Pada tahun 2032, Perang Dunia Ketiga hanya membutuhkan sebelas hari untuk membuat negara-negara kehilangan arti. Rudal nuklir menghantam ibu kota, pangkalan militer, kawasan industri, dan pelabuhan. Listrik padam, komunikasi terputus, persediaan pangan berhenti bergerak, sementara pemerintahan yang masih tersisa tidak lagi mampu menjangkau rakyatnya. Jutaan orang meninggalkan kota-kota yang terbakar dan berkumpul di tempat yang masih memiliki air, tanah bersih, serta bahan bakar. Dari kekacauan itu lahir faksi-faksi baru yang dipimpin sisa tentara, pemilik bunker, pemuka agama, dan siapa pun yang mempunyai cukup senjata untuk memaksakan aturan. Ketika mereka mulai memperebutkan sisa dunia, debu radioaktif terus menebal di atmosfer, matahari memucat, dan suhu turun dari minggu ke minggu. Musim dingin belum tiba, tetapi melalui radio-radio darurat yang masih menyala, satu nama mulai terdengar dari wilayah ke wilayah. The Red Winter.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruangan Hijau
Salah seorang penjaga membawa mereka menyusuri lorong yang sama tanpa mengarahkan mereka kembali menuju lift. Aiden sempat menoleh saat pintu-pintu logam itu berdengung di kejauhan, tetapi langkah penjaga terus bergerak menuju bagian sudut lantai.
Lorong di sana lebih sepi daripada bagian depan Empire. Pintu-pintu kayu berdiri pada kedua sisi, masing-masing diberi nomor menggunakan cat putih yang sebagian telah memudar.
Penjaga berhenti di depan pintu paling ujung. Ia memasukkan sebuah kunci, memutarnya dua kali, lalu mendorong daun pintu yang sempat tersangkut pada lantai.
Ruangan yang diberikan Dmitri tidak semewah ruang kerjanya. Cat hijau pada dinding telah mengelupas dalam lembaran panjang, memperlihatkan lapisan abu-abu dan bercak lembap di bawahnya.
Tiga ranjang diletakkan terpisah pada tiga sisi ruangan. Rangkanya terbuat dari logam yang berkarat pada sambungan, tetapi setiap ranjang mempunyai busa tipis dan kain penutup yang tampak telah dicuci.
Aiden menatap busa tersebut cukup lama. Di rumah, kasurnya hanyalah karung besar berisi jerami yang harus ditambah setiap beberapa bulan ketika isinya mulai hancur dan menusuk melalui kain.
Ranjang-ranjang Empire tampak terlalu rata dan bersih. Walaupun busanya tidak lebih tebal daripada beberapa jari, Aiden membayangkan punggungnya tidak akan menemukan batang jerami patah setiap kali berbalik saat tidur.
Sebuah lemari pakaian berdiri dekat pintu dengan kedua daun terbuka. Bagian dalamnya kosong selain beberapa gantungan kayu, sedangkan sebuah meja kerja kecil dan kursi ditempatkan pada dinding di seberangnya.
Lampu menggantung pada kabel dari tengah langit-langit. Cahaya putihnya menyentuh seluruh sudut ruangan tanpa asap dan membuat lapisan cat hijau yang terangkat tampak semakin jelas.
Marcus masuk terlebih dahulu dan meletakkan tas punggungnya dekat ranjang di sisi pintu. Robin berjalan menuju ranjang tengah, tetapi tidak langsung duduk dan hanya menekan busanya menggunakan ujung jari.
Aiden memilih ranjang paling pojok. Ketika ia duduk, busa itu tenggelam sedikit di bawah tubuh dan kembali mengembang saat beratnya dipindahkan.
Penjaga tetap berdiri di ambang sambil memegang gagang pintu. Tatapannya beralih dari Marcus kepada kedua anak, lalu berhenti pada tas dan senapan yang diletakkan dekat ranjang.
“Kalau membutuhkan sesuatu, jangan sungkan meminta.”
Marcus mengangguk kepadanya. Bagian kiri wajahnya masih membengkak, dan darah kering tetap melekat pada sudut bibir.
“Terima kasih.”
Penjaga menutup pintu dari luar. Bunyi langkahnya bergerak sepanjang lorong, semakin pelan, kemudian hilang di antara dengung listrik yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Aiden melepaskan tas selempang dari bahunya dan meletakkannya di atas ranjang. Kanvasnya penuh debu, salah satu sisinya tergores, dan bagian talinya mulai mengurai akibat perjalanan.
Ia membuka penutup tas, meraba bagian dalam, lalu menemukan ketapel terselip di bawah gulungan kain. Kayu hitamnya tidak lagi mengilap seperti ketika pertama diberikan Ernest, tetapi kedua cabang dan ikatan kulitnya masih utuh.
Aiden memasukkan ketapel ke dalam saku kemeja. Sakunya terlalu pendek sehingga hanya bagian gagang yang dapat masuk, sedangkan kedua cabang kayu mencuat sampai mendekati dadanya.
Marcus melihatnya melakukan itu tetapi tidak mengatakan apa pun. Ia menurunkan senapan dari bahu, menyandarkannya pada dinding dekat ranjang, lalu duduk untuk membuka tali sepatu.
Robin akhirnya duduk pada ranjang tengah. Kedua tangannya diletakkan di atas paha, dan pandangannya menetap pada sepatu baru yang kini tertutup debu serta noda gelap dari Haven.
Tidak ada pembicaraan di antara mereka. Suara paling keras hanya berasal dari logam ranjang yang berderit setiap kali salah seorang bergerak.
Aiden mempunyai terlalu banyak hal untuk ditanyakan, tetapi semua pertanyaannya seperti bertumpuk pada tenggorokan. Nama Dmitri, gelang Miranda, serangan raider, dan cerita tentang penyakit ibunya saling mendorong tanpa satu pun dapat keluar lebih dahulu.
Marcus membungkuk dengan kedua siku berada di atas paha. Sesekali lidahnya menyentuh luka di bagian dalam bibir, lalu wajahnya mengernyit saat rasa sakit datang.
Robin tetap diam di tempatnya. Cahaya lampu membuat rambut pirangnya terlihat pucat, sementara bayangannya jatuh tipis pada dinding hijau di belakang ranjang.
Ketukan terdengar dari pintu. Tiga ketukan cepat itu membuat Marcus langsung meraih senapan sebelum ia menyadari orang di luar menunggu dan tidak mencoba masuk.
Ia berdiri sambil meninggalkan senapan pada dinding. Setelah memeriksa kedua anak, Marcus berjalan menuju pintu dan membukanya hanya selebar tubuh.
Seorang wanita berdiri di lorong. Kulitnya berwarna zaitun, rambut hitam panjangnya jatuh melewati bahu, dan gaun gelap yang dikenakannya bergerak ringan saat ia menarik napas.
Begitu melihat Marcus, perempuan itu masuk tanpa menunggu dipersilakan. Kedua lengannya langsung melingkari tubuh Marcus dan memeluknya erat.
“Oh, Marcus.”
Marcus sempat menegang karena gerakan mendadak tersebut. Beberapa saat kemudian, satu tangannya terangkat dan menyentuh punggung perempuan itu.
“Aku sudah mendengar semuanya dari Dmitri. Aku turut berduka mengenai Miranda.”
Marcus memejamkan mata sebentar. Ketika membukanya kembali, ia melepaskan pelukan itu secara perlahan.
“Selma.”
Perempuan tersebut menarik tubuhnya mundur. Senyum tipis muncul pada wajahnya, meskipun matanya tetap memeriksa luka di bibir dan bengkak pada pipi Marcus.
Ia tidak bertanya mengenai luka tersebut. Pandangannya berpindah melewati bahu Marcus dan langsung berhenti pada Aiden.
Selma berjalan mendekat. Aiden sempat berdiri dari ranjang, tetapi sebelum ia dapat bertanya, kedua lengan perempuan itu telah memeluk tubuhnya.
Wajah Aiden menekan kain pada bahunya. Ia mencium bau sabun, daun segar, dan aroma bunga yang sangat tipis, berbeda dari bau debu, keringat, serta asap yang melekat pada dirinya.
Kedua tangannya tetap kaku di sisi tubuh. Ia tidak mengetahui siapa perempuan itu atau alasan dirinya dipeluk seperti seseorang yang telah lama dinantikan.
Selma melepaskan pelukan, tetapi kedua telapak tangannya tetap berada pada bahu Aiden. Ia menunduk dan melihat wajahnya dengan jarak yang membuat Aiden tidak tahu ke mana harus mengarahkan mata.
“Kau memiliki mata ibumu.”
Jari Selma bergerak untuk membersihkan debu pada pipi Aiden. Sentuhan tersebut ringan, tetapi ucapan mengenai Miranda membuat dadanya kembali menegang.
“Namaku Selma Kolkov.”
Selma melirik Marcus, lalu kembali kepada Aiden. Senyum pada wajahnya menjadi sedikit lebih lebar.
“Beruang besar pemarah yang kaujumpai tadi adalah suamiku.”
Aiden tidak dapat menahan sudut mulutnya agar tidak terangkat. Membayangkan seseorang menyebut Dmitri beruang besar terasa lucu, terutama setelah melihat pria itu membuat Marcus jatuh hanya dengan satu pukulan.
Selma tampak puas melihatnya tersenyum. Ia mengusap kedua lengan Aiden, kemudian memeriksa tubuh kurus serta pakaian kotor yang dipakainya.
“Kau sudah makan?”
Aiden mengangguk. Roti dan daging dari perjalanan memang sudah masuk ke perutnya, meskipun rasa lapar mulai muncul kembali setelah mencium berbagai bau makanan dari bagian lain Empire.
“Berapa umurmu, Nak?”
“Sepuluh tahun.”
Tangan Selma berhenti pada lengan Aiden. Senyumnya memudar sedikit dan matanya menetap pada wajah bocah itu lebih lama daripada sebelumnya.
“Dia juga seharusnya seusiamu.”
Aiden mengerutkan kening. Nada Selma berubah begitu cepat hingga ia tidak yakin perempuan itu memang bermaksud mengucapkannya.
“Dia?”
Selma berkedip dan melepaskan lengan Aiden. Ia merapikan rambut panjangnya ke belakang telinga, lalu kembali memasang senyum tipis yang tidak mencapai kedua matanya.
“Tidak apa-apa.”
Aiden masih ingin bertanya, tetapi Selma sudah mengalihkan perhatian. Ia melihat Robin yang duduk sendirian pada ranjang tengah dan berjalan ke arahnya.
“Kau pasti Robin.”
Robin segera berdiri. Kedua tangannya bertemu di depan tubuh, dan ia menundukkan kepala seperti saat berbicara kepada orang dewasa yang belum dikenalnya.
“Ya, Nyonya.”
Selma menggeleng pelan. Ia berlutut agar wajah mereka berada pada ketinggian yang hampir sama.
“Panggil aku Selma saja, Sayang.”
Robin mengangguk. Tatapannya sempat terangkat kepada perempuan itu sebelum kembali turun ke lantai.
“Kemari, Nak.”
Selma membuka kedua tangan tanpa langsung menyentuhnya. Robin diam selama beberapa saat, kemudian maju satu langkah dan membiarkan dirinya dipeluk.
Tubuhnya menegang pada awalnya. Ketika tangan Selma mengusap punggungnya, kedua bahu Robin perlahan turun dan wajahnya menyentuh sisi leher perempuan itu.
Selma tidak menahan pelukan terlalu lama. Ia melepaskannya sebelum Robin merasa perlu menjauh, lalu memperhatikan kemeja besar yang menggantung hingga mendekati lutut gadis itu.
“Kalian bertiga membutuhkan pakaian baru.”
Marcus berdiri dekat pintu sambil mengusap luka pada bibir. Ia menggeleng sebelum Selma sempat melihat keadaan pakaian yang tersisa di dalam tas.
“Kau tidak perlu merepotkan diri.”
“Tidak merepotkan sama sekali.”
Selma mengatakannya sambil tetap memandang Robin. Tangannya menggulung sedikit bagian lengan kemeja gadis itu yang kembali terlepas sampai menutupi jari.
“Ayo, Robin. Kita carikan pakaian untuk kalian.”
Robin tidak langsung bergerak. Ia memandang Marcus, kemudian Aiden, seakan meminta kepastian bahwa dirinya boleh meninggalkan ruangan bersama orang yang baru dikenal.
Selma mengikuti arah pandang tersebut. Senyum kecil kembali muncul saat ia berusaha menarik perhatian Robin tanpa memaksanya.
“Kami juga mempunyai taman bunga. Kau mau melihatnya?”
Kepala Robin terangkat. Untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan Haven, cahaya kecil muncul pada matanya dan garis kaku di sekitar mulutnya mengendur.
“Kau punya bunga sungguhan?”
“Tentu. Jumlahnya banyak.”
Senyum tipis tumbuh pada wajah Robin. Perubahannya begitu kecil, tetapi cukup membuat Aiden hampir lupa bahwa beberapa menit sebelumnya gadis itu masih memandangi sepatunya tanpa suara.
Robin segera turun dari ranjang. Selma mengambil tangannya dan membawanya menuju pintu, tetapi berhenti sebentar untuk melihat Marcus.
“Aku akan mengembalikannya setelah kami menemukan pakaian yang sesuai.”
Marcus mengangguk. Robin menoleh satu kali kepada Aiden sebelum mengikuti Selma keluar dari ruangan.
Pintu menutup dan suara langkah mereka menjauh sepanjang lorong. Setelah keduanya menghilang, ruangan hijau itu terasa lebih kosong meskipun dua orang masih berada di dalamnya.
Aiden tetap berdiri dekat ranjang. Ketapel mencuat dari saku kemejanya, menekan dada setiap kali ia menarik napas.
Marcus berjalan menuju tas punggung dan berjongkok untuk membuka ikatannya. Ia mengeluarkan kain bersih, membasahinya menggunakan sedikit air, lalu mulai membersihkan darah dari bibir tanpa memandang Aiden.
Kesunyian yang tadi terasa berat kini berubah menjadi sesuatu yang menekan. Aiden tidak lagi dapat menahan pertanyaan yang sejak ruang kerja Dmitri terus bergerak di dalam kepalanya.
“Dad, kenapa kau tidak pernah mengatakan Mom meninggal karena raider?”
Tangan Marcus berhenti. Kain basah masih menempel pada bibirnya ketika ia menatap lantai di antara kedua kaki.
Beberapa saat berlalu tanpa jawaban. Aiden dapat mendengar dengung lampu dan suara lift bergerak jauh di dalam bangunan.
Marcus menurunkan kain. Darah baru merembes dari luka yang kembali terbuka, membentuk garis merah tipis pada dagunya.
“Aku tidak mempunyai keberanian untuk mengatakannya kepadamu.”
Aiden menatap wajah ayahnya. Jawaban itu tidak membuat panas yang mengumpul di dadanya berkurang.
“Tapi kau baru saja mengatakannya di depanku saat kita berada di ruangan Dmitri.”
Marcus berdiri perlahan. Kain bernoda darah diremas di dalam satu tangan, sementara tangan lainnya menggantung dekat sisi tubuh.
“Karena aku tidak mempunyai pilihan.”
Ia mengambil satu langkah mendekati Aiden. Bocah itu langsung mundur sampai bagian belakang lututnya menyentuh rangka ranjang.
“Aku harus memastikan kau tetap aman.”
Aiden mengingat setiap kali Marcus mengatakan ibunya sakit. Ia mengingat nada yang selalu singkat, wajah yang berpaling, dan jawaban bahwa suatu hari nanti ia akan mengetahui semuanya.
Kini hari itu tiba bukan karena Marcus memilih mempercayainya. Kebenaran baru keluar ketika Dmitri menuntut jawaban dan nasib mereka bergantung pada keputusan pria tersebut.
Panas yang memenuhi mata Aiden akhirnya berubah menjadi air. Ia mengedip keras, tetapi satu tetes tetap jatuh dan bergerak menuruni pipi yang penuh debu.
“Aku benci kau, Dad.”
Wajah Marcus berubah. Tangannya terangkat seakan hendak menyentuh Aiden, tetapi gerakannya berhenti sebelum mencapai bahu putranya.
Aiden menarik ketapel agar tidak tersangkut pada saku. Ia berjalan cepat melewati Marcus, membuka pintu, lalu keluar sebelum ayahnya dapat menutup jalan.
“Aiden.”
Marcus memanggil dari dalam ruangan. Suaranya tidak keras, tetapi bunyinya mengikuti Aiden beberapa langkah sepanjang lorong.
Aiden tidak menoleh. Ia terus berjalan dengan kedua tangan mengepal dan rahang terkatup, menunggu suara sepatu ayahnya menyusul dari belakang.
Tidak ada langkah yang datang. Pintu ruangan tetap terbuka beberapa saat, kemudian Aiden mendengar engselnya bergerak pelan tanpa benar-benar tertutup.
Air matanya mulai tumpah lebih deras. Ia menyekanya menggunakan lengan kemeja sambil terus menjauh, tetapi cairan hangat segera menggantikan setiap tetes yang berhasil dihapus.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di Empire, Aiden tidak peduli ke mana lorong itu akan membawanya. Ia hanya ingin berada sejauh mungkin dari Marcus sebelum suara tangis yang ditahannya berhasil keluar.