Indonesia
NovelToon NovelToon
Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:2.2M
Nilai: 5
Nama Author: Sri Wahyuni

Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Dokumen yang Tak Terduga

Jumat pagi di minggu ketiga, lantai eksekutif Loh Group tidak pernah sepi, tetapi hari itu udaranya berbeda.

Biasanya suara di area sekretaris tertahan rapi. Keyboard, langkah sepatu, pintu lift, telepon internal. Semua bergerak cepat, tapi terkendali. Namun pukul sembilan lewat tiga belas menit, Arman Kang keluar dari ruang Edwin dengan wajah yang membuat dua sekretaris junior langsung berdiri.

"File dari Singapore sudah sampai?"

"Sudah, Ko Arman. Tapi..." Salah satu sekretaris menunjuk map tebal di meja Liana. "Kurir tadi salah antar. Seharusnya ke legal department, tapi masuk ke private office."

Arman mengambil map itu, membuka halaman pertama, lalu rahangnya mengeras.

Semua tulisan di dalamnya berbahasa Inggris. Dua puluh halaman kontrak kerja sama dengan partner luar negeri, dilengkapi lampiran istilah hukum, penalti, confidentiality clause, dan jadwal pembayaran. Di bagian depan ada sticky note merah dari pihak partner: discussion at 3 PM, Jakarta time.

Arman menatap jam.

Kurang dari enam jam.

"Versi terjemahan legal?"

Sekretaris yang sama menelan ludah. "Tim legal bilang paling cepat Senin siang. Mereka sedang audit due diligence merger."

"Meeting dengan Boss jam tiga tidak bisa mundur."

Suara Arman tetap rendah, tetapi seluruh ruangan ikut tegang.

Liana yang sedang menyusun jadwal makan siang Edwin berhenti mengetik. Ia melihat Arman membalik halaman cepat, lalu menelepon seseorang. Dari potongan suaranya, jelas tidak ada kabar baik.

"Saya tidak butuh terjemahan cantik. Saya butuh core terms sebelum jam dua... Ya, saya tahu legal sedang penuh... Tidak, saya tidak bisa bilang ke Boss bahwa kontrak dua puluh halaman tersangkut karena kurir salah lantai."

Telepon ditutup.

Untuk beberapa menit, tidak ada yang berani bicara.

Liana menatap map itu.

Kertas-kertas putih, paragraf panjang, kata-kata yang dulu pernah sangat akrab. Agreement. Liability. Termination. Governing law. Force majeure. Dulu, sebelum hidupnya mengecil menjadi daftar belanja, jadwal obat, dan suara kompor, ia pernah membaca teks seperti itu sampai tengah malam dengan kamus tebal di sampingnya.

Ia tidak menyadari jari-jarinya bergerak, menyentuh ujung map.

Arman melihatnya. "Bu Liana?"

Liana menarik tangan. "Maaf."

Arman mengira ia takut. "Tidak apa-apa. Ini bukan urusan Ibu."

Kalimat itu seharusnya membuatnya diam. Tiga puluh tahun terakhir, setiap kali seseorang berkata ini bukan urusanmu, Liana belajar mundur. Tapi hari itu, entah karena Om Linus baru saja mengingatkannya bahwa bakat tidak basi, entah karena ia lelah menyembunyikan dirinya sendiri, Liana mengangkat kepala.

"Ko Arman," katanya pelan, "saya... bisa coba menerjemahkan bagian inti."

Ruangan itu benar-benar hening.

Salah satu sekretaris junior bahkan berhenti di tengah gerakan menutup laptop.

Arman menatapnya. "Menerjemahkan kontrak?"

"Bukan versi final legal. Tapi kalau hanya untuk bahan meeting, saya bisa bantu membuat ringkasan klausul utama. Nanti tetap harus dicek tim legal."

"Bu Liana, ini kontrak kerja sama investasi."

"Saya mengerti."

Nada Liana tidak keras. Justru karena terlalu tenang, Arman tidak langsung menolak.

Di pintu ruang Edwin, suara rendah terdengar. "Ada masalah apa?"

Edwin berdiri di sana dengan tablet di tangan. Kemeja putihnya rapi, wajahnya tidak menunjukkan panik, tetapi satu tatapan saja membuat semua orang makin lurus.

Arman menjelaskan singkat. Dokumen salah antar. Legal baru bisa Senin. Meeting jam tiga.

Edwin mendengar tanpa memotong. Lalu matanya berpindah ke Liana. "Dan?"

Arman ragu setengah detik. "Bu Liana menawarkan untuk menerjemahkan core terms sementara."

Beberapa pasang mata menunggu reaksi Edwin. Kalau ia menolak, itu masuk akal. Seorang life secretary berusia lima puluh tahun yang baru bekerja beberapa minggu menawarkan menerjemahkan kontrak internasional, kedengarannya seperti keberanian yang terlalu jauh.

Edwin tidak langsung menjawab.

Ia menatap Liana. "Kamu yakin?"

Liana merasakan tenggorokannya kering. Tetapi ia sudah telanjur berdiri di depan pintu yang dulu ia tutup sendiri.

"Saya tidak bisa menjanjikan sempurna. Tapi saya bisa membantu membaca risiko utama, jadwal pembayaran, termination, penalty, dan kewajiban masing-masing pihak. Kalau ada istilah hukum yang harus dipastikan, saya tandai untuk tim legal."

Arman melirik Edwin. Sekretaris lain saling bertukar pandang.

Edwin akhirnya berkata, "Dua jam."

Liana menahan napas.

"Ruang meeting kecil. Arman, siapkan laptop kosong, akses kamus hukum online, dan scan document. Jangan ada yang mengganggu kecuali perlu."

"Baik, Boss."

Edwin menatap Liana sekali lagi. "Kalau tidak sanggup, berhenti. Jangan memaksakan diri."

Kalimat itu bukan meremehkan. Aneh, tetapi Liana mendengar peringatan yang mirip perlindungan.

"Baik, Pak Edwin."

Dua jam berikutnya terasa seperti membuka ruangan lama yang penuh debu.

Liana duduk di ruang meeting kecil dengan dokumen di sebelah kiri, laptop di depan, dan segelas air hangat yang dibawakan staf. Awalnya jari-jarinya kaku. Ia membaca kalimat pertama dua kali, lalu tiga kali. Otaknya mencari jalan yang sudah lama tidak dilalui.

Setelah halaman kedua, ritmenya kembali.

Ia tidak menerjemahkan kata per kata. Ia memetakan. Pihak A, pihak B. Kewajiban pengiriman data. Pembayaran dalam tiga tahap. Denda keterlambatan. Hak pemutusan sepihak jika salah satu pihak membocorkan dokumen. Pilihan hukum Singapore untuk arbitrase, tetapi pelaksanaan aset di Indonesia perlu catatan khusus.

Di halaman keenam, ia mulai menandai risiko.

Di halaman kesebelas, ia berhenti sebentar, memijat pangkal ibu jari yang pegal, lalu melanjutkan.

Di halaman tujuh belas, Arman masuk membawa kopi, tetapi melihat Liana begitu fokus sampai ia meletakkannya tanpa suara.

Pukul sebelas empat puluh tujuh, Liana mengirim file pertama ke Arman.

Judulnya sederhana: Ringkasan Klausul Inti dan Catatan Risiko.

Arman membukanya di laptop ruang sekretaris. Tiga sekretaris mendekat. Awalnya mereka hanya ingin melihat apakah hasilnya bisa dipakai. Beberapa menit kemudian, wajah mereka berubah.

"Ini bukan cuma terjemahan," bisik salah satu.

Arman tidak menjawab. Ia membaca bagian indemnity clause, lalu bagian dispute resolution. Liana bukan hanya memindahkan bahasa. Ia mengubah dokumen rumit menjadi poin-poin yang bisa langsung dipakai Edwin untuk bertanya di meeting.

Arman segera mengirim file itu ke Edwin dan kepala legal.

Sepuluh menit kemudian, kepala legal menelepon.

Suara pria itu terdengar dari speaker Arman. "Siapa yang buat summary ini?"

Arman melirik Liana yang baru keluar dari ruang meeting, wajahnya pucat karena konsentrasi. "Bu Liana."

"Bu Liana yang life secretary itu?"

"Ya."

Ada jeda panjang.

"Arman, saya sudah cek cepat. Ada dua istilah yang perlu kami refine, tapi analisis risikonya tepat. Bahkan catatan soal enforcement di Indonesia itu penting sekali. Tolong kirim orang ini ke legal kalau Boss tidak keberatan."

Sekretaris junior yang dulu paling sering memanggil Liana "Oma" menutup mulutnya.

Liana berdiri kaku. Ia tidak tahu harus bangga atau takut. Selama tiga puluh tahun, setiap kali ia terlihat bisa melakukan sesuatu, rumah Phua menuntutnya melakukan lebih banyak tanpa penghargaan. Hari ini, untuk pertama kalinya, kemampuannya membuat orang diam bukan karena ingin memanfaatkannya, melainkan karena terkejut.

Pukul dua siang, Edwin memanggil Liana ke ruangnya.

Map kontrak ada di meja. Di layar besar, file ringkasan Liana terbuka dengan beberapa highlight.

"Duduk," kata Edwin.

Liana duduk di kursi depan meja, tangan terlipat di pangkuan.

Edwin membaca satu bagian lagi, lalu mengangkat wajah. "Kamu belajar bahasa Inggris di mana?"

Pertanyaan itu sederhana. Namun di baliknya ada jalan panjang yang penuh bekas.

Liana menatap ujung meja. "Waktu muda... saya belajar sendiri sedikit."

"Sedikit?"

Ada nada hampir tidak percaya di sana.

Liana tersenyum tipis. "Saya dulu suka membaca. Papa dan Mama punya banyak buku."

Edwin tidak mendesaknya. Ia hanya menatapnya dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Bukan tatapan seorang CEO kepada pegawai yang berguna. Lebih seperti seseorang yang tiba-tiba menemukan lukisan mahal di gudang tua, tertutup kain, dan bertanya siapa yang tega membiarkannya berdebu selama ini.

"Summary ini menyelamatkan meeting sore ini," katanya.

Panas naik ke mata Liana. Ia menahannya.

"Saya senang kalau bisa membantu."

"Mulai minggu depan, kalau ada dokumen luar negeri yang butuh ringkasan cepat, kamu bisa bantu Arman. Tapi hanya kalau jadwal utamamu memungkinkan. Jangan sampai pekerjaanmu jadi tidak manusiawi."

Liana hampir tertawa pelan. Tidak manusiawi. Ia pernah hidup tiga puluh tahun tanpa ada yang peduli apakah pekerjaannya manusiawi.

"Baik, Pak Edwin."

Meeting pukul tiga berjalan lancar. Liana tidak masuk ruang meeting utama, tetapi dari area sekretaris ia mendengar suara Edwin yang tenang saat bertanya tentang klausul yang tadi ia tandai. Pihak partner di layar terdengar beberapa kali berhenti sebelum menjawab. Arman berdiri di belakang Edwin dengan wajah yang lebih yakin daripada pagi tadi.

Setelah meeting selesai, Edwin melewati area sekretaris.

Ia berhenti di dekat meja Liana. Semua orang spontan menunduk ke pekerjaan masing-masing, tetapi telinga mereka jelas mendengar.

"Kerja bagus, Bu Liana."

Hanya empat kata.

Untuk Liana, empat kata itu seperti pintu kecil yang terbuka.

"Terima kasih, Pak Edwin."

Begitu Edwin masuk ke ruangnya, sekretaris junior yang paling muda mendekati meja Liana dengan wajah malu.

"Bu Liana, maaf... tadi pagi saya sempat ragu."

Liana menatapnya, lalu menggeleng. "Tidak apa-apa. Saya juga ragu."

Gadis itu tertawa kecil, lega. "Kalau nanti saya tidak mengerti istilah kontrak, boleh tanya?"

"Kalau saya tahu, saya bantu."

Satu per satu, suasana berubah. Tidak ada lagi panggilan setengah bercanda yang membuat Liana terasa seperti pajangan tua di kantor modern. Sore itu, saat seorang staf pantry mengantar teh dan bertanya untuk siapa, sekretaris junior menjawab dengan jelas, "Untuk Bu Liana."

Liana menunduk melihat layar laptopnya. Di sana, file ringkasan kontrak masih terbuka. Nama penyusunnya tertulis otomatis di pojok dokumen: Liana Liem.

Ia menyentuh nama itu dengan kursor, lalu perlahan menutup file.

Malamnya, setelah lantai eksekutif sepi, Edwin berdiri di depan jendela ruangannya. Lampu Jakarta menyala seperti ribuan titik api di bawah kaca.

Arman berdiri beberapa langkah di belakangnya.

"Boss, meeting tadi selesai tanpa revisi besar. Partner setuju mengirim draft kedua besok."

Edwin mengangguk. "Bagus."

Arman menunggu, merasa ada hal lain.

Benar saja, Edwin berkata, "Cari tahu latar belakang Liana Liem."

Arman tidak langsung menjawab. "Sampai sejauh apa, Boss?"

Edwin menatap pantulan dirinya di kaca. Di balik pantulan itu, entah kenapa, ia teringat foto lama yang disimpan di laci.

"Semua yang bisa kamu temukan."

1
ika
wes...
intinya pernikahan yg resmi yg mengikat Liana, begitu kah Ko Edwin???
ika
emang siapa F?
ika
semakin panas ...
/Casual//Casual//Casual/
Dewi 1234
summary..arti nya apa y...
Dewi 1234
👍👍👍
Ning Suswati
ceritanya bagus, tapi istilah dlm.bisnis ketinggian, untuk bisa dimengerti semua lapisan
penokohannya kok kelewatan bego banget, penindasan merupakan hal yg wajar bagi kaum konglomerat yg hanya menganggap semua harus patuh atas apapun,
dan tingginya ilmu pendidikan tidak mencerminkan seorang profesor mempunyai adab dan hati,
Ning Suswati
jadi ikut nangis beneran😭😭😭
Ning Suswati
kok tiara sibuk melakukan tes hamil, emangnya pernah tidur dg siapa aja, masa ceritanya ngawur kali
Ning Suswati
aneh banyak teka teki, kok tau2 hamidun, terus tidur dg jin tomang, atau ada titisan dewa
Ning Suswati
semoga saja dg salah kirim tsb bisa membuat tiara tersenyum dlm balutan kecewa yg sdh ditolak dg sopan oleh kang arman
Ning Suswati
kok jessi nikah, kemana suaminya yg dl tdk suka liana lebih lama tinggal numpang dirumah mereka, sekarang jessi menikah
Ning Suswati
kok hamil.sama2 kapan kevin nikahin sha
Ning Suswati
duh bingung sih sebenarnya, tapi masih mau dibaca, perasaan tegang terus
Ning Suswati
terlambat kali albert, orang yg menjadi tanggung jawabmu secara penuh tp 30 thn sdh diabaikan di hina dan dicampakkan
Ning Suswati
ternyata pengusaha besar dan orang kaya, waktu tidurnya sangat kurang
Ning Suswati
aduh ribet sih kisahnya, semua pada rahasia demi kekuasaan dan ego
Ning Suswati
keluarga kaya berpengaruh, profesor tapi otaknya cuma di akademis
Ning Suswati
😭😭😭😭😭😭 jadi ikut nangis haru laupun nunggunya kelamaan
Ning Suswati
kadang2 ceritanya gk masuk akal iya ! masa dlm pengawasan ketat bisa kecolongan liana bahkan diculik, oleh orang yg bukan ahli
Kumalani Wiro
narasinya indah....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!