Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Suamimu Kau Jual Takdir Menjadikannya Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di balik kesuksesan dan harta melimpahnya, Nadya hidup dalam kesepian dan tekanan keluarga. Suatu malam, ia tak sengaja menyerempet Sarah, teman masa sekolahnya yang hidup dalam kesulitan. Di luar dugaan, Sarah yang putus asa menawarkan suaminya sendiri, Armand—pria tampan yang taat beribadah—kepada Nadya seharga 2 miliar rupiah, disertai ancaman laporan polisi jika menolak.
Ketika Nadya mendatangi rumah mereka untuk menemui Armand, situasi berubah menjadi bencana bagi Sarah. Armand yang mengetahui istrinya tega memperjualbelikan martabat rumah tangga demi uang merasa harga dirinya diinjak-injak, dan seketika menjatuhkan talak kepada Sarah. Pada akhirnya, Nadya tetap menyerahkan uang tersebut kepada Sarah, sementara sebuah takdir baru mulai terajut di antara Nadya dan Armand.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24

Sinar matahari pagi menyiram hangat koridor rumah sakit saat dokter menyerahkan surat izin pulang.

Setelah memastikan seluruh pemeriksaan fisik menunjukkan hasil memuaskan, Armand dengan penuh kehati-hatian menuntun Nadya keluar.

Jemari mereka saling bertaut erat, tak terlepaskan sepanjang langkah menuju area parkir.

Armand membukakan pintu mobil, membiarkan Nadya duduk di kursi penumpang depan dengan nyaman sebelum ia melangkah memutari mobil dan duduk di balik kemudi.

"Mas, kita langsung ke kantor saja ya," ujar Nadya mendadak, menatap suaminya dengan raut wajah penuh keseriusan.

"Masalah proyek seragam dan ulah Sarah serta Rian harus segera diselesaikan. Aku tidak bisa tinggal diam di rumah sementara di kantor—"

"Tidak. Tidak ada kantor hari ini," potong Armand tegas, memutar tubuhnya menghadap Nadya sepenuhnya.

"Tapi, Mas—"

"Nadya, dengarkan Mas," potong Armand lagi dengan suara rendah namun sarat akan kebulatan tekad yang tak bisa dibantah. Sorot matanya menatap tajam, memperlihatkan kekhawatiran seorang suami yang tak ingin mengambil risiko sedikit pun.

"Kamu baru saja keluar dari rumah sakit. Tubuhmu belum pulih total dari efek obat penenang itu, dan Mas tidak akan mengizinkanmu memeras otak dan tenaga di kantor sekarang."

Nadya mencoba membuka mulut untuk memprotes, namun Armand mengangkat sebelah tangannya, menyela lembut tetapi penuh ketegasan.

"Urusan kantor, proyek seragam, dan penanganan Sarah serta Rian sudah ada Siska, tim hukum, dan pengamanan internal yang mengurus. Hari ini fokusmu hanya satu: pulang ke rumah, istirahat total, dan pulih. Selama Mas masih berdiri di sini sebagai suamimu, Mas yang akan pegang kendali di luar. Mengerti, Sayang?"

Melihat sorot mata Armand yang begitu protektif dan penuh kasih sayang, benteng keperkasaan CEO dalam diri Nadya melunak seketika.

Ia menghembuskan napas panjang, menyadari betapa bersyukurnya ia memiliki suami yang selalu siap membentenginya.

Armand segera melajukan mobilnya menuju ke rumah, membelah jalanan kota yang mulai ramai oleh hiruk-pikuk pagi.

Jemarinya mencengkeram kemudi dengan mantap, sesekali melirik ke arah Nadya yang kini duduk tenang di sampingnya.

Ia menyunggingkan senyum tipis melihat istrinya yang akhirnya penurut dan mau menyandarkan kepala di kepala kursi.

Setibanya di halaman rumah, Armand bergegas turun dan membukakan pintu untuk Nadya.

Tanpa membiarkan istrinya melangkah terlalu banyak, ia kembali merengkuh pinggang Nadya, membimbingnya masuk ke dalam rumah yang disambut hangat oleh Bibi.

"Bi, tolong siapkan teh hangat dan sup bernutrisi untuk Nadya ya," pesan Armand seraya menuntun Nadya menuju kamar utama mereka di lantai dua.

"Baik, Pak Armand," sahut Bibi dengan sigap.

Di dalam kamar, Armand membantu Nadya melepas sepatu dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk yang sudah sangat dirindukan wanita itu.

Ia menarik selimut tebal hingga menutupi dada Nadya, lalu duduk di tepi tempat tidur sambil menggenggam jemari istrinya.

"Sekarang kamu istirahat. Jangan pikirkan apa-apa lagi," bisik Armand lembut, mengusap helai rambut yang menutupi dahi Nadya.

Nadya tersenyum tipis, merasakan kehangatan yang menjalar hingga ke dadanya.

"Mas, nggak ke kantor?"

"Mas akan tetap di rumah memantau semuanya dari laptop, sekalian menjaga permaisuri Mas yang keras kepala ini," goda Armand dengan kerlingan mata.

Nadya terkekeh pelan sebelum akhirnya mengangguk.

"Terima kasih banyak ya, Mas."

Mata Nadya perlahan mulai terpejam saat rasa nyaman menguasainya.

Namun, begitu napas istrinya terdengar teratur menandakan ia telah tertidur lelap, Armand bangkit dan menuju ke ruang samping kamar.

Ia mengambil ponselnya dan menelepon Siska. Sorot mata Armand seketika berubah tajam dan dingin.

"Siska," sapa Armand dengan suara rendah.

"Kumpulkan semua laporan perkembangan proyek seragam dan pergerakan Rian serta Sarah hari ini. Kirim ke email-ku sekarang. Saya tidak akan biarkan mereka membuat pergerakan sekecil apa pun tanpa kita ketahui."

Nadya membuka matanya kembali saat mendengar suaminya berbicara dengan Siska lewat ponselnya.

Suara Armand terdengar begitu berwibawa dan penuh ketegasan.

Melihat bagaimana suaminya mengambil alih kendali, melindungi bisnis, dan berdiri tegak menjadi benteng untuknya, senyum tipis terukir di bibir Nadya.

Ada rasa bangga dan haru yang membuncah di dadanya.

Ketika Armand menyelesaikan panggilan teleponnya dan berjalan kembali ke kamar, Nadya bersandar pada kepala ranjang sambil menatapnya hangat.

"Mas, kalau seperti ini aku rela Mas jadi CEO. Aku pensiun saja," goda Nadya dengan nada bercanda namun sarat rasa kagum.

Armand yang mendengarnya langsung mendekat dan mencubit hidung Nadya gemas hingga sang istri meringis pelan seraya tertawa.

"Mas tidak mau jadi CEO. Mas lebih suka menjahit," balas Armand mantap sambil mendudukkan diri di tepi ranjang.

"Menjahit baju itu melatih kesabaran dan bikin hati tenang. Kalau jadi CEO, Mas bisa cepat tua mengurusi dokumen dan berkas sebanyak itu."

Nadya tertawa renyah, meraup tangan Armand yang masih berada di wajahnya lalu menggenggamnya erat.

"Tapi, tadi cara Mas memerintah Siska dan tim pengamanan benar-benar seperti pemimpin karismatik, lho."

"Itu karena Mas harus melindungi kamu dan karya-karya kita, Dek," bisik Armand, raut wajahnya berubah menjadi lebih serius dan lembut.

Ia menunduk, mengecup jemari Nadya satu per satu.

"Mas tidak tertarik dengan jabatan atau kekuasaan. Bagi Mas, melihat kamu aman, bisa terus merancang busana bersama, dan melihat proyek seragam kita berhasil—itu sudah lebih dari cukup."

Nadya menatap lurus ke dalam mata suaminya. Kesederhanaan dan ketulusan Armand selalu berhasil meluluhkan hatinya.

Di balik jemari bakatnya yang pandai merangkai benang dan kain, Armand memiliki jiwa pelindung yang tangguh.

"Terima kasih ya, Mas. Sudah selalu ada di depan untuk menjagaku," ucap Nadya tulus.

Armand tersenyum manis, membelai pipi istrinya dengan lembut.

"Sama-sama, Sayang. Sekarang, Permaisuri fokus pemulihan saja. Biar Penjahit kesayanganmu ini yang membereskan para pengganggu di luar sana."

Nadya menganggukkan kepalanya dengan senyum simpul yang menghiasi bibirnya.

Rasa aman dan hangat yang melingkupi dadanya melunturkan sisa-sisa keletihan yang mendekap tubuh.

Perlahan, ia kembali memejamkan matanya, mengizinkan dirinya tenggelam dalam tidur nyenyak yang kini tak lagi dihinggapi bayang-bayang kecemasan.

Armand memandangi wajah damai istrinya selama beberapa saat.

Ia merapikan kembali selimut tebal yang melapisi tubuh Nadya, memastikan tidak ada hembusan pendingin ruangan yang menusuk kulit sang istri.

Dengan langkah sangat pelan agar tak menimbulkan suara sekecil apa pun, Armand berjalan menuju sofa dekat jendela kamar.

Ia membuka laptopnya, menyala layarnya yang memancarkan dokumen-dokumen penting terkait proyek seragam serta laporan intelijen dari tim detektif swasta.

Di balik wajah tenangnya saat menatap Nadya, otak Armand berputar cepat menyusun strategi.

Ia tahu Rian dan Sarah tidak akan berhenti hanya karena penangguhan jaminan ini.

Bebasnya mereka justru akan memicu tindakan yang lebih nekat dan menghalalkan segala cara.

Jemari Armand menari di atas kibor, mengetikkan instruksi susulan kepada tim hukum dan pengamanan internal.

Kali ini, ia tidak akan lagi bersikap defensif. Sebagai seorang suami dan mitra kerja Nadya, ia siap mengambil alih barisan depan untuk mengunci rapat-rapat setiap celah yang bisa dimanfaatkan oleh kedua pengganggu itu.

1
Muft Smoker
semoga semua bnr2 berakhir ,,
gx da drama2 lgi Dr trio Medusa itu😒😒😒
Wayan Suryani
gampang banget nyuliknya TDK masuk akal
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,
Muft Smoker
konflik udh mulai kerasa nii ,,
Muft Smoker
itu laa kalo rasa dendam Dan iri udh berkerak di hati ,,
semua cara pastiii di lakukan ,,
akhirny menjerumuskan sang pelaku sendiri ,,
Muft Smoker
lanjuuuut kak ,
makin penasaran ma kelanjutan ny
Muft Smoker
Sarah memilih lawan yg salah ,,
Muft Smoker
jgn sampai km terpengaruh arman ,, kalo gx nnti aq slepet km pake nuklir ,, 😒😒😒😒
Muft Smoker: 🤭🤭🤭🤭😁😁😁😁😁😁
total 2 replies
Muft Smoker
Ceuk kuring mah Sarah geus meunang 2 milyar rupiah, mimitian usaha, ulah miceunan sagalana tanpa alesan, usahakeun ngatur hirup anjeun sangkan leuwih hade,
Muft Smoker
dulu Armand km tukar dg uang 2 miliar ,, skrang dg tdk tau malu ny km ingin mengambil ny kembali krn melihat Armand sudah berbeda ,,
Muft Smoker
mak ma ank sama aj ,,
awas jgn boros2 ,, nnti cepat abis ,, mau minta ma sypa lgii
Muft Smoker
awas aja nnti liat si Armand udh sukses ,, ente minta balik lgi ,,
,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!