Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Mengira Itu Kamu

Aku Mengira Itu Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:139
Nilai: 5
Nama Author: Ri7

"Ternyata selama ini aku salah mengira. Perempuan yang kutemui di pondok baru itu bukanlah perempuan yang mengajakku ta'aruf. Aku terlalu cepat menyimpulkan hanya karena namanya sama. Ah, betapa cerobohnya aku... Seandainya sejak awal aku tidak terburu-buru membuat penilaian, mungkin kebingungan ini takkan pernah terjadi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ri7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nasehat Kakak

Selama di mobil, aku hanya terdiam. Aku merasa senang. Yah, sangat senang malahan.

Setelah pertemuanku dengan Aisyah di mal tadi, apalagi ternyata dia sudah mengenal kakakku dan mereka bahkan langsung akrab, rasanya ada sesuatu yang berbeda. Rangkaian kebetulan ini terasa seperti petunjuk untukku.

“Eehm...” Suara deheman kakak membuyarkan lamunanku.

“Sepertinya kamu sangat senang,” komentarnya.

Aku menoleh ke arah kakak yang duduk di sampingku. Ku lihat sorot matanya, aku sedang mengharapkan pendapat kakakku tentang Aisyah.

“Kamu mau kakak bicara apa?”

Aku terdiam. Sepertinya kakak tahu apa yang sedang kupikirkan.

Aku memang selalu mengharapkan pendapat kakak. Bukan hanya karena dia kakakku, tetapi karena dia satu-satunya orang dewasa yang kumiliki. Aku sudah tidak memiliki Ayah sejak umurku lima tahun. Sedangkan Ibu telah meninggalkan kami sembilan tahun yang lalu.

Sejak saat itu, hanya kakaklah tempatku bersandar. Tempatku bercerita, meminta nasihat, sekaligus orang yang selama ini menjadi pelindungku.

Kakak menarik napas pelan sebelum akhirnya berkata,

“Kamu ingat kisah Salman dan Abu Darda’?”

Aku mengangguk.

“Kisah ketika Salman datang kepada Abu Darda’ dan melihat sahabatnya itu terlalu berlebihan dalam beribadah?”

Aku kembali mengangguk.

“Salman kemudian mengingatkan Abu Darda’, ‘Sesungguhnya Rabbmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu. Maka berikanlah setiap yang memiliki hak, haknya.’”

Kakak terdiam sejenak.

“Rasulullah ﷺ pun membenarkan perkataan Salman.”

Aku masih diam mendengarkan.

“Menurut kakak, dalam hidup ini kita memang harus belajar menempatkan sesuatu pada tempatnya. Termasuk perasaan.”

Aku menoleh kepadanya.

“Senang bertemu seseorang itu wajar. Merasa cocok juga bukan sesuatu yang salah. Tapi jangan sampai karena hati sedang bahagia, kita langsung menganggap semua kebetulan sebagai tanda bahwa dialah orang yang Allah pilih untuk kita.”

Kakak tersenyum tipis.

“Kalau memang dia baik untukmu, kamu tidak perlu memaksakan kesimpulan hari ini. Kenali dengan cara yang Allah ridai. Libatkan keluarga. Istikharah. Lihat agamanya dan akhlaknya. Kalau memang itu jalan yang Allah bukakan, insyaallah akan dimudahkan.”

Aku menghela napas panjang.

Mungkin inilah alasan aku selalu membutuhkan nasihat kakak.

Ketika hatiku mulai terlalu jauh melangkah, dialah yang mengingatkanku untuk kembali menggunakan akal. Ketika aku mulai menganggap kebetulan sebagai jawaban, dialah yang mengingatkanku bahwa petunjuk dari Allah tidak cukup hanya dicari dari perasaan.

Dan malam itu, di dalam mobil yang terus melaju, aku mulai menyadari satu hal.

Mungkin pertemuanku dengan Aisyah memang sebuah kebetulan. Mungkin juga ada sesuatu yang Allah sedang tunjukkan kepadaku.

Namun, aku tidak ingin memaksakan sebuah kebetulan menjadi takdir hanya karena hatiku sedang bahagia.

Tak terasa ternyata kita sudah sampai rumah. Ku parkirkan mobilku di garasi. Kakak sibuk mengeluarkan satu per satu belanjaan dari bagasi.

“Kak, nggak lupa titipan aku, kan?” tanya Adit dari teras.

“Eh, iya!” Kakak spontan menepuk kepalanya sendiri.

“Kakak memang suka lupa titipan aku,” gerutu Adit sambil memasang wajah cemberut.

Aku terkekeh. Aku tahu kakak tidak mungkin lupa. Belanjaan yang dibawanya bahkan sudah memenuhi hampir separuh bagasi.

Adit yang merasa tidak mendapat respons memuaskan akhirnya malas membantu. Dia berbalik dan hendak masuk kembali ke rumah.

“Eh, Dit!” Aku segera menarik lengannya. “Bantu kakak bawa, dong.”

“Yaudah.”

Dengan wajah masih sedikit cemberut, Adit mengambil satu kantong belanja dari tangan kakak. Namun, baru beberapa langkah, dia sudah mengintip isinya.

Matanya langsung berbinar.

Tanpa aba-aba, dia berbalik dan memeluk Kak Alma.

“Makasih, kakakku tercinta!”

Aku langsung tertawa melihat tingkahnya.

Dasar Adit. Tadi menggerutu karena mengira kakak lupa, sekarang berubah menjadi adik paling manis sedunia hanya karena melihat isi belanjaan.

Adit adalah saudara kami, meskipun kami berbeda ayah. Namun, sejak kecil, kami tidak pernah menganggap perbedaan itu sebagai jarak. Bagi kami, Adit bukan sekadar saudara tiri.

Dia adalah adik kami.

Adik yang tumbuh bersama kami, yang sering membuat rumah ramai dengan tingkahnya, dan yang entah bagaimana selalu berhasil membuat suasana menjadi lebih hidup.

Mungkin hubungan keluarga memang tidak selalu ditentukan oleh kesamaan darah.

Terkadang, kasih sayanglah yang membuat seseorang terasa benar-benar menjadi bagian dari kita.

1
ARDICK
semangat KA 👍 sukses selalu saling favorit 👍
MF015
menarik novelnya 👍
R
Nama yang sama orang yang berbeda😄
Dini
Agak mendayu, bagai riak kecil yang akhirnya menjadi akhir perpisahan bersama teman-temannya.

jangan lupa masukkan untuk karya ku.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
😄🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!