Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.
Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.
Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.
Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.
Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Panggilan yang Terputus
Siang hari di kantor pusat Adhi Jaya Perkasa terasa bagaikan neraka kecil bagi Ziko. Ruang kerjanya yang luas di lantai dua tidak lagi menjadi tempat yang nyaman.
Telepon genggam di atas meja kerjanya terus berdering nada panggilan darurat dari berbagai pihak, mulai dari pemasok bahan bangunan, pengawas lapangan di lokasi proyek, hingga manajer operasional bank yang mempertanyakan kepastian jaminan investasi.
"Pak Ziko, pihak bank memberi batas waktu sampai jam empat sore ini," ucap sekretarisnya dengan wajah pucat, berdiri ragu di ambang pintu. "Jika dokumen adendum garansi dari Grand Wijaya Group tidak diserahkan, seluruh sisa kredit usaha kita akan dibekukan sementara."
Ziko mengusap wajahnya yang terasa panas dengan kasar. Dasi merah di lehernya sudah ia longgarkan sejak tadi. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi kerja, memandangi berkas-berkas di mejanya yang masih berantakan. Tidak ada satu pun dokumen penting yang tersusun rapi seperti biasanya.
"Kamu keluar dulu. Nanti saya hubungi pihak bank," usir Ziko lelah.
Setelah sekretarisnya menutup pintu, Ziko meraih telepon genggamnya. Pikirannya melayang pada kekacauan di rumahnya pagi tadi. Piring-piring kotor yang menumpuk di wastafel, kemeja kerjanya yang lecek, dan dokumen-dokumen vital yang tidak dapat ia temukan. Semua kerumitan ini terjadi hanya dalam kurun waktu dua hari sejak Mahira angkat kaki dari rumahnya.
Ziko mendengus pelan, menepis rasa gelisah yang merayap di dadanya. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang ia rasakan sekarang murni karena kerepotan teknis. Ia butuh Mahira untuk membereskan kekacauan ini, setidaknya sampai ia mendapatkan bantuan dana dari keluarga Clarissa dan menemukan asisten rumah tangga yang baru.
"Perempuan itu pasti cuma main-main. Paling sekarang sedang menumpang di rumah temannya dan menunggu aku menyuruhnya pulang," gumam Ziko pada dirinya sendiri.
Pria itu membuka aplikasi kontak di ponselnya, mencari nama Mahira.
Selama tiga tahun pernikahan mereka, Ziko jarang sekali menelepon istrinya. Mahira hanya menemuinya di rumah, menyiapkan seluruh kebutuhannya tanpa pernah menuntut atau menelepon ke kantor kecuali untuk hal yang sangat mendesak. Ziko mengingat betul bagaimana Mahira selalu menjawab panggilannya dalam tiga detik pertama dengan suara yang tenang dan penurut.
Ziko menekan tombol panggil. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya, siap menyemburkan teguran keras agar Mahira segera pulang dan merapikan seluruh dokumen serta rumah mereka yang kacau.
Namun, tidak ada nada dering sambung yang terdengar.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."
Suara mesin otomatis itu memutus panggilan begitu saja. Ziko mengerutkan kening. Pria itu menjauhkan ponsel dari telinganya, memastikan bahwa ia tidak salah menekan nomor. Nomor itu benar.
"Mati?" bisik Ziko heran.
Ia mencobanya sekali lagi. Kali ini, panggilan tersebut langsung terputus dalam hitungan detik tanpa ada nada dering sama sekali, disusul suara panggil cepat yang menandakan jalur komunikasi telah ditolak atau dibatasi.
Ziko mencoba mengirimkan pesan singkat lewat aplikasi percakapan. Ia mengetik dengan jemari yang bergetar karena jengkel.
[Mahira, kamu di mana? Jangan kekanak-kanakan! Kamu harus pulang sekarang juga untuk merapikan berkas-berkas kantor saya yang berantakan di rumah. Ibu juga sibuk mencari barang-barangnya. Balas pesan saya!]
Ziko menekan tombol kirim. Namun, tanda centang di samping pesannya hanya menunjukkan centang satu berwarna abu-abu. Gambar profil Mahira yang tadinya berupa foto pemandangan sederhana mendadak hilang, berubah menjadi ikon abu-abu polos.
Ziko tertegun. Wajahnya seketika menegang.
Sebagai pria yang terbiasa menggunakan teknologi dan aplikasi komunikasi, Ziko paham betul apa artinya ini. Nomornya telah diblokir secara permanen oleh Mahira. Pesannya tidak akan pernah sampai, dan panggilannya tidak akan pernah dihubungkan.
"Diblokir?" Ziko bergumam tak percaya. Rasa terkejut menyerbunya begitu cepat, disusul oleh gelombang amarah yang meluap. "Perempuan kampung itu berani memblokir nomorku?"
Selama tiga tahun, Mahira selalu patuh. Jangankan memblokir nomor telepon Ziko, menaikkan nada suaranya saat diajak bicara pun tidak pernah dilakukan oleh wanita itu. Mahira selalu menerima apa pun keputusan Ziko, termasuk pengabaian dan sindiran tajam dari Bu Rani setiap hari.
Perubahan sikap Mahira yang begitu mendadak dan dingin ini seperti pukulan telak bagi ego Ziko. Pria itu berdiri dari kursi kerjanya, berjalan bolak-balik di balik meja dengan napas memburu.
"Kenapa dia tiba-tiba jadi seperti ini? Apa dia pikir setelah pergi membawa kertas gugatan cerai itu aku akan memohon-mohon padanya?" bentak Ziko pada ruangan yang sepi.
Ponselnya di meja mendadak berdering lagi. Kali ini nama Bu Rani yang tertera di layar. Ziko mengangkatnya dengan nada suara yang masih tersulut emosi.
"Ada apa lagi, Bu?"
"Ziko! Kamu sudah hubungi si Mahira belum?" Suara Bu Rani terdengar melengking dan penuh kekesalan dari seberang telepon. "Ibu mau minta kunci lemari penyimpanan barang tua di belakang. Kuncinya tidak ada di gantungan biasa. Rumah ini makin seperti kapal pecah, Ziko! Bibi ART baru itu tidak tahu apa-apa!"
"Nomor Mahira tidak bisa dihubungi, Bu," jawab Ziko dengan gigi terkatuk. "Dia memblokir nomor Ziko."
"Apa?" Bu Rani berteriak kaget di seberang sana. "Kurang ajar sekali perempuan itu! Berani-beraninya dia memblokir nomor anak Ibu. Dasar tidak tahu diri! Sudah dibantu hidup di rumah mewah selama tiga tahun, sekarang malah bertingkah seperti ratu."
"Sudahlah, Bu. Ziko pusing," potong Ziko tajam, mengusap tengkuknya yang terasa kaku.
"Kamu harus cari dia, Ziko! Datangi rumah temannya atau tempat tinggal asalnya di desa. Suruh dia tanggung jawab membereskan kunci-kunci dan dokumen di rumah ini sebelum kamu ceraikan dia resmi," desak Bu Rani tanpa mempedulikan pusingnya sang putra.
Ziko tidak langsung menjawab. Pria itu menatap layar ponselnya yang menampilkan percakapan terakhir dengan Mahira yang tak tersampaikan.
Ada rasa hampa yang aneh, yang pelan-pelan merayap di balik amarahnya. Blokir itu bukan sekadar pemutusan akses telepon, melainkan sebuah pernyataan tegas bahwa Mahira telah menutup pintu rapat-rapat dan memutus seluruh hubungan di antara mereka tanpa niat untuk kembali.
"Ziko tidak punya waktu untuk mengejar perempuan itu ke desa, Bu," kata Ziko dingin, mencoba mempertahankan harga dirinya. "Kalau dia mau pergi, biarkan saja. Nanti kalau dia sudah kehabisan uang di luar sana, dia sendiri yang akan mengemis-ngemis minta kembali ke rumah ini."
Ziko mematikan panggilan telepon dari ibunya tanpa menunggu jawaban. Pria itu menyandarkan tubuhnya ke tepi meja kerja, memandangi jendela ruangannya yang mengarah ke jalan raya utama Bandung.
Ia mencoba meyakinkan hatinya bahwa keputusannya sudah benar. Mahira hanyalah masa lalu yang harus dibuang. Besok, ia harus fokus menghadiri undangan rapat darurat dengan jajaran eksekutif Grand Wijaya Group untuk menyelamatkan bisnisnya.
Ziko percaya bahwa di gedung pencakar langit itu, masa depan bisnisnya akan ditentukan melalui bantuan koneksi keluarga Clarissa, tanpa pernah menyadari bahwa sosok yang memegang kendali atas nasib perusahaannya di sana adalah wanita yang baru saja memblokir nomor teleponnya.