Celine butuh 200 juta untuk operasi ibunya. Dengan sisa harga diri, ia datang untuk memohon pada kekasihnya, Jason. Namun yang ia temukan justru Jason sedang meniduri wanita lain di atas meja kerjanya.
Saat dunia Celine runtuh, Damian Salvatore datang. Raja mafia yang satu tatapannya bisa membuat orang lumpuh ketakutan.
"Jadilah milikku. Teman ranjangku. Dan aku akan memberikan ibumu dokter terbaik." ~ Damian.
Celine mengira itu neraka. Padahal itu baru awal. Karena bagi Damian Salvatore, apa yang sudah ia klaim, tidak akan pernah ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35 : Penyergapan yang direncanakan dari dalam.
Malam itu gelap gulita, seakan langit sengaja menutupi bulan dan bintang. Jalan tol lingkar luar yang biasanya sesekali dilewati kendaraan kini terasa mati, sepi hingga suara deru mesin tiga mobil lapis baja terdengar bergema berlebihan di udara dingin. Lampu jalan di sepanjang jalur ini satu per satu padam, bukan mati sendiri, jelas-jelas dimatikan dari jarak jauh. Hanya sisa cahaya redup dari rembulan yang sesekali menyelinap di antara awan tebal, menerangi aspal yang licin dan sepi.
Di mobil pertama, Damian duduk tegak di kursi penumpang depan. Pistol berat tergeletak di pangkuannya, tangannya menggenggam erat gagang senjata itu, jari telunjuknya menyentuh pelindung pelatuk dengan waspada. Matanya tak lepas dari pantulan spion tengah, menatap terus ke arah dua mobil di belakangnya, menyadari betapa terbukanya mereka di jalur ini. Instingnya yang sudah terlatih bertahun-tahun berteriak nyaring di dalam kepala. Ada yang salah, ada yang tidak beres, meski semua laporan menyatakan jalur aman.
Di mobil kedua, Romano duduk menekuk ke sisi pintu, kedua tangannya masih diborgol erat ke depan tubuhnya. Di sebelah kirinya, istrinya memeluk erat tubuh kecil anak laki-laki mereka yang baru berusia lima tahun. Anak itu gemetar hebat, wajahnya tersembunyi di dada ibunya, matanya terpejam rapat seakan menolak melihat kegelapan di luar jendela kaca yang gelap itu. Tidak ada satu pun di antara mereka yang berani bersuara.
Di mobil ketiga, empat pengawal terbaik yang dipilih langsung oleh Luca duduk dengan senjata siap di tangan, tatapan mereka tajam menyapu setiap sudut jalan yang gelap dan kosong itu.
Suara statis terdengar pendek dari radio di mobil Damian.
"Don, dua menit lagi kita memasuki jembatan utama. Jalur bersih. Tidak ada laporan pergerakan mencurigakan. Semua terlihat aman."
Damian tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras. Kata "aman" di dunia yang ia tinggali sering kali justru berarti bahaya yang sedang bersembunyi.
Dan tiba-tiba—
DUARRR!!!
Ledakan keras mengguncang udara di sebelah kiri. Ban depan kanan mobil ketiga meledak seketika, asap hitam mengepul tebal, besi pelek bergesekan dengan aspal menciptakan bunyi decit yang mengerikan. Mobil itu oleng parah, terhuyung ke kiri lalu berusaha tetap menjaga keseimbangan sebelum akhirnya terseret pelan ke bahu jalan.
"TURUN! SEMUA TURUN!" teriak Damian, suaranya meledak di dalam kabin mobil. "PENYERANGAN! JANGAN BERKUMPUL!"
Belum sempat pintu mobil ketiga terbuka sepenuhnya, lima mobil SUV hitam meluncur turun dari arah atas jembatan. Lampu mati, kaca jendela tertutup film gelap pekat, tidak ada plat nomor sama sekali. Mereka bergerak presisi, memotong jalan keluar dan masuk, memerangkap konvoi di tengah jembatan yang terbuka di segala sisi.
TAT TAT TAT TAT!!!
Tembakan bertubi-tubi terdengar beruntun, namun anehnya bunyinya tidak meledak-ledak karena senjata-senjata itu dipasangi peredam. Peluru-peluru itu menghantam badan mobil lapis baja dengan dentuman keras dan beruntun, memantul ke segala arah, meninggalkan lekukan-lekukan dalam di permukaan baja yang seharusnya tak tertembus itu.
Para pengawal langsung melompat keluar, berlindung di balik pintu mobil yang terbuka, membalas tembakan dengan tenang dan terukur. Tidak ada kepanikan, hanya disiplin yang sudah terlatih berbulan-bulan.
Luca berlari mendekat ke sisi mobil Damian, berteriak di tengah bunyi tembakan yang masih terdengar.
"Don! Mereka pakai peredam! Ini bukan polisi! Dan senjata mereka... terlalu seragam, terlalu presisi! Ini tim profesional!"
Damian sudah berdiri di balik kap mesin mobil pertama, tubuhnya merendah, senjatanya terangkat menuju arah SUV yang terbuka. Wajahnya kaku dan dingin.
"Lindungi mobil tengah! Jangan sampai Romano dan keluarganya terluka! Jangan biarkan mereka mati di sini!"
Dari balik kaca jendela mobil kedua yang tergores peluru, terdengar isak tangis tertahan anak kecil itu. Ibunya mendekapnya semakin erat, menutup kedua telinga anak itu dengan telapak tangannya sendiri, berusaha menyaring bunyi mengerikan di luar sana agar tidak merusak telinga kecil itu.
Damian merangkak rendah di balik perlindungan badan mobil, bergerak cepat namun tetap waspada menuju mobil kedua. Dengan satu gerakan cepat ia membuka pintu penumpang.
"Keluar. Sekarang. Ikut aku. Masuk ke mobilku, sekarang juga!" perintahnya tegas, matanya menatap Romano tanpa keraguan.
Romano mengangguk cepat, wajahnya pucat pasi. Dengan tangan yang masih diborgol, ia merangkak keluar, menuntun istrinya yang memeluk anak mereka, berlari membungkuk di belakang tubuh Damian yang menjadi tameng hidup bagi mereka bertiga menuju mobil pertama.
Saat sempat bernapas sejenak di balik perlindungan mobil pertama, Romano menoleh ke Damian dengan mata masih membelalak penuh ketakutan sekaligus kebingungan.
"Kenapa... kenapa mereka tahu rute ini? Rute ini baru diputuskan beberapa jam yang lalu! Bahkan pengawal pun tidak tahu sebelum berangkat!"
"Karena ada tikus di dalam rumah," jawab Damian datar, dingin dan pasti, seakan sudah menduga hal ini akan terjadi sejak awal. Ia mencondongkan tubuh sedikit, menodongkan senjatanya ke arah atas jembatan dari mana arah serangan itu datang.
Dan di sana, di tepi pagar pembatas jembatan yang tinggi itu, seorang pria berdiri. Sendirian. Mengenakan jas berwarna abu-abu tua yang rapi, seolah baru saja keluar dari pertemuan bisnis, bukan dari medan perang. Tangannya terselip di dalam saku jas, tidak memegang senjata apa pun. Jaraknya sekitar lima puluh meter, cukup jauh untuk mengenali wajah, namun cincin batu hitam besar di jari kelingking tangannya yang terlihat saat ia menyelipkan tangan ke saku itu berkilau samar terkena pantulan cahaya bulan yang sesekali muncul.
Pria itu tidak menembak. Tidak memberi perintah. Ia hanya berdiri diam, menonton. Seakan ini hanyalah sebuah pertunjukan yang ia pesan khusus untuk dilihat dari tempat duduk paling baik.
Lalu perlahan, pria itu mengangkat tangan kanannya. Menempelkan dua jari ke pelipis dengan gerakan hormat militer yang rapi, lambat, dan penuh penghinaan tersembunyi.
Dan kemudian, seakan terserap ke dalam kegelapan malam, ia menghilang.
Tepat saat itu terdengar teriakan perintah dari salah satu penyerang yang tersembunyi di bawah jembatan.
"MUNDUR! KITA TARIK DIRI!"
Lima mobil SUV hitam itu langsung berbalik arah dengan gesit, melaju pergi secepat mereka datang, menghilang ke dalam gelap tanpa meninggalkan jejak arah yang jelas. Seolah mereka tidak pernah ada di sana.
Kini tinggal keheningan yang berat. Hanya suara napas terengah-engah, bau mesiu yang menyengat dan asap tipis yang masih mengepul dari ban mobil yang meledak.
Luca berlari mendekat ke arah Damian, wajahnya penuh keringat dan kekhawatiran. "Don! Laporan... dua pengawal terluka, satu cukup serius. Mobil ketiga rusak parah, tidak bisa dilanjutkan perjalanan. Tapi... Romano dan keluarganya selamat. Tidak ada luka sedikit pun."
Damian berdiri perlahan, bajunya ternoda debu dan bekas bubuk mesiu, napasnya teratur namun berat. Ia menatap kosong ke arah tepi jembatan tempat pria jas abu-abu itu berdiri sesaat lalu lenyap.
"Bukan Matteo," bisiknya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada orang lain. "Matteo tidak punya keberanian sebesar ini. Dia tidak punya pasukan sebersih dan seprofesional ini. Dan dia tidak akan berdiri menonton dari atas sana dengan tenang begitu."
Ia berbalik menatap Romano yang masih duduk di dalam mobil pertama, memeluk istrinya dan anaknya yang kini sudah berhenti menangis namun masih terisak pelan.
"Kau bilang di dokumen transfer itu ada tanda tangan kedua?" tanya Damian, suaranya rendah namun penuh penekanan.
Romano mengangguk cepat, masih terlihat syok. "Iya... di bawah nama Matteo, ada tanda tangan lain. Tanda tangan yang terlihat lebih mewah, lebih tua... dan lebih berpengaruh."
Damian menutup matanya sejenak, menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan, seakan menelan kepahitan yang baru saja disadari sepenuhnya.
"Bawa mereka ke safehouse yang kedua. Lokasi baru yang belum pernah dipakai siapa pun. Ganti semua rute perjalanan pulang. Mulai detik ini, tidak ada satu orang pun yang tahu ke mana kita pergi, kecuali aku dan kau, Luca. Bahkan pengawal yang ikut konvoi tadi tidak boleh tahu tujuan akhir sebelum kita berangkat."
Luca mengangguk tegas. "Siap, Don. Tapi... orang di atas jembatan tadi siapa, Don?" tanyanya pelan, ragu namun tidak bisa menahan rasa penasaran itu.
Damian tidak menjawab. Ia hanya menggenggam gagang pistolnya semakin erat, buku jarinya memutih, matanya menatap lurus ke depan menembus kegelapan jalan tol yang masih sepi itu.
"Seseorang yang sejak awal ingin aku dan Matteo saling menghancurkan satu sama lain dulu," jawabnya akhirnya, nada bicaranya dingin dan berat. "Saling membunuh sampai salah satu atau kami berdua mati. Dan saat itu terjadi... dia baru akan muncul, mengambil sisa kekuasaan yang tersisa, dan berdiri di atas puing-puing kami berdua."
-
-
-
Bersambung...