Episode 4

Bab 4

Curhat dan Keputusan

"Kim Hwa," katanya, setiap suku kata keluar pelan dan jelas. "Waktu Dede dulu bagaimana? Bicara yang jelas."

Wajah Kim Hwa berubah pucat.

Untuk pertama kalinya sejak Liana mengenalnya, perempuan tua itu tidak langsung membentak. Ia hanya menggenggam tongkatnya erat-erat, seolah kayu itu satu-satunya benda yang bisa menahannya agar tidak runtuh.

Albert melangkah di antara mereka. "Liana, cukup."

"Minggir."

"Kamu sudah keterlaluan."

Liana menatap Albert. "Aku bertanya tentang anakku."

Jason ikut berdiri, bingung dan gelisah. "Mama, jangan buat Oma semakin stres."

Liana hampir tertawa. Selama dua puluh tahun, semua orang meminta ia memikirkan perasaan Kim Hwa. Tidak satu pun bertanya bagaimana perasaannya ketika pulang dari kantor polisi dengan tangan kosong, ketika setiap malam ia memeluk baju kecil Dede sampai bau anak itu hilang pelan-pelan.

"Aku tidak akan bertanya lagi kalau dia menjawab."

Kim Hwa akhirnya menemukan suaranya. "Tidak ada yang perlu dijawab. Kamu memang selalu mencari kambing hitam."

"Kamu tadi bilang aku tidak tahu apa-apa."

"Karena kamu memang tidak tahu cara menjadi istri!" bentak Kim Hwa, cepat sekali mengubah arah. "Lihat, sekarang satu rumah jadi ribut karena kamu."

Albert memanfaatkan celah itu. "Pembicaraan selesai."

Liana tahu mereka tidak akan memberi jawaban malam itu. Kim Hwa sudah kembali memakai topeng marah. Albert kembali memakai kuasa. Jason kembali berlindung di balik kata malu.

Hanya Tiara yang berdiri di ujung ruangan, menatap Liana dengan mata basah.

Liana mengambil tasnya dari kursi. "Baik. Untuk malam ini selesai."

"Kamu mau ke mana?" tanya Albert.

"Ke tempat orang yang masih bisa mendengar tanpa memutar balik semua kata-kataku."

Albert mencibir. "Ke Jessy lagi? Bagus. Curhat terus. Nanti semua tetangga tahu."

Liana berhenti di depan pintu. "Kalau tetangga tahu, mereka akan tahu dari bukti, bukan dari gosip."

Ia keluar sebelum Albert sempat menjawab.

Di luar, udara malam BSD City terasa lembap. Liana berjalan cepat sampai ke ujung kompleks, baru kemudian memesan ojek online. Di perjalanan, angin mengenai wajahnya, tetapi panas di dadanya tidak turun. Kalimat Kim Hwa berulang lagi.

Kamu tidak tahu apa-apa.

Apa yang tidak ia ketahui?

Jessy membuka pintu dengan wajah siap perang.

"Masuk."

Begitu duduk di ruang tamu, Liana menceritakan semuanya. Tentang Kim Hwa yang dibawa pulang dari panti jompo. Tentang Jason yang membela Albert. Tentang Yuni yang menelepon dan memanggilnya Tante dengan suara manis penuh racun. Tentang kalimat Kim Hwa yang terputus di nama Dede.

Jessy mendengarkan tanpa memotong. Setelah Liana selesai, ia berdiri, mengambil napas panjang, lalu meletakkan kedua tangan di pinggang.

"Aku ingin datang ke rumahmu dan jambak semua orang di sana."

Untuk pertama kalinya sejak hari itu, Liana tersenyum tipis. "Jangan. Nanti kamu yang dilaporkan."

"Biar saja. Aku punya banyak energi untuk masuk berita."

Liana menggeleng pelan. Senyum itu hilang cepat. "Aku tidak bisa hanya marah, Jess. Albert bilang semua harta atas namanya. Kalau aku tidak bergerak dengan benar, dia akan benar-benar membuatku keluar tanpa apa-apa."

"Maka kita cari orang yang mengerti hukum."

Jessy mengambil ponsel dari meja. "Aku punya teman lama. Namanya Dennis Yoe. Pengacara. Dia sering bantu kasus perceraian, terutama yang suaminya merasa dunia ini cuma milik dia."

Liana menatapnya ragu. "Aku belum siap bayar mahal."

"Kita tanya dulu. Jangan kalah sebelum perang."

Sepuluh menit kemudian, suara laki-laki terdengar dari speaker ponsel. Tenang, formal, tetapi tidak dingin.

"Selamat malam, Bu Liana. Jessy sudah menjelaskan garis besarnya. Saya Dennis Yoe."

Liana duduk lebih tegak. "Maaf mengganggu malam-malam, Ko Dennis."

"Tidak apa-apa. Saya perlu tahu beberapa hal. Pernikahan tercatat sipil, benar?"

"Iya. Kami Kristen. Menikah resmi tiga puluh tahun lalu."

"Baik. Berarti gugatan perceraian melalui Pengadilan Negeri, bukan Pengadilan Agama. Soal harta, prinsip umumnya harta bersama selama pernikahan bisa diminta pembagian. Nama di sertifikat atau rekening bukan satu-satunya penentu."

Liana menutup mata sebentar.

Untuk pertama kalinya sejak Albert mengancamnya, ada sesuatu yang longgar di dadanya.

"Jadi saya masih punya hak?"

"Punya," jawab Dennis tegas. "Apalagi kalau ada bukti perselingkuhan, transfer, foto, riwayat chat, dan saksi keluarga saat ada pembicaraan pembagian harta. Simpan semuanya. Jangan kirim ke orang banyak. Buat salinan aman."

Jessy langsung mengambil buku catatan. "Salinan aman, email baru, cloud, flashdisk. Oke."

Dennis melanjutkan, "Jangan terpancing keluar rumah tanpa catatan. Jangan menandatangani dokumen apa pun tanpa saya baca. Dan kalau Pak Albert mengalihkan aset, kita bisa pakai bukti transaksi."

Liana teringat Apartemen Golden Crown.

"Saya punya bukti transfer rutin ke Yuni. Ada juga tagihan kartu kredit dengan alamat Golden Crown."

Di seberang, Dennis diam sebentar. "Simpan itu baik-baik. Itu bisa sangat penting."

"Apa yang harus saya lakukan besok?" tanya Liana.

"Buat kronologi tertulis," jawab Dennis. "Mulai dari kapan Ibu mengetahui perselingkuhan, kapan Pak Albert mengancam, siapa saja yang hadir saat keluarga menekan Ibu. Tulis tanggal, tempat, saksi. Untuk proses mediasi nanti, detail seperti itu sering lebih kuat daripada kemarahan."

Liana mencatat di kertas kosong. Tangannya masih sedikit gemetar, tetapi kali ini gemetar itu punya arah.

"Dan satu lagi," tambah Dennis. "Jangan datang sendirian kalau keluarga Phua mengundang Ibu untuk bicara. Bawa saksi atau rekam percakapan jika memungkinkan, selama tidak digunakan untuk memeras atau menyebar fitnah. Kita pakai bukti untuk hukum, bukan untuk drama."

Kalimat itu menampar Liana dengan cara yang aneh. Selama tiga puluh tahun ia bertahan demi menjaga wajah keluarga. Sekarang, untuk pertama kalinya, ia belajar menjaga dirinya sendiri dengan rapi.

Setelah panggilan berakhir, Jessy menaruh teh hangat di depan Liana. "Lihat? Kamu tidak sendirian."

Ponsel Liana bergetar.

Pesan WhatsApp masuk dari Tiara.

Mama, aku mendukung Mama. Maaf tadi aku belum berani bicara. Tapi aku akan bantu sebisaku.

Liana membaca pesan itu dua kali. Tenggorokannya mengencang, tetapi kali ini bukan karena luka saja.

"Dari Tiara?" tanya Jessy.

Liana mengangguk. "Dia masih punya hati."

Malam itu, mereka bekerja sampai lewat tengah malam. Jessy membuat email baru untuk Liana. Liana mengirim semua tangkapan layar, foto, bukti transfer, dan rekaman percakapan yang sempat ia simpan. Ia memberi nama folder itu sederhana.

Bukti.

Setiap file yang masuk terasa seperti batu kecil yang ia susun menjadi tembok.

Menjelang subuh, ketika Jessy tertidur di sofa, Liana masih duduk di depan laptop. Ia membuka mutasi rekening yang pernah Albert unduh dan lupa hapus dari komputer rumah. Angkanya berbaris panjang, kering, tanpa emosi.

Lalu matanya berhenti pada beberapa transaksi besar.

Albert pernah berkata tabungan mereka sekitar lima ratus juta. Nyatanya, saldo yang tersisa bahkan tidak sampai tiga ratus juta.

Ke mana sisanya pergi?

Liana menggulir lagi.

Di salah satu tagihan kartu kredit, sebuah alamat muncul berulang.

Apartemen Golden Crown.

Terpopuler

Comments

aridah hati

aridah hati

harus jadi wanita super cerdas

2026-08-21

0

Sriza Juniarti

Sriza Juniarti

,wow..kerenn

2026-08-18

0

Iedha Ady

Iedha Ady

lanjut aja

2026-08-04

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!