuh rasa haru dan bangga. "Jaga diri kalian baik-baik di sana. Iklim bisnis di luar negeri tidak semudah di sini. Ayah dan Bunda akan sering mengunjungimu."

​"Tentu, Bunda," sahut King lembut, menyunggingkan senyuman tipis yang menenangkan Bundanya.

​Namun, begitu matanya beralih menatap Ceira yang berdiri di sudut, kehangatan di wajah King luntur seketika, digantikan oleh binar tajam yang penuh intrik dan kepemilikan mutlak.

​King melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka dalam beberapa langkah saja. Pemuda itu membungkuk sedikit, menyetarakan tinggi badan mereka. Jemari tangannya yang panjang dan dingin mengusap pipi halus Ceira, mengunci pandangan gadis kecil itu agar tidak bisa berpaling sedikit pun.

​"Tujuh tahun bukan waktu yang singkat, Adik kecil," bisik King dengan nada suara yang teratur, tenang, namun penuh penekanan berbahaya. "Jangan membuat masalah selama kami tidak ada. Jangan biarkan siapapun menyentuh barang-barangku, dan yang paling penting... jangan berani-berani membiarkan pria lain mendekatimu."

​Pita suara Ceira mendadak tercekat. Usaha kerasnya untuk tetap menampilkan ekspresi datar hampir saja runtuh di bawah tekanan tatapan King. Karakter Lucid di balik manik mata perak itu terasa begitu dominan, menghancurkan sisa-sisa keberaniannya.

​Ceira hanya sanggup mengangguk kaku, menelan rasa sesak di dadanya. "Iya... aku mengerti, Kak King."

​Sebelum King sempat menarik tangannya, langkah kaki lain mendekat dengan ritme yang sama beratnya. Kaiser berdiri tepat di samping kembarannya. Pemuda tertua Sterling itu menatap Ceira dari ketinggian posturnya, tanpa senyum, tanpa ekspresi manusiawi yang hangat.

​Kaiser mengulurkan tangan, merapikan kerah gaun Ceira dengan gerakan yang sangat teliti, hampir menyerupai ritual penandaan wilayah. Namun, cara jemarinya menyenggol kulit leher mungil Ceira terasa seperti patukan ular berbisa yang bersiap menyuntikkan bisa ancaman mati.

​"Patuhi semua perintah Bunda dan Ayah tanpa membantah," ucap Kaiser dingin, suaranya bagaikan es yang bergesekan. "Setiap laporan terperinci tentang kegiatanmu, siapa saja yang berbicara padamu, hingga tempat yang kamu kunjungi di rumah ini, akan masuk ke ponselku setiap malam. Jika ada satu saja hal kecil yang mencurigakan... aku sendiri yang akan memutar balik pesawat dan pulang untuk menyelesaikannya secara langsung."

​Sisi gelap bernama Zero sang Alter Ego memancar kuat dari balik manik mata hitam pekat Kaiser. Ceira bisa merasakan persendian tubuhnya menegang kaku secara refleks. Sikap posesif yang sama sekali tidak masuk akal ini benar-benar mencekam dan mencengkeram jiwanya.

​"A-aku mengerti, Kak Kaiser," sahut Ceira lirih, berusaha menyembunyikan getaran di suaranya.

​Kaiser akhirnya melepaskan cengkeramannya pada kerah pakaian Ceira, lalu berbalik tanpa mengucapkan sepatah kata perpisahan lain. King mengulas senyum miring terakhir yang penuh makna sebelum menyusul kembarannya menaiki tangga logam jet pribadi.

​Pintu pesawat berteknologi tinggi itu perlahan tertutup rapat, menyisakan suara pneumatik yang berat. Tak lama kemudian, burung besi mewah itu meluncur di landasan beton dan membumbung tinggi menembus awan gelap sore hari, meninggalkan bayangan hitam di atas halaman mansion.

​Begitu deru mesin jet menghilang di telan jarak, beban berat yang menindas dada Ceira seolah terangkat seketika. Hembusan napas lega yang panjang keluar dari celah bibirnya. Bahunya yang tadinya kaku perlahan mengendur.

​Akhirnya... batin Ceira penuh kelegaan dan kemenangan, dia mengusap lehernya yang masih terasa dingin. Gila, aura Zero kuat bangat, Alter Ego Kaiser sangat menyeramkan. Batinnya bergidik ngeri.

​Gadis itu mendongak menatap langit sore dengan mata berbinar-binar. Sesuai alur novel yang melekat kuat di kepalanya, Kaiser dan King baru akan kembali setelah menyelesaikan seluruh ekspansi bisnis global dan menguasai underworld internasional saat mereka berusia 25 tahun.

​Ceira memiliki rentang waktu yang sangat aman selama 7 tahun penuh dari usianya yang baru menginjak 13 tahun hingga menginjak 20 tahun. Sebuah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan.

​Malam harinya, perubahan rencana langsung dieksekusi tanpa menunda waktu sedetik pun.

​Begitu seluruh penghuni mansion terlelap dan suasana kastel menjadi sunyi senyap, Ceira mengunci pintu kamarnya dari dalam menggunakan gerendel ganda. Ia menarik tebal tirai jendela beludru rapat-rapat hingga tidak ada secercah cahaya pun yang bisa bocor ke luar.

​Ceira melangkah ke sudut ruangan, menarik panel lantai rahasia di bawah meja belajarnya. Di dalam rongga tersembunyi itu tersimpan sebuah laptop rakitan tangan dengan spesifikasi tinggi yang terhubung ke jaringan internet terenkripsi satelit.

​Jemari mungilnya menari dengan sangat lihai di atas papan ketik. Layar monitor menyala terang, memantulkan deretan kode biner rumit berlatar hitam legam.

​Sebagai mantan peretas kelas atas di kehidupan sebelumnya, membobol dinding pertahanan pasar gelap digital, meretas bursa kripto anonim, dan mencuci uang digital bukanlah hal yang sulit.

Dalam hitungan jam, Ceira berhasil mengamankan beberapa rekening bayangan atas nama fiktif yang tidak akan bisa dilacak oleh intelijen manapun.

​"Langkah finansial pertama selesai," gumam Ceira lirih seraya memperhatikan angka saldo awal yang mulai terisi dari hasil transaksi peretasan data sistem keamanan perusahaan fiktif di luar negeri. "Uang ini akan menjadi tiket utama kebebasanku keluar dari negara ini."

​Namun, Ceira tahu modal finansial dan jaringan digital saja tidak akan pernah cukup untuk menghadapi cengkeraman keluarga Sterling yang memiliki kekuasaan mutlak di dunia hukum maupun dunia hitam.

​Ceira berjalan ke tengah kamar, menyibak karpet tebal, dan mengambil posisi berdiri dengan kuda-kuda yang kokoh. Ia mengepalkan kedua tangan kecilnya di depan dada, memasang teknik bertarung yang presisi.

​Sret! Bugh!

​Pukulan lurus dan kombinasi jab-cross dilayangkan ke udara kosong dengan kecepatan yang mengagumkan. Meski tenaga dari tubuh anak berusia 13 tahun ini masih sangat terbatas, memori otot, ketepatan sudut, dan refleks mantan petinju jalanan di dalam jiwanya tetap utuh tanpa cacat.

​"Setiap malam, aku harus melatih stamina, massa otot, dan refleks pertarungan tubuh ini sampai batas maksimal," bisik Ceira pada pantulan bayangannya di kaca jendela yang gelap. Buku-buku jarinya mengeras seiring ayunan pukulan beruntun yang ia lepaskan ke udara. "Begitu umurku 20 tahun nanti, aku bukan lagi Ceira figuran yang lemah, rapuh, dan gampang diinjak-injak."

​Di balik dinding sangkar emas megah yang baru saja ditinggalkan oleh dua tuan muda pemiliknya, sang burung kecil di dalam sangkar mulai merajut sayapnya sendiri secara sembunyi-sembunyi.

​Ceira menghitung hari demi hari menuju usia 20 tahun dengan keyakinan mutlak di dalam hatinya bahwa ia akan berhasil menghilang tanpa jejak jauh sebelum si kembar sempat pulang di usia 25 tahun.

​Ia berjalan di atas rencana yang ia susun dengan cermat, tanpa pernah sedikit pun menduga... bahwa di belahan bumi yang lain, di dalam menara kaca markas besar Sterling di luar negeri, laporan harian mengenai setiap jengkal aktivitasnya di mansion telah tersimpan rapi di dalam folder rahasia milik Zero dan Lucid.

Episodes
1 Jiwa Baru dan Dua Gerhana
2 Rencana Rahasia Ceira
3 Pertemuan Ceira dengan Protogonis dan Antagonis wanita.
4 Benih Kecemburuan dan Ancaman Tersembunyi
5 Sangkar Tanpa Tuan
6 Jejak Rahasia Sang Merpati
7 Bayangan di Balik Layar
8 Tanda di Leher Sang Kucing Kecil
9 BAB 9: Kurungan Tanpa Celah
10 Sangkar Emas Tanpa Jalan Keluar
11 Malam Pertama di Kandang Sang Pemangsa
12 Jerat Rantai Tersembunyi
13 Ciuman di Balik Kaca Gelap dan Senyum Beracun di Kampus
14 Badai di Koridor Kampus, Tamparan Telak, dan Tiga Sekutu Tak Terduga
15 Pukulan Telak Sang Primadona dan Ujian di Tengah Malam
16 Bayang-Bayang di Balik Pintu, Sisi Lain Scarlett, dan Pertaruhan Tengah Malam
17 Jerat Sang Predator dan Sanksi Mutlak
18 Belenggu Candu dan Paksaan Sang Predator
19 Buku Nikah, Cemburu Buta, dan Badai Hasrat Pagi Hari
20 Pagi yang Beku dan Pertemuan di Koridor Kampus
21 Kepungan di Jam Istirahat dan Pesona Sang Alter Ego
22 Bayangan Pengintai dan Keputusan Sang Predator
23 Bayang-Bayang Menjelang Perjamuan Agung
24 Gaun Merah Darah dan Perangkap di Aula Megah
25 Tetesan Beracun di Balik Kekacauan
26 Permainan Balas Dendam Dimulai
27 Jeritan di Lorong Bawah Tanah
28 Bisikan di Balik Bayang-Bayang Gelap
29 Darah di Atas Semen Dingin
30 Bayangan di Ujung Fajar
31 Simfoni Kematian di Pelabuhan Utara
32 Runtuhnya Singgasana Sang Penguasa Palsu
33 Warisan Darah di Puing-Puing Kerajaan
34 Bayangan di Balik Pintu Besi
35 Malam Penjemputan di Pelabuhan Lama
Episodes

Updated 35 Episodes

1
Jiwa Baru dan Dua Gerhana
2
Rencana Rahasia Ceira
3
Pertemuan Ceira dengan Protogonis dan Antagonis wanita.
4
Benih Kecemburuan dan Ancaman Tersembunyi
5
Sangkar Tanpa Tuan
6
Jejak Rahasia Sang Merpati
7
Bayangan di Balik Layar
8
Tanda di Leher Sang Kucing Kecil
9
BAB 9: Kurungan Tanpa Celah
10
Sangkar Emas Tanpa Jalan Keluar
11
Malam Pertama di Kandang Sang Pemangsa
12
Jerat Rantai Tersembunyi
13
Ciuman di Balik Kaca Gelap dan Senyum Beracun di Kampus
14
Badai di Koridor Kampus, Tamparan Telak, dan Tiga Sekutu Tak Terduga
15
Pukulan Telak Sang Primadona dan Ujian di Tengah Malam
16
Bayang-Bayang di Balik Pintu, Sisi Lain Scarlett, dan Pertaruhan Tengah Malam
17
Jerat Sang Predator dan Sanksi Mutlak
18
Belenggu Candu dan Paksaan Sang Predator
19
Buku Nikah, Cemburu Buta, dan Badai Hasrat Pagi Hari
20
Pagi yang Beku dan Pertemuan di Koridor Kampus
21
Kepungan di Jam Istirahat dan Pesona Sang Alter Ego
22
Bayangan Pengintai dan Keputusan Sang Predator
23
Bayang-Bayang Menjelang Perjamuan Agung
24
Gaun Merah Darah dan Perangkap di Aula Megah
25
Tetesan Beracun di Balik Kekacauan
26
Permainan Balas Dendam Dimulai
27
Jeritan di Lorong Bawah Tanah
28
Bisikan di Balik Bayang-Bayang Gelap
29
Darah di Atas Semen Dingin
30
Bayangan di Ujung Fajar
31
Simfoni Kematian di Pelabuhan Utara
32
Runtuhnya Singgasana Sang Penguasa Palsu
33
Warisan Darah di Puing-Puing Kerajaan
34
Bayangan di Balik Pintu Besi
35
Malam Penjemputan di Pelabuhan Lama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!