Seluruh keluarga menganggap Ashlyn adalah anak pembawa sial. Sejak kecil ia dihina dan dipukuli hanya karena tak memiliki kecerdasan seperti anak kecil pada umumnya. Demi menyingkirkan Ashlyn untuk selamanya, sang ibu tiri membuang Ashlyn di perbatasan dan berbohong bahwa suami Ashlyn adalah Jenderal Ethan Harold, seorang jenderal perang yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh.
Mereka yakin Ashlyn akan dibunuh saat berani mengaku sebagai istri sang jenderal.
"Suami mu adalah Jenderal Ethan Harold."
"Suami Ashlyn?" tanya Ashlyn dengan polosnya.
"Iya, kalau kamu tersesat, cari saja dia. Katakan bahwa kamu adalah istrinya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IISJ Bab 30 - Sungguhan Saja
Ethan masih berdiri di hadapan ibunya ketika pandangannya kembali beralih kepada Ashlyn. Gadis itu sejak tadi berdiri di sampingnya sambil menggenggam ujung lengan jas Ethan. Tatapannya berpindah-pindah antara Ethan dan Aluna, menunggu apa yang akan dilakukan kedua orang dewasa itu setelah percakapan yang tidak ia pahami.
Ethan kemudian teringat sesuatu.
"Ashlyn," panggil Ethan.
"Iya, Suamiku?" Ashlyn langsung menjawab dan menatap sang suami lekat.
"Kamu mau makan es krim?"
Mata Ashlyn seketika berbinar. Perubahan ekspresinya begitu cepat sampai Aluna yang masih tenggelam dalam pikirannya ikut memperhatikan.
"Es krim?" ulang Ashlyn penuh semangat.
Ethan mengangguk. "Kemarin masih ada banyak, kamu belum menghabiskannya, kan?"
Ashlyn langsung menggeleng cepat. "Belum habis, memang masih ada."
"Kalau begitu pergilah makan, setelah itu belajar sebentar lalu tidur."
Ashlyn tersenyum lebar. "Boleh?"
"Boleh."
Ashlyn tampak begitu senang sampai hampir saja kembali memeluk Ethan, tetapi ia mengingat sesuatu yang baru saja dipelajarinya. Ia berhenti sendiri dan tersenyum bangga.
"Ashlyn tidak boleh mengganggu Suami kalau Suami sedang bicara dengan orang lain, termasuk Mommy," ucap Ashlyn, ini juga adalah hasil pelajarannya hari ini.
Ethan terdiam sesaat.
Kalimat itu membuatnya menyadari bahwa apa yang diajarkan para guru kepada Ashlyn mulai benar-benar diterapkan oleh gadis tersebut.
"Bagus," puji Ethan.
Ashlyn semakin tersenyum, kemudian ia menoleh kepada mom Aluna. "Mommy mau es krim juga?"
Aluna yang sejak tadi masih mencoba memahami keadaan langsung tersentak kecil. "Es krim?"
"Iya." Ashlyn mengangguk penuh semangat. "Enak sekali, kemarin Suami kasih Ashlyn banyak eskrim."
"Ethan memberimu eskrim?!" Mom Aluna makin terkejut, hampir tertawa melihat semua keanehan ini. Namun sebelum menjawab, ia lebih dulu melihat Ethan yang berdiri tidak jauh darinya.
Ethan memberikan isyarat kecil dengan kepalanya, menggeleng yang artinya Tidak.
Mom Aluna mengangkat alis, Ia akhirnya memahami bahwa Ethan sengaja tidak ingin Ashlyn berada di sini selama mereka membicarakan hal-hal yang cukup serius.
"Terima kasih, Sayang," jawab Mom Aluna lembut. "Tapi Mommy tidak mau."
Ashlyn tampak sedikit kecewa, tetapi hanya sesaat. "Kalau begitu Ashlyn makan sendiri."
Ethan mengangguk. "Pergilah."
Ashlyn kemudian menoleh ke arah kepala pelayan yang berdiri tidak jauh dari sana. "Bibi, ayo."
"Baik, Nona."
Ashlyn berjalan bersama kepala pelayan menuju pintu samping taman. Namun sebelum pergi, ia kembali menoleh kepada Ethan.
"Suamiku."
"Hm?"
"Ashlyn makan es krim dulu ya."
"Iya."
"Nanti Ashlyn kembali."
Ethan mengangguk. "Hm."
Ashlyn akhirnya pergi dengan langkah riangnya. Bahkan setelah beberapa langkah, suara tawanya masih terdengar samar dari kejauhan.
Begitu sosok Ashlyn benar-benar menghilang dari pandangan, suasana taman mendadak terasa berbeda.
Aluna yang sejak tadi menahan begitu banyak pertanyaan akhirnya mengembuskan napas panjang. Tatapannya masih tertuju pada pintu tempat Ashlyn pergi.
Baru sekarang, ketika gadis itu tidak lagi berada di hadapan mereka, Aluna bisa mengingat kembali setiap hal yang dilihatnya sejak tiba di mansion.
Cara Ashlyn berbicara.
Cara Ashlyn bertanya.
Cara gadis itu menggenggam tangan Ethan dan bahkan duduk dipangkuan Ethan.
Juga caranya pamit untuk makan eskrim.
Semuanya terasa seperti seorang anak yang sedang berkomunikasi dengan ayahnya, bukan suami istri seperti yang ia bayangkan.
Aluna perlahan mengerutkan kening. "Ethan."
"Iya, Mom."
"Dia..." Aluna berhenti sejenak, mencari kata yang tepat agar tidak terdengar menghakimi. "Ashlyn itu sebenarnya seperti apa?" tanya mom Aluna, akhirnya ini adalah pertanyaan pertama yang keluar dari mulutnya.
Ethan tidak langsung menjawab, sementara Aluna menatap putranya lebih dalam. Tak ingin mendapatkan jawaban yang sederhana, dia butuh penjelasan panjang.
"Jangan salah paham, Mommy tidak sedang menilai dia," ucap mom Aluna lagi karena Ethan hanya diam. Suara mom Aluna terdengar begitu lembut, tetapi jelas penuh kekhawatiran. "Hanya saja cara dia berbicara dan bersikap benar-benar seperti anak kecil," timpal mom Aluna kemudian.
Ethan mengangguk perlahan. "Aku tahu."
Aluna menarik napas. "Dia sebenarnya berusia berapa tahun?"
"20 tahun."
Aluna sedikit terkejut. "Benarkah?"
"Iya."
"Kalau begitu..." Aluna menatap ke arah pintu yang baru saja dilewati Ashlyn. "Kenapa dia seperti itu?"
Ethan akhirnya mengajak ibunya duduk di salah satu kursi yang berada di taman. Ia sendiri duduk berhadapan dengan mom Aluna. Sekarang Ethan benar-benar bersiap untuk membuka semuanya pada sang ibu.
"Aku akan menjelaskan dari awal."
Aluna langsung duduk lebih tegak dan Ethan menarik napas perlahan.
"Aku bertemu Ashlyn di perbatasan."
"Di perbatasan?"
Ethan mengangguk, kemudian ia menceritakan semuanya. Tentang bagaimana dirinya pertama kali menemukan Ashlyn dalam keadaan terluka dan ketakutan. Tentang bagaimana gadis itu ditinggalkan oleh keluarganya sendiri. Tentang perlakuan buruk yang diterimanya sejak kecil dan bagaimana keluarganya membuat Ashlyn percaya bahwa Ethan adalah suaminya.
Aluna mendengarkan tanpa menyela. Semakin lama Ethan berbicara, semakin berubah pula ekspresi wajah mom Aluna.
Ketika Ethan menceritakan bahwa Ashlyn bahkan tidak mendapatkan pendidikan yang layak, mata Aluna mulai berkaca-kaca. Bahkan hingga sekarang masih banyak bekas pula di tubuh Ashlyn.
Mom Aluna akhirnya menangis, makin sesak dadanya saat membayangkan Ashlyn yang seperti gadis idiot.
"Ya Tuhan," ucap mom Aluna lirih, hancur sekali hatinya. Mom Aluna baru mengetahui Ashlyn beberapa menit, tetapi mendengar kehidupan gadis itu membuat naluri keibuannya muncul begitu saja.
Ethan kemudian melanjutkan tentang bagaimana Ashlyn terus menganggap dirinya sebagai suami hingga sekarang. Bagaimana gadis itu tidak memahami batasan hubungan seperti orang dewasa pada umumnya. Bagaimana Ashlyn begitu yakin bahwa Ethan adalah orang yang harus melindunginya.
"Karena itu aku memutuskan untuk membawanya ke mansion. Memanggil dokter dan psikiater untuk menyembuhkannya," jelas Ethan pula.
Aluna menatap putranya dalam-dalam. Ada sesuatu yang berbeda dalam suara Ethan ketika membicarakan tentang Ashlyn. Bukan sekadar rasa kasihan, tapi ada ketulusan yang tidak bisa disembunyikan.
Ethan melanjutkan, "Ashlyn harus belajar dari awal seperti anak kecil, membaca, menulis, mengenali angka, memahami lingkungan, bahkan melatih kemampuan motoriknya. Semuanya akan dilakukan secara bertahap."
Aluna mengusap sudut matanya yang sejak tadi sudah basah. "Kasihan sekali."
Ethan diam.
"Kenapa kamu membiarkannya terus memanggil mu suami? Kenapa tidak dijelaskan sejak awal?" tanya mom Aluna.
"Aku tidak ingin membuatnya semakin bingung."
Aluna mengangguk perlahan. "Jadi selama ini semua orang mengira kalian benar-benar menikah?"
"Hm, hanya orang-orang tertentu yang tahu keadaan sebenarnya."
Aluna terdiam lagi, dalam diamnya masih begitu banyak hal yang menggangu di hatinya. Ashlyn benar-benar butuh bantuan, bahkan rasanya mom Aluna ingin turun tangan sendiri untuk membatu gadis itu sembuh.
Mom Aluna tak bisa membayangkan bagaimana jika Ashlyn sendirian di luar sana, alangkah banyaknya kejahatan yang akan menghampiri.
Mom Aluna kemudian menatap Ethan sekali lagi, baru kali ini ia melihat Ethan begitu peduli pada seorang wanita. Kemudian sebuah pertanyaan muncul begitu saja di dalam pikiran mom Aluna.
"Kalau begitu, kenapa tidak kamu nikahi sungguhan saja," ucap mom Aluna.
Rasakan ya permainan baru saja dimulai ... ini masih awal untuk selanjutnya pasti akan lebih mengejutkan lagi ...
kira kira begitulah yang dirasakan Ethan pada Ashlyn saat perubahan itu ada pada Ashlyn....
aslyn ga kenal anda yah
jadi jangan coba2 mendekati aslyn