Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.
Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14. Duel di Gunung Emei
Salju di Gunung Emei turun lebih awal tahun ini, dan ketika Tang Hyun tiba di kaki gunung bersama Tang So-yeon dan dua pengawal Klan Tang, seluruh puncak sudah tertutup putih seperti diselimuti sutra, dingin sampai ke tulang, dan setiap helaan napas berubah menjadi kabut yang langsung membeku di janggut para penjaga gerbang Sekte Emei yang menatap mereka dengan permusuhan yang tidak ditutup-tutupi sama sekali, karena surat tantangan Baek Seolhwa sudah menyebar ke seluruh Jianghu dan semua orang tahu bahwa duel ini bukan lagi sekadar pertandingan persahabatan, melainkan pertarungan antara cahaya dan racun, antara kehormatan sekte ortodok dan kelangsungan hidup Klan Tang yang sudah terlalu lama dipandang sebelah mata.
"Kalian datang," kata salah satu murid Emei yang menyambut di gerbang, suaranya dingin dan tangannya tidak pernah jauh dari gagang pedangnya, "Nona Baek sudah menunggu di Paviliun Embun Sejak Fajar. Ikut aku."
Perjalanan ke atas memakan waktu dua jam, melewati anak tangga batu yang licin dan disapu angin, dan sepanjang jalan Tang Hyun bisa merasakan ratusan pasang mata mengawasi dari balik pohon pinus dan dari balik jendela paviliun, bisikan-bisikan yang sama seperti di Gunung Hua dulu, "Itu dia Anak Racun", "Dia berani datang ke Emei", "Kali ini dia pasti mati", dan bisikan itu tidak mengganggunya, karena dia sudah terbiasa menjadi pusat kebencian sejak lahir kembali sebagai Tang Hyun.
Di Paviliun Embun Sejak Fajar, halaman luas sudah dikosongkan dan ditutupi salju setinggi mata kaki, dan di tengahnya berdiri Baek Seolhwa seorang diri, mengenakan jubah putih tebal dengan sulaman bunga plum biru di ujung lengan, rambutnya diikat tinggi, dan di tangannya ada pedang "Embun Musim Dingin" yang bilahnya memantulkan cahaya pucat dan mengeluarkan hawa dingin yang membuat salju di sekitarnya tidak mencair.
"Kau datang," kata Baek Seolhwa ketika melihat Tang Hyun, suaranya tidak marah, tidak senang, hanya datar seperti danau yang membeku.
"Aku menerima tantanganmu," jawab Tang Hyun sambil menundukkan kepala sedikit, "jadi aku datang."
"Tidak ada wasit," lanjut Baek Seolhwa, "tidak ada aturan. Yang kalah harus mengakui. Yang menang boleh pergi. Jika salah satu mati, maka itu takdir."
Ketua Sekte Emei yang duduk di beranda atas tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengangguk pelan, dan itu sudah cukup menjadi izin.
Tang Hyun melepas jubah luarnya dan melemparkannya ke tanah, memperlihatkan jubah ungu gelap di dalamnya dengan tiga kantong kecil di pinggang dan jarum panjang yang terselip di lengan, dan dia bisa merasakan Qi dingin Baek Seolhwa menekan ke arahnya seperti pisau, sebuah tekanan yang jauh lebih kuat daripada saat mereka bertarung di Gunung Hua.
"Mulailah," kata Baek Seolhwa, dan dia menghilang.
Kecepatannya bahkan lebih cepat dari tiga bulan lalu, dan sebelum Tang Hyun sempat menarik napas, ujung pedang "Embun Musim Dingin" sudah menyentuh bahunya dan meninggalkan garis es tipis yang langsung membuat kulitnya mati rasa, memaksanya untuk mundur dan mengibaskan lengan agar darahnya mengalir lagi.
"Aku sudah mempelajari caramu," kata Baek Seolhwa sambil berputar dan menebas lagi, "racunmu tidak akan menyentuhku kali ini."
Tang Hyun tidak menjawab, dia hanya menghindar, berguling di atas salju, dan melemparkan bubuk hitam ke udara, menciptakan kabut tipis yang langsung membeku ketika terkena Qi dingin Baek Seolhwa dan jatuh ke tanah seperti pasir.
Pertarungan itu tidak seperti di Gunung Hua yang penuh dengan penonton dan sorakan, ini sunyi, hanya ada suara pedang yang membelah angin, suara langkah di atas salju, dan suara napas mereka yang berat, karena keduanya tahu bahwa di sini, kesalahan sekecil apa pun berarti kematian.
Sepuluh menit berlalu dan tidak ada yang terluka serius, Baek Seolhwa terlalu cepat untuk dijangkau, dan Tang Hyun terlalu licin untuk ditangkap, sehingga keduanya mulai mengubah strategi, Baek Seolhwa mulai menggunakan jurus area luas bernama "Badai Salju Seribu Jarum" yang membuat seluruh halaman dipenuhi oleh Qi berbentuk jarum es, memaksa Tang Hyun untuk terus bergerak tanpa henti, sementara Tang Hyun mulai menggunakan darahnya sendiri, memotong telapak tangan dan menyebarkannya ke udara sehingga setiap kali Baek Seolhwa mendekat, dia harus menahan napas agar tidak menghirup kabut merah itu.
"Kau masih menggunakan cara kotor," kata Baek Seolhwa dengan nada kecewa sambil menepis kabut dengan kipas Qi.
"Bukan kotor," jawab Tang Hyun sambil terengah-engah, "ini bertahan hidup."
Baek Seolhwa terdiam, lalu dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan seluruh salju di halaman tiba-tiba terangkat ke udara, berputar membentuk tornado putih yang membuat penglihatan menjadi kabur.
"Jurus terakhir Emei: Penjara Es Abadi," katanya pelan, "jika kau bisa keluar dari ini hidup-hidup, maka aku akan mengakui kekalahanku."
Tornado itu runtuh ke arah Tang Hyun, dan dalam sekejap seluruh halaman menjadi putih, tidak ada yang bisa melihat apa-apa, bahkan Tang So-yeon yang berdiri di beranda mengepalkan tangannya karena khawatir.
Di dalam badai itu, Tang Hyun tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, hanya bisa merasakan dingin yang menusuk sampai ke sumsum, sehingga dia melakukan satu-satunya hal yang bisa dia lakukan, dia berhenti melawan, dia menutup mata, dan dia membiarkan darahnya mengalir bebas dari semua luka kecil di tubuhnya, menciptakan kabut merah besar yang bercampur dengan salju dan Qi, kabut yang berbau besi dan racun dan yang membuat es di sekitarnya meleleh dan berubah menjadi air kotor.
"Teknik terlarang," gumam Baek Seolhwa dari dalam badai, "kau gila."
"Mungkin," jawab Tang Hyun dengan suara serak, "tapi aku belum mati."
Badai berhenti, salju jatuh kembali ke tanah, dan ketika pandangan kembali jernih, orang-orang melihat pemandangan yang membuat mereka terdiam, Baek Seolhwa berlutut dengan satu lutut, pedangnya menancap di tanah untuk menopang tubuhnya, dan di pipi serta lehernya ada garis-garis ungu tipis, tanda racun Tang Hyun berhasil menyentuhnya, sementara Tang Hyun tergeletak telentang di salju, tubuhnya penuh luka, mulutnya mengeluarkan darah, tetapi matanya masih terbuka dan menatap langit.
"Siapa yang menang?" bisik seorang murid Emei.
Tidak ada yang menjawab, karena keduanya tidak bisa berdiri.
Tang So-yeon adalah orang pertama yang bergerak, dia melompat turun dan menggendong Tang Hyun, sementara dua murid Emei berlari untuk membantu Baek Seolhwa.
"Kau bodoh," kata Tang So-yeon sambil memeriksa nadi Tang Hyun, "kau hampir membunuh dirimu sendiri."
"Aku... tidak kalah," jawab Tang Hyun lemah sambil tersenyum.
Di sisi lain, Baek Seolhwa juga tersenyum tipis, "Seri. Lagi."
Ketua Emei berdiri dan menghela napas panjang, "Cukup. Tidak ada pemenang. Klan Tang tidak perlu berjanji apa-apa. Dan Emei tidak akan menuntut lebih jauh."
Keputusan itu membuat banyak murid Emei tidak puas, tetapi tidak ada yang berani membantah.
Tang Hyun dirawat selama lima hari di paviliun tamu Emei, dan setiap hari Baek Seolhwa datang sekali, bukan untuk berbicara, hanya untuk duduk di kursi dekat pintu selama satu jam lalu pergi, sebuah kebiasaan aneh yang tidak bisa dijelaskan oleh siapa pun.
Di hari kelima, sebelum Tang Hyun pergi, Baek Seolhwa datang lagi dan meletakkan sebuah kotak kecil di meja.
"Apa ini?" tanya Tang Hyun.
"Penawar," jawab Baek Seolhwa, "untuk racun di tubuhmu. Kau menggunakannya terlalu sering. Jika kau terus begitu, kau akan mati sebelum usia tiga puluh."
Tang Hyun menatap kotak itu lama, "Kenapa kau memberiku ini?"
"Karena aku tidak ingin bertarung dengan mayat," jawab Baek Seolhwa, "dan juga karena... aku menghormatimu. Kau adalah lawan pertama yang membuatku hampir kalah dua kali."
Tang Hyun mengangguk, "Terima kasih, Nona Baek."
Baek Seolhwa berbalik untuk pergi, tetapi di pintu dia berhenti, "Hati-hati di jalan pulang. Aku mendengar ada orang dari Sekte Iblis yang mencarimu."
Pintu tertutup, dan Tang Hyun menggenggam kotak itu erat.
Perjalanan pulang ke Sichuan terasa lebih berat, karena di tengah jalan mereka benar-benar disergap, bukan oleh satu atau dua orang, melainkan oleh sepuluh pembunuh bertopeng dari Sekte Iblis yang sudah menunggu di ngarai sempit, jelas mereka sudah mengikuti mereka sejak meninggalkan Emei.
Pertarungan pecah dengan cepat, dan kali ini Tang Hyun tidak menahan diri, dia menggunakan semua yang dia pelajari, racun, jarum, dan juga darahnya, dan dalam waktu lima belas menit, sepuluh mayat tergeletak di salju, tetapi dia juga terluka parah dan hampir mati kehabisan darah jika Tang So-yeon tidak segera memberinya pil.
"Kita harus pulang sekarang," kata Tang So-yeon dengan wajah tegang, "seseorang membocorkan rute kita."
Setibanya di Klan Tang, berita tentang penyergapan itu langsung sampai ke telinga Tetua Ketiga, dan dia marah besar, karena menyerang murid inti di jalan berarti menyatakan perang.
"Siapa yang membocorkan?" tanya Tetua Ketiga di aula.
Tidak ada yang menjawab, karena di Klan Tang, pengkhianat tidak pernah mengaku.
Tang Hyun berdiri dengan tubuh masih diperban, "Biarkan aku yang mencari. Aku punya cara."
Tetua Ketiga menatapnya lama, lalu mengangguk, "Tujuh hari. Jika kau tidak menemukan, maka aku yang akan membersihkan sendiri."
Malam itu, Tang Hyun mulai bergerak, dia menggunakan "Senandung Kematian" bukan untuk membunuh, tetapi untuk melacak, dia menaruh racun yang sangat ringan di makanan semua orang di paviliun, racun yang tidak akan membunuh tetapi akan membuat orang yang meminumnya berkeringat berwarna ungu selama tiga hari, dan keesokan paginya, dia menemukan seorang pelayan yang tangannya berwarna ungu.
Di bawah interogasi, pelayan itu mengaku bahwa dia dibayar oleh seseorang dari faksi Tetua Keenam, faksi yang selalu berseberangan dengan Tetua Ketiga dan yang ingin melihat Tang Hyun mati agar kekuasaan mereka tidak terganggu.
Tang Hyun tidak membunuh pelayan itu, dia hanya memotong lidahnya dan mengusirnya, karena dia tahu bahwa di Klan Tang, ketakutan lebih efektif daripada kematian.
Tiga hari kemudian, Tetua Keenam ditemukan mati di kamarnya, wajahnya tenang dan di meja ada secangkir teh yang belum diminum, dan tidak ada yang bertanya bagaimana dia mati, karena semua orang sudah mengerti.
Setelah itu, tidak ada lagi yang berani menyentuh Tang Hyun.
Sebulan berlalu, dan luka Tang Hyun sembuh, tetapi ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya, dia menjadi lebih pendiam, lebih dingin, dan ketika dia tersenyum, senyum itu tidak pernah sampai ke matanya.
Suatu malam, dia duduk di atap Paviliun Racun Dalam, minum teh sendirian, dan Tang So-yeon datang dan duduk di sampingnya tanpa diundang.
"Kau berubah," kata Tang So-yeon.
"Aku harus berubah," jawab Tang Hyun, "atau aku akan mati."
"Apakah kau bahagia?" tanya Tang So-yeon tiba-tiba.
Tang Hyun terdiam lama, lalu dia menggeleng, "Aku tidak tahu apa itu bahagia, Nona. Aku hanya tahu apa itu hidup."
Tang So-yeon mengangguk, "Itu sudah cukup."
Mereka duduk diam sampai fajar, dan ketika matahari terbit, Tang Hyun berdiri, "Aku ada tugas di ibu kota minggu depan. Pejabat istana."
"Aku ikut," kata Tang So-yeon.
Tang Hyun menoleh, "Kenapa?"
"Karena aku tidak percaya kau bisa menahan diri untuk tidak membunuh semua orang," jawab Tang So-yeon sambil tersenyum tipis, "dan juga karena... aku bosan di sini."
Tang Hyun tidak menolak, karena jauh di dalam hatinya, dia senang ada seseorang yang mau ikut.
Malam sebelum berangkat, dia membuka kotak dari Baek Seolhwa dan meminum penawarnya, rasanya pahit, tetapi setelah itu tubuhnya terasa lebih ringan, seolah beban yang selama ini menekan dadanya sedikit terangkat.
Dia menatap cermin dan melihat wajahnya sendiri, wajah seorang pria berusia dua puluh tahun dengan mata yang terlalu tua.
"Gu Cheol sudah mati," bisiknya lagi, "Tang Hyun yang hidup."
Di luar, angin membawa bau bunga plum dari halaman, dan di kejauhan, suara seruling terdengar pelan, lagu yang sama seperti di Gunung Hua.
Dan Tang Hyun tahu bahwa jalan di depannya masih panjang, penuh darah, penuh racun, dan penuh pengkhianatan, tetapi untuk pertama kalinya, dia tidak berjalan sendirian.