Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Episode 1

Bab 1

Pengkhianatan Sebelas Tahun

Ponsel Albert menyala tepat ketika Liana sedang menutup kotak bekal terakhir.

Dapur rumah keluarga Phua di BSD City sudah sepi. Jarum jam hampir menyentuh pukul dua belas malam, tetapi aroma ayam jahe dan bawang putih masih tertinggal di udara. Di meja makan, tiga kotak bekal tersusun rapi. Satu untuk Albert. Satu untuk Jason yang kadang pulang tanpa memberi kabar. Satu lagi ia siapkan hanya karena kebiasaan, seolah masih ada keluarga yang menunggu sentuhan tangannya.

Liana baru saja hendak mencuci tangan ketika layar ponsel di ujung meja menyala lagi.

Albert biasanya tidak pernah meninggalkan ponselnya begitu saja. Bahkan saat mandi pun benda itu dibawa masuk ke kamar mandi. Malam ini mungkin ia terlalu lelah. Sepulang dari kampus, ia langsung masuk kamar, mengeluh sakit kepala, lalu tertidur dengan napas berat.

Liana tidak berniat melihat.

Ia hanya ingin mematikan layar agar baterainya tidak habis.

Namun, satu kalimat di notifikasi itu membuat ujung jarinya berhenti di udara.

Sayang, Jayden tadi nanya kapan Papa tidur di sini lagi.

Tubuh Liana seketika dingin.

Panci kecil yang masih ia pegang hampir terlepas. Ia menaruhnya pelan di wastafel, tetapi suara logam menyentuh keramik tetap terdengar terlalu nyaring di dapur sunyi itu.

Sayang.

Papa.

Jayden.

Tiga kata itu tidak mungkin berdiri sendiri. Tidak pada ponsel suaminya. Tidak setelah tiga puluh tahun pernikahan yang selama ini ia rawat seperti kain tua yang terus ditambal agar tidak kelihatan robek.

Liana menatap pintu kamar utama. Tidak ada suara dari sana. Hanya dengung AC dan detak jam dinding.

Tangannya gemetar saat mengambil ponsel itu.

Ia tahu pola kunci Albert. Bukan karena ia suka memeriksa, melainkan karena Albert sering menyuruhnya membalas pesan dosen muda atau mencari nomor mahasiswa ketika sedang menyetir. Malam itu, layar meminta sidik jari.

Liana berdiri beberapa detik, menahan napas. Kemudian ia membawa ponsel itu ke kamar.

Albert tidur miring, satu tangan terkulai di atas selimut. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang menyimpan badai di dalam rumahnya sendiri.

Liana mengangkat ibu jari Albert pelan.

Klik.

Layar terbuka.

Jantungnya berdebar begitu keras sampai ia takut Albert akan terbangun hanya karena suara itu.

Nama kontak di WhatsApp bukan Yuni Yap. Bukan nama perempuan mana pun. Albert menyimpannya sebagai Dokumen Kampus.

Tetapi foto profilnya adalah seorang perempuan muda dengan rambut sebahu, tersenyum di depan kaca apartemen. Di belakangnya ada anak laki-laki memakai seragam sekolah dasar.

Liana membuka percakapan itu.

Ia tidak perlu menggulir jauh untuk memahami semuanya.

Ada foto makan malam. Ada pesan manja yang dibalas Albert dengan kata-kata yang tidak pernah lagi ia ucapkan kepada istrinya. Ada transfer bulanan. Ada bukti pembayaran sekolah. Ada foto kue ulang tahun anak dengan lilin angka sepuluh.

Jayden sudah sepuluh tahun hari ini. Papa harus datang, Ko Albert.

Sebelas tahun, batin Liana.

Jari-jarinya bergerak sendiri, menggulir ke atas, jauh melewati bulan dan tahun. Foto berubah, tanggal berganti, tetapi kebohongan itu tidak pernah putus. Satu demi satu pesan muncul seperti jarum yang ditancapkan perlahan ke kulitnya.

Aku kangen.

Kapan kamu bisa tinggal sama aku?

Liana tidak curiga, kan?

Albert menjawab, Dia terlalu sibuk urus rumah. Tidak akan tahu.

Ruangan terasa berputar.

Liana bersandar ke lemari, ponsel masih di tangan. Tenggorokannya kering. Selama ini ia mengira usia yang membuat Albert berubah. Ia mengira dinginnya suami adalah akibat pekerjaan, ambisi akademik, atau kelelahan mengurus kampus.

Ternyata, ia hanya perempuan yang ditinggalkan di rumah untuk menjaga nama baik.

Tiga puluh tahun ia bangun lebih pagi dari semua orang. Tiga puluh tahun ia menyiapkan makanan, mencuci pakaian, mengatur obat Kim Hwa, menunda keinginan sendiri, menelan setiap sindiran keluarga Phua karena ia percaya rumah tangga harus dijaga.

Lima tahun pertama ia belajar menjadi istri yang baik.

Sepuluh tahun berikutnya ia belajar menjadi menantu yang tidak mengeluh.

Dua puluh tahun terakhir ia belajar hidup dengan lubang di dada setelah Dede hilang, putra kandungnya yang sampai hari ini masih ia cari dalam doa.

Dan selama sebelas tahun dari semua tahun itu, Albert punya rumah lain. Perempuan lain. Anak lain.

Liana membuka galeri percakapan. Ada foto Albert memeluk Jayden di depan pohon Natal kecil. Ada foto Yuni menyandarkan kepala ke bahu Albert di sebuah apartemen. Ada video pendek seorang anak laki-laki meniup lilin sambil berteriak, "Papa, lihat sini!"

Liana menutup mulutnya.

Air mata naik, tetapi ia tidak membiarkannya jatuh. Bukan sekarang. Bukan di depan wajah Albert yang sedang tidur nyenyak setelah mengkhianatinya begitu lama.

Ia mengambil ponselnya sendiri dari nakas, memotret layar satu per satu. Percakapan. Nomor rekening. Bukti transfer. Foto. Nama apartemen yang berkali-kali muncul dalam pesan lokasi.

Apartemen Golden Crown.

Jumlah uang yang dikirim tidak kecil. Uang itu lebih besar daripada biaya bulanan rumah yang selalu Albert perhitungkan dengan suara dingin.

Liana teringat bagaimana minggu lalu Albert menegurnya karena membeli vitamin tambahan untuk Kim Hwa.

"Jangan boros. Uang tidak tumbuh di pohon."

Saat itu ia hanya diam. Ia bahkan merasa bersalah.

Sekarang, rasa bersalah itu berubah menjadi sesuatu yang panas dan tajam.

"Apa yang kamu lakukan?"

Suara Albert membuat Liana menoleh.

Pria itu sudah terbangun. Matanya menyipit, lalu melebar ketika melihat ponsel di tangan Liana.

Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Liana melihat ketakutan di wajah suaminya.

Hanya sebentar.

Setelah itu, wajah Albert mengeras.

"Kembalikan ponselku."

Liana tidak bergerak. "Sebelas tahun?"

Albert turun dari ranjang. "Aku bilang, kembalikan."

"Sebelas tahun, Albert?" Suara Liana pelan, tetapi setiap katanya keluar jelas. "Anak itu sepuluh tahun. Berarti kamu bersama dia sejak aku masih merawat Mama-mu setiap malam."

Rahang Albert menegang. "Kamu membuka ponselku?"

Liana hampir tertawa. Bukan karena lucu, melainkan karena pertanyaan itu terlalu hina.

"Itu yang kamu khawatirkan?"

"Kamu tidak punya hak membuka barang pribadiku."

"Dan kamu punya hak punya keluarga lain?"

Albert mengusap wajahnya kasar. Ia berjalan mondar-mandir di samping ranjang, seperti dosen yang kehilangan bahan kuliah di depan kelas. "Kamu tidak mengerti situasinya."

"Jelaskan."

Albert berhenti. "Yuni tidak menuntut macam-macam."

Nama itu akhirnya keluar.

Yuni.

Perempuan di foto itu punya nama. Perempuan yang selama ini menerima uang, waktu, perhatian, dan tubuh suaminya.

"Dia tidak menuntut?" Liana menatapnya. "Aku yang menuntut apa selama ini, Albert? Aku minta rumah mewah? Aku minta mobil baru? Aku bahkan berhenti kuliah karena ibumu bilang keluarga lebih penting."

"Jangan bawa Mama."

"Kenapa? Kamu boleh bawa perempuan lain ke dalam hidup kita, tapi aku tidak boleh menyebut ibumu yang aku rawat sepuluh tahun?"

Albert menunjuk wajahnya. "Turunkan suaramu."

"Tidak ada siapa-siapa yang perlu kamu tipu malam ini."

"Liana!"

Bentakan itu dulu cukup untuk membuatnya diam. Dulu ia akan menunduk, meminta maaf meski tidak tahu salahnya apa. Dulu ia takut rumah ini retak jika ia menjawab terlalu keras.

Malam ini, retaknya sudah terlihat sampai ke tulang.

Liana meletakkan ponsel Albert di atas meja rias. Ia melepas celemek yang masih tergantung di tubuhnya, melipatnya sekali, lalu menaruhnya di kursi. Gerakan itu pelan, hampir terlalu rapi, tetapi di dalam dadanya sesuatu sudah terputus.

"Aku mau cerai."

Albert terpaku.

Beberapa detik ia hanya menatap Liana seolah perempuan di depannya berubah menjadi orang asing.

Lalu ia tertawa pendek. "Cerai?"

"Iya."

"Kamu bicara karena emosi."

"Aku bicara karena akhirnya sadar."

Albert melangkah mendekat. Bau minyak rambut dan sisa parfum kampusnya menusuk hidung Liana. Dulu bau itu terasa akrab. Sekarang terasa seperti barang asing di rumahnya sendiri.

"Dengar baik-baik," kata Albert, suaranya merendah, penuh tekanan. "Di usia lima puluh, kamu mau jadi apa setelah cerai?"

Liana menatapnya tanpa berkedip.

"Kamu tidak punya pekerjaan. Tidak punya penghasilan. Tiga puluh tahun kamu cuma di rumah. Kamu pikir dunia di luar sana menunggu perempuan sepertimu?"

Setiap kalimatnya seperti sengaja dipilih untuk menampar tempat paling lembut dalam diri Liana.

Ia bisa merasakan cincin nikah di jarinya. Logam itu tiba-tiba terasa sempit, menekan kulit yang sudah lama terbiasa menanggung beban.

"Lebih baik jadi bukan siapa-siapa daripada tetap jadi istri laki-laki yang membohongiku sebelas tahun."

Mata Albert menyala marah. "Jaga mulutmu."

"Kamu yang seharusnya menjaga pernikahanmu."

"Aku laki-laki, Liana. Ada hal yang tidak sesederhana pikiranmu."

"Pengkhianatan memang sederhana. Kamu memilih."

Wajah Albert memerah. Ia meraih ponselnya dari meja rias, tetapi Liana sudah menyalin cukup banyak bukti. Mungkin ia menyadari itu, karena tangannya berhenti di udara.

"Apa yang kamu kirim ke ponselmu?"

Liana diam.

"Jawab!"

"Cukup untuk mengingatkan diriku agar tidak memaafkanmu hanya karena takut lapar."

Albert menatapnya tajam, lalu tertawa sinis. "Kamu pikir bukti itu bisa membuatmu menang? Rumah ini atas namaku. Tabungan atas namaku. Mobil atas namaku. Semua yang kamu pakai selama ini dari uangku."

Liana merasakan kuku ibu jarinya menekan telapak tangan. Sakit kecil itu membuat kepalanya tetap jernih.

"Tiga puluh tahun hidupku juga kamu pakai, Albert."

"Jangan dramatis."

"Aku tidak sedang dramatis. Aku sedang menagih."

Albert mendekat satu langkah lagi. Kali ini, suaranya berubah dingin.

"Kalau kamu berani membawa ini keluar, aku pastikan semua orang tahu kamu istri yang gagal. Tidak bisa menjaga suami. Tidak bisa menjaga anak sampai Dede hilang. Setelah itu kamu mau tinggal di mana? Di rumah Jessy? Berapa lama dia sanggup menampung perempuan tua tanpa uang?"

Nama Dede membuat dada Liana seperti dihantam.

Selama dua puluh tahun, kehilangan itu menjadi luka yang tidak pernah benar-benar mengering. Dan malam ini, Albert menggunakannya seperti pisau.

Liana menahan napas. Ia tidak menangis. Justru karena ia ingin menangis, ia memaksa punggungnya tetap tegak.

"Jangan sebut Dede dengan mulut yang sama yang kamu pakai memanggil anak perempuan itu sayang."

Albert terdiam.

Untuk sesaat, kamar itu hanya diisi suara AC dan napas mereka yang sama-sama berat.

Liana melepas cincin nikah dari jarinya. Kulit di bawah cincin tampak lebih pucat, seperti bagian tubuh yang terlalu lama tidak terkena udara.

Ia meletakkan cincin itu di meja rias, tepat di samping ponsel Albert.

"Mulai malam ini, aku tidak akan melayanimu lagi."

Albert menatap cincin itu, lalu menatapnya. Tidak ada rasa kehilangan di wajahnya. Hanya amarah karena sesuatu yang selama ini ia anggap miliknya mulai berani bergerak sendiri.

"Kamu akan menyesal."

"Mungkin." Liana mengambil ponselnya sendiri dan menggenggamnya erat. "Tapi aku lebih menyesal kalau tetap di sini."

Albert tersenyum tipis, kejam dan penuh keyakinan.

"Kamu berani mengajukan cerai, aku buat kamu tidak mendapat sepeser pun. Ingat, Liana. Semua yang ada di rumah ini atas namaku."

Terpopuler

Comments

Dini

Dini

itulah yg namanya rumah tangga kita sbagai istri tdk bisa menggantungkan harapan pd suami sepenuhnya krn hati manusia bisa brubah,,bukan brarti suami kita d samakan dgn tokoh ini,,semangat thor💪

2026-07-08

10

💥ChaRak4💥😉

💥ChaRak4💥😉

dah lama g buka2 NT.. tetiba lwat di beranda fb..cuss buka NT lgi.. smog alurny bagus.. apa lgi cerita ttg prempuan tangguh pling aku suka

2026-07-15

1

Lisa sari katriani

Lisa sari katriani

Karya yang bagus thor 👍

Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan

Terimakasih 🙏

2026-08-10

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!