"Mulai hari ini, silakan ambil kembali anak laki-laki kebanggaanmu, Ibu. Karena suamiku... selamanya memang hanya milik keluarganya!"
Dulu, rumah tanggaku bersama Mas Bayu begitu harmonis. Dia suami yang manis dan selalu menyerahkan seluruh gajinya padaku. Tapi semua hancur saat kami mengalah untuk pindah dan tinggal satu atap dengan Ibu Mertua serta adik ipar.
Neraka dimulai ketika suami dari adik iparku menganggur. Alih-alih menegur menantunya yang malas, Ibu Mertua justru terus mengamuk dan memanipulasi keadaan. Kena guilt trip dan air mata sang ibu, Mas Bayu tega merebut hak keuanganku. Seluruh gajinya resmi diserahkan ke rekening ibunya demi membiayai ipar parasit.
Saat nafkah anakku dipangkas habis dan suamiku lebih memilih melihatku menangis demi senyum ibunya, aku sadar pernikahan ini sudah mati.
Nggak akan ada lagi tangisan mengemis. Aku akan angkat kaki membawa putriku, mengembalikan Mas Bayu pada keluarganya, dan membuktikan betapa hancurnya hidup mereka tanpa diriku
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUAMIKU SELAMANYA MILIK KELUARGANYA
Matahari pagi belum sepenuhnya membakar hawa dingin kota, namun atmosfer di dalam kantor hukum bernuansa gelap di pusat kota itu sudah terasa panas. Bayu duduk di kursi kulit mewah, berhadapan dengan seorang pria berkacamata yang mengenakan setelan jas rapi. Anton, seorang pengacara handal yang dikenal menghalalkan segala cara demi memenangkan kliennya di persidangan.
Di atas meja, tergeletak berkas gugatan cerai dari Maya yang sudah kusut berlipat-lipat.
"Jadi, kamu tidak mau menceraikannya, tapi kamu juga ingin merebut hak asuh anak secara penuh?" tanya Anton sambil menyesap kopinya tenang.
"Bukan cuma itu, Bang," sela Bayu dengan mata menyipit tajam, jemarinya mengepal di atas lutut. "Aku mau dia berlutut memohon padaku. Dia sudah berani mempermalukanku di depan umum. Dia kabur membawa anakku, dan sekarang dia dilindungi oleh laki-laki kaya berengsek."
Anton tersenyum tipis, menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Dalam hukum keluarga, kasus seperti ini makanan empuk, Bayu. Kita bisa serang dari dua sisi. Pertama, tuduhan nushuz istri pembangkang yang meninggalkan rumah tanpa izin suami. Kedua, tuduhan perselingkuhan. Kita buat opini bahwa dia melarikan anak karena ada pria idaman lain."
"Tapi... apa itu cukup buat memenangkan hak asuh Naya?" tanya Bayu memastikan.
"Kita tambah bumbu," bisik Anton dengan nada licik. "Kita gugat bahwa Maya tidak stabil secara mental untuk merawat anak, dan pria asing itu adalah ancaman bagi perkembangan psikologis anak di bawah umur. Kita buat seolah-olah Maya mengorbankan moral demi mengincar harta pria itu. Kalau kita bisa hancurkan nama baiknya di depan hakim, hak asuh pasti jatuh ke tanganmu. Begitu anak ada di tanganmu, Maya pasti akan bertekuk lutut dan menurut lagi padamu."
Seringai kepuasan perlahan terukir di wajah Bayu. Dendam di dadanya terasa sedikit terobati. "Lakukan, Bang. Pakai cara apa pun. Aku punya sisa tabungan dan aku siap bayar berapa pun asal Maya hancur."
Sementara itu, di sebuah ruang rapat megah berlantai marmer di gedung pencakar langit milik perusahaan Ibra, suasana tak kalah serius.
Ibra duduk di ujung meja panjang. Di sampingnya, Maya duduk dengan cemas, didampingi oleh Pak Hendra salah satu pengacara hukum keluarga paling terkemuka dan disegani di negara ini, yang secara khusus ditunjuk langsung oleh Ibra untuk mengawal kasus Maya.
"Bu Maya tidak perlu cemas," buka Pak Hendra dengan tenang sembari membuka laptopnya. "Gugatan cerai yang sudah kita daftarkan sangat kuat. Bukti-bukti penelantaran emosional, ancaman verbal, hingga tindakan intimidasi di minimarket kemarin yang untungnya terekam cukup jelas oleh kamera CCTV minimarket yang sudah ditamankan oleh tim Pak Ibra akan menjadi kartu truf kita."
Maya menoleh ke arah Ibra dengan rasa takjub sekaligus terharu. Pria itu ternyata bergerak begitu cepat, bahkan sudah mengamankan rekaman CCTV tempat kejadian kemarin tanpa sepengetahuannya.
"Apakah... apakah pihak Mas Bayu bisa merebut Naya dari saya, Pak?" tanya Maya dengan suara penuh kekhawatiran.
Pak Hendra tersenyum mantap. "Anak di bawah umur 12 tahun secara hukum Islam dan undang-undang perkawinan hampir mutlak jatuh ke tangan ibu kandung, selama sang ibu tidak terbukti melakukan kejahatan berat atau gangguan jiwa. Ditambah lagi, pihak suami memiliki rekam jejak emosi yang tidak stabil di depan anak. Kami juga akan mengajukan permohonan restrining order atau perintah perlindungan agar Pihak Tergugat tidak bisa mendekati Bu Maya dan Naya dalam jarak tertentu selama proses persidangan berlangsung."
Ibra yang sejak tadi menyimak akhirnya angkat bicara, suaranya berat dan penuh ketegasan yang tak tertandingi.
"Pastikan dia tidak punya celah sedikit pun untuk bermain kotor, Hendra," tegas Ibra. "Aku tahu tipe pria seperti dia. Ketika egonya terluka, dia akan mencoba menyerang karakter dan nama baik Maya."
"Tentu, Pak Ibra. Tim kami sudah mengantisipasi semua kemungkinan manipulasi dari pihak sana," jawab Pak Hendra mantap.
Setelah rapat selesai dan Pak Hendra pamit meninggalkan ruangan, tersisa Ibra dan Maya di dalam ruang kerja yang luas itu. Keheningan mendadak melingkupi mereka, meninggalkan canggung yang lembut.
Maya berdiri dari kursinya, menatap Ibra dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kak Ibra... saya sungguh tidak tahu harus membalas semua kebaikan Kakak dengan cara apa," tutur Maya tulus. "Langkah Kak Ibra terlalu jauh untuk seseorang yang baru kembali hadir di hidup saya."
Ibra bangkit dari duduknya, melangkah mendekat dan berhenti tepat dua langkah di depan Maya. Sorot matanya yang tenang seolah menyerap seluruh kegelisahan yang ada di hati wanita itu.
"Aku tidak pernah menghitung apa yang sudah aku keluarkan untukmu dan Naya, Maya," ujar Ibra lembut. "Ini bukan soal transaksi balasan. Ini soal tanggung jawab hatiku."
Maya menahan napasnya sejenak, dadanya berdebar hebat.
"Persidangan pertama akan digelar minggu depan," lanjut Ibra, menatap dalam ke iris mata Maya. "Ini akan jadi perang yang melelahkan. Tapi kamu tidak melangkah sendirian. Aku akan selalu berdiri di belakangmu, menjadi benteng yang tidak akan biarkan siapa pun menjatuhkanmu lagi."
Kata-kata Ibra meresap dalam ke sanubari Maya. Ketakutan akan gertakan Bayu yang biasanya membayangi mimpi buruknya, perlahan-lahan menguap digantikan oleh rasa percaya diri yang baru. Babak baru pertempuran hukum telah dimulai, dan Maya tahu, kali ini ia tak lagi menjadi wanita lemah yang bisa diinjak-injak begitu saja.