Reuni kelas yang seharusnya menjadi malam penuh tawa berubah menjadi titik balik kehidupan.
Di hadapan murid-muridnya, Mo Yuan mengungkapkan rahasia yang terdengar mustahil—ia berasal dari dunia kultivasi dan akan segera kembali ke sana. Tak seorang pun mempercayainya, hingga semuanya benar-benar terjadi.
Dalam sekejap, Qin Shang dan seluruh teman sekelasnya terlempar ke dunia yang dipenuhi para kultivator, iblis, dan berbagai bahaya yang belum pernah mereka bayangkan.
Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mereka harus memulai kehidupan baru dan menapaki jalan kultivasi dari titik nol. Namun, semakin jauh melangkah, semakin banyak rahasia yang tersembunyi di balik perpindahan mereka ke dunia ini.
Akankah Qin Shang mampu mengubah takdirnya, atau justru tenggelam di tengah kerasnya persaingan menuju keabadian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TEMOLLA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
"Ada dua aturan untuk menyewa Gua Wuxian. Pertama, kitab rahasia ilmu bela diri yang terdapat di dalam Gua Wuxian sama sekali tidak boleh disebarluaskan kepada pihak luar. Kedua, masa sewanya minimal tiga tahun. Artinya, kau harus membayar setidaknya 360 Poin Kontribusi sekaligus.”
Qin Shang pergi ke tempat penyewaan Gua Wuxian. Seorang pria berjanggut panjang menjelaskan kepadanya.
“Apa perbedaan antara gua-gua di Gua Wuxian?”
Qin Shang bertanya lebih lanjut.
Pria berjanggut panjang itu mengeluarkan sebuah buku panduan. Sambil membukanya, dia menjelaskan, “Perbedaan utama setiap gua di Gua Wuxian terletak pada warisan ilmu bela diri yang tersimpan di dalamnya.”
“Sebagian gua memiliki warisan ilmu bela diri yang ditinggalkan oleh para Grandmaster Pembuka Meridian, sementara sebagian lainnya tidak memiliki warisan dari Grandmaster Pembuka Meridian.”
“Beberapa gua memiliki catatan pengalaman mengenai pemahaman dan latihan Teknik Tiang Yuyang, sementara yang lainnya tidak. Semuanya bergantung pada kebutuhanmu.”
Qin Shang berpikir sejenak sebelum bertanya, “Kalau sebuah Gua Wuxian memiliki warisan ilmu bela diri yang ditinggalkan oleh Grandmaster Pembuka Meridian sekaligus memiliki catatan pengalaman latihan Teknik Tiang Yuyang, berapa harga sewanya?”
“Antara 100 hingga 300 Poin Kontribusi. Harga utamanya bergantung pada jumlah warisan dari para Grandmaster Pembuka Meridian. Ada gua yang pernah ditinggali oleh lima atau enam Grandmaster Pembuka Meridian dan mewarisi ilmu bela diri mereka, sementara beberapa lainnya hanya memiliki warisan dari satu orang.”
“Ini panduan lengkapnya. Lihat saja sendiri.”
Pria berjanggut panjang itu menyerahkan buku panduan tersebut kepada Qin Shang.
Qin Shang memilih dengan saksama.
Semakin tinggi tingkat kultivasinya, semakin dia menyadari betapa banyak hal yang belum dipahaminya. Dia benar-benar membutuhkan seorang guru ternama yang dapat berbagi pengalaman agar dia tidak perlu mengambil terlalu banyak jalan memutar.
Bagi orang lain, biaya sewa seperti ini tergolong sangat mahal dan mungkin sulit dikumpulkan. Bagaimanapun, sebagian besar Poin Kontribusi mereka harus digunakan untuk membeli obat-obatan.
Namun, Qin Shang saat ini tidak memiliki kebutuhan tersebut. Selain itu, penghasilannya mencapai 2.700 Poin Kontribusi per bulan, jadi dia sepenuhnya mampu membayar biaya sewanya.
Pada akhirnya, Qin Shang memilih sebuah Gua Wuxian yang memiliki warisan dari tiga Grandmaster Pembuka Meridian.
Dari ketiga Grandmaster Pembuka Meridian tersebut, salah satunya berasal dari luar dan tidak pernah berlatih Teknik Tiang Yuyang.
Namun, dua orang lainnya sama-sama mulai berlatih Teknik Tiang Yuyang sejak mencapai Alam Kenaikan Darah dan akhirnya berhasil menjadi Grandmaster Pembuka Meridian. Mereka meninggalkan dua catatan pengalaman mengenai latihan Teknik Tiang Yuyang.
Biaya sewanya juga tidak murah, yakni 250 Poin Kontribusi per bulan. Dalam setahun, totalnya mencapai 3.000 Poin Kontribusi. Jika dibayar sekaligus untuk tiga tahun, jumlahnya mencapai 9.000 Poin Kontribusi!
Sebelumnya, Qin Shang telah menebang Kayu Roh Qinggang selama satu tahun satu bulan. Selama tahun pertama, dia menerima 1.350 Poin Kontribusi per bulan. Pada bulan berikutnya, setelah mencapai Alam Tulang Perak, penghasilannya meningkat menjadi 2.700 Poin Kontribusi.
Bahkan setelah memberikan 1.000 Poin Kontribusi kepada Lu Chen dan dikurangi berbagai pengeluaran selama dua tahun tersebut, dia masih memiliki sekitar 17.000 Poin Kontribusi.
Menghabiskan 9.000 Poin Kontribusi sekaligus membuat kekayaannya menyusut lebih dari setengah. Hati Qin Shang terasa perih.
Pria paruh baya berjanggut panjang itu juga terkejut melihat Qin Shang mengeluarkan begitu banyak Poin Kontribusi.
Namun, hal seperti ini sebenarnya cukup umum di Gunung Tianyuan.
Gunung Tianyuan telah berdiri selama lebih dari dua ratus tahun. Ada banyak pemuda dengan latar belakang kuat yang meskipun kekuatan mereka tidak terlihat menonjol, tidak perlu melakukan pekerjaan produksi dan hanya perlu berlatih bela diri di tempat ini.
Tidak diragukan lagi, pria paruh baya berjanggut panjang itu mengira Qin Shang adalah salah satu dari mereka.
Pria paruh baya berjanggut panjang itu menyerahkan sebuah kunci berwarna emas kepada Qin Shang. Di atasnya tertulis A-27.
“Ini tempat tinggalmu. Ingat, jangan membawa orang lain masuk ke dalam gua. Selain itu, kitab rahasia ilmu bela diri di dalam gua juga tidak boleh mengalami kerusakan sedikit pun. Jika ingin meninggalkan warisan, setidaknya kau harus mencapai Alam Penempaan Tulang.”
“Baik.”
Qin Shang mengangguk, menerima kunci tersebut, lalu segera bergegas menuju tempat tinggalnya.
Setelah dua tahun berlalu, dia kembali menyusuri jalan pegunungan yang lurus ini.
Dulu, ketika dia dan murid-murid Kelas 11 lainnya baru tiba di Gunung Tianyuan, mereka turun melalui jalan pegunungan ini.
Qin Shang terus berjalan ke atas. Di kedua sisi jalan, deretan gua memanjang ke dalam gunung dan digunakan sebagai tempat tinggal.
Dia terus berjalan hingga mencapai kawasan tingkat atas. Di sebelah kiri jalan utama, dia menemukan jalan pegunungan yang menuju kawasan A-20 hingga A-30.
Dia segera menyusuri jalan tersebut.
Jalan pegunungan itu sempit, hanya cukup untuk dilewati dua orang secara berdampingan. Di satu sisi terbentang tebing curam yang menghadap langsung ke jurang, dengan ketinggian setidaknya dua hingga tiga ratus meter dari permukaan tanah. Angin kencang terus berembus di sepanjang jalan.
Qin Shang berjalan puluhan meter ke depan, melewati pintu masuk gua demi gua.
Setiap gua memiliki pintu batu yang letaknya sekitar tiga meter dari bagian dalam. Di samping masing-masing pintu batu terdapat sebuah tiang batu yang mencantumkan nomor gua.
Saat melewati gua A-23, kebetulan seorang wanita muda keluar setelah membuka pintunya.
Wanita itu tampaknya baru berusia sekitar dua puluh tahun. Dia mengenakan pakaian putih yang begitu bersih tanpa sedikit pun noda. Jelas sekali dia bukan orang yang biasa melakukan pekerjaan kasar.
Qin Shang diam-diam menghela napas kagum. Sepertinya gadis ini adalah generasi kedua dari keluarga kaya, bahkan statusnya mungkin lebih tinggi daripada Ma Haoran.
Setiap hari Ma Haoran bisa mendapatkan semangkuk Sup Kenaikan Darah, tinggal di kawasan hulu sebelah timur sungai, dan bahkan bisa menggantikan pekerjaan orang lain lintas tingkat. Sebelumnya, Qin Shang sudah menganggapnya sebagai seseorang yang hidup jauh di atas kebanyakan orang.
Namun, wanita ini tinggal di Gua Wuxian kawasan A, tidak perlu bekerja, dan dalam hal makanan obat, kemungkinan besar dia juga tidak pernah kekurangan. Jika ingin meminumnya sebanyak apa pun, mungkin dia bisa mendapatkannya dengan mudah.
Sepertinya di belakangnya ada seorang Grandmaster Pembuka Meridian yang menjadi pelindungnya.
Wanita berpakaian putih itu juga tertegun ketika melihat Qin Shang melewati pintu guanya.
Qin Shang mengangguk tipis sebagai tanda salam, lalu melewati pintu wanita itu dan terus berjalan hingga tiba di depan guanya sendiri. Dia menggunakan kunci untuk membuka pintu.
Setelah mendorong beberapa lapis pintu batu yang berat, Qin Shang melihat tiga lorong memanjang di dalam gua. Mutiara-mutiara malam terpasang di sepanjang lorong sebagai penerangan, membuat seluruh gua terang benderang.
Namun, sepertinya gua ini sudah lama tidak dibuka. Debu dan hawa pengap yang pekat langsung menyambut wajahnya.
Qin Shang pun memasuki gua.
Gua itu memanjang dengan lebar sekitar lima meter. Kedua dindingnya lurus dan dipenuhi tulisan-tulisan kecil yang rapat, serta berbagai jurus ilmu bela diri.
Di bagian paling dalam terdapat sebuah ruangan kecil lainnya. Luasnya hanya sekitar lima belas meter persegi. Di dalamnya terdapat sebuah ranjang batu dan toilet jongkok. Ke mana saluran di bawah toilet itu terhubung, Qin Shang tidak tahu.
“Tempatnya memang tidak bisa dibilang bagus, tapi juga tidak terlalu buruk. Namun, semua itu tidak penting. Yang terpenting adalah melihat warisan ilmu bela diri yang tersimpan di sini.”
Qin Shang mulai mempelajari warisan ilmu bela diri yang terdapat di Gua A-27.
Secara keseluruhan, gua itu menyimpan warisan ilmu bela diri dari tiga Grandmaster Pembuka Meridian dan tujuh ahli tingkat tinggi tahap Tulang Emas dari Alam Penempaan Tulang.
Total terdapat tiga puluh dua kitab ilmu bela diri, yang mencakup teknik telapak tangan, teknik tinju, teknik pedang, teknik tombak, teknik gerakan, dan berbagai jenis lainnya.
Setiap kitab, jika dibawa keluar, merupakan ilmu bela diri tingkat puncak yang luar biasa.
Teknik Telapak Penghancur Hati yang pernah dipelajari Qin Shang sama sekali tidak dapat dibandingkan dengan teknik-teknik telapak tangan ini, baik dari segi tingkatan maupun kekuatannya.
“Benar-benar sepadan dengan harganya!”
Mata Qin Shang berbinar.
Namun, dia sama sekali tidak berniat mempelajari jurus-jurus tersebut.
Saat ini, jurus yang dia miliki adalah Teknik Telapak Penghancur Hati dan Langkah Tujuh Jangkrik. Meskipun keduanya tidak terlalu mendalam, masih cukup untuk digunakan.
Dalam ilmu bela diri, yang paling penting tetaplah tingkat kultivasi dan kekuatan.
Seperti kata pepatah, kekuatan mutlak dapat mengalahkan segala macam teknik. Dengan kekuatan yang begitu besar, seseorang yang berada di tingkat yang sama sama sekali tidak akan mampu menahan satu pukulannya. Karena itu, terus meningkatkan tingkat kultivasi tetap merupakan pilihan yang paling dapat diandalkan.
Selain itu, bagaimanapun juga, ilmu bela diri hanyalah sebuah tahap peralihan. Yang ada dalam pikiran Qin Shang adalah jalan kultivasi menuju keabadian dan kehidupan tanpa akhir.
Qin Shang mulai mempelajari pengalaman latihan Teknik Tiang Yuyang yang ditinggalkan oleh kedua Grandmaster Pembuka Meridian tersebut.
Kedua Grandmaster Pembuka Meridian itu masing-masing telah membuka satu meridian dan tiga meridian. Pengalaman yang mereka tinggalkan dijelaskan secara mendalam sekaligus mudah dipahami, sehingga berbagai kebingungan yang selama ini menyelimuti Qin Shang perlahan terurai satu per satu.
Latihan Teknik Tiang Yuyang yang dia jalani pun menjadi jauh lebih lancar.
Tiga hari kemudian, Qin Shang keluar sambil membawa bungkusan di punggung dan mengenakan topi bambu. Dia kembali bertemu dengan wanita berpakaian putih itu, yang kebetulan juga baru keluar. Keduanya kemudian berbincang singkat.
Wanita berpakaian putih itu bernama Lin Aoxue. Berdasarkan pengamatan Qin Shang, Lin Aoxue berada di Alam Tulang Tembaga.
Dari Lin Aoxue, Qin Shang mengetahui bahwa dari sepuluh gua A-20 hingga A-30, delapan di antaranya telah disewa. Alasan dia tidak pernah melihat penghuni lainnya adalah karena mereka semua telah meninggalkan Gunung Tianyuan dan tinggal di luar. Mereka hanya sesekali kembali ke Gunung Tianyuan.
Qin Shang cukup terkejut mendengarnya.
Namun, setelah dipikir-pikir, dia merasa hal itu memang masuk akal.
Kehidupan di Gunung Tianyuan begitu sederhana, sementara fasilitas hiburannya juga sangat terbatas. Para tuan muda dan nona-nona kaya itu tentu tidak akan betah tinggal di sini.
Lagipula, untuk keluar-masuk Gunung Tianyuan, mereka hanya perlu membayar deposit sebesar 30.000 Poin Kontribusi. Tentu saja, mereka tidak akan tinggal di Gunung Tianyuan dalam jangka panjang.
Qin Shang tidak memiliki kekayaan berlimpah seperti para tuan muda dan nona-nona kaya tersebut. Karena itu, dia hanya bisa terus bekerja setiap hari.
Setiap hari, selain turun gunung untuk menebang Kayu Roh Qinggang, Qin Shang menghabiskan waktunya berlatih ilmu bela diri di dalam gua.
Sepuluh hari berlalu dalam sekejap.
Hari itu, Qin Shang menerima kabar baik dari Lu Chen. Pernikahan Lu Chen dan Zu Yue akan dilangsungkan pada akhir bulan di Menara Wuxing, Kota Kecil Tianyuan . Saat itu, mereka akan mengundang seluruh teman sekelas.